Soal : Ada sebagian kecil pihak, yang menuding bahwa Islam tidak mempunyai aturan tentang suatu sistem pemerintahan yang Ideal, walaupun disodorkan konsep Khilafah, mereka berkilah bahwa konsep tersebut merupakan konsep baru (an-nazhariyyah al-muhdatsiyyah), terutama mereka menuding bahwa, hal tersebut hanya konsep Ijtihad Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani seorang Qadhi Palestina, yang muncul sekitar tahun 1950 an.

Jawab : Suatu konsep dipandang baru, jika konsep tersebut memang belum pernah dibahas oleh dalil Syar’i, maupun para Fuqaha terdahulu pun tidak pernah membahasnya, biasanya hal tersebut disebut dengan ranah Ijtihad, akan tetapi jika hal tesebut sudah jelas nash Syariahnya maka tidak ada lagi wilayah Ijtihad. Dalam konteks ini terdapat kaidah Ushul yang menyatakan: Tidak ada ijtihad ketika ada nash (syariah) yang menyatakannya.
Artinya jika Khilafah memang konsep baru maka tidak akan ada nash syara’ yang berbicara tentang hal tersebut, akan tetapi fakta berkata lain, justru Khilafah merupakan konsep Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw. kepada para sahabatnya, yakni Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiaLlahu ‘Anhum, dan para Khalifah setelahnya.
Buktinya ketika kita menelaah al-Quran maupun hadits-hadits tentang kepemimpinan dalam Islam maka akan kita temukan lafadz-lafadz seperti, al-Imâmah atau al-Khilâfah dan berbagai macam derivasinya. Menurut Abdul Qadim Zallum, bahwa Imamah dan Khilafah mempunyai makna yang sama. Ulama mendefnisikan Khilafah sebagai: Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syara’ Islam, mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. (Nizham al-Hukm fi al-Islam, 2002: 34)
Dalil wajibnya mengangkat Khalifah, sangat banyak sekali, baik dari al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat, kaidah Ushul, bahkan para Ulama Ahlusunah pun bersepakat tentang wajibnya mengangkat Khalifah / Imam. Berikut sebagian nash-nash syariah dan membahas tentang wajibnya Khilafah :

Dalil al-Qur’an al-Karim
“ Wahai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan Ulil Amri diantara kalian.” (QS. an-Nisâ’: 59)
Ulil Amri disini menurut as-Suyuthi dan al-Mahalli, adalah al-Wulâh (penguasa) yang memerintahkan kalian taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya (al-Jalalain, 1/110). Faktanya para sahabat telah menunjukan bahwa yang memerintahkan taat kepada Allah dan Rasul hanya Khulafa’ ar-Rasyidin dan para Khalifah sesudahnya yang memimpin kaum muslimin dengan gemilang. Maka tatkala kita diperintah untuk taat kepada ulil amri, sekaligus dalil agar kita menegakkannya jika belum tegak.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa” (QS. an-Nûr [24]: 55)
Menurut Ibnu Katsir, ini merupakan janji Allah swt kepada Rasul-Nya saw, karena Allah akan menjadikan ummatnya Khulafa’ al-Ardh yakni Imam-imam manusia, penguasa atas mereka, yang akan mendamaikan negeri dan menundukan manusia bagi umatnya (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 3/401). Ya Rabbi al-Wa’d wa al-Khabar Haqq.

Dalil as-Sunnah an-Nabawiyah
Jika kalian tiga orang dalam perjalanan, maka angkatlah salah seorang dari kalian sebagai pemimpin, itulah amîr (pimpinan) yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. (HR. al-Bazzâr, Al-Hakim berkata hadits ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim)
Hadits diatas dapat dikatakan sebagai prolog yang argumentatif, tatkala kita membahas wajibnya mengangkat pemimpin dalam Islam, dalam hadits tersebut terdapat hal yang penting, yakni jika hanya tiga orang dalam perjalanan saja harus ada pemimpin, maka sangat logis jika kaum muslim dewasa ini harus mengangkat seorang pemimpin di seluruh dunia.
Abdullah ibn Umar mendengar Rasulallah saw bersabda:
Siapa yang melepaskan tangan dari ketaatan, niscaya bertemu Allah pada hari kiamat tidaklah ia mempunyai hujjah, barangsiapa mati dan di lehernya tidak ada bai’at maka matinya mati jahiliyah. (HR. Muslim)
Menurut Abdul Qadim Zallum, bahwa bai’at hanya kepada Khalifah bukan yang lain, sehingga ketika bai’at ini tidak terlaksana kecuali dengan adanya Khalifah, maka menegakkan Khalifah wajib hukumnya (Nizham al-Hukm fi al-Islam, 2002: 34-35). Bahkan secara tersurat hal tersebut (Khalifah) telah dinyatakan oleh Rasul saw dalam haditsnya:
Dulu bani Israil diurusi oleh para Nabi, setiap meninggalnya Nabi diganti oleh Nabi (yang lain), sungguh tidak ada Nabi setelahku (setelah Nabi Muhammad saw), (namun) kelak akan ada para Khalifah yang banyak (bergiliran disetiap zamannya), para sahabat bertanya: Maka apa yang engkau perintahkan pada kami ? Rasul saw menjawab: Penuhilah oleh kalian bai’at yang pertama Maka (hanya) yang pertama, dan berikan kepada mereka haknya karena sesungguhnya Allah swt (akan) menanyai tentang kepengurusan (kepemimpinan) mereka. (HR. Muslim)
Kami sarankan anda membaca hadits yang disusun oleh Bukhari dan Muslim maupun para ulama muhadits yang lain, pasti terdapat bab tentang pemerintahan atau Khalifah tersebut. Hadits berikut semakin memperkuat akan wajibnya Khilafah ditegakkan:
Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian kemudian Beliau diam. (HR. Ahmad IV/273; Al-Haitsami dalam Majma’ Zawaid VI/341, berkata bahwa perawinya tsiqah [terpercaya])
Bahkan menurut Hafidz Abdurrahman hadits tersebut –setelah dianalisis secara mendalam– adalah mutawatir bi al-ma’na (hadits mutawatir secara makna) (Khilafah Islam dalam Hadist Mutawatir bi al-Ma’na, al-Azhar Press, Bogor. Cet. I. 2003-1424).

Dalil Ijma’ as-Shahabat
Adapun ketika Rasul wafat para sahabat bersepakat wajibnya mengangkat Khalifah, padahal jenazah Rasul saw Belum dimakamkan. Namun para sahabat sibuk mengangkat pengganti beliau sehingga terpilihlah Abu Bakar as-Siddiq sebagai pengganti (Khalifah) beliau, setelah itu baru jenazah Rasul saw dimakamkan (Nizham al-Hukm fi al-Islam, 2002: 36). Dalam pidatonya yang sangat masyhur Abu Bakar mengatakan:
Ingat sesungguhnya Muhammad telah wafat, sementara agama ini harus mempunyai orang yang menjalankannya. (Lihat: al-Jurjani, al-Mawaqif wa Syarhuhu, I/ 603; asy-Syahrastani, Nihayat al-Iqdam, hlm. 489)
Ketika para sahabat bersepakat, maka hal tersebut merupakan dalil bagi kita yang sangat jelas dan kuat akan wajibnya mengangkat Khalifah. Untuk lebih jelas bisa di analisis buku-buku Sirah Nabawiyah.

Kaidah Ushul
Ketika kita melihat seluruh kewajiban melaksanakan syariat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan suatu kewajiban bagi seluruh kaum muslim, seperti politik, ekonomi, sosial-budaya, hubungan dalam dan luar negeri, hukum pidana, perdata, pendidikan, hukum perang dan lain sebagainya tidak akan terwujud tanpa institusi, maka Institusi tersebut wajib di tegakkan. Ketika seluruh hukum Islam tidak akan tegak kecuali dengan adanya Khilafah Islam, maka Khilafah Islam adalah wajib. Kaidah syar’iyah menyatakan : Sesuatu kewajiban tidak akan sempurna tanpa sesuatu maka sesuatu tersebut menjadi wajib ada.
Menurut ad-Dumaiji, salah satu dalil bagi tegaknya Khilafah adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri r.a bahwa Baginda saw bersabda:
Tidak boleh menimbulkan mudharat dan merugikan (diri sendiri ataupun orang lain), barangsiapa membahayakan orang lain Allah akan menimbulkan mudharat baginya, barangsiapa yang memberatkan orang lain Allah akan memberatkan kepadanya. (HR. Al-Hakîm II/66; menurut beliau hadits ini isnadnya shahih berdasarkan syarat Muslim)

Tanpa Khilafah umat berada dalam kemadaratan. karena itu, Khilafah wajib ada untuk menghilangkan kemadaratan. (Lihat: Shiddiq Al-Jawi, Khilafah menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah (telaah kitab ad-Duamiji: al-Imamah al-‘Uzhma ‘Inda Ahl- As-Sunnah wa al-Jama’ah, 1978) Al-Wa’ie no. 90/ 2008 thn. VIII. hlm. 64)

Komentar Para Ulama Tentang Khilafah
Menurut Ibn Hajar, Badrudin al-‘Aini, an-Nawawi, Abadi dan al-Mubarakfuri menyatakan bahwa:
Mereka (para Imam Mazhab) sepakat, bahwa wajib bagi kaum muslimin untuk mengangkat Khalifah. (Lihat: Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari, 13/ 208; Umdah al-Qari Syarh Shahih Bukhari, 24/ 279; Syarh Shahih Muslim an-Nawawi: 12/ 205; ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, 8/ 112; Tuhfah al-Ahwadz Syarh Jami’ at-Turmudzi, 6/ 397)

Menurut al-Jaziri, ketika beliau membahas Syuruth al-Imamah, berkomentar:
Para imam mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad) rahimahumullah ta’ala Bersepakat, al-Imamah (Khilafah) adalah fardhu / wajib, kaum muslimin harus punya imam (Khalifah) yang menegakkan Syiar-syiar Islam dan meminimalisir kezhaliman, dan tidak boleh bagi kaum muslimin di waktu yang sama di seluruh dunia ada dua imam / dua Khalifah, baik keduanya sepakat atau tidak…. (Al-Jaziry, al-Fiqh ‘ala Mazdahib al-Arba’ah, jilid 4, Dar at-Taqwa. hlm. 309)
Dengan kata lain terpecahnya negeri-negeri muslim menjadi bagian-bagian negara bangsa (nation state) sangat dikecam keras oleh para ulama.
Walhasil, Khilafah telah dibahas oleh berbagai dalil, baik al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ Shahabat, Kaidah Ushul, juga seluruh ulama ahlussunnah wal jamaah. Ini membuktikan bahwa Khilafah adalah milik umat, kita harus memperjuangkannya agar kembali tegak, tentu dengan cara yang digariskan oleh dakwah Raullullah saw. Wallahu a’lamu bi ash-shawab.

Iklan