(Pengakuan Intelektual Barat Tentang Kontribusi Kaum Muslim Terhadap Peradaban Dunia beserta sains dan teknologinya)

John William Draper in the “Intellectual Development of Europe”:
I have to deplore the systematic manner in which the literature of Europe has continued to put out of sight our obligations to the Muhammadans. Surely they cannot be much longer hidden. Injustice founded on religious rancour and national conceit cannot be perpetuated forever. The Arab has left his intellectual impress on Europe. He has indelibly written it on the heavens as any one may see who reads the names of the stars on a common celestial globe.
Saya menyayangkan cara-cara sistematis yang terus dilakukan oleh literatur-literatur Eropa yang mengalihkan pandangan dari kewajiban kita terhadap para pengikut Muhammad. Yang pasti mereka (orang-orang eropa) tidak akan bisa menyembunyikan hal itu lebih lama lagi. Ketidakadilan yang disebabkan karena dendam keagamaan maupun arogamsi kebangsaan tidak akan kekal selamanya. Orang-orang Arab (kaum muslim) telah mewariskan pengetahuan yang mengesankan di Eropa. Mereka telah menuliskan karya mereka di langit, sehingga setiap orang yang melihatnya akan tahu siapa yang memberi nama bintang-bintang di angkasa raya itu

Robert Briffault in the “Making of Humanity”:
It was under the influence of the arabs and Moorish revival of culture and not in the 15th century, that a realrenaissance took place. Spain, not Italy, was the cradle of the rebirth of Europe. After steadily sinking lower and lower into barbarism, it had reached the darkest depths of ignorance and degradation when cities of the Saracenic world, Baghdad, Cairo, Cordova, and Toledo, were growing centers of civilization and intellectual activity. It was there that the new life arose which was to grow into new phase of human evolution. From the time when the influence of their culture made itself felt, began the stirring of new life.
Di bawah kekuasaan orang-orang Arab dan Moor (kaum muslim) kebangkitan terjadi, dan bukan pada abad ke-15 Renaisance sesungguhnya berlangsung. Spanyol-lah tempat kelahiran kembali Eropa, bukan Italia. Setelah terus menerus mengalami kemunduran, Eropa terperosok ke dalam masa kegelapan, kebodohan, dan keterbelakangan. Sedangkan pada saat yang sama, kota-kota Sarasin seperti Baghdad, Kairo, Cordova dan Toledo menjadi pusat-pusat peradaban dan aktivitas pendidikan. Di sanalah kehidupan baru muncul dan berkembang menuju tahap baru evolusi umat manusia. Sejak saat pengaruh kebudayaan mereka mulai dirasakan, sampai kemudian menggerakkan roda kehidupan baru.

It was under their successors at Oxford School (that is, successors to the Muslims of Spain) that Roger Bacon learned Arabic and Arabic Sciences. Neither Roger Bacon nor later namesake has any title to be credited with having introduced the experimental method. Roger Bacon was no more than one of apostles of Muslim Science and Method to Christian Europe; and he never wearied of declaring that knowledge of Arabic and Arabic Sciences was for his contemporaries the only way to true knowledge. Discussion as to who was the originator of the experimental method….are part of the colossal misinterpretation of the origins of European civilization. The experimental method of Arabs was by Bacon’s time widespread and eagerly cultivated throughout Europe.
Melalui para penerusnya di Oxford (yaitu penerus kaum Muslim Spanyol), Roger Bacon belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab. Bukanlah Roger Bacon atau orang-orang sesudahnya yang berhak menyandang penghargaan karena telah memperkenalkan metode eksperimental. Roger Bacon tidak lebih hanyalah salah satu dari orang-orang yang mempelajari ilmu pengetahuan dan metode milik kaum Muslim untuk kepentingan orang-orang kristen Eropa; dan dia tidak pernah jemu mengatakan bahwa Bahasa Arab dan ilmu pengetahuan Arab merupakan satu-satunya jalan bagi para koleganya untuk mendapatkan pengetahuan sejati. Perdebatan mengenai siapa sesungguhnya yang menemukan metode eksperimental…merupakan salah satu wujud ketidakpahaman kolosal para pendiri peradaban Eropa. Sejak masa Roger Bacon, metode eksperimental milik orang Arab telah tersebar luas dan dimanfaatkan secara antusias di seluruh Eropa.

Science is the most momentous contribution of Arab civilization to the modern world; but its fruits were slow in ripening. Not until long after Moorish culture had sunk back into darkness did the giant, which it had given birth to, rise in his might. It was not science only which brought Europe back to life. Other and manifold
influence from the civilization of Islam communicated its first glow to European Life.
Ilmu pengetahuan adalah kontribusi paling berharga dari peradaban Arab kepada dunia modern; tetapi buahnya tidak cepat matang. Tidak lama setelah budaya orang-orang Moor kembali tenggelam ke dalam kegelapan, raksasa yang dilahirkan oleh peradaban itu (eropa) tumbuh perkasa. Jadi, bukan hanya ilmu pengetahuan yang membuat Eropa bangkit kembali tapi pengaruh peradaban Islam-lah yang pertama kali menyalakan api kehidupan orang-orang Eropa.

For Although there is not a single aspect of European growth in which the decisive influence of Islamic Culture is not traceable, nowhere is it so clear and momentous as in the genesis of that power which constitutes the permanent distinctive force of the modern world, and the supreme source of its victory, natural science and the scientific spirit.
Meski tidak ada satu pun aspek kemajuan Eropa yang lepas dari pengaruh kebudayaan Islam, namun tidak ada yang lebih gamblang dan lebih penting daripada aspek yang menyebabkan munculnya kekuatan luar biasa yang dimiliki dunia modern ini, serta menjadi sebab utama kemenangan ini; aspek itu adalah ilmu alam dan semangat ilmiah.

The debt of our science to that of the Arabs does not consist in startling discoveries or revolutionary theories, science owes a great deal more to Arab culture, it owes its existence. The Astronomy and Mathematics of the Greeks were a foreign importation never thoroughly acclimatized in Greek culture. The Greeks systematized, generalized and theorized, but the patient ways of investigation, the accumulation of positive knowledge, the minute method of science, detailed and prolonged observation and experimental inquiry were altogether alien to the Greek temperament. Only in Hellenistic Alexandria was any approach to scientific work conducted in the ancient classical world. What we call science arose in Europe as a result of new spirit of enquiry, of new methods of experiment, observation, measurement, of the development of mathematics, in a form unknown to the Greeks. That spirit and those methods were introduced into the European world by the Arabs.
Hutang budi kita kepada ilmu pengetahuan orang-orang Arab bukan hanya karena berbagai penemuan dan teori revolusioner yang mencengangkan. Ilmu pengetahuan-lah yang berhutang budi kepada kebudayaan Arab; ilmu pengetahuan berhutang budi karena kemunculannya. Ilmu astronomi dan matematika Yunani merupakan ilmu pengatahuan asing yang tidak pernah disosialisasikan secara merata dalam budaya Yunani. Orang-orang Yunani memang melakukan sistematisasi, generalisasi, dan menyusun teori. Tetapi, kesabaran dalam meneliti dan mengumpulkan ilmu pengetahuan, kecermatan dalam menyusun metode ilmiah yang rinci, ketekunan dalam melakukan pengamatan yang detil dan lama, serta kesabaran dalam melakukan eksperimen; itu semua sam sekali bukan sifat orang-orang Yunani. Hanya pada masa Hellenistik di Alexandria saja, pendekatan ilmiah pernah dilakukan. Sedangkan ilmu pengetahuan yang kami maksudkan di sini adalah ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari semangat penelitian yang baru, disertai dengan metode eksperimen, observasi, pengukuran, dan metode pengembangan matematika yang sama sekali tidak dikenal oleh bangsa Yunani. Semangat dan metode-metode baru itu diperkenalkan ke Eropa oleh orang-orang Arab.

It is highly probable that but for the Arabs, modern European civilization would never have arisen at all; it is absolutely certain that but for them, it would not have assumed that character which has enabled it to transcend all previous phases of evolution.”
Sangat boleh jadi, tanpa orang-orang Arab, peradaban Eropa modern sama sekali tidak akan pernah muncul. Bisa dipastikan bahwa tanpa orang-orang Arab, peradaban Eropa tidak akan memiliki sifat-sifat yang memungkinkan mereka dapat melampaui tahap-tahap evolusi sebelumnya.

Arnold and Guillaume in “Legacy of Islam” on Islamic science and medicine:
Looking back we may say that Islamic medicine and science reflected the light of the Hellenic sun, when its day had fled, andthat they shone like a moon, illuminating thedarkest night of the European middle Ages; that some bright stars lent their own light, andthat moon and stars alike faded at the dawn of a new day – the Renaissance. Since they had their share in the direction and introduction of that great movement, it may reasonably be claimed that they are with us yet.
Bila menengok ke belakang, kita bisa mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran Islam bagaikan cahaya mentari Hellenic yang memancar ketika siang telah berlalu; mereka bersinar laksana cahaya bulan yang menerangi gulita orang-orang Eropa di Abad Pertengahan; mereka seperti bintang-bintang kejora yang meminjamkan cahayanya; namun sinar bulan dan cahaya bintang itu seperti lenyap ketika fajar baru telah datang, yakni Renaissance. Karena mereka (kaum muslim) itu telah berperan menunjukkan arah dan mengawali kemajuan yang sangat besar ini, maka sangatlah masuk akal kalau mereka bersanding dengan kita.

George Sarton in the “Introduction to the History of Science”:
During the reign of Caliph al-Mamun (813-33 CE), the new learning reached its climax. The monarch created in Baghdad a regular school for translation. It was equipped with a library, one of the translators there was Hunayn Ibn Ishaq (809-77) a particularly gifted philosopher and physician of wide erudition, the dominating figure of this century of translators. We know from his own recently published Memoir that he translated practically the whole immense corpus of Galenic writings.””
Pada masa pemerintahan Khalifah al-Makmun (813-833 M), perkembangan ilmu-ilmu baru mencapai puncaknya. Kerajaan mendirikan sebuah sekolah regular untuk penerjemahan di kota Baghdad. Sekolah itu dilengkapi dengan perpustakaan. Salah satu penerjemah yang terkemuka adalah Hunain ibn Ishaq ( 809-877 M), seorang filsuf yang berbakat sekaligus pakar fisika yang terpelajar. Dia adalah figur penerjemah yang terkemuka pada masa itu. Kami tahu dari memoir-nya yang belum lama diterbitkan, bahwa secara praktis dia telah menerjemahkan seluruh karya berbahasa Galen yang luar biasa banyaknya.

The Muslim ideal was, it goes without saying, not visual beauty but God in His plentitude; that is God with all his manifestations, the stars and the heavens, the earth and all nature. The Muslim ideal is thus infinite. But in dealing with the infinite as conceived by the Muslims, we cannot limit ourselves to the space alone, but must equally consider time.
Cita-cita kaum Muslim adalah terus berkarya tanpa banyak berbicara; tidak ada keindahan selain Tuhan dalam berbagai sifat-Nya; itulah Tuhan dalam segala perwujudan-Nya, bintang-bintang dan langit, bumi dan segala alam semesta. Dengan demikian cita-cita kaum Muslim tidak terbatas. Tetapi dalam berurusan dengan cita-cita yang tidak terbatas –sebagaimana yang dipahami kaum Muslim itu- kami tidak bisa membatasi diri pada angkasa saja, tetapi harus mempertimbangkan masalah waktu.

The first mathematical step from the Greek conception of a static universe to the Islamic one of a dynamic universe was made by Al-Khwarizmi (780-850), the founder of modern Algebra. He enhanced the purely arithmetical character of numbers as finite magnitudes by demonstrating their possibilities as elements of infinite manipulations and investigations of properties and relations.
Langkah matematis pertama dari konsep Yunani tentang alam statis menuju konsep Islam, yaitu alam dinamis dilakukan oleh al-Khuwarizmi (780-850 M), penggagas aljabar modern. Dia mengubah karakter angka yang murni aritmatis dan bersifat terbatas dengan cara menunjukan kemung-kinannya sebagai elemen tak terbatas dari sifat dan hubungan manupulasi dan pemeriksaan.

In Greek mathematics, the numbers could expand only by the laborious process of addition and multiplication. Khwarizmi’s algebraic symbols for numbers contain within themselves the potentialities of the infinite. So we might say that the advance from arithmetic to algebra implies a step from being to ‘becoming’ from the Greek universe to the living universe of Islam. The importance of Khwarizmi’s algebra was recognized, in the twelfth century, by the West, – when Girard of Cremona translated his theses into Latin. Until the sixteenth century this version was used in European universities as the principal mathematical text book. But Khwarizmi’s influence reached far beyond the universities. We find it reflected in the mathematical works of Leonardo Fibinacci of Pissa, Master Jacob of Florence, and even of Leonardo da Vinci.
Dalam konsep matematika Yunani, angka dapat bertambah hanya dengan proses penambahan dan perkalian. Namun simbol angka dalam ilmu aljabar Khuwarizmi mengandung potensi untuk menjadi tak terbatas. Dengan demikian dapat kami katakan bahwa perkembangan dari aritmatik menuju aljabar, mengandung makna langkah maju dari ‘alam Yunani’ menuju ‘alam Islam’. Arti penting aljabar karya al-Khuwarizmi mendapat pengakuan dari barat pada abad ke-12, ketika Girad dari Cremona menerjemahkan karya al-Khuwarizmi kedalam bahasa latin. Sampai dengan abad ke-16, buku ini masih digunakan oleh berbagai universitas sebagai buku teks matematika yang utama. Namun pengaruh al-Khuwarizmi ternyata tidak terbatas pada dunia universita. Kami mendapati konsep al-Khuwarizmi itu juga mempengaruhi karya matematika Leonardo Fibinacci of Pissa, Master Jakob of Florence, dan bahkan Leonardo da Vinci.

Through their medical investigations they not merely widened the horizons of medicine, but enlarged humanistic concepts generally. And once again they brought thisabout because of their over riding spiritual convictions. Thus it can hardly have been accidental that those researches should have led them that were inevitably beyond the reach of Greek masters. If it is regarded as symbolic that the most spectacular achievement of the mid-twentieth century is atomic fission and the nuclear bomb, likewise it would not seem fortuitous that the early Muslim’s medical endeavor should have led to a discovery that was quite as revolutionary though possibly more beneficent.
Dengan penelitian di bidang kedokteran, kaum Muslim tidak hanya memperlebar cakrawala dunia kedokteran, tetapi juga memeprluas konsep kemanusiaan secara umum. Dan sekali lagi, mereka mempelajari ilmu ini dilandasi oleh keyakinan spiritual mereka. Oleh karena itu, bukan sekedar kebetulan jika penelitian yang mereka lakukan telah membawa mereka jauh melampaui para pakar Yunani. Bila penemuan fisi atom dan bom nuklir dianggap prestasi paling spektakuler di pertengahan abad ke-20, maka tidak berlebihan bila upaya kaum Muslim dalam bidang kedokteran dipandang sebagai penemuan yang revolusioner, bahkan mungkin lebih bermanfaat.

A philosophy of self-centredness, under whatever disguise, would be both incomprehensible and reprehensible to the Muslim mind. That mind was incapable of viewing man, whether in health or sickness as isolated from God, from fellow men, and from the world around him. It was probably inevitable that the Muslims should have discovered that disease need not be born within the patient himself but may reach from outside, in other words, that they should have been the first to establish clearly the existence of contagion.
Filsafat mementingkan diri sendiri –yang dibungkus dengan alasan apa pun– nampaknya dipandang sebagai konsep yang tidak masuk akal dan sesuatu yang tercela bagi kaum Muslim. Mereka tidak dapat mengabaikan orang lain, yang sehat atau sakit, maupun yang terasing dari Tuhan, dari sahabat-sahabatnya, dan dari situasi dunia yang ada disekelilingnya. Boleh jadi merupakan suatu keniscayaan bila kaum Muslim menemukan fakta bahwa penyakit tidak timbul dari dalam diri penderita, namun disebabkan karena sesuatu dari luar tubuh. Dengan kata lain, kaum Muslim memang harus menjadi pihak pertama yang menemukan fakta tentang penularan.

One of the most famous exponents of Muslim universalism and an eminent figure in Islamic learning was Ibn Sina, known in the West as Avicenna (981-1037). For a thousand years he has retained his original renown as one of the greatest thinkers and medical scholars in history. His most important medical works are the Qanun (Canon) and a treatise on Cardiac drugs. The ‘Qanun fi-l-Tibb’ is an immense encyclopedia of medicine. It contains some of the most illuminating thoughts pertaining to distinction of mediastinitis from pleurisy; contagious nature of phthisis; distribution of diseases by water and soil; careful description of skin
troubles; of sexual diseases and perversions; of nervous ailments.
Salah satu tokoh universalisme Islam yang paling terkenal dan ilmuan Muslim yang paling termasyhur adalah Ibnu Sina, atau dikenal masyarakt Barat dengan nama Avicenna (981-1037). Selama seribu tahun dia tetap dikenang sebagai salah satu pemikir dan pakar pengobatan terbesar sepanjang sejarah. Karyanya yang paling penting adalah Qanun (Canon) dan sebuah jurnal tentang pengobatan penyakit jantung. Kitab Qanun fi at-Tibb adalah sebuah ensiklopedi besar tentang dunia kedokteran. Kitab tersebut berisi sejumlah gagasan yang cemerlang tentang pemisahan antara mediastinitis dengan pleurisi (radang selaput dada), sifat menular dari penyakit phthisis; penularan penyakit melalui air dan tanah; gambaran teliti tentang masalah kulit, penyakit kelamin; dan tentang penyakit syaraf.

We have reason to believe that when, during the crusades, Europe at last began to establish hospitals, they were inspired by the Arabs of near East….The first hospital in Paris, Les Quinze-vingt, was founded by Louis IX after his return from the crusade 1254-1260.
Kami mempunyai dasar untuk mengatakan bahwa selama perang salib, Eropa baru mulai membangun rumah sakit. Mereka mendapatkan inspirasi dari orang-orang Arab di Timur dekat…Rumah sakit pertama di Paris, Lez Quinze Vingt, didirikan oleh Raja Louis IX setelah kembali dari perang salib tahun 1254 – 1260 M.

We find in his (Jabir, Geber) writings remarkably sound views on methods of chemical research, a theory on the geologic formation of metals (the six metals differ essentially because of different proportions of sulphur and mercury in them); preparation of various substances (e.g., basic lead carbonatic, arsenic and antimony from their sulphides).
Kami mendapati dalam karya Jabir (Geber) tulisan mengenai pandangan seputar metode penelitian kimia, sebuah teori geologi tentang pembentukan logam (enam macam logam terbukti mempunyai sifat-sifat yang berbeda, karena mengandung proporsi sulfur dan merkuri yang berbeda-beda juga), serta pembuatan berbagai zat (antara lain rantai karbon dasar, arsenikum, dan antimony dari sulfida).

Ibn Haytham’s writings reveal his fine development of the experimental faculty. His tables of corresponding angles of incidence and refraction of light passing from one medium to another show how closely he had approached discovering the law of constancy of ratio of sines, later attributed to snell. He accounted correctly for twilight as due to atmospheric refraction, estimating the sun’s depression to be 19 degrees below the horizon, at the commencement of the phenomenon in the mornings or at its termination in the evenings.
Karya ilmiah Ibnu Haitsam menunjukan kemampuan eksperimen Ibnu Haitsam yang telah maju. Tabelnya tentang keterkaitan antara sudut jatuh dengan refraksi cahaya yang melewati satu medium ke medium lain memperlihatkan sejauh mana ketelitian metodenya dalam menemukan hukum perbandingan sinus. Secara akurat dia menyatakan bahwa fenomena twilight terjadi karena refraksi atmosferis, tepat ketika fajar menyingsing atau ketika matahari tenggelam di sore hari.

A great deal of geographical as well as historical and scientific knowledge is contained in the thirty volume meadows of Gold and Mines of Gems by one of the leading Muslim Historians, the tenth century al Mas’udi. A more strictly geographical work is the dictionary ‘Mujam al-Buldan’ by al-Hamami (1179-1229). This is a veritable encyclopedia that, in going far beyond the confines of geography, incorporates also a great deal of scientific lore.
Berbagai sisi dalam ilmu sejarah dan geografi disusun srcara rinci dalam tiga puluh jilid buku (terjemhan) yang berjudul ‘meadows of Gold and Mines of Gems’ oleh seorang sejarawan Muslim abad ke-10, al-Mas’udi. Karya ilmiah dalam bidang ilmu geografi lainnya adalah kitab ‘Mu’jam al-Buldan’ karya al-Hamami (1179-1229). Kitab itu merupakan sebuah ensiklopedi yang orisinil, yang berusi pengetahuan geografi serta informasi yang cukup lengkap tentang adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat.

They studied, collected and described plants that might have some utilitarian purpose, whether in agriculture or in medicine. These excellent tendencies, without equivalent in Christendom, were continued during the first half of the thirteenth century by an admirable group of four botanists. One of these Ibn al-Baitar compiled the most elaborate Arabic work on the subject (Botany), in fact the most important for the whole period extending from Dioscorides down to the sixteenth century. It was a true encyclopedia on the subject, incorporating the whole Greek and Arabic experience.
Mereka (kaum Muslim) mempelajari, mengumpulkan, dan memberikan penjelasan mengenai tumbuh-tumbuhan yang mungkin mengandung manfaat bagi manusia, baik manfaat dari sisi pertanian maupun kedokteran. Kegemaran yang mulia ini, yang tidak bisa diimbangi oleh kaum kristiani, dan terus dilakukan hingga paruh pertama abad ke-10 oleh empat orang ahli botani. Salah seorang diantaranya adalah Ibnu al-Baitar, yang menyususn sebuah karya ilmiah berbahasa Arab yang sangat rinci tentang ilmu botani; bahkan mungkin merupakan karya yang paling penting sepanjang sejarah sejak zaman Dioscorides hingga abad ke-16 M. Karya tersebut merupakan ensiklopedi yang sangat bagus, yang menggabungkan pengalaman bangsa Yunani dan bangsa Arab.

Abd al-Malik ibn Quraib al-Asmai (739-831) was a pious Arab who wrote some valuable books on human anatomy. Al-Jawaliqiwho flourished in the first half of the twelfth century and ‘Abd al-Mumin who flourished in the second half of the thirteenth century in Egypt, wrote treatises on horses. The greatest zoologist amongst the Arabs was al-Damiri (1405) of Egypt whose book on animal life, ‘Hayat al-Hayawan’ has been translated into English by A.S.G. Jayakar (London 1906, 1908).
Abdul Malik Ibn Quraib al-Asmai (739-831 M) adalah seorang cendekiawan Arab yang menulis sejumlah buku tentang anatomi manusia. Al-Jawaliqi yang terkenal pada paruh pertama Abad ke-12 M dan Abdul Mumin yang terkenal di Mesir pada paruh kedua abad ke-13 M menyusun tulisan tentang kuda. Pakar zoologi terbesar dari kalangan orang-orang Arab adalah al-Damiri (1405 M) dari Mesir, yang menyusun buku tentnag kehidupan hewan, yaitu ‘Hayat al-Hayawan’. Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A.S.G. Jayakar (London, 1906, 1908)

The weight of venerable authority, for example that of Ptolemy, seldom intimidated them. They were always eager to put a theory to tests, and they never tired of experimentation. Though motivated and permeated by the spirit of their religion, they would not allow dogma as interpreted by the orthodox to stand in the way of their scientific research.
Pakar-pakar besar yang disebagi, seperti Ptolomeus, tidak membuat mereka kehilangan kepercayaan diri. Mereka senantiasa berusaha menguji setiap teori, dan tak kenal lelah mengadakan eksperimen. Sekalipun didorong dan dirasuki oleh semangat keyakinan agamanya, namun mereka tidak akan membiarkan diri mereka terbelenggu dogma yang menghalangi penelitian ilmiahnya.

Carly Fiorina
The CEO of Hewlett-Packard, 26 September 2001.
:
“…I’ll end by telling a story. There was once a civilization that was the greatest in the world. It was able to create a continental super-state that stretched from ocean to ocean, and from northern climes to tropics and deserts. Within its dominion lived hundreds of millions of people, of different creeds and ethnic origins. One of its languages became the universal language of much of the world, the bridge between the peoples of a hundred lands. Its armies were made up of people of many nationalities, and its military protection allowed a degree of peace and prosperity that had never been known. The reach of this civilization’s commerce extended from Latin America to China, and everywhere in between.
“ …Saya ingin mengakhiri dengan suatu cerita. Dulu pernah ada sebuah peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban itu mampu menghasilkan sebuah Negara super yang membentang dari samudera ke samudera, dari daerah sub-tropik hingga ke daerah tropik dan gurun. Dalam wilayah kekuasaannya, tinggal ratusan juta warganya, yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan bangsa. Salah satu dari sekian banyak bahasanya menjadi bahasa universal dan menjadi jembatan penghubung antar warganya yang tinggal di berbagai negeri. Tentaranya tersusun dari orang-orang yang berlainan kebangsaannya. Kekuatan militernya mampu memberikan kedamaian dan kesejahteraan yang belum pernah ada sebelumnya. Jangkauan armada perdagangannya membentang dari Amerika Latin sampai ke Cina, serta daerah-daerah yang berada diantara keduanya.

And this civilization was driven more than anything, by invention. Its architects designed buildings that defied gravity. Its mathematicians created the algebra and algorithms that would enable the building of computers, and the creation of encryption. Its doctors examined the human body, and found new cures for disease. Its astronomers looked into the heavens, named the stars, and paved the way for space travel and exploration.
Kemajuan peradaban ini sangat ditentukan oleh berbagai penemuan yang diraih oleh para pakarnya. Para arsiteknya mampu mendesain bangunan yang melawan hukum gravitasi. Para pakar matematikanya menciptakan aljabar, juga algoritma yang menjadi landasan pengembangan teknologi komputer dan penyusunan bahasa komputer. Para dokternya mempelajari tubuh manusia hingga mampu menemukan berbagai obat untuk menyembuhkan beraneka ragam penyakit. Para pakar astronominya mengamati langit, memberikan nama untuk bintang-bintang, serta merintis teori seputar perjalanan dan penelitian ruang angkasa.

Its writers created thousands of stories. Stories of courage, romance and magic. Its poets wrote of love, when others before them were too steeped in fear to think of such things.
Para penulisnya menghasilkan ribuan kisah. Di antaranya kisah-kisah tentang keberanian, cinta kasih, dan ilmu sihir. Para penyairnya menulis berbagai karya sastra bertemakan cinta, sementara penyair-penyair sebelum mereka terlalu takut untuk memikirkan hal-hal seperti itu.

When other nations were afraid of ideas, this civilization thrived on them, and kept them alive. When censors threatened to wipe out knowledge from past civilizations, this civilization kept the knowledge alive, and passed it on to others.
Ketika bangsa-bangsa lain khawatir terhadap munculnya berbagai pemikiran, peradaban ini justru memacu kemunculan beraneka ragam ide dan gagasan. Ketika pemberangusan seringkali mengancam keberadaan ilmu pengetahuan, peradaban ini justru melindungi, mempertahankan, serta menyampaikannya kepada umat-umat lain.

While modern Western civilization shares many of these traits, the civilization I’m talking about was the Islamic world from the year 800 to 1600, which included the Ottoman Empire and the courts of Baghdad, Damascus and Cairo, and enlightened rulers like Suleiman the Magnificent.
Peradaban Barat modern mendapatkan banyak manfaat dari kemajuan ini. Peradaban yang saya maksud adalah dunia Islam dari tahun 800 M sampai dengan 1600 M, termasuk didalamnya wilayah Negara Khilafah Utsmaniyah, Baghdad, Damaskus, dan Kairo; demikan pula masa-masa para pemimpin yang cemerlang, seperti Khalifah Sulaiman yang Perkasa.

Although we are often unaware of our indebtedness to this other civilization, its gifts are very much a part of our heritage. The technology industry would not exist without the contributions of Arab mathematicians. Sufi poet-philosophers like Rumi challenged our notions of self and truth. Leaders like Suleiman contributed to our notions of tolerance and civic leadership. And perhaps we can learn a lesson from his example: It was leadership based on meritocracy, not inheritance. It was leadership that harnessed the full capabilities of a very diverse population-that included Christianity, Islamic, and Jewish traditions. This kind of enlightened leadership – leadership that nurtured culture, sustainability, diversity and courage – led to 800 years of invention and prosperity…”
Meskipun kita sering tidak menyadari hutang budi kita kepada peradaban lain, namun tidak bisa disangkal bahwa karya-karya besar peradaban Islam merupakan bagian penting dari warisan kita. Teknologi industri tidak akan eksis tanpa kontribusi pakar matematika Arab (baca: Islam). Demikian pula penyair sekaligus filsuf, Jalaludin Rumi, memperkenalkan kepada kita konsep diri dan kebenaran. Sementara para pemimpin seperti Khalifah Sulaiman mengajarkan kepada kita toleransi dan kepemimpinan publik. Mungkin pula kita dapat mengambil pelajaran dari beliau tentang kepemimpinan yang berlandaskan pada meritokrasi bukan pewarisan. Yakni kepemimpinan yang memanfaatkan segala kemampuan rakyat – baik yang beragama Kristen, Islam, maupun Yahudi.
Model kepemimpinan yang cemerlang inilah – yaitu kepemimpinan yang memelihara, mengayomi, penuh keragaman, dan penuh keberanian – yang mampu menghasilkan berbagai penemuan dan menciptakan kesejahteraan selama 800 tahun…”

Reference :
Shahib al-Kutb, Science and Islam, Al-Khilafah Publication – London: , 1423 H/ 2002 M.
Alih Bahasa Edisi Indonesia, Oleh : Abu Faiz, Warisan Peradaban Islam di Bidang Sains dan Teknologi, cet.I, Pustaka Thariqul Izzah – Bogor, 1425 H / 2004 M.