Oleh: Aktivis Masjid UNPAD

Memang telah menjadi sunatullah, bahwa kaum Muslimin senantiasa dibayangi oleh segala manuver musuh-musuhnya untuk menjauhkan kaum Muslimin dengan ajaran-ajarannya. Ini telah terjadi semenjak cahaya Islam terpancar dari Makkah Al-Mukarramah dan akan terus terjadi hingga Allah menutup panggung kehidupan fana di dunia ini. Berbagai langkah senantiasa diwujudkan tanpa kenal lelah, didukung potensi dana, iptek dan kekuatan politis serta militer yang ada, mereka senantiasa membuat makar terhadap Ummat Islam.
Di antara aspek yang paling terasa pengaruhnya adalah semakin jauh ummat Islam dari sikap akhlaq Islami. Meski rendahnya akhlaq ummat kini, merupakan hasil suatu proses yang cukup panjang, namun hingga sekarang sedikit sekali kaum Muslimin yang menyadari hal tersebut. Karenanya, langkah untuk meninggikan kesadaran ummat terhadap fakta ini harus dilaksanakan sesegera mungkin.
Sarana perusakan yang paling berbahaya yang digunakan untuk merusak akhlaq dan tata kehidupan yang Islami adalah dengan menyuguhkan pemikiran yang salah bahkan bersifat destruktif yang mampu menjungkir-balikkan tatanan sosial yang Islami serta menciptakan lingkungan yang buruk di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Berbagai cara yang digunakan antara lain:

1. Mengalihkan Ummat kepada Gaya Hidup Permisivisme-Materialisme (keserbabolehan mencari dan mencintai harta/dunia)
Sungguh musuh-musuh Islam telah mampu merusak jalan hidup dan akhlaq kebanyakan kaum Muslimin dengan menggunakan harta untuk membeli orang-orang berjiwa lemah, diarahkan sesuai dengan kehendak mereka. Dipasungnya kaum Muslimin dalam perbuatan suap-menyuap, manipulasi harta ummat, melakukan penimbunan secara haram, terbisa berbuat curang dengan dengan cara memperlicin usahanya melalui materi. Semua perbuatan tersebut seolah kebolehan tanpa dosa bisa dilakukan bahkan senantiasa berlomba mencari kesempatan untuk melakukannya. Penyakit tersebut telah menjalar ditengah-tengah masyarakat sehingga banyak kaum Muslimin yang terbengkalai. Setiap perbuatan tidak lagi menggunakan jalan yang disyariatkan oleh Islam melainkan hanya melihat ‘Apa yang bisa dan apa yang tidak bisa’, bukan ‘Apa yang boleh atau tidak’.

2. Pergaulan Bebas
Satu aspek di masyarakat Islam yang telah menggejala umum adalah adanya sikap bebas bergaul sesuai keinginan, asal tidak mengganggu orang lain. Seorang laki-laki boleh berbuat apa saja terhadap wanita yang ‘Suka sama suka’. Seorang remaja boleh berbuat semaunya sebagaimana yang ia dapatkan contohnya diberbagai media yang ada. Dari kondisi inilah muncul aktivitas free-sex, hancurnya nilai kasih sayang hakiki, merajalelanya prostitusi, meningkatnya angka aborsi, putusnya nilai-nilai kekeluargaan dan berakibat hancurnya pada tatanan sosial masyarakat.
Orang-orang yang tenggelam dalam pergaulan bebas tanpa batas sibuk dan mabuk oleh pesona-pesona yang nisbi tertipu oleh kesenangan yang semu, secara tidak sadar mereka tidak memperdulikan bahaya besar yang mengancam peradabannya. Masyarakat yang telah bercampur aduk seperti ini akan merusak tatanan sosial yang telah dibangun oleh Islam, menyebabkan hilangnya rasa saling mencintai, putusnya rasa persaudaraan dan akhirnya punahnya wujud eksistensinya, tidak ada lagi masyarakat yang bernama Masyarakat Islam.

3. Memperalat Kaum Wanita

Musuh-musuh Islam telah memperalat kaum wanita untuk merusak nilai Islami di masyarakat. Disebar-luaskannya paham kesamaan derajat total pria dan wanita. Dibebaskannya aktivitas wanita sebagaimana pria. Maka batas pergaulan antara keduanya menjadi bias, karena pada hampir seluruh aktivitas pria, wanita senantiasa menyertai dan menyempurnakannya. Dengan daya tarik artifisial yang dipoles dengan kosmetika, wanita bergerak dihadapan pria sehingga menimbulkan ketertarikan syahwat. Sadar maupun tidak, langsung maupun tidak, hal ini berujung pada eksploitasi harkat wanita dalam masyarakat. Kewajiaban wanita sebagai ibu dan pemimpin masalah rumah tangga menjadi sirna, berganti menjadi perlombaan meraih prestise karir. Sebagian wanita bahkan telah rela menjadi jasad tanpa ruh, hanya sebagai benda pemuas naluri pria.
Lambat namun pasti, kemuliaan derajat wanita, luntur bersama lunturnya rasa malu pada dirinya. Wanita murah untuk menjadi agen penghancur tata nilai masyarakat Islam. Ummat harus menyadari terlebih-lebih para wanitanya.
Berbagai lapangan kemasyarakatan yang cukup sering digunakan dalam hal ini antara lain:

a. Lapangan Pendidikan

Semboyan yang dikenal dalam bidang ini adalah “Peningkatan pendidikan wanita”, diarahkan menurut setting kehidupan liberalisme yang serba bebas. Metode pendidikan wanita yang tidak mendukung kemuliaan derajat dan kewajiban seorang Muslimah. Percampurbauran dalam pendidikan, dengan terbukanya aurat dan dijauhkannya Muslimah dari ilmu-ilmu wajib mereka sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, menjadikan wanita ‘berpendidikan’ bukanlah wanita ‘bersyakhshiyah Islamiyah’ tetapi berkepribadiaan kapitalisme semu. Disinilah wanita Muslimah terpalingkan dari tugas utamanya sebagai pencetak generasi ummat yang lebih mulia dari generasi sebelumnya.

b. Lapangan Seni Budaya
Tipu daya yang menonjol dalam bidang ini adalah menjadikan wanita sebagai objek seni. Wanita tak ubahnya sebagai alat yang dapat diwarnai, diparfumi, dibungkusi dengan media-media kosmetika dan mode. Film, majalah, radio dan televisi tak bisa lepas dari wanita. Disinilah wanita sebagai penarik sekaligus sebagai awal keruntuhan harkatnya. Ia hanya bernilai materi, tanpa nilai ruhani.

c. Lapangan Industri dan Perdagangan
Wanita juga seolah tak lepas dari dunia industri dan perdagangan. Kecermatan dan ketekunan wanita, serta kelemahlembutanya dihargai murah untuk kerja mereka di sebuah pabrik atau untuk meluluskan sebuah rencana. Iklan sebagai ujung tombak pemasaran selau memanfaatkan wanita dengan berbagai keelokan non-alaminya, dengan desah suara dan kerling matanya. Maka angka penjualan berbagai produk menjadi meningkat meski tak ada hubungannya dengan ‘kewanitaan’. Sekali lagi wanita hanya sebatas tubuh dan ini cukup banyak menimpa kaum muslimah dari berbagai latar belakang.

4. Memasyarakatkan Minuman Keras
Media minuman keras sebagai penghilang akal, dilarang keras dalam kehidupan masyarakat Islam. Namun justru kenikmatan nisbi yang ada didalamnya, telah dijadikan alat ampuh untuk menarik generasi muda Islam menjauhi nilai-nilai Islami. Berbagai jenis dan merek minuman keras yang disebar pada ribuan kios melalui iklan tanpa henti, menjadi hal yang lumrah di kalangan pemuda dan pemudi Islam. Ketergantungan terhadap minuman haram membawa kerusakan jasad dan jiwa generasi muda. Dari sinilah, kehancuran generasi berawal.

5. Menciptakan Permainan yang Melalaikan Ummat
Di antara akhlaq kaum muslimin yang luhur adalah menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat, menjauhi segala sesuatu yang dapat membuang-buang waktu tanpa faedah. Namun demikian kenyataan saat ini bertolak belakang dengan sikap yang seharusnya diambil. Jenis-jenis permainan dan hiburan yang menina-bobokan ummat telah dijadikan bagian hidup yang amat penting bagi kaum Muslimin. Berbagai bentuk olah raga yang diorganisasikan di seluruh penjuru dunia mengakibatkan potensi ummat yang begitu besar mengalami kelumpuhan total. Jutaan pemuda kaum Muslimin lebih mementingkan olah raga daripada bidang lain yang amat diperlukan ummat. Pengetahuan dan rasa cintanya terhadap olah raga telah mampu membiusnya dari ikatan-ikatan Islam yang dulu mereka banggakan terhadap ummat dan bangsa lain.

6. Menuduh dan Mengicuh Muslimah Berjilbab
Untuk melicinkan tipu dayanya sebagian musuh Islam menempuh cara antara lain:
a. Membuat opini negatif bahwa jilbab, diidentikkan dengan kebodohan, keterbelakangan, kolot, ketinggalan jaman, menghambat kemajuan dan produktifitas, hingga tuduhan-tuduhan ekstrim yang sungguh tidak layak ditujukan kepada mereka.
b. Memfitnah muslimah berjilbab dengan cara menyusupkan beberapa wanita karier, fasik atau bahkan pelacur yang menggoda kaum laki-laki dengan mengenakan jilbab sehingga muncul; tuduhan dan fitnah buruk yang ditujukan kepada wanita muslimah yang mulia.

Demikian deskripsi ringkasan keadaan kepribadian dan akhlaq kaum Muslimin pada saat ini. Masih banyak lagi contoh yang tidak bisa dicontohkan satu persatu dalam kesempatan ini. Mereka yang membenci Islam dan ummatnya telah melancarkan upaya penghancuran yang tak terasa dari berbagai penjuru, dengan berbagai cara. Seharusnya generasi muda Islam segera menyadari merekalah cikal bakal dan sekaligus membentuk peradaban ummat masa depan. Keterlenaan mereka dalam membina diri dan akhlaq membawa konsekuensi terbengkalainya pembinaan ummat. Dan kehancuran ummat di masa depan harus dibayar di masa kini dengan kerja keras serta keterikatan terhadap aturan Islam.

Iklan