Apa Pendapat Mereka Tentang Demokrasi

Katanya demokrasi adalah sistem yang baik dan mensejahterakan, namun secara objektif kita akan melihat pendapat para intelektual non muslim :

Gertrude Stein. Paris France. New York: Liveright, 1970. (p. 28) :

But now well democracy has shown us that what is evil are the grosses têtes, the big heads, all big heads are greedy for money and power, they are ambitious that is the reason they are big heads and so they are at the head of the government and the result is misery for the people..(tapi sekarang, nampaknya demokrasi telah menunjukan kepada kita, bahwa apakah Iblis itu bergigi kasar, kepala besar, yakni semua kepala besar yang rakus uang dan kekuasaan, yang ambisi mereka adalah sebab mengapa kepala mereka besar dan juga mereka adalah kepala pemerintahan dan hasilnya adalah kesengsaraan pada rakyat)

John Adams, letter to John Taylor (1814-04-15) (http://en.wikiquote.org/wiki/Democracy) :

Remember, democracy never lasts long. It soon wastes, exhausts, and murders itself. There never was a democracy yet that did not commit suicide. (ingatlah, demokrasi tidak akan berumur pajang. Ia akan segera terbuang, melemah dan membunuh dirinya sendiri. (begitulah demokrasi) Tiada pernah ada demokrasi yang tidak mau bunuh diri (ia pasti hancur)

Winston Churchill, speech in the House of Commons, 11 November 1947:

Democracy is the worst form of government except for all those other forms that have been tried from time to time. (demokrasi merupakan bentuk pemerintahan terburuk seandainya semua bentuk-bentuk tidak pernah dicoba dari masa ke masa)

Frances Stewart :

Democracies are often run by ethnically based groups prepared to do terrible things to other ethnic groups…or they can be very corrupt, dominated by elites…Capitalist, democratic states put the emphasis on the private sector, which doesn’t always deliver on social goods…The free press is good on major disasters like classic famines, but it tolerates chronic hunger as much as anyone else. (demokrasi biasanya dijalankan oleh kelompok etnik tertentu yang akan mempersiapkan hal-hal buruk kepada etnik yang lainnya… atau bisa jadi mereka sangat korup, yang didominasi oleh elit tertentu… negara demokratis kapitalis (hanya) memperhatikan sektor individu, yang selalu tidak pernah mendistribusikan kebutuhan sosial… bebas dari tekanan merupakan kebaikan bagi bencana mayoritas seperti kelaparan, namun ia akan membiarkan kelaparan yang kronis sebagaimana lebih banyak dari orang yang lain.) quoted in Massing, Michael, “Does Democracy Avert Famine?”, New York Times, 2003-03-01.

Herbert Spencer (http://en.wikiquote.org/wiki/Democracy) :

The rule of the many by the few, we call tyranny. The rule of the few by the many (democracy) is tyranny also, only of a less intense kind. (penguasaan minoritas terhadap mayoritas kita sebut tirani, penguasaan mayoritas (demokrasi) terhadap minoritas, sebenarnya tirani juga, hanya ia adalah jenis yang sedikit lebih bernafsu)

Benito Mussolini to Edwin L James of the New York Times (1928) :

Democracy is beautiful in theory; in practice it is a fallacy. You in America will see that some day. (demokrasi cukup bagus pada tataran teori, akan tetapi pada prakteknya ia adalah penipuan. Suatu hari Anda akan melihat hal tersebut di negara Amerika)

Proudhon, Demokratie und Republik, S. 10. :

Democracy is nothing but the Tyranny of Majorities, the most abominable tyranny of all, for it is not based on the authority of a religion, not upon the nobility of a race, not on the merits of talents and of riches. It merely rests upon numbers and hides behind the name of the people. (demokrasi sebenarnya hanya sebuah tirani mayoritas, yang merupakan seburuk-buruknya tirani dari semua tirani yang ada, karenanya ia tidak berdasarkan otoritas agama, bukan berdasarkan ras kebangsawanan, bukan berdasarkan bakat yang baik dan kekayaan. Namun ia hanya sekedar sisa berdasarkan jumlah dan bersembunyi dibalik nama rakyat).

Bertrand Russell :

Envy is the basis of democracy. (suap adalah dasar dari demokrasi). The Conquest of Happiness, VI, 1930.

James Bovard with a similar one in the Sacramento Bee (1994):

“Democracy must be something more than two wolves and a sheep voting on what to have for dinner.” (demokrasi seharusnya suatu yang lebih dari sekedar dua serigala dan seekor domba yang melakukan voting untuk memilih menu makan malam). This statement also definitely occurs in the “Conclusion” (p. 333) of his book Lost Rights: The Destruction of American Liberty (1994) ISBN 0312123337

Llewellyn H. Rockwell, Jr (http://en.wikiquote.org/wiki/Democracy):

Democracy has turned out to be not majority rule but rule by well-organized and well-connected minority groups who steal from the majority. (demokrasi telah berubah tidak lagi menjadi aturan mayoritas, tetapi aturan yang dirancang dan menghubungkan dengan baik kelompok minoritas yang mencuri dari mayoritas)

Leonid S. Sukhorukov (http://en.wikiquote.org/wiki/Democracy):

Democracy opens mouths but cannot fill them. (demokrasi telah membuka mulut-mulutnya tetapi (kita) tidak akan bisa mengisinya)

Edgar Allan Poe (http://en.wikiquote.org/wiki/Democracy):

Democracy is a very admirable form of government — for dogs. (demokrasi adalah pemerintahan yang mengagumkan dari semua bentuk pemerintahan – untuk anjing-anjing)

Max Kislanski (http://en.wikiquote.org/wiki/Democracy):

Democracy is ethically right but intellectually void. (demokrasi secara estetis baik, namun secara intelektual hampa (gagal)

DR. J.H, Rapar, Th,D., Ph,D. Dalam karyanya Filsafat Politik Aristoteles, mengutip pendapat Aristoteles tentang demokrasi:

Demokrasi adalah pemerintahan yang menyimpang, karena terjadi pemanfaatan kepentingan hanya untuk (beberapa kalangan) orang-orang saja. Singkatnya demokrasi adalah aturan / sistem pemerintahan yang aturannya berdasarkan kehendak rakyat banyak, yang para pejabatnya baik dewan perwakilan rakyat, maupun peradilan menghendaki untuk dibayar atau diupah.

Dalam karyanya yang lain DR. J.H, Rapar, Th,D., Ph,D. Filsafat Politik Plato, dia berkata:

Plato (Sang Guru Aristoteles) lahir dimasa puncak kemunduran Demokrasi yang dipimpin oleh Pericles. Pada masa Demokrasi itu banyak diktator yang membunuh para filsuf, seperti dibunuhnya Socrates sang guru filsafat Plato, oleh pemerintah Demokratis kala itu.
Akibat menjalankan pemerintahan Demokrasi kala itu, Athena dikalahkan oleh Sparta (404 SM), sehingga Plato memandang hal tersebut, disebabkan Demokrasi tidak bisa memenuhi kebutuhan rakyat di bidang politik, moral dan spiritual.

Lebih lanjut Plato berstatemen (sebagaimana dikutip oleh DR. J.H, Rapar, Th,D., Ph,D :

…….they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like. (Republic, page: 11)
……mereka adalah orang-orang yang merdeka, negara penuh dengan kemerdekaan dan kebebasan berbicara, dan orang-orang didalamnya boleh melakukan apa yang disukainya.
Dan orang-orang semakin mengejar kemerdekaan dan kebebasan yang tidak terbatas. Akibatnya ialah bencana bagi negara dan juga bagi para warganya sendiri. Setiap orang ingin mengatur diri sendiri dan berbuat sesuka hatinya sehingga timbullah berbagai kerusuhan yang disebabkan oleh berbagai tindakan kekerasan (violence), ketidaktertiban atau kekacauan (anarchy), kejangakkan/ tidak bermoral (licentiousness) dan ketidaksopanan (immodesty).
Menurut Plato, pada masa itu citra negara benar-benar telah rusak. Ia pun menyaksikan betapa negara menjadi rusak dan buruk akibat penguasa yang korup. Karena Demokrasi terlalu mendewa-dewakan (kebebasan) individu yang berlebihan sehingga membawa bencana bagi negara, yakni anarki (kebrutalan), dari sini muncul tirani (kezaliman). Banyak orang yang (kala itu) melakuan hal yang tidak senonoh, anak-anak kehilangan rasa hormat terhadap orang tua, murid merendahkan guru, dan hancurnya moralitas.

Thomas Jefferson berkata (http://en.wikiquote.org/wiki/Democracy) :

A democracy is nothing more than an angry mob, where fifty-one percent of the people may take away the rights of the other forty-nine. (demokrasi hanya sekedar sebuah kumpulan kemarahan publik, ketika 51 % (mayoritas) rakyat merampas hak-hak 49 % masyarakat yang lainnya)

Fakta Kebrutalan Dan Greedy (Keserakahan) Demokrasi

Selain itu juga undang-undang yang telah di sahkan oleh mekanisme demokrasi (seperti: UU Migas 22/2001) dengan biaya yang besar, terutama UU Migas telah melegalkan perusahaan multinasional asing untuk terus mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan keuntungan besar bagi mereka dan keuntungan 0 % (nol persen) bagi Indonesia (karena adanya biaya recovery cost ditanggung oleh Indonesia). Seperti: PT. Freeport (1967-sekarang), PT. Inco (1974-sekarang), PT. Newmont Minahasa Raya (1996-sekarang), PT. Newmont Nusa Tenggara (1999-sekarang), PT. Indo Muro Kencana (1987-sekarang), PT. Kelian Equatorial Mining, PT. Unnocal (1988-sekarang), PT. Kideco Jaya Agung (1992-sekarang), belum lagi seperti Exxon Mobile, Shell, Gonoco Philips, Petronas, Caltex/Chevron dan lain-lain. (Menuju Krisis Sumber Daya Alam, http://www.jatam.org)
Sebagaimana dinyatakan oleh Kwik Kian Gie (doktor Ekonomi lulusan Roterdam – Belanda), mnyebutkan bahwa sejak bulan November tahum 1967 Indonesia sudah menyerahkan dirinya untuk diatur dan dijadikan target penghisapan oleh korporasi internasional. Yang oleh para pemimpin kita di biarkan dan di jamin oleh undang-undang. (Koraninternet.com, 25/5/2008).
Contoh terkini, pada tanggal 19 September 2008 parlemen telah memberikan lampu hijau untuk proses privatisasi tiga BUMN, yakni: PT. Krakatau Steel, PT. Garuda Indonesia, dan PT. Bank Tabungan Negara. Selain itu –entah prediksi ini benar atau tidak– menurut situs terpercaya http://www.mediaumat.com, sebenarnya ada sekitar 35 BUMN juga merupakan calon privatisasi.
Bukti nyata demokrasi telah merusak bangsa, dapat kita lihat, menurut standar World Bank/ Bank Dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia di atas 100 juta orang atau 42,6% dari 236,4 juta orang pada 2008. Menurut Sofyan Wanadi, ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), puncak PHK massal diperkirakan akan terjadi pada pertengahan 2009. Setidaknya, 500 ribu hingga 1 juta orang akan kehilangan pekerjaannya. Masalah ekonomi ini diakibatkan menggunakan sistem ekonomi Kapitalisme, yang telah disahkan oleh Demokrasi.

Iklan