Category: Analisis Gerakan


ust-Rokhmat-S-labib

 

Yang membuat orang kafir menguasai kaum Muslimin, menurut Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rokhmat S Labib bukan karena umat Islam golput.

“Tetapi sistem demokrasi yang diterapkan di negeri ini yang memberikan kesempatan kepada orang kafir berkuasa. Inilah yang ditentang Hizbut Tahrir,” tegasnya pada mediaumat.com (6/4) di Jakarta.

Selain itu, jelas Rokhmat, Hizbut Tahrir tidak hanya menjelaskan hukum mengangkat seorang pemimpin tapi juga menegaskan untuk meninggalkan demokrasi, sebab demokrasi memberikan kesempatan orang kafir berkuasa. Baca lebih lanjut

mursi-assiSebuah kudeta yang disponsori militer Mesir—berkerjasama dengan kelompok sekular liberal, dengan dukungan Kristen koptik dan Syaikh Ahmad ath-Thayib dari al-Azhar—telah  menumbangkan Mursi dari jabatan presiden Mesir. Mursi yang terpilih secara demokratis mendapatkan kenyataan pahit: Partai an-Nur yang berlatarbelakang salafi justru mendukung kudeta yang dilakukan militer Turki.

Beberapa negara-negara Arab kaya, secara memalukan, mengucapkan selamat atas kudeta ini dan memuji keberanian militer Mesir. Raja Arab Saudi Abdullah mengirimkan ucapan selamat kepada pemimpin baru Mesir. “Atas nama rakyat Arab Saudi, saya mengucapkan selamat kepada Anda karena mengambil-alih kepemimpinan Mesir pada saat kritis ini dalam sejarah Mesir,” ujar Raja Abdullah dalam pesannya seperti dilansir kantor berita AFP,Kamis (4/7/2013).

Raja Abdullah juga memberikan pujian kepada militer Mesir dan pemimpinnya Jenderal Abdel Fattah al-Sisi karena menggunakan “kebijaksanaan” dalam membantu menyelesaikan krisis ini dan menghindari “konsekuensi yang tak terbayangkan”.

Tidak hanya itu, negara-negara Arab ini berjanji akan memberikan bantuan kepada rezim baru Mesir bentukan militer. Khawatir rezim militer Mesir yang didukung Amerika Serikat kembali jatuh, para penguasa kaya negara Arab berjanji memberikan bantuan 12 miliar dolar untuk Mesir. Bantuan dari negara-negara kaya Arab di Teluk Persia merupakan hal yang penting bagi para pemimpin Mesir yang didukung militer, agar dapat bernafas lega untuk melakukan pembayaran impor pangan dan bahan bakar. Namun, manfaat bantuan itu hanya untuk sementara, karena ekonomi Mesir yang rusak tetap tidak diperbaiki.

 

Buah ‘Revolusi’ Mesir yang Gagal

Penggulingan Mursi bisa disebut merupakan buah ‘revolusi’ Mesir yang gagal. Pertama: perubahan yang terjadi di Mesir sebagai imbas dari ‘Arab Spring’  hanya terjadi pada pergantian figur Mubarak dan orang-orang yang dianggap dekat dengannya. Adapun rezim militer yang selama puluhan tahun menjadi pemain utama panggung politik Mesir tidak berubah. Rezim militer masih memiliki peran sentral dalam perpolitikan Mesir. Dalam kenyataannya, militer merupakan pemegang kekuasaan riil di Mesir hingga saat ini.

Mursi yang dipilih secara demokratis harus menghadapi kenyataan ini. Mursi tidak bisa berbuat banyak karena harus berhadapan dengan dominasi militer penguasa riil Mesir. Presiden yang berasal dari Ikhwan al-Muslimin ini, dibatasi oleh kepentingan-kepentingan militer.

Bisa jadi militer Mesir yang korup dan berada dalam kendali penuh Amerika Serikat. Meskipun pada awalnya terpaksa menerima Mursi, belakangan militer melihat Mursi sebagai ancaman kepentingan mereka baik itu kepentingan bisnis korup militer atau kepentingan ideologi Amerika Serikat yang menjadi tuan besar militer selama ini.

Militer Mesir memang dikenal bengis terhadap lawan-lawan politiknya dan korup. Militer dengan kekuasaan tunggal  memiliki banyak bisnis. Tidak ada yang tahu persis berapa sektor ekonomi yang mereka kuasai. Perwira-perwira tinggi militernya memilik banyak perusahaan termasuk produsen laptop, tv, pemasok peralatan medis, air minum, real estate termasuk bisnis parawisata di tepi Pantai Sharm El Sheikh. Sebagian gubernur di berbagai kawasan di Mesir juga merupakan pensiunan perwira tinggi militer. Bisa jadi beberapa kebijakan Mursi seperti penunjukkan gubernur dari kelompok Ikhwan  dan kebijakan parawisata dianggap mengancam bisnis militer. Seperti yang sering dijadikan alasan kelompok oposisi, Mursi melakukan ‘ikhwanisasi’.

Secara ideologis, Amerika punya tiga kepentingan besar di Timur Tengah, termasuk Mesir. Pertama: menjamin suplay energi murah untuk Amerika terutama minyak. Kedua:  terjaminnya eksistensi entitas zionis Yahudi. Ketiga: membendung gerakan-gerakan Islam politik yang ingin menegakkan Daulah Islam atau Khilafah yang jelas-jelas mengancam kepentingan Amerika.

Dalam konteks ini, bagaimanapun bagi negara adidaya ini, keberadaan penguasa Mesir dari kelompok liberal sekular dengan dukungan militer jauh lebih aman dibandingkan dengan penguasa yang berasal dari kelompok Islam. Meskipun  rezim Mursi sendiri berupaya menampilkan sosok ‘islam moderat’ yang pluralis dan demokratis, kecurigaan bahwa kelompok Islam seperti Ikhwanul Muslimin memiliki agenda tersembunyi ingin menegakkan syariah Islam masih ada.

Apalagi pasca tumbangnya Husni Mubarak, seruan-seruan penegakan syariah Islam semakin kencang dilakukan di tengah-tengah masyarakat, khutbah-khutbah Jumat dan ceramah-ceramah keagamaan. Seruan-seruan jihad membebaskan Palestina pun semakin terbuka dilakukan. Para demonstran secara berani menyerbu Kedubes Israel di Kairo. Ini tentu saja sangat mengkhawatirkan Amerika Serikat dan sekutu militernya.

Tidak mengherankan kalau Amerika Serikat terus-menerus memilihara militer meskipun selama puluhan tahun melakukan kekejaman hingga sekarang ini dan  korup. Selama lebih dari 30 tahun, pemerintah demi pemerintah yang berkuasa di Gedung Putih, terus menyalurkan sejumlah besar bantuan militer ke Mesir. Bantuan ini merupakan bantuan kedua terbesar yang dikeluarkan Negara Paman Sama ini setelah bantuan ke Israel; termasuk bantuan mesin perang dan jet-jet tempur F-16. Selain itu terdapat 500 pejabat militer Mesir yang  menempuh pascasarjana militer di Amerika setiap tahun. Bahkan pria yang memimpin militer dan menggulingkan Mursi adalah alumni US Army War College di Pennsylvania. Melihat kedekatan militer Mesir dengan Amerika Serikat hampir bisa dipastikan seluruh tindakan militer Mesir termasuk dalam penggulingan Mursi tetap dalam restu negara imperialis Amerika Serikat.

Perubahan yang hanya sebatas figur Husni Mubarak ini tentu saja tidak membawa perubahan yang sifatnya ideologis dan sistemik. Sistem yang diterapkan di Mesir tetap saja sekular,  jauh dari syariah Islam. Ini pulalah yang menyebabkan mengapa ekonomi Mesir tidak banyak berubah. Pasalnya, pangkal persoalan ekonomi Mesir justru karena negara itu masih tunduk pada kebijakan-kebijakan ekonomi Barat. Pada masa Mursi, negara itu masih bekerjasama dengan lembaga-lembaga ekonomi global seperti IMF dan  Bank Dunia yang menjadi organ global penjajahan Barat. Kondisi ekonomi yang belum mememuaskan masyarakat inilah yang digunakan oleh kelompok sekular dan militer untuk memprovokasi rakyat menentang Mursi.

 

Masa Depan Mesir

Untuk perbaikan yang nyata bagi Mesir ke depan, tidak ada pilihan lain kecuali menghilangkan penyebab-penyebab kegagalan ‘revolusi’ yang berhasil menumbangkan Husni Mubarak. Untuk masa depan Mesir ada beberapa agenda penting yang harus dilakukan. Pertama: tidak cukup perubahan figur  atau rezim, tetapi harus terjadi perubahan sistem. Sistem sekular yang menjadi pangkal persoalan di Mesir selama ini harus diganti dengan sistem Islam yang menerapkan seluruh syariah Islam di bawah naungan Khilafah.

Kedua: militer Mesir yang memiliki posisi strategis harus mengubah loyalitas mereka dari menghamba kepada Amerika menjadi semata-mata mengabdi kepada Allah SWT; dari melayani kepentingan penjajahan Amerika menjadi benar-benar melayani kepentingan rakyat untuk kebaikan rakyat. Inilah yang memberikan jalan kebaikan bagi milter.

Ketiga: harus diputus secara total bentuk hubungan dengan Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk organ-organ politik dunia mereka seperti PBB, IMF, dan Bank Dunia. Sikap menerima bantuan Amerika dan berkerjasama dengan negara itu telah mengokohkan intervensi dan penjajahan Amerika di Mesir dan Dunia Islam. Amerikalah musuh sejati umat Islam, bukan sesama umat Islam.

Untuk itu umat Islam Mesir maupun negeri-negeri Islam lainnya tidak memiliki pilihan lain kecuali berjuang bersama untuk menegakkan Khilafah Islam sebagai sebuah kewajiban yang diperintahkan Allah SWT. Dengan Khilafah Islam, seluruh syariah Islam akan ditegakkan, persatuan umat Islam sejati akan kokoh, kebaikan di dunia maupun di akhirat bisa diraih. Inilah jalan satu-satunya. Tidak ada yang lain. [http://hizbut-tahrir.or.id/2013/07/29]

Oleh: Dr. H.M.  Rahmat Kurnia, M.Si

Islam: Fikrah dan Thariqah

20130602_094118Allah Swt. memerintahkan kepada kaum Muslim untuk terikat dengan apapun yang berasal dari-Nya yang diturunkan melalui Sayyid al-Mursalîn Rasulullah Muhammad saw.   Hal ini jelas sekali dalam banyak firman-Nya, antara lain:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang Rasul berikan kepadamu, terimalah. Apa yang ia larang  atasmu, tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (QS al-Hasyr [59]: 7).

Siapapun yang melakukan penelaahan terhadap hukum-hukum yang terdapat di dalam Islam akan menemukan ada dua jenis hukum/ajaran.  Pertama: akidah dan hukum syariah yang terkait dengan penyelesaian persoalan yang ada dalam kehidupan.  Akidah dan berbagai hukum/ajaran seperti itu dikenal dengan istilah fikrah. Fikrah lebih merupakan konsepsi.  Misal: keimanan pada al-Quran dan as-Sunnah serta kemampuan Islam dalam menyelesaikan persoalan, keimanan bahwa Allah itu Mahaadil dan menurunkan hukum-hukum Islam yang adil, dsb. Begitu juga hukum tentang shalat, shaum, haji, kewajiban memberi makan fakir miskin, dsb; semua itu termasuk ke dalam fikrah.

Kedua: hukum/ajaran yang merupakan metode pelaksanaan dari fikrah tadi. Inilah yang dikenal dengan tharîqah. Misal: dalam Islam ada hukum terkait orang murtad.  Orang yang keluar dari Islam (murtad) diberi peringatan, diberi kesempatan oleh negara selama tiga hari untuk bertobat. Jika tidak bertobat dalam waktu tersebut maka pengadilan harus menjatuhkan hukuman mati (HR al-Bukhari). Tobat orang murtad yang diterima hanya jika murtadnya itu tidak berulang-ulang, yakni tidak keluar-masuk Islam (Abdurrahman al-Malaki, Nizhâm al-’Uqûbât, hlm. 83-86).  Hukum tersebut merupakan hukum untuk menjaga keimanan pada diri kaum Muslim hingga tetap dalam keislamannya.  Karena hukum syariah tersebut merupakan metode pelaksanaan hukum ’kewajiban beriman’ maka dikategorikan sebagai thariqah.  Contoh lain: Islam mewajibkan memberi makan fakir miskin.  Bagaimana metode supaya fakir miskin tersebut benar-benar terjamin makannya?  Al-Quran dan as-Sunnah menetapkan adanya hukum nafkah antar ahli waris, hukum zakat yang salah satu penerimanya adalah fakir miskin, hukum pemberian negara (i’thâ’ ad-dawlah) kepada mereka, dan hukum wajibnya negara menjamin kebutuhan pokok warganya.  Hukum yang merupakan metode pelaksanaan terlaksananya kewajiban memberi makan fakir miskin tersebut merupakan tharîqah.

Berdasarkan gambaran sekilas di atas, fikrah dan tharîqah sama-sama hukum Islam.  Fikrah dan tharîqah harus dijalankan. Hukum/ajaran Islam baik yang terkategori fikrah maupun tharîqah ini membentuk mabda’ (ideologi) Islam.  Memisahkan keduanya berarti melaksanakan sebagian hukum syariah dan meninggalkan sebagian hukum syariah lainnya.  Tentu ini diharamkan.

Berdasarkan hal ini, Islam yang wajib ditegakkan adalah Islam mabda’i (ideologis), dalam arti fikrah dan tharîqah-nya harus berasal dari syariah.

 

Fikrah, Tharîqah dan Partai

Saat ini Islam tidak diterapkan secara kâffah. Kaum Muslim dikuasai oleh ideologi Kapitalisme baik dalam bidang sosial, ekonomi, budaya maupun politik.  Dalam situasi dan kondisi seperti ini, Islam memerintahkan umatnya untuk melakukan dakwah bagi perubahan dari sistem kufur menjadi sistem Islam.  Untuk itu, diperlukan fikrah dan tharîqah yang jelas terkait dakwah sekaligus diperlukan adanya kelompok/gerakan/partai yang jelas, yang berpegang pada fikrah dan tharîqah tersebut.  Ada beberapa alasan, antara lain: Pertama, berdasarkan realitas.  Sebelum dan ketika membangun apapun, setiap orang atau kelompok perlu mengetahui apa yang akan dibangun (fikrah) dan bagaimana metode yang harus ditempuh untuk mewujudkannya (tharîqah).  Lalu siapa yang akan memperjuangkan fikrah tersebut melalui tharîqah tadi.  Sebagai contoh sederhana, ketika akan membangun rumah perlu ditetapkan dulu rumah apa yang akan dibangun, permanen atau semi permanen, berapa tingkat, kamarnya berapa buah, ada garasi ataukah tidak, dll. Lalu dibuatlah sketsa tentang rumah yang akan dibuat itu. Inilah ’fikrah’ rumah ini.  Lalu bagaimana metode yang akan ditempuh sehingga rumah itu benar-benar akan terbentuk sesuai yang dibayangkan. Berikutnya, siapa arsiteknya, developernya, buruhnya, dll.  Tanpa rencana rumah apa yang akan dibuat, yang penting dibangun, maka hasilnya tidak karuan.

Kalau untuk membangun rumah saja seperti ini, maka membangun sebuah masyarakat Islam tentu memerlukan: (1) fikrah tentang masyarakat Islam dan negara yang akan diwujudkan secara jelas; (2) tharîqah untuk mewujudkannya; (3) kelompok/gerakan/partai yang memahami fikrah dan tharîqah tersebut yang terus secara konsisten memperjuangkannya.  Tanpa itu semua, perubahan hanyalah sekadar berubah dengan cek kosong. Muaranya, perubahan mungkin terjadi, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kedua, secara syar’i.  Allah Swt. telah memerintahkan kaum Muslim masuk Islam secara kâffah (QS al-Baqarah [32]: 208) untuk melanjutkan kehidupan Islam hingga menjadi umat terbaik (QS Ali Imran [3]: 110). Rasulullah saw. pun terus berjuang demi Islam.  Dalam rangka mengimplementasikan hal tersebut, Beliau mencontohkan metode yang ditempuhnya; mulai dari pembinaan para Sahabat, membentuk jamaah, melakukan interaksi dengan umat (tafâ’ul ma’a al-ummah) dengan menyerang ide/hukum/kebiasaan yang bertentangan dengan Islam serta membongkar rencana jahat kaum kafir Quraisy.  Semua itu, Beliau lakukan tanpa kekerasan sekalipun siksaan menimpa Beliau dan para Sahabatnya.  Beliau menyodorkan dirinya kepada para pemimpin kabilah untuk menawarkan Islam, lalu memintanya memberikan dukungan kekuatan demi kemenangan Islam (thalab an-nushrah) hingga Allah Swt. memberinya kemenangan dengan berdirinya pemerintahan/negara di Madinah.

Jalan ini diperintahkan oleh Allah Swt. untuk diikuti (QS Yusuf [12]: 108; QS al-An’am [6]: 153). Bahkan Allah Swt memerintahkan agar ada kelompok/partai yang melakukan dakwah seperti itu:

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan  kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104). 

Berdasarkan hal tersebut, dengan mencontoh sirah Nabi saw., terang bahwa untuk mewujudkan Islam diperlukan kejelasan fikrah tentang masyarakat/negara yang akan dibangun.  Selain itu, pencapaian masyarakat/negara seperti itu ditempuh dengan metode (tharîqah):

  1. Adanya partai atau jamaah yang mengemban Islam sebagai mabda’ (ideologi) untuk menerapkan hukum Islam (baik fikrah maupun tharîqah-nya).
  2. Melakukan pembinaan intensif dan pembentukan opini umum (ra’y[un] ’âm) yang didasarkan pada kesadaran umum (wa’y[un] ’âm).
  3. Melakukan pencarian pertolongan (thalab an-nushrah) dan kekuatan dari putra-putri umat Islam.  Semua itu untuk menghilang-kan hambatan fisik.  Lalu terjadilah penyerahan kekuasaan dari umat (istilâm al-hukm) kepada seseorang yang dibaiat sebagai khalifah.
  4. Memproklamirkan Kekhilafahan Islam.

Perjuangan menegakkan Islam secara kâffah dalam Khilafah merupakan pekerjaan besar. Bukan hanya kesungguhan dan semangat yang diperlukan, melainkan juga pemahaman yang jernih tanpa keremang-remangan tentang fikrah yang hendak diwujudkan dan tharîqah yang harus ditempuh.  Siapapun di antara komponen umat Islam yang memiliki kejernihan tersebut harus mengambil tanggung jawab untuk memimpin umat Islam untuk bersama-sama berjuang. Jika selama ini yang lantang menyuarakan penerapan syariah Islam dan Khilafah adalah Hizbut Tahrir, maka tidak salah jika Hizb memikul tanggung jawab di pundaknya untuk terjun langsung di tengah umat memimpin perjuangan.

 

Bahaya Ideologis dan Kelas

Kemenangan tercapai jika Islam unggul di atas ideologi yang ada di dunia: Sosialisme/Komunisme dan Kapitalisme.  Untuk mencapai kemenangan ini, mabda’ (ideologi) Islam mutlak tertanam dalam jiwa umat.  Hukum/ajaran Islam baik menyangkut konsepsi pemecahan terhadap berbagai masalah masyarakat (fikrah) maupun metode pelaksanaannya (tharîqah) harus terus didakwahkan.  Ideologi Islam harus ditanamkan.  Pada saat umat memiliki opini umum yang didasarkan kesadaran umum atas ideologi Islam maka umat akan berjuang bersama serta mengharuskan dirinya untuk dipimpin oleh partai/jamaah (hizb) yang secara sungguh-sungguh memperjuangkan syariah dan menyatukan umat dalam Khilafah.  Kepemimpinannya dilandasi oleh ideologi.

Namun, jika umat belum terpahamkan tentang fikrah Islam yang sedang diperjuangkan melalui tharîqah-nya, maka bahaya ideologis (khathr mabda’i) akan datang.  Boleh jadi sebagian umat menerima kepemimpinan Hizb, namun bukan atas dasar ideologi melainkan atas dasar yang lain seperti kemampuannya mengorganisasi acara, kecakapannya mendatangkan massa besar, kesungguhannya dalam merencanakan dan menjalankan kegiatan bersama, dll. Akibatnya, tidak menutup kemungkinan, sekalipun tidak setuju dengan fikrah yang diperjuangkan Hizb, tetapi umat ’rela dipimpin’.  Dalam kondisi demikian, ikatan kepemimpinan bukanlah mabda’ (ideologi), melainkan kepentingan.

Jangan heran jika dalam situasi demikian akan muncul tuntutan kepentingan sesaat kepada Hizb.  Kalau tuntutannya sesuai dengan fikrah dan tharîqah yang ditempuh tampaknya tidak akan menjadi problem.  Namun, akan lain jika tuntutannya misalnya: (1) tuntutan untuk bersikap kompromi terhadap sistem dan penguasa sekular; (2) tuntutan segera berkuasa dengan menjatuhkan penguasa dengan tetap mempertahankan sistem sekular; (3) bertindak anarkis agar suatu tuntutan dikabulkan oleh penguasa; (4) fokus pada merebut kekuasaan dengan mengabaikan penanaman mabda’ dalam diri umat; (5) bergabung dengan sistem kufur yang ada; dll.

Tentu, pilihannya amat berat.  Jika memilih tuntutan tersebut maka Hizb harus mengorbankan fikrah dan tharîqah yang diembannya dalam perjuangan.  Sebaliknya, jika tidak memenuhi tuntutannya boleh jadi akan ada tudingan-tudingan miring terhadap Hizb.  Pilihannya hanya satu: berpeganglah pada mabda’ karena perjuangan ini memang demi tegaknya mabda’ Islam dan ruh Hizb adalah mabda Islam itu sendiri.  Lihatlah, bagaimana sikap tegas Nabi saw. mempertahankan mabda’ saat ditawari harta, tahta dan wanita oleh Quraisy; begitu juga sikap tegas beliau berpegang pada mabda’ Islam dalam Perjanjian Hudaibiyah.  “Aku ini Rasulullah, tidak akan menyalahi perintah-Nya,” kata Beliau saat itu.  Sikap negatif umat hanyalah sesaat, akan berubah dengan makin pahamnya mereka terhadap fikrah dan tharîqah yang ditempuh.

Untuk menghindari terjadinya hal ini perlu ditempuh beberapa hal, di antaranya: (1) berpegang teguh pada hukum Islam secara total, baik fikrah maupun tharîqah-nya; (2) bersungguh-sungguh membina umat dengan mabda’ Islam serta melakukan pergolakan terhadap pemikiran kufur, membongkar rencana jahat asing; (3) menjaga kejernihan pemikiran dan pemahaman Hizb; (4) terus berjuang berada di tengah-tengah umat dengan hidup bersama mereka, berkomunikasi, beraktivitas bersama, dll.

[http://hizbut-tahrir.or.id]

Oleh: KH. Hafidz Abdurrahman, M.A (Cendekiawan Muslim)

sayyid-kutubUntuk  membaca,  apalagi  melacak,  pemikiran Sayyid  Qutub  (1906-1966),  seperti  kata  penulis  buku  ini, diperlukan  kejelian  dan  kecermatan.  Karena  itu,  ketika menulis  pengantar  ini,  saya  berusaha  mengumpulkan referensi  sebanyak-banyaknya  tentang  Sayyid  Qutub  dan pemikirannya,  agar  saya  bisa  bersikap  amanah,  setidak-

tidaknya  untuk menjawab  pertanyaan  besar  yang  belum dijawab  dalam  buku  Perubahan  Mendasar  Pemikiran Sayyid  Qutub  ini.  Pertanyaan-pertanyaan  yang  justru

menjadi  kunci  pembahasan  buku  ini.  Antara  lain:  Apa yang  dimaksud  “Perubahan  Mendasar”  dalam  pemikiran Sayyid  Qutub?  Benarkah  Sayyid  Qutub  mengalami ”perubahan mendasar” dalam pemikirannya?  Jika benar, dimanakah letak perubahan pemikiran yang mendasar itu terjadi?  Siapakah  yang  banyak  mewarnai  perubahan mendasar  dalam  pemikiran  Sayyid  Qutub?  Pertanyaan-pertanyaan  inilah  yang  ingin  saya  jelaskan  dalam pengantar ini.

Buku  ini  dikumpulkan  dan  artikel  yang  ditulis secara berseri dalam majalah  al-Wa’ie. Dengan  judul at-Taghyir  aI-Judzuri  fi  aI-Fikr  al-Syahid  Sayyid  Qutub (Perubahan Mendasar Pemikiran as-Syahid Sayyid Qutub), setidak-tidaknya  mempunyai  dua  asumsi.  Dalam  bahasa  Arab:  at-Taghyir  al-Judzuri  fi  al-Fikr  bisa  diasumsikan:

Pertama,  “konsep  tentang  perubahan  mendasar  dalam pemikiran.”  Dan  mungkin  inilah  yang  dimaksudkan  oleh penulis, sebagaimana yang terlihat dalam petikan-petikan pandangan  Sayyid  Qutub  yang  dituangkan  dalam tulisannya.  Asumsi  ini  didasarkan  kepada  sikap  penulis untuk tidak menyinggung sedikit pun tentang apa maksud “perubahan  mendasar”  yang  di-highlight  dalam tulisannya.  Karena  seluruh  wacana  pemikiran  yang dituangkan  dalam  buku  ini  sudah  menjawab  maksud “perubahan  mendasar”,  yang  lebih  kepada  konsep “perubahan mendasar” dalam pemikiran Sayyid Qutub. Tetapi, mungkin saja asumsi ini tidak betul. Sebab, ada  faktor  lain  yang  boleh  jadi  mempengaruhi  penulis untuk  tidak melakukan  beberapa  catatan  di atas,  antara lain, karena tulisan  ini bukan merupakan “tulisan  ilmiah” yang  sengaja disusun untuk menjadi  sebuah  buku,  tetapi merupakan  “tulisan  ilmiah”  yang  ditulis  untuk  konsumsi majalah.  Kedua,  “perubahan  mendasar  dalam pemikiran…”  sebagaimana  judul  terjemahan  buku  ini. Makna  yang  tidak  merujuk  kepada  “konsep”  atau “pemikiran”  tentang  “perubahan mendasar’  tetapi  lebih kepada  terjadinya perubahan mendasar dalam  pemikiran Sayyid Qutub.  Asumsi  ini  juga  dapat  diterima,  sekalipun penulis  —karena  pertimbangan  tertentu—  dalam pengantarnya  tidak  memberikan  ulasan  tentang  maksud ini.

Asumsi  ini  dibenarkan,  karena  biasanya  untuk merujuk  kepada  “konsep”  atau  “pemikiran”  tentang “perubahan mendasar” dalam bahasa Arab digunakan ”at- Taghyir  al-Judzuri  fi  al-Nadhri”  (konsep  “Perubahan Mendasar”  dalam  pandangan).  Karena  itu,  berdasarkan perspektif kebahasaan, asumsi yang kedua ini lebih tepat. Cuma  persoalannya,  jika  asumsi  kedua  yang  dianggap Iebih  tepat,  buku  ini  secara  keseluruhan  tidak menguraikan  ciri-ciri  “perubahan  mendasar”  dalam pemikiran  Sayyid,  setidaknya  dengan  comparatively method,  antara  pemikiran  beliau  sebelum  dan  setelah berubah.

Sekalipun  demikian,  tidak  berarti  buku  ini  tidak layak  untuk  mengurai  “perubahan  mendasar”  pemikiran Sayyid Qutub. Paling tidak, buku ini telah membuka mata kita melalui  symptom-symptom  yang diurai di dalamnya, setidaknya  untuk  mendiagnosis  hakikat  “perubahan mendasar”  tersebut.  Hanya  penelitian  lebih  mendalam terhadap  hakikat  “perubahan mendasar”  ini masih  perlu dilakukan.  Karena  itu,  saya  memberanikan  diri memberikan  pengantar  buku  ini  dengan  maksud  untuk memecah kekaburan tersebut.

Dilahirkan di Qaryah, wilayah Asyuth,  tahun 1906, sepuluh  tahun  kemudian,  Sayyid  Qutub  telah  hafal  aI-Qur’an.  Dari Qaryah,  beliau melanjutkan  studi  ke  Kairo, tepatnya  di  Dar  al-’Ulum  hingga  lulus.  Sekitar  tahun 1926,  pada  usia  20  tahun,  beliau  belajar  sastra  kepada Abbas  Mahmud  al-’Aqqad,  penulis  buku  ad-Dimuqrathiyyah  fi  al-Islam.  Tokoh  ini  mempunyai pengaruh besar  terhadap Sayyid Qutub. Kurang  lebih  25 tahun,  Sayyid  Qutub  bersamanya,  dan  karena  pengaruh al-’Aqqad-lah,  beliau  terlibat  dengan  kehidupan  politik yang  pertama.  Dalam  rentang  inilah,  beliau  menjadi anggota Partai al-Wafd. Pada akhirnya beliau keluar, dan bergabung  dengan  Partai  al-Haihah  al-Sa’adiyyah, pecahan  Partai  al-Wafd,  tetapi  hanya  bertahan  dua tahun.  Setelah  itu,  beliau  tidak  terlibat  dengan  partai manapun.

Al-’Aqqad  juga  orang  yang  berjasa mengangkat  kepopuleran  Sayyid  Qutub,  dengan  peluang menulis  gagasan-gagasannya  dalam  harian  partainya. Beliau akhirnya populer sebagal murid aI-’Aqqad. Tetapi, sejak  tahun  1946,  setelah  menulis  buku  at-Tashwir  al-Fanni  fi  al-Qur’an,  beliau  mulai  sedikit  demi  sedikit menjauhkan diri dan al-’Aqqad.

Selama  25  tahun,  antara  tahun  1926-1950,  Sayyid Qutub  belum  menggeluti  pemikiran  Islam,  khususnya ketika  bersama  al-’Aqqad.  Inilah  pengaruh  negatif  al-’Aqqad  pada  diri  Sayyid.  Gambaran  ini  dapat  dilacak dalam  tulisan-tulisan  beliau  seperti  yang  pernah dipublikasikan  oleh  majalah  al-Risalah  (1934-1952), disamping  buku-buku  beliau  yang  dicetak  pada  rentang masa  tersebut.  Tulisan  beliau  yang  dipublikasi  dalam rentang waktu  tersebut berkisar soal sastra, seperti bait-bait  syair  dan  beberapa  makalah  sosial  (1933-  1937), konflik  terbuka  melawan  al-Rafi’i  membela  al‘Aqqad (1938),  kritik  nyanyian  yang  diselingi  dengan  beberapa bait  syair dan makalah  sosial  (1940-1941), kritik  terbuka kepada  Dr.  Muhammad  Mandur  tentang  seni  retorika (1943), kritik  dan penjelasan  tentang aliran  seni  sebagai aliran al-’Aqqad (1944), kritik dan medan konflik terbuka dengan  Shalah  Dzihni  tentang  kisah  dan  kisah-kisah Mahmud  Taimur  (1944  dan  awal  1945),  serta  uraian tentang krisis di tanah air, peristiwa politik dan problem sosial  dengan  beberapa  makalah  yang  berbentuk  kritik (1945-1947).

Disamping itu, gambaran di atas juga dapat dilacak dalam  buku-buku  beliau  yang  diterbitkan  dalam  rentang waktu  tersebut.  Antara  lain:  Muhimmah  as-Sya‘ir  fi  al-

Hayah  wa  Syi’r  al-Jail  al-Hadhir  (1933).  Ini  merupakan buku beliau yang pertama diterbitkan. Di dalamnya beliau menguraikan  kedudukan  seorang  penyair  dalam kehidupan,  dan  syair  di  antara  seni-seni  keindahan  yang ada,  kemudian  tentang  siapa  yang  disebut  penyair, disamping  tentang  kepribadian  penyair  dan  pengaruh lingkungannya. As-Syathi’al-Majhul (1935). Buku ini berisi kumpulan  bait  syair  yang  diterbitkan  pertama  dan terakhir  kali.  Dalam  pengantarnya,  beliau  mengatakan, bahwa  buku  ini  berisi  teori  ilmiah  dan  filosofis,  ketika seorang  penyair  beninteraksi  dengan  “dunia  fantasi”. Naqd  Kitab  Mustaqbal  al-Tsaqafah  fi  Mishr  (1939).  Ini berisi bantahan terhadap Taha Husein. Tulisan ini asalnya dimuat  dalam  buletin  Dar  al-‘Ulum,  yang  kemudian diadopsi oleh koran aI-Ikhwan  al-Muslimin, ketika  Sayyid Qutub  belum  menjadi  anggota  jamaah  ini.  Sekalipun berisi  bantahan,  tetapi  beliau  tidak  menolak  seratus persen  pemikiran  Taha  Husein.  Buku  ini  juga  tidak memberikan  bantahan  dalam  perspektif  Islam,  tetapi lebih  berdasarkan  perspektif  edukatif.  At-Tashwir  al-Fanni  fi  aI-Qur’an  (1945).  Ini  dianggap  sebagai  buku keislaman  yang  pertama.  Al-Athyaf  al-Arba’ah  (1945). Buku  ini  ditulis  bereempat  dengan  saudaranya  untuk mengenang  kepergian  ibunya.  Thiflun  min  al-Qariyah (1946).  Sayyid  Qutub  menghadiahkannya  untuk  Taha Hussein,  penulis  buku  al-Ayyam,  yang  sangat  beliau kagumi.  Al-Madinah  a!-Mashurah  (1946).  Buku  ini  berisi kisah  fantasi.  Kutub  wa  Syakhshiyyah  (1946).  Karya  ini ditujukan  kepada  para  sastrawan,  penyair  dan  pengkaji yang  aktivitas  sastranya  beliau  kritik.  Asywak  (1947).  Ini merupakan  karya  di  bidang  roman  percintaan.  Masyahid al-Qiyamah  fi  al-Qur’an  (1948).  Berisi  pemandangan kiamat,  dan  menguraikan  seratus  lima  puluh pemandangan,  yang  terbagi  dalam  delapan  puluh  surat. An-Naqd  al-Adabi Ushuluhu wa Manahijuhu  (1948). Buku ini  berisi  kritik  sastra,  dasar  dan metodenya.  Al-‘Adalah al-Ijtima’iyyah  fi  a/-Islam  (1949).  Ini  dikatakan  sebagai buku  pemikiran  Islam  beliau  yang  pertama  kali diterbitkan.  Buku  ini  ditulis  ketika  pengaruh  Sosialisme begitu  kuat  di  Mesir,  dengan  meminjam  trade  mark “keadilan  sosial”  Sosialisme,  sekalipun  beliau  coba uraikan  dengan  paradigma  keislaman  beliau.  Buku  yang  disebutkan  terakhir  ini  ditulis  sebelum  beliau  berangkat ke Amerika, dan sebelum bergabung dengan aI-Ikhwan.

Sebagaimana  penuturannya  kepada  an-Nadawi, setelah  beliau  melalui  fase  keraguan  terhadap  hakikat keagamaan hingga pada batas yang  sangat jauh, akhirnya beliau  kembali  kepada  al-Qur’an  untuk  mengobati kegalauannya. Perubahan  ini  terjadi  sejak  sekitar  tahun 1945,  setelah  beliau  menulis  at-Tashwir  al-Fanni  fi  al-Qur’an  (1945), Masyahid  aI-Qiyamah  fi  aI-Qur’an  (1948) dan  al-’Adalah  al-Ijtima’iyyah  fi  al-Islam  (1949).  Ketika di  Amerika,  tahun  1949,  beliau  menyaksikan  Hassan  al-Bana,  pendiri  aI-Ikhwan  dibunuh.  Dari  sini,  Sayyid mulai simpati  dengan  jamaah  ini.  Setelah  kembali  ke  Mesir, beliau  mengkaji  sosok  Hassan  al-Bana,  seperti  dalam pengakuannya:

“Saya  telah  membaca  semua  risalah  al-Imam  as-Syahid.  Saya  mendalami perjalanan  hidup  beliau  yang  bersih  dan tujuan-tujuannya  yang  haq.  Dari  sini  saya tahu,  mengapa  beliau  dimusuhi?  Mengapa beliau  dibunuh?  Karena  itu,  saya  benjanji kepada  Allah  untuk  memikul  amanah  ini sepeninggal  beliau,  dan  akan  melanjutkan perjalanan  ini  seperti  yang  beliau  lalui, ketika beliau bertemu dengan Allah”4

Pada  tahun  1951,  ketika  berusia  45  tahun,  beliau bergabung  dengan  al-Ikhwan.  Pada  saat  inilah,  Sayyid menganggap  dirinya  baru  dilahirkan,  setelah  dua  puluh lima  tahun  umurnya  dihabiskan  dengan  al-’Aqqad.  Sejak masuk  jamaah  ini  hingga meninggal  dunia,  beliau  hanya sempat hidup  selama 15  tahun, hingga dijatuhi hukuman mati  oleh  regim Nasser,  kawan  beliau  dalam merancang Revolusi  Juli  tahun  1952,  setahun  setelah  bergabung dengan  al-Ikhwan.  Dalam  jamaah  ini,  sekalipun  beliau tidak  pernah  menjabat  sebagai  pemimpin  al-Ikhwan, seperti al-Bana, tetapi beliau dinobatkan sebagai pemikir nomer dua setelah al-Bana.

Perubahan  Sayyid  nampak  terutama  setelah bergabung  dengan  Al-Ikhwan,  sekalipun  ini  bukan  fase akhir perubahan pemikiran beliau. Perubahan  ini nampak misalnya  dalam  buku  beliau,  antara  lain:  Ma’rakah  al-Islam  wa  ar-Ra’simaliyyah  (1951).  Buku  yang menekankan,  bahwa  hanya  Islam-lah  satu-satunya  solusi yang  mampu  menyelesaikan  semua  krisis  sosial  yang terjadi.  As-Salam  al-Alami  wa  al-Islam  (1951).  Ini mengurai kegoncangan dunia dan perdamaian yang dapat diwujudkan  oleh  Islam.  Fi  DhilaI  aI-Qur’an  juz  I  (1952). Karya  monumental  beliau  setelah  kembali  kepada  al-Qur’an.  Dirasat  Islamiyyah  (1950-1953).  Buku  ini  berisi tiga  puluh  enam  makalah.  Hadza  ad-Din  (1953).  Buku yang  mencerminkan  fase  baru  pemikiran  Islam  beliau. Kemudian  secara berurutan, dalam  rentang  antara  tahun 1953-1966,  keluar  buku  beliau,  seperti:  al-Mustaqbal Iihadza  ad-Din,  Khashaish  at-Tashawwur  al-Islami  wa Muqawwamatuh,  al-Islam wa Musykilat  aI-Hadharah  dan Ma’alim fi at-Thariq.

Bahwa  perubahan  pemikiran  Sayyid  Qutub  setelah bergabung dengan al-Ikhwan bukan merupakan fase akhir perubahan  mendasar  dalam  pemikirannya,  nampak setelah pemikiran beliau dilacak dengan teliti dan cermat melalui  buku-bukunya.  Karena  itu,  seperti  yang diungkapkan  oleh  Shalah  al-Khalidi  (1981),  ketika  buku beliau  yang  pertama  diterbitkan,  at-Tashwir  al-Fanni  fi al-Qur’an  (1945), mereka  yang  arif  mengatakan:  “Inilah kitab  Sayyid  Qutub.”  Ketika  buku  al-’Adalah  al-Ijtima’iyyah  fi  al-Islam  (1949)  terbit,  mereka mengatakan:  “Bukan  itu.  Inilah  kitab  Sayyid  Qutub.”

Ketika  buku  Khashaish  at-Tashawwur  al-Islami  wa Muqawwamatuh terbit, mereka mengatakan: “Bukan  itu, tapi  ini.”  Ketika  Fi  Dhilal  al-Qur’an  juz  I  (1952)  terbit, mereka  mengatakan:  “Inilah  buku  beliau.”  Dan  begitu buku  Ma’alim  fi  at-Thariq  terbit,  mereka  mengatakan: “Inilah  kitab  Sayyid  Qutub  yang  sesungguhnya.”  Karena

itu,  “Saya  yakin,  kalaulah  Allah  menakdirkan  terbitnya buku-buku  gerakan  keislaman  beliau  yang  lain  setelah Ma’alim,  pasti  akan  menutup  apa  yang  ditulis sebelumnya.”  demikian  ungkap  Shalah  al-Khalidi,  ketika menggambarkan  perubahan  demi  perubahan  dalam pemikiran sang syahid ini.

Inilah  “perubahan  mendasar”  yang  terjadi  dalam pemikiran  tokoh  syahid  ini.  Boleh  jadi  karena  faktor keikhlasannya,  beliau  akhirnya  dapat  meraih  kedudukan agung  ini.  Keikhlasan  ini  nampak  ketika  beliau  mampu mengumumkan, bahwa dirinya telah melepaskan diri dari pemikiran-pemikiran  beliau  sebelumnya,  setelah  beliau mengadopsi  pemikirannya  yang  baru. Sesuatu  yang biasanya  sulit  dilakukan  oleh  orang  yang  mempunyai popularitas seperti beliau. Keikhlasan beliau juga nampak ketika  pada  tahun  1953  berkunjung  ke  al-Quds,  dan bertemu dengan as-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani. Dalam pertemuan  ini,  beliau  melakukan  dialog  pemikiran dengannya,  yang  pada  akhirnya  beliau  mendukung gagasan  an-Nabhani  dan  partainya. Sikap  yang  jarang ditemukan  pada  mereka  yang  menisbatkan  gerakannya kepada beliau. Laporan yang menyatakan dukungan beliau ini,  sangat  susah  ditemukan  dalam  tulisan  mereka  yang menisbatkan  gerakannya  kepada  Sayyid  Qutub.  Apa  lagi

untuk  mendapat  laporan,  bahwa  sedikit  banyak  beliau juga  telah  menyerap  pandangan-pandangan  tokoh  yang disebutkan terakhir ini.

Tentang masalah yang terakhir ini, sekalipun masih terlalu  prematur  untuk  dibuktikan,  namun  setidaknya symptom-nya  dapat  ditemukan  ketika  melacak  wacana pemikiran Sayyid Qutub dalam buku ini. Pemakaian istilah al-wa’yu,  isti’naf  al-hayah  aI-Islamiyyah  (melanjutkan kehidupan  Islam),  serta  seruan  beliau  untuk membangkitkan  umat  melalul  tegaknya  Khilafah  Islam, dan  sebagainya  dapat  dianggap  sebagai  symptom penyerapan beliau terhadap pandangan-pandangan ulama ini. Karena term-term —selain gagasan yang terakhir— ini merupakan  term  dan  gagasan  yang  secara  konsisten diperjuangkan  oleh  ulama  ini,  sejak  pertama  kali mendirikan  partainya, tahun  1953.  Sedangkan  sejauh mana  pengaruh  pandangan  tokoh  ini  terhadap  Sayyid

Qutub,  apa  hanya  sekedar  intifa‘  (istilahnya dimanfaatkan)  ataukah  benar-benar  ta’atstsur (terpengaruh).  Sekali  lagi  untuk  menjawab  masalah  ini perlu penelitian yang lebih akurat.

Akhirnya,  apapun  tentang  Sayyid  Qutub rahimahullah, beliau adalah as-Syahid yang tetap hidup di tengah  kita.  Pemikirannya  masih  menyinarkan  harapan untuk  menyembuhkan  kondisi  umat,  yang  masih  belum sadar,  dan  ketika  banyak  orang  sudah  tidak  lagi mempunyai  harapan  terhadap  kehidupan  mereka.  Dan buku  ini,  merupakan  uraian  terbaik  dalam  memahami mainframe  gerakan  Sayyid  Qutub  yang  banyak  dilupakan oleh para pengikutnya. WaIlahua’lam bi as-Shawab.

(Download Buku: Perubahan Mendasar Pemikiran Sayyid Qutub)

khilafah_palestineOleh : Adi Victoria

Dalam sejarah perjalanan dakwahnya, gerakan Ikhwanul Muslimin berdiri lebih awal daripada Hizbut Tahrir. Ikhwanul Muslimin didirikan oleh seorang mujtahid dan mujahid yakni al Imam asy syahid Hasan al Bana.

Tentang Hasan Al Bana menarik apa yang pernah disampaikan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, yang juga merupakan seorang mujadid abad ini. Beliau berkata “Syekh Al Banna merupakan orang yang alim, cerdas, sungguh-sungguh dan seorang mujtahid” Buku Hizbut Tahrir Al Islamy (1992) halaman 83).

Syaikh taqiyuddin juga mengomentari gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Bana, masih di judul buku dan halaman yang sama beliau berkata “Ikhwanul Muslimin merupakan jamaah Islam yang teguh dan tidak ada yang kurang padanya kecuali kajian tentang politik Islam”

Ittishal (Kontak)

Salah satu aktvitas yang selalu dilakukan oleh syabab Hizbut Tahrir adalah ittishal atau kontak. Ini sebagaimana merujuk kepada aktivitas dakwah rasulullah saw sejak dari Makkah hingga Madinah.

Sejak Allah SWT menurunkan surah al mudatsir. Nabi semakin memperluas zona dan obyek dakwahnya. Setelah sebelumnya beliau sukses mengajak orang dekat yang berda di ring satu seperti istri, maula beliau, sepupu beliau yakni ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau memasuki ring kedua yakni sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakar.

Melalui jaringan Abu Bakar inilah ring dua dapat dilalui dengan sukses. Islam diterima oleh Ustman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, dll. Hingga akhirnya Islam diterima oleh banyak kalangan dari beragam latar belakang. Inilah titik awal dakwah nabi. Titik awal yang dimulai dari kontak (ittishal) yang beliau lakukan. Kontak ini pula yang dilakukan oleh Abu Bakar as Siddiq hingga kemudian banyak orang menerima Islam. Dari kontak inilah terbentuk generasi awal (as sabiqul awwalun). Dari generasi awal inilah terbentuk kutlah Rasul dan selanjutnya bermetamorfosis menjadi hizb Rasul. Rasul saw adalah pimpinan hizb ini. Beliau mendidik anggotanya dan mengorgnisir aktivitas-aktivitas dakwah yang terarah dengan target yang jelas.

Hal ini juga yang kemudian dilakukan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Al-Ustadz Fauzi Sinnuqarth, menuturkan sejarah awal terbentuknya Hizbut Tahrir:

“Saya ingat, bahwa pertama kali beliau menjelaskan masalah Khilafah, ketika berada di Masjid al-Aqsa yang penuh berkah, di salah satu sudut sebelah barat daya. Di sana terdapat ruangan yang memanjang. Beliau berbicara kepada banyak orang setelah shalat Jum’at, suatu pembicaan yang sangat menyentuh dan jelas. Di sekeliling beliau ketika itu berkumpul ratusan orang. Beliau menceritakan kepada mereka Sirah Nabawiyyah. Sesekali beliau menceritakan wafatnya Rasulullah saw, dan bagaimana kaum Muslim setelah beliau wafat, mereka menyibukkan diri di Saqifah Bani Sa’adah untuk mengangkat seorang khalifah bagi mereka, sementara mereka membiarkan pemakaman beliau sampai bia’at kepada Abu Bakar as-Shiddiq berhasil dilakukan.

Jadi, itu merupakan pembahasan, dan pembicaraan pertama tentang penegakan khalifah serta seruan untuk menegakkannya. Peristiwa itu terjadi tepat pada tahun 1950 M. Syaikh Taqiyuddin kemudian melanjutkan kontak beliau dengan orang yang menginginkan kebaikan, yaitu para pemuda dari al-Quds. Lalu beliau pun mengontak para pemuda yang lain lagi, yang menginginkan kebaikan, atau beliau tahu kalau mereka itu baik dari daerah al-Khalil dan Tulkarim. Ketika beliau mendengar ada seseorang yang menginginkan kebaikan, atau beliau merasa bahwa dia baik, pasti akan beliau kontak. Dengan cara seperti itu, beliau berhasil merekrut banyak orang.

Beliau mengajak mereka berdiskusi dengan mendalam. Misalnya, diskusi beliau dengan salah seorang dari keluarga ‘Azzah, dan keluarga Hammad, sebuah diskusi yang mendalam. Melalui diskusi tersebut, beliau menulis pembahasan al-Qiyadah al-Fikriyyah fi al-Islam (kepemimpinan intelektual dalam Islam) yang telah dimasukkan dalam kitab Nidzam al-Islam. Diskusi beliau dengan seseorang, namanya Said Ramadhan tentang akhlak. Setelah itu, beliau menulis al-Akhlaq fi al-Islam (Akhlak di dalam Islam) dalam kitab Nidzam al-Islam.

Masuknya Sebagian Anggota Harakah 313 ke dalam Hizbut Tahrir

Harakah 313 merupakan harakah yang ada sebelum Hizb yang menyerukan tegaknya Daulah Islamiyah. Pendirinya adalah Syeikh Hamzah Abdul Ghafar Thahbub (sopir truk). Mereka beranggapan bahwa terpenuhinya anggota sebanyak 313 orang akan sempurna berdiri daulah (karena jumlah kaum muslim Mekah yang berhijrah ke Madinah adalah 313 orang muslim). Mereka mengharuskan anggotaanggotanya tidak berinteraksi dengan departemen-departemen dalam sistem pemerintahan kufur. Sampai-sampai mereka melarang salah seorang anggota mereka untuk pergi ke kantor polisi guna memberitahukan pencurian tokonya. Ketika Hizb at-Tahrir berdiri, simpul harakah 313 pun terurai karena mayoritas anggotanya bergabung dengan Hizb kecuali pendirinya.

Diantara mereka yang menonjol adalah : Ibrahim Syakir asy-Syarbati (mahasiswa Azhari dan sopir truk), Ahmad Ibrahim Misik (tukang roti), Abdul Ghafar asy-Syeikh Darah (pemilik restauran al-Quds di Amman sekarang), Syeikh Rabi’ Barakat al- Asyhab (tukang roti), Muhammad Nu’aim Utsman asy-Syarbati (sopir truk), Ya’qub Abdul Karim Abu Ramilah at-Tamimi (tukang samak kulit), Khalid Ahmad Ahmarou (penjahit), semua dari mereka bergabung ke dalam barisan Hizb at-Tahrir sejak awal. Mereka semuanya tanpa terkecuali memiliki sikap kepartaian yang sangat menonjol yang mengantarkan mereka ke penguntitan, penangkapan dan dipenjara beberapa kali.

Masuknya sebagian pemimpin Ikhwanul Muslimin dan kader nya ke dalam Hizbut Tahrir

Gerakan yang terkenal sebelum berdirinya Hizb selain gerakan 313 adalah gerakan Ikhwan al-Muslimin. Ikhwan al-Muslimin merupakan gerakan yang sudah lama dan lebih dahulu muncul di banding gerakan lainnya. Gerakan ini (Ikhwan al- Muslimin) didirikan oleh almarhum Hasan Abdurrahman al-Bana as-Sa’atiy di Mesir pada awal tahun 30-an abad ke dua puluh. Gerakan ini masuk ke Yordania melalui tangan seorang pengusaha yaitu Abdul Lathif Abu Qurah, dan ke al-Khalil melalui tangan seorang pengusaha, Isa Abdun Nabiy al-Nattsah.

Gerakan ini tidak sampai pada tingkat sebagai sebuah partai politik. Akan tetapi gerakan ini tetap sebagai jamaah khairiyah yang secara lembaga maupun aktivisnya diterima dan direstui oleh penguasa, khususnya Yordania, Saudi dan negara-negara arab teluk. Pendiri gerakan ini rahimahuLlâh, telah mengumumkan pada awal gerakan ini yaitu dalam ar-Rasâ’il dan buku Qadhiyatunâ bahwa mereka bukan orang-orang yang menyerukan kekuasaan atau perubahan pemerintahan, bahkan hal itu (menyerukan kekuasaan dan perubahan sistem pemerintahan) dianggap sebagai tuduhan yang harus ditolak.

Aktivis-aktivis gerakan ini mengumumkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menyerukan reformasi atas kondisi yang ada, bukan yang lain, dibawah payung penguasa negeri yang bagi mereka dianggap penguasa yang adil. Oleh karena itu aktivitas mereka dibatasi melalui dakwah individual. Maksudnya adalah memperbaiki individu, akan memperbaiki usrah dan akan membuat masyarakat menjadi baik …

Aktivitas mereka di al-Khalil terbatas pada dakwah individual yang menyerukan akhlak, mengumpulkan harta untuk didistribusikan kepada orang-orang fakir dan untuk membiayai aktivitas-aktivitas kebaikan (sosial), permainan olah raga dan rekreasi, kelompok kepanduan13 , klinik kesehatan, diskusi mingguan setiap kamis sore di Dâr al-Ikhwân, perayaan berbagai hari besar Islam dan program tahfizh Quran. Semua aktivitas jamaah Ikhwanul Muslimin itu di organisasikan dari pusat (markas) mereka yaitu Dâr al-Ikhwân al-Muslimîn di satu bangunan yang disewa di jalan Syuhada’ yang terasnya memanjang sampai jalan Bab az-Zawiyah. Juga termasuk aktivitas mereka adalah kajian pusparagam di rumah-rumah.

Kajian itu mereka namakan “usrah”. Setiap usrah menggunakan nama dan memiliki anggaran sendiri-sendiri, dan daftar orang yang memberikan kajian. 14 Jumlah anggota setiap usrah juga tidak dibatasi, kadang mencapai sepuluh orang atau lebih. Dalam pembentukan usrah-usrah itu terlihat jelas diperhatikan unsur stratifikasi. Usrah itu berkumpul pada hari tertentu setiap minggunya dan dihidangkan makanan, makanan pencuci mulut dan kue-kue. Tempat pertemuan dan tuan rumah pertemuan digilir diantara anggota usrah. Tidak ada kitab tertentu yang dibaca di dalam usrah, apalagi suatu program kajian tertentu dan mereka keras untuk menghafal al-Quran. Karakter usrah yang dideskripsikan di sini adalah fakta usrah pada akhir tahun empat puluhan dan awal lima puluhan. Fakta itu berbeda dengan bentuknya sekarang.

Ittishal yang dilakukan syaikh taqiyudin an Nabhani berhasil membuat sebagian para petinggi ikhwanul Muslimin berpindah dan masuk ke dalam gerakan Hizbut Tahrir. Syeikh Abdul Qadim Zallum, syeikh As’ad Bayoudh at-Tamimi, Syeikh Rajab Bayoudh, syeikh Abdul Hayyi ‘Arafah dan syeikh Abdul Qadir Zallum –ketua kepanduan di Ikhwanul Muslimun dan komandan terdahulu di Jihad al-Quds dibawah H. Amin al-Husaini-, termasuk para pemimpin al-Ikwan al-Muslimun di al-Khalil.

Bergabungnya beliau-beliau itu ke dalam barisan Hizb mengakibatkan kekuatan perjalanan gerakan al-Ikhwan al-Muslimun merosot, mulai redup dan melemah eksistensinya, langkahnya tersandung-sandung dan anggota masyarakat yang menisbatkan diri kepadanya juga berkurang dan jumlahnya semakin kecil.

Oleh karena itu dengan segera datang dari Mesir ustadz Sa’id Ramadhan –menantu Hasan al-Bana sekaligus orang kedua di al-Ikhwan al-Muslimun Mesir setelah menantu Hasan al-Banna yang lain yaitu Abdul Hakim ‘Abidin pemilik majalah al- Muslimun yang terbit di Kaero kemudian pindah ke Swiss-. Ustadz Sa’id Ramadhan bertemu dengan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani di rumah Muhammad dan Nashir asy-Syarbati di al-Khalil. Maksud pertemuan itu adalah untuk meyakinkan Syeikh Taqiyuddin agar membatalkan Hizb dan menggabungkan kedua jamaah. Pertemuan itu juga dihadiri oleh para pemuka al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil, antara lain : Syeikh Syukri Abu Rajab at-Tamimi, H. Nashir Amin Al-‘Aidah al-Harbawi, Syeikh Muhammad Sa’id Shalah, Nashir Ahmad asy-Syarbati, Muhammad Ahmad asy- Syarbati, H. Isa Shalih Abdun Nabi an-Natsyah, H. Abdul Hafizh Mishbah Masudah, H. Abdul Fatah Hasan ath-Thahir al-Muhtasib, Muhammad Rasyad Abdus Salam ‘Arif, Abdul Wadud Abu Gharbiyah asy-Sya’rawi. Namun pertemuan itu tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Hubungan Syeikh Abdul Qadim Zallum dengan al-Ikhwan al-Muslimun.

Syeikh Abdul Qadim Zallum memiliki kedudukan tinggi diantara para ulama di daerah al-Khalil karena keluasan pengetahuan, kemuliaan akhlak, ketakwaan dan kelembutan perhatian beliau. Beliau seperti bintang yang bersinar-sinar diantara para ulama. Setelah lulus dari al-Azhar, beliau bekerja menjadi pengajar di Madrasah al-Husein bin Ali di al-Khalil. Beliau bergabung dengan jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil dan menduduki jabatan kepemimpinan. Tidak lama, lalu beliau keluar dari al-Ikhwan al-Muslimun dan bergabung dengan halqah ula di Hizbut Tahrir. Beliau sangat dekat dengan Syeikh Taqiyuddin. Sebagian besar pemimpin jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil mengikuti jejak Syeikh Abdul Qadim Zallum dengan keluar dari jamaah untuk bergabung ke dalam barisan Hizbut Tahrir. Hal itu menyebabkan kegoncangan cabang jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al- Khalil.

Diantara pemimpin dan tokoh al-Ikhwan al-Muslimun cabang al-Khalil yang keluar dan bergabung dengan Hizbut Tahrir antara lain : Syeikh As’ad Bayoudh at- Tamimi-Abu Thal’at, Syeikh Rajab Bayoudh at-Tamimi-Abu Hamid, H. Abdul Qadir Zallum-Abu Faishal pendiri kelompok kepanduan al-ikhwan al-muslimiun di al-Khalil, H. Nashir Ahmad asy-Syarbati-Abu Hatim, Syeikh Abdul Hayyi ‘Arafah-Abu Mushthafa mufti al-Khalil dan Syeikh Abdus Sami’ ar-Rifa’iy al-Mishri.

Saya (penulis buku kekasih-kekasih Allah) ingin tegaskan di sini ketidahsahihan riwayat yang ada di beberapa buku individu al-Ikhwan al-Muslimun yang menunjukkan bahwa utusan al-Ikhwan al- Muslimun dari Mesir adalah asy-Syahid Sayid Quthub. Yakni perkataan yang sering dinukil oleh kalangan pemudah ikhwan (generasi ikhwanul Muslimin) yaitu “biarkan saja mereka, mereka akan berhenti pada titik seperti awal ikhwan” yang dinisbatkan kepada asy-Syahid Sayid Quthub. Perkataan ini juga tidak benar. Perkataan perkataan ini dibuat-buat demi tujuan picisan, sudah nampak jelas kebohongan
mereka.

Sebagai pengaruh dari kegagalan pertemuan itu, mulai terjadi pergolakan pemikiran yang sengit disertai serangan yang keras dan zalim kepada Hizb dan para pengikut Hizb oleh individu-individu jamaah al-Ikhwan al-Muslimun. Sebagai contoh serangan itu, tatkala H. Nashir asy-Syarbati kemudian bergabung ke dalam barisan Hizb meninggalkan al-Ikhwan al-Muslimun, bersamaan dengan kedatangan rekan beliau dari Kuwait, akhi Abdul ‘Aziz al-Madhun yang datang meminta beliau kembali ke barisan al-ikhwan al-muslimun dan meninggalkan Hizb. Setelah diskusi yang panas, akhi Abdul ‘Aziz mengakhiri diskusi dengan mengatakan : “saya menganggap engkau seperti orang murtad dan saya tidak akan pernah sekalipun mengucapkan salam kepada engkau selama hidupku”.

Begitu juga sebagian mereka (orang-orang al-ikhwan al-muslimun) menjawab salam yang diucapkan oleh syabab Hizb dengan perkataan : “salam, kami tidak ingin menjadi kaum yang bodoh”. Hal itu seperti yang terjadi pada ustadz H. Abdul Qadir Zallum dan murid beliau yang durhaka, akhi Jibril Badawi al-Hanini.

Sebagian penulis al-ikhwan al-muslimun mengklaim bahwa Hizbut Tahrir adalah pecahan dari barisan mereka (al-Ikhwan al-Muslimun). Perkataan demikian sangat jauh dari kebenaran. Tidak satu orangpun dari halqah ula Hizbut Tahrir yang berasal dari al-ikhwan al-muslimun. Meski banyak dari hizbiyin generasai awal di al- Khalil berasal dari barisan al-ikhwan al-muslimun, namun mayoritas mereka berasal dari harakah 313. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari partai komunis.

Syeikh Taqiyuddin dan sahabat-sahabat beliau yang menduduki kepemimpinan Hizb tidak memiliki hubungan sama sekali dengan al-ikhwan al-muslimun. Begitu pula Syeikh Taqiyuddin tidak memiliki hubungan sama sekali dengan jamaah H. Amin al- Huseini seperti yang diindikasikan oleh sebagian penulis al-Ikhwan al-Muslimun. Kedua perkataan itu (Hizb pecahan dari al-Ikhwan al-Muslimun dan adanya hubungan Syeikh Taqiyuddin dengan jamaah H. Amin al-Huseini) merupakan dua perkataan yang ditulis dari sisi kedustaan yang disengaja dengan tujuan buruk dan picisan. Sementara Ustadz Abdul Qadir Zallum lah rekan dekat mereka –sebelum bergabung dengan Hizb- yang memiliki hubungan dengan H. Amin al-Huseini. Karena sebelum bergabung dengan jamaah al-ikhwan al-muslimun, Ustadz Abdul Qadir Zallum menjadi bagian dari gerakan al-jihad al-Quds yang mengikuti jamaah H. Amin al-Huseini.

Sikap Masyarakat kala itu kepada Syaikh Taqiyudin dan kepada Hizbut Tahrir

Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani terkenal di masyarakat sebagai pendiri Hizbut Tahrir. Sampai-sampai Hizb pada awalnya disebut oleh masyarakat awam dengan sebutan “an-Nabhaniyun”. Sebagian mereka menyebut Hizb dengan sebutan “attâ’ûn ad-dawlah” yakni “rijâl ad-dawlah”.

Sebutan ini dinisbatkan kepada seruan paling menonjol yang diserukan Hizb yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. Khususnya setelah Hizb mengeluarkan buku “ad-Dawlah al-Islâmiyyah”. Meski berbagai sumber menyerang dan membantah Hizb dan meremehkan seruan penegakan daulah al- Khilafah, namun pendiri Hizb, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, tetap mendapat penghormatan yang tinggi dan kemuliaan dari seluruh lapisan masyarakat. Karena beliau termasuk generasi awal pengajar yang mukhlish ketika pada tahun 30-an beliau menjadi pengajar di Madrasah ar-Rasyidiyah di al-Quds. Beliau juga sangat terkenal di seluruh bagian Palestina sebagai seorang alim alamah diantara ulama ulama yang terkenal dan sebagai seorang yang mulia yang lembut baik hati dan akhlak seorang yang jujur (benar) diantara orang yang paling jujur. Beliau sebagai contoh seorang alim yang bertakwa dan wara’. Syeikh Taqiyuddin tidak pernah sekalipun dicela perilaku beliau dari kelompok atau arah manapun. Bahkan hingga orang yang paling keras memusuhi Hizb sekalipun, memuji Syeikh Taqiyuddin akan kewara’an dan ketakwaan beliau. Begitu pula amir Hizb yang kedua Syeikh Abdul Qadim Yusuf Zallum. Beliau adalah seorang syeikh yang lembut dan murah hati, lulusan al-Azhar dan pengajar di Madrasah al-Husein bin Ali di kota al-Quds –ayah beliau, Syeikh H. Yusuf Zallum seorang hafizh al-Quran yang terkenal- yang mendapat penghargaan dan penghormatan yang tinggi serta kecintaan dari masyarakat secara umum dan khususnya para syaikh.

Perlakukan Ikhwanul Muslimin kepada kadernya yang berinteraksi dengan Syaikh Taqiyudin

Berikut akan saya nukilkan salah seorang generasi awal syabab hizbut tahrir yang sebelumnya merupakan kader Ikhwanul Muslimin yakni Syaikh Abu Arqam (penulis buku ahbabullah/kekasih-kekasih Allah) yang mengisahkan kisah nya ketika keluar dari ikhwanul muslimin dan bergabung dengan hizbut tahrir. Beliau termasuk generasi pertama dalam barisan aktifis Hizbut-Tahrir (HT) yang pernah mendapatkan halqah dari Syaikh Taqiyiyuddin an-Nabhani rahimahullâh, pendiri Hizbut Tahrir. Berikut ini sekilas memoar beliau, sebagaimana dituliskan oleh Syaikh Thalib Audhullah dalam buku, Ahbâbullâh.

Awal Pertemuan dengan HT

Sejak tahun 1950 saya telah bolak-balik di Dar al-Ikhwan al-Muslimin (Rumah/Sekretariat Ikhwanul Muslimin). Pada saat itu Syaikh Abdul Qadim Zallum, H. Abdul Qadir Zallum dan yang lain juga suka bolak-balik ke sana. Ketika kami berkumpul di sana, terjadi diskusi dan tanya jawab. Saat itu saya sangat tertarik dengan pemikiran-pemikiran baru yang dilontarkan Syaikh Abdul Qadim Zallum.

Sebelumnya bersama Ikhwanul Muslimin kami tidak terbiasa dengan pemikiran seperti itu. Hal itu membuat saya dekat dengan beliau rahimahullâh.

Kemudian kami mulai berdiskusi dengan saudara-daudara kami di Jamaah (Ikhwan). Hal itu membuat mereka berkata kepada kami, “Kalian membicarakan sesuatu yang asing bagi kami.” Akhirnya, terjadi keterasingan antara kami dengan Ikhwan di sekretariat itu.

Setelah itu kami mulai berkumpul di rumah Syaikh As’ad Bayaudh bersama Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani ketika beliau hadir di al-Khalil. Ketika itu kami tidak lebih dari dua puluh orang. Saya ingat sebagian dari mereka seperti Syaikh Ibrahim asy-Syarbati dan saudaranya Ya’qub asy-Syarbati, H. Abdul Qadir Zallum, Ahmad Ibrahim Misik, Ibn al-Baladah al-Qadimah dan yang lain. Pertemuan biasanya berlangsung hingga azan subuh. Setelah kami menunaikan shalat subuh secara berjamaah lalu kami pulang ke rumah masing-masing. Ketika kami bertolak untuk menyeru masyarakat, mereka mengatakan kepada kami, “Kalian adalah pengikut ‘Nabi-Hani’ (plesetan dari Nabhani).” Sebagian yang lain menyebut kami ‘Nabhaniyun’.

Wallahu A’lam bisshowab.

Sumber tulisan :

Buku Kekasih-Kekasih Allah, penulis Syaikh Abu Arqam
Buku Hizbut Tahrir Al Islamiy, penulis ‘Auniy Al Judu’ Al ‘Abidy
Boklet DARI MASJID AL-AQSA MENUJU KHILAFAH:SEJARAH PERJALANAN HIZBUT TAHRIR

[http://adivictoria.wordpress.com]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 13.268 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: