Semenjak dicetuskannya bulan Mei sebagai bulan kebangkitan Nasional, banyak elemen –sejak orde lama, orde baru sampai masa reformasi– yang sudah dan tengah mengusahakan kebangkitan bangsa Indonesia berdasarkan visi, persepsi, dan orientasi masing-masing. Secara faktual kita lihat, ada yang concern dalam bidang ekonomi, karena menganggap problem krusial adalah ekonomi; ada yang concern dalam bidang politik, karena berasumsi problem yang harus dibenahi adalah politik Indonesia yang “minim ideologis”; bahkan ada pula yang fokus di bidang sosial, karena menduga masyarakat Indonesia “ mulai” tidak bermoral. Namun dengan suatu analisis yang aktual, jujur dan fundamental, kita semua pasti menemukan suatu filosofi kebangkitan yang match bagi bangsa Indonesia bahkan seluruh peradaban, tapi filosofi kebangkitan apakah itu ?.

Kebangkitan, secara literatur adalah renaissance (kebangkitan kembali ilmu, seni, sastra maupun arsitektur) (pocket oxford dictionary, 1994). Dalam literatur bahasa Arab, ternyata renaissance (kebangkitan) berpadanan dengan an-nahdhah, yang berarti qama (bangun), ath-thaqah wa al-quwwah (kekuatan dan kemampuan), harakah (gerakan) (Lisan al-‘Arab: VII/245, al-Muhith: I/846, Mukhtar ash-Shihah: I/668).
Secara istilah, kata itu (kebangkitan) digunakan untuk mengungkapkan suatu fakta tertentu yaitu berpindahnya sebuah umat atau bangsa atau seorang individu dari suatu keadaan menuju keadaan lain yang lebih baik (Hafidz Shalih, Falsafah Kebangkitan, 1988).
Hafidz Shalih menjelaskan, yang dimaksud dengan kebangkitan itu adalah tingginya taraf berpikir. Ketinggian taraf berpikir itu ditandai dengan adanya dua sifat yaitu amiq (pemikiran yang mendalam) dan syumul (pemikiran yang menyeluruh). Sehingga untuk mewujudkan sebuah kebangkitan diperlukan adanya upaya untuk menanamkan pemikiran-pemikiran yang luhur yaitu pemikiran-pemikiran yang bersifat menyeluruh berkaitan dengan semua aspek kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi dan sebagainya. Pemikiran-pemikiran tersebut juga harus dibangun berdasarkan sebuah landasan yang kokoh yaitu berdasarkan sebuah akidah (keyakinan) atau sebuah ideologi tertentu.
Batasan tersebut memberikan deskripsi, suatu kebangkitan haruslah dimulai dengan meningkatkan taraf berpikir manusia sebagai sebuah bagian dari masyarakat, bangsa atau peradaban tertentu. Juga kebangkitan bukanlah sekedar kemajuan dalam salah satu bidang saja, namun kebangkitan adalah majunya suatu peradaban dalam seluruh bidang yang ada.

Motif Kebangkitan
Motif maupun dorongan membangkitkan suatu bangsa atau peradaban, biasanya terjadi karena bangsa atau peradaban tersebut memang mengalami krisis yang luar biasa dalam seluruh ranah kehidupan (krisis multi dimensional), sehingga bangsa itu memerlukan suatu terobosan untuk menyelamatkan dirinya dari kebinasaan peradaban (kemusnahan atau kepunahan peradaban).
Memang, tepat sekali jika dikatakan Indonesia negeri jamrud khatulistiwa ini dalam posisi terpuruk. Negeri kaya sumber daya alam ini, sedang mengalami krisis multidimensi semenjak akhir masa orde baru sampai sekarang. Berbagai macam solusi sudah dilakukan, dari pergantian pemerintahan, restrukturisasi kebijakan ekonomi baik makro maupun mikro, penataan sistem politik, usaha pemberantasan korupsi, dwi fungsi ABRI, bahkan amandemen undang-undang.
Akan tetapi, krisis tadi nampak tidak kunjung terselesaikan, bahkan semakin menjadi-jadi. Lihatlah kondisi politik yang semakin tidak menentu, ekonomi yang kapitalistik termasuk kenaikan BBM – Sembako, Hankam (pertahanan keamanan) Indonesia yang rawan intervensi negara-negara besar, pendidikan materialistik, dekadensi sosial termasuk hedonisme budaya, perusakan ajaran keagamaan dan lain sebagainya.
Semua kenyataan tersebut, menunjukan kepada kita semua, bahwa bangsa Indonesia sangat perlu dibangkitkan, seperti bangkitnya Eropa dengan renaissans, ataupun Islam dengan masa Umayyah, Abbasiah maupun Utsmaniyah-nya.

Meraih Kebangkitan
Meraih kebangkitan bukanlah perkara mudah, tapi tidaklah mustahil untuk diwujudkan. Sebagai bangsa yang memiliki hubungan erat dengan sejarah peradaban Islam, Indonesia memerlukan bukti-bukti historis, empiris dan filosofis untuk mengambil metode kebangkitannya sendiri. Indonesia juga perlu mempertimbangkan kebangkitan model apa yang akan di capai, apakah kebangkitan Eropa atau Islam.
Nampaknya, kita pun sebagai bangsa yang besar ini, diingatkan peristiwa sejarah, bahwa satu-satunya peradaban yang cocok untuk diambil model atau tipe kebangkitannya, adalah peradaban Islam. Mengapa harus peradaban Islam, jawabannya cukup simple, karena semua model atau tipe solusi bagi segala krisis sudah pernah dirasakan oleh Indonesia, seperti solusi sosialime-komunisme, sekarang sekular-kapitalisme, akan tetapi fakta membuktikan semua solusi tersebut tidak pernah berhasil. Artinya, kini tinggal peradaban Islam-lah yang akan menjadi satu-satunya model kebangkitan.

Model Kebangkitan Islam
Umat Islam dulu memperoleh kejayaan selama berabad-abad. Taraf berpikir mereka begitu tinggi. Namun, seperti apa gambaran secara singkat ketinggian taraf berpikir kaum Muslim dulu itu.
Konsep taraf berpikir rendah dan tinggi itu bisa dilihat dari kualitasnya. Misalnya, berpikir untuk makan jelas beda kualitasnya dengan berpikir untuk mencari makan dengan cara tertentu. Yang pertama didorong oleh rasa lapar, sedangkan yang kedua didorong oleh kesadaran, bahwa tuntutan kebutuhan jasmani tadi harus dipenuhi, tetapi tidak semata-mata dipenuhi, melainkan dipenuhi dengan cara tertentu. Maka, kualitas berpikir yang kedua jelas lebih tinggi dibandingkan dengan yang pertama. Karena itu, yang pertama itu disebut taraf berpikir hewani, sedangkan yang kedua disebut taraf berpikir insani.
Ketinggian taraf berpikir kaum Muslim dulu bisa kita lihat dari infrastruktur yang mereka hasilkan, seperti gedung, observatorium, termasuk sains dan teknologi pada zaman itu (lihat: Sigrid Hunke. Allah’s Sonne ueber dem Abendland. Frankfurt, Fischer, 1990).
Selain itu, juga bisa kita lihat dari hadhârah-nya (peradaban), sebagai kumpulan pemahaman tentang kehidupan, seperti yang tertuang dalam khazanah keilmuan (tsaqâfah) Islam klasik, semisal fikih, tafsir, dan lain-lain. Infrastruktur dan peradaban ini tidak lain merupakan produk pemikiran yang bisa diukur.

Langkah Praktis
Dengan menggunakan kembali metode berpikir produktif yang telah diwariskan oleh Islam. Caranya dengan menggunakan khazanah keilmuan Islam yang kita miliki untuk menghukumi fakta yang kita hadapi. Dengan melakukan proses tersebut secara berulang-ulang, maka metode berpikir produktif tersebut akan terbentuk di dalam diri kita. Jika ini dimiliki oleh umat maka umat pun pasti akan mampu menyelesaikan problem yang mereka hadapi. Jadi, kuncinya memang terletak pada metode berpikir produktif mereka. Bukan yang lain.
Contohnya, ketika BBM mulai melonjak, sembako mulai langka, korupsi merajalela, prostitusi dimana-mana, maka kita sebagai bangsa jangan “malu-malu” untuk merumuskan solusinya berdasarka pandangan Islam semata. Artinya Islam diterapkan secara formal untuk mengatur seluruh tatanan bangsa Indonesia, tak terkecuali Indonesia bisa menjadi negara adikuasa..
Karena secara filosofis Islam mempunyai konsep lengkap, baik dari segi ide maupun metodenya (lihat: QS. 2: 208) Juga secara empiris dan historis Islam memang diakui oleh para intelektual Barat sendiri bahwa Islam memang pernah menjadi pusat peradaban dunia, seperti: Jerome R. Ravertz dalam Philosophy of Science; John William Draper dalam Intelectual Development of Europe; George Sarton dalam Introduction to the History of Science; dan masih banyak lagi.
Secara Ideologis, Islam pasti mampu untuk menjadi sarana kebangkitan bagi bangsa ini, tentu dengan syarat, mempercayai Islam sebagai sebuah sistem hidup sembari menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., dan para sahabat beliau.