Archive for Juli, 2010


Hukum Nashbul khalifah adalah Fardhu Kifayah
Pada point pertama ini kami kompilasikan sebagian maqalah para ulama’ Mu’tabar dari berbagai madzhab, terutama madzhab Syafi’i yang merupakan madzhab kebanyakan kaum Muslimin di Indonesia, tentang wajibnya imamah atau khilafah. Tentu pernyataan mereka tersebut adalah merupakan hasil istinbath mereka dari dalil-dalil syara’, baik apakah mereka menjelaskan hal tersebut maupun tidak. Syaikh Al-Islam Al-imam Al-hafidz Abu Zakaria An-nawawi berkata :

الفَصْلُ الثاَّنِي فِي وُجُوُبِ اْلإِمَامَةِ وَبَيَانِ طُرُقِهَا لاَ بُدَّ ِللأُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ الدِّيْنَ وَيَنْصُرُ السُنَّةَ وَيَنْتَصِفُ لِلْمَظْلُومِينَ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوْقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا. قُلْتُ تُوَلِّي اْلإِمَامَةَ فَرْضُ كِفَايَةٍ …
Pasal kedua tentang wajibnya imamah serta penjelasan metode (mewujudkan) nya. Adalah suatu keharusan bagi umat adanya imam yang menegakkan agama dan yang menolong sunnah serta yang memberikan hak bagi orang yang dizhalimi serta menunaikan hak dan menempatkan hal tersebut pada tempatnya. Saya nyatakan bahwa mengurus (untuk mewujudkan) imamah itu adalah fardhu kifayah…

Al-allamah Asy-Syaikh Muhammad Asy-syarbini Al-khatib menjelaskan:

فَقَالَ (فَصْلٌ) فِي شُرُوطِ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ وَبَيَانِ انْعِقَادِ طُرُقِ اْلإِمَامَةِ .وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ، إذْ لاَ بُدَّ لِلأُمَّةِ مِنْ إمَامٍ يُقِيمُ الدِّينَ وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ وَيُنْصِفُ الْمَظْلُومَ مِنْ الظَّالِمِ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا ، وَقَدَّمَا فِي الشَّرْحِ وَالرَّوْضَةِ الْكَلاَمَ عَلَى اْلإِمَامَةِ عَلَى أَحْكَامِ الْبُغَاةِ …
Maka (pengarang) berkata (pasal) tentang syarat-syarat imam yang agung serta penjelasan metode-metode in’iqadnya imamah. Mewujudkan imamah yang agung itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan.

Syaikhul Islam Imam Al-hafidz Abu Yahya Zakaria Al-anshri :

(فَصْلٌ) فِي شُرُوْطِ اْلاِمَامِ اْلاَعْظَمِ، وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ اْلاِمَامَةِ، وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ (شَرْطُ اْلاِمَامِ كَوْنُهُ أَهْلاً لِلْقَضَاءِ) بِأَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا حُرًّا مُكَلَّفًا عَدْلاً ذَكَرًا مُجْتَهِدًا ذَا رَأْيٍ وَسَمْعٍ وَبَصَرٍ وَنُطْقٍ لِمَا يَأْتِي فِي بَابِ الْقَضَاءِ وَفِي عِبَارَتِي زِيَادَةُ الْعَدْلِ (قُرَشِيًّا) لِخَبَرِ النَّسَائِي اْلاَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ فَإِنْ فُقِدَ فَكِنَانِي، ثُمَّ رَجُلٌ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيْلَ ثُمَّ عَجَمِي عَلىَ مَا فِي التَّهْذِيْبِ أَوْ جُرْهُمِي عَلىَ مَا فِي التَّتِمَّةِ، ثُمَّ رَجُلٌ مِنْ بَنِي إِسْحَاقَ (شُجَاعًا) لِيَغْزُوَ بِنَفْسِهِ، وَيُعَالِجَ الْجُيُوْشَ وَيَقْوَى عَلىَ فَتْحِ اْلبِلاَدِ ويَحْمِيَ اْلبَيْضَةَ، وَتُعْتَبَرُ سَلاَمَتُهُ مِنْ نَقْصٍ يَمْنَعُ اسْتِيْفَاءَ الْحَرَكَةِ وَسُرْعَةَ النُّهُوضِ، كَمَا دَخَلَ فِي الشَّجَاعَةِ
(Pasal) tentang syarat-syarat imam yang agung serta penjelasan metode in’iqad imamah. Mewujudkan imamah adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan (salah satu syarat menjadi imam adalah kapabel untuk peradilan). Maka hendaknya imam yang agung tersebut adalah muslim, merdeka, mukallaf, adil, laki-laki, mujtahid, memiliki visi, mendengar, melihat dan bisa bicara. Berdasarkan bab tentang peradilan dan pada ungkapan saya dengan penambahan adil adalah (dari kabilah Quraisy) berdasarkan hadits yang diriwayatkan  An-Nasa’i: “bahwa para Imam itu dari golongan Quraisy”. Apabila tidak ada golongan Quraisy maka dari Kinanah, kemudian pria dari keturunan Ismail lalu orang asing (selain orang Arab) berdasarkan apa yang ada pada (kitab) At-tahdzib atau Jurhumi berdasarkan apa yang terdapat dalam (kitab) At-tatimmah. Kemudian pria dari keturunan Ishaq. Selanjutnya (pemberani) agar (berani) berperang secara langsung, mengatur pasukan, memperkuat (pasukan) untuk menaklukkan negeri, melindungi kemurnian (Islam). Juga termasuk (sebagian dari syarat imamah) adalah bebas dari kekurangan yang akan menghalangi kesempurnaan serta cekatannya gerakan sebagaimana hal tersebut merupakan bagian dari keberanian …

Ketika Imam Fakhruddin Ar-razi, penulis kitab Manaqib Asy-syafi’i, menjelaskan firman-Nya Ta’ala pada Surah Al-maidah ayat 38, beliau menegaskan :

…اِحْتَجَّ الْمُتَكَلِّمُوْنَ بِهذِهِ اْلآيَةِ فِي أَنَّهُ يَجِبُ عَلىَ اْلأُمَّةِ أَنْ يَنْصَبُوا ِلأَنْفُسِهِمْ إمَاماً مُعَيَّناً وَالدَّلِيْلُ عَلَيهِ أََنَّهُ تَعَالَى أَوْجَبَ بِهَذِهِ اْلآيَةِ إِقَامَةِ الْحَدِّ عَلىَ السَّرَّاقِ والْزَنَاةِ ، فَلاَ بُدَّ مِنْ شَخْصٍ يَكُونُ مُخَاطَباً بِهَذَا الْخِطَابِ، وَأَجْمَعَتِ اْلأُمَّةُ عَلىَ أَنَّهُ لَيْسَ ِلآحَادِ الرَّعِيَّةِ إِقَامَةَ الْحُدُودِ عَلَى الْجُنَاةِ، بَلْ أَجْمَعُوا عَلىَ أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ إِقَامَةَ الْحُدُودِ عَلىَ اْلأَحْرَارِ الْجُنَاةِ إِلاَّ ِللإِمَامِ، فَلَمَّا كَانَ هَذَا التَّكْلِيْفُ تَكْلِيْفاً جَازِماً وَلاَ يُمْكِنُ الْخُرُوجُ عَنْ عُهْدَةِ هَذَا التَّكْلِيْفِ إِلاَّ عِنْدَ وُجُودِ اْلإِمَامِ، وَمَا لاَ يَتَأَتِّى الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ، وَكَانَ مَقْدُورًا لِلْمُكَلَّفِ، فَهُوَ وَاجِبٌ، فَلَزِمَ اْلقَطْعُ بِوُجُوبِ نَصْبِ اْلإِمَامِ حَيْنَئِذٍ
… Para Mutakallimin berhujjah dengan ayat ini bahwa wajib atas umat untuk mengangkat seorang imam yang spesifik untuk mereka. Dalilnya adalah bahwa Dia Ta’ala mewajibkan dalam ayat ini untuk menegakkan had atas pencuri dan pelaku zina. Maka adalah merupakan keharusan adanya seseorang yang melaksanakan seruan tersebut. Sungguh umat telah sepakat bahwa tidak seorangpun dari rakyat yang boleh menegakkan had atas pelaku kriminal tersebut. Bahkan mereka telah sepakat bahwa tidak boleh (haram) menegakkan had atas orang yang merdeka pelaku kriminal kecuali oleh imam. Karena itu ketika taklif tersebut sifatnya pasti (jazim) dan tidak mungkin keluar dari ikatan taklif ini kecuali dengan adanya imam, dan ketika kewajiban itu tidak tertunaikan kecuali dengan sesuatu, dan itu masih dalam batas kemampuan mukallaf maka (adanya) imam adalah wajib. Maka adalah suatu yang pasti qath’inya atas wajibnya mengangkat imam, seketika itu pula…

Imam Abul Qasim An-naisaburi Asy-syafi’i berkata :

…أَجْمَعَتِ اْلأُمَّةُ عَلىَ أَنَّ الْمُخَاطَبَ بِقَوْلِهِ {فَاجْلِدُوا} هُوَ اْلإِمَامُ حَتىَّ احْتَجُّوا بِهِ عَلىَ وُجُوبٍ نَصْبِ اْلإِمَامِ فَإِنَّ مَا لاَ يَتِمُّ اْلوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
…Umat telah sepakat bahwa yang menjadi obyek khitab (maka jilidlah) adalah imam. Dengan demikian mereka berhujjah atas wajibnya mengangkat imam. Sebab, apabila suatu kewajiban itu tidak sempurna tanpa adanya sesuatu tersebut maka ada sesuatu tersebut menjadi wajib pula.

Al-allamah Asy-Syaikh Abdul Hamid Asy-syarwani menyatakan:

قَوْلُهُ (هِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ) إِذْ لاَ بُدَّ لِلاُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ الدِّيْنَ وَيَنْصُرُ السُّـنَّةَ وَيُنْصِفُ الْمَظْـلُومَ مِنَ الظَّالِمِ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوْضِعَهَا…
…Perkataannya: (mewujudkan imamah itu adalah fardhu kifayah) karena adalah merupakan keharusan bagi umat adanya imam untuk menegakkan agama dan menolong sunnah serta memberikan hak orang yang dizhalimi dari orang yang zhalim serta menunaikan hak-hak dan menempatkan hak-hak tersebut pada tempatnya…

Dalam kitab Hasyiyata Qalyubi wa Umairah dinyatakan:

…فَصْلٌ فِي شُرُوطِ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ وَمَا مَعَهُ وَاْلإِمَامَةُ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ فَيَجْرِي فِيهَا مَا فِيهِ مِنْ جَوَازِ الْقَبُولِ وَعَدَمِهِ
…Pasal tentang syarat-syarat imam yang agung dan hal-hal yang menyertainya. Imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan maka berlaku di dalam imamah tersebut apa yang berlaku untuk peradilan baik dalam kebolehan menerima maupun tidaknya..

Al-allamah Asy-Syaikh Sulaiman bin Umar bin Muhammad Al-bajairimi berkata :

…فِي شُرُوطِ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ اْلإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ. كَالْقَضَاءِ فَشُرِطَ ِلإِمَامٍ كَوْنُهُ أَهْلاً لِلْقَضَاءِ قُرَشِيًّا لِخَبَرِ: الأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ شُجَاعًا لِيَغْزُوَ بِنَفْسِهِ وَتُعْتَبَرُ سَلاَمَتُهُ مِنْ نَقْصٍ يَمْنَعُ اسْتِيفَاءَ الْحَرَكَةِ وَسُرْعَةَ النُّهُوضِ كَمَا دَخَلَ فِي الشَّجَاعَةِ…
…Tentang syarat-syarat imam yang agung serta penjelasan metode-metode sahnya in’iqad imamah. Dan mewujudkan imamah tersebut adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan. Maka disyaratkan untuk imam itu hendaknya layak untuk peradilan (menjadi hakim). (syarat) Quraisy, karena berdasarkan hadits: “Bahwa para imam itu adalah dari Quraisy”. (syarat) Berani, agar berani berperang secara langsung. Begitu pula (dengan syarat) bebasnya dari kekurangan yang menghalangi kesempurnaan dan kegesitan gerakan dia sebagaimana masuknya keberanian sebagai salah satu syarat imamah…

Imam Al-hafidz Abu Muhammad Ali bin Hazm Al-andalusi Adz-dzahiri mendokumentasikan ijma’ Ulama’ bahwa (keberadaan) Imamah itu fardhu:

… وَاتَّفَقُوا أَنَّ اْلاِمَامَةَ فَرْضٌ وَاَنَّهُ لاَ بُدَّ مِنْ اِمَامٍ حَاشَا النَّجْدَاتِ وَأَرَاهُمْ قَدْ حَادُوا اْلاِجْمَاعَ وَقَدْ تَقَدَّمَهُمْ وَاتَّفَقُوا اَنَّهُ لاَ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عَلىَ الْمُسْلِمينَ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ فِي جَمِيْعِ الدُّنْيَا اِمَامَانِ لاَ مُتَّفِقَانِ وَلاَ مُفْتَرِقَانِ وَلاَ فِي مَكَانَيْنِ وَلاَ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ …
…Mereka (para ulama’) sepakat bahwa imamah itu fardhu dan adanya Imam itu merupakan suatu keharusan, kecuali An-najdat. Pendapat mereka sungguh telah menyalahi ijma’ dan telah lewat pembahasan (tentang) mereka. Mereka (para ulama’) sepakat bahwa tidak boleh pada satu waktu di seluruh dunia adanya dua imam bagi kaum Muslimin baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat…

Berkata Imam ‘Alauddin Al-kasani Al-hanafi :

… وَ ِلأَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ فَرْضٌ، بِلاَ خِلاَفٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ، وَلاَ عِبْرَةَ – بِخِلاَفِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ -؛ ِلإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ؛ لِتَقَيُّدِ اْلأَحْكَامِ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنَ الظَّالِمِ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لاَ تَقُومُ إلاَّ بِإِمَامٍ
…Dan karena sesungguhnya mengangkat imam yang agung itu adalah fardhu. (ini) tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq. Dan tidak diperhatikan—perbedaan dengan sebagian Qadariyyah—karena ijma’ shahabat ra atas hal tersebut (telah jelas), serta urgensitas kebutuhan terhadap imam yang agung tersebut. Untuk keterikakan terhadap hukum. Untuk menyelamatkan orang yang dizhalimi dari orang yang zhalim. Untuk memutuskan perselisihan yang merupakan obyek yang menimbulkan kerusakan, dan kemaslahatan-kemaslahatn yang lain yang memang tidak akan tegak kecuali dengan adanya imam…

Imam Al-hafidz Abul Fida’ Ismail ibn Katsir ketika menjelaskan firman Allah surah Al-Baqarah ayat 30 beliau berkata:

…وَقَدِ اسْتَدَلَّ الْقُرْطُبِيُّ وَغَيْرُهُ بِهَذِهِ اْلآيَةِ عَلَى وُجُوبٍ نَصْبِ الْخَلِيْفَةِ لِيَفْصِلَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا يَخْتَلِفُونَ فِيهِ، وَيَقْطَعَ تَنَازُعَهُمْ، وَيَنْتَصِرَ لِمَظْلُومِهِمْ مِنَ ظَالِمِهِمْ، وَيُقِيمَ الْحُدُودَ، وَيَزْجُرَ عَنْ تَعَاطِي الْفَوَاحِشِ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ اْلأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي لاَ يُمْكِنُ إِقَامَتُهَا إِلاَّ بِاْلإِمَامِ، وَمَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
…Dan sungguh Al-Qurthubi dan yang lain berdalil berdasarkan ayat ini atas wajibnya mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi diantara manusia, memutuskan pertentangan mereka, menolong atas yang dizhalimi dari yang menzhalimi, menegakkan had-had, dan mengenyahkan kerusakan dsb. yang merupakan hal-hal penting yang memang tidak memungkinkan untuk menegakkan hal tersebut kecuali dengan imam, dan apabila suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan suatu tersebut maka sesuatu tersebut menjadi wajib (pula).

Imam Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surah Al-baqarah ayat 30 berkata:
…هَذِهِ اْلآيَةُ أَصْلٌ فِي نَصْبٍ إِمَامٍ وَخَلِيْفَةٍ يُسْمَعُ لَهُ وَيُطَاعُ، لِتَجْتَمِعَ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتُنَفِّذَ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيْفَةِ. وَلاَ خِلاَفَ فِي وُجُوبٍ ذَلِكَ بَيْنَ اْلاُمَّةِ وَلاَ بَيْنَ اْلاَئِمَّةِ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ اْلاَصَمِّ … ثُمَّ قَالَ القُرْطُبِي: فَلَوْ كَانَ فَرْضُ اْلاِمَامَةِ غَيْرَ وَاجِبٍ لاَ فِي قُرَيْشٍ وَلاَ فِي غَيْرِهِمْ لِمَا سَاغَتْ هَذِهِ الْمُنَاظَرَةُ وَالْمُحَاوَرَةُ عَلَيْهَا، وَلَقَالَ قَائِلُ: إِنَّهَا لَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ لاَ فِي قُرَيْشٍ وَلاَ فِي غَيْرِهِمْ، فِمَا لِتُنَازِعَكُمْ وَجْهٌ وَلاَ فَائِدَةَ فِي أَمْرٍ لَيْسَ بِوَاجِبٍ …وَقَالَ, اَيْ القُرْطُبِي, وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ ثَبَتَ أَنَّهَا وَاجِبَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّرْعِ لاَ مِنْ جِهَةِ الْعَقْلِ، وَهَذَا وَاضِحٌ
…Ayat ini pokok (yang menegaskan) bahwa mengangkat imam dan khalifah untuk didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan, melalui khalifah, hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara umat, tidak pula diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-asham … Beliau berkata: …Maka kalau seandainya keharusan adanya imam itu tidak wajib baik untuk golongan Quraisy maupun untuk yang lain lalu mengapa terjadi diskusi dan perdebatan tentang Imamah. Maka sungguh orang akan berkata: bahwa sesungguhnya imamah itu bukanlah suatu yang diwajibkan baik untuk golongan Quraisy maupun yang lain, lalu untuk apa kalian semua berselisih untuk suatu hal yang tidak ada faedahnya atas suatu hal yang tidak wajib. Kemudian beliau menegaskan: …Dengan demikian maka (telah) menjadi ketetapan bahwa imamah itu wajib berdasarkan syara’ bukan akal. Dan ini jelas sekali.

Imam Umar bin Ali bin Adil Al-hambali Ad-dimasyqi, yang dikenal dengan Ibnu Adil, ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala surah Al-baqarah ayat 30 berkata:

…وَقَالَ ابْنُ الْخَطِيْبِ: َالْخَلِيْفَةَ : اِسْمٌ يَصْلُحُ لِلْوَاحِدِ وَالْجَمْعِ كَمَا يَصْلُحُ لِلذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى … ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ اْلآيَةَ دَلِيْلٌ عَلىَ وُجُوبٍ نَصْبٍ إِمَامٍ وَخَلِيْفَةٍ يُسْمَعُ لَهُ ويُطَاعُ، لِتَجْتَمِعَ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتُنَفِّذَ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيْفَةِ، وَلاَ خِلاَفَ فِي وُجُوبِ ذَلِكَ بَيْنَ اْلأَئِمَّةِ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ اْلأَصَمِّ، وَأَتْبَاعِهِ …
…Dan berkata Ibn Al-khatib khalifah itu isim yang cocok baik untuk tunggal maupun plural sebagaimana cocoknya untuk laki-laki dan wanita. Kemudian beliau berkata: ….ayat ini adalah dalil wajibnya mengangkat Imam dan khalifah untuk didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat, serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-asham dan orang yang mengikuti dia…

Berkata Imam Abu al-hasan Al-mirdawi Al-hambali dalam kitab Al-inshaf:
بَابُ قِتَالِ أَهْلِ الْبَغْيِ فَائِدَتَانِ إحْدَاهُمَا: نَصْبُ اْلإِمَامِ: فَرْضُ كِفَايَةٍ. قَالَ فِي الْفُرُوعِ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى اْلأَصَحِّ..
Bab memerangi orang yang Bughat, terdapat dua faedah. Pertama, mengangkat imam itu adalah fardhu kifayah. Dia berkata di dalam al-furu’: fardhu kifayahlah yang paling tepat….

Imam Al-bahuti Al-hanafi berkata:

…(نَصْبُ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ) عَلَى الْمُسْلِمِينَ (فَرْضُ كِفَايَةٍ) ِلأَنَّ بِالنَّاسِ حَاجَةً إِلَى ذَلِكَ لِحِمَايَةِ الْبَيْضَةِ وَالذَّبِّ عَنْ الْحَوْزَةِ وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ وَاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ وَاْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ…
…(Mengangkat Imam yang agung itu) atas kaum Muslimin (adalah fardhu kifayah). Karena manusia membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), menjaga konsistensi (agama), penegakan had, penunaian hak serta amar ma’ruf dan nahi munkar…

Dalam kitab Hasyiyyatul Jumal disebutkan:
…فِي شُرُوطِ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ، وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ اْلإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ (شَرْطُ اْلإِمَامِ كَوْنُهُ أَهْلاً لِلْقَضَاءِ) بِأَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا حُرًّا مُكَلَّفًا عَدْلاً ذَكَرًا مُجْتَهِدًا ذَا رَأْيٍ وَسَمْعٍ وَبَصَرٍ وَنُطْقٍ لِمَا يَأْتِي فِي بَابِ الْقَضَاءِ…
…Tentang syarat Imam yang agung dan tentang penjelasan metode in’iqad imamah. Mewujudkan imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan. (syarat Imam adalah yang layak untuk peradilan). Maka hendaknya dia muslim, merdeka, mukallaf, adil, laki-laki, mujtahid, cerdas, mendengar, melihat dan bisa bicara, sebagaimana yang terdapat dalam pembahasan pada bab tentang peradilan…

Sedangkan dalam kitab Mathalibu Ulin Nuha fii Syarhi Ghayatil Muntaha dinyatakan:

…(وَنَصْبُ اْلإِمَامِ فَرْضُ كِفَايَةٍ) ِلأَنَّ بِالنَّاسِ حَاجَةً لِذَلِكَ لِحِمَايَةِ الْبَيْضَةِ، وَالذَّبِّ عَنِ الْحَوْزَةِ، وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ، وَابْتِغَاءِ الْحُقُوقِ، وَاْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ…
…(Dan mengangkat imam itu adalah fardhu kifayah) karena manusia memang membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), memelihara konsistensi (agama), menegakkan had, menunaikan hak-hak, dan amar makruf serta nahi munkar.

Berkata shahibu Al-husun Al-hamidiyyah, Syaikh Sayyid Husain Afandi:
اِعْلَمْ اَنَّهُ يَجِبُ عَلىَ الْمُسْلِمِينَ شَرْعًا نَصْبُ اِمَامٍ يَقُومُ بِاِقَامَةِ الْحُدُودِ وَسَدَّ الثُّغُورَ وَتَجْهِيْزِ الْجَيْشِ …
Ketahuilah bahwa mengangkat Imam yang yang menegakkan had, memelihara perbatasan (negara), menyiapkan pasukan, … secara syar’i adalah wajib.

Khulashatul qaul, dapat kita simpulkan bahwa para Ulama’ Mu’tabar dari berbagai madzhab diatas menegaskan bahwa hukum nasbu al-Imam atau al-Khalifah adalah wajib. Apakah Kifayah atau ain? Imam al-Hafidz an-Nawawi, antara lain, yang menjelaskan bahwa kewajiban tersebut masuk kategori fardhu kifayah.

Pelaksaan fardhu kifayah
Suatu hal yang ma’lum bahwa fardhu itu ada dua macam. Fardhu kifayah dan fardhu ain. Sebagai kewajiban sebenarnya fardhu kifayah maupun fardhu ain sama, sama-sama fardhu, meski dari sisi pelaksanaannya berbeda. Imam Saifuddin al-Amidi dalam kitab al-Ihkam fii Ushul al-Ahkam menegaskan:

اَلْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَّةُ لاَ فَرْقَ عِنْدَ أَصْحَابِنَا بَيْنَ وَاجِبِ الْعَيْنِ، وَالْوَاجِبِ عَلىَ الْكِفَايَةِ مِنْ جِهَةِ الْوُجُوبِ، لِشُمُولِ حَدِّ الْوَاجِبِ لَهُمَا
Masalah yang ke dua. Tidak ada perbedaan (menurut ashab kita) antara wajib ain dan wajib kifayah. Dari sisi kwajiban. Karena inklusinya batas kewajiban untuk keduanya

Untuk batasan kesempurnaan pelaksanaan fardhu kifayah Imam Asy-syirazi, dalam kitab Al-luma’ fii Ushul Al-fiqh, menjelaskan:

فَصْلٌ إِذَا وَرَدَ الْخِطَابُ بِلَفْظِ الْعُمُومِ دَخَلَ فِيهِ كُلُّ مَنْ صَلَحَ لَهُ الْخِطَابُ وَلاَ يَسْقُطُ ذَلِكَ الْفِعْلُ عَنْ بَعْضِهِمْ بِفِعْلِ الْبَعْضِ إِلاَّ فِيمَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِهِ وَقَرَّرَهُ تَعَالَى أَنَّهُ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْجِهَادِ وَتَكْفِيْنِ الْمَيِّتِ وَالصَّلاَةِ عَلَيْهِ وَدَفْنِهِ فَإِنَّهُ إِذَا أَقَامَ بِهِ مَنَ يَقَعُ بِهِ الْكِفَايَةُ سَقَطَ عَنِ الْبَاقِين
Pasal. Apabila terdapat khitab dengan lafadz umum maka masuk di dalamnya siapa saja yang kitab tersebut visible baginya dan perbuatan tersebut tidak gugur atas sebagian karena perbuatan sebagian (yang lain), kecuali apabila syara’ datang di dalamnya, dan Allah menetapkan bahwa khitab tersebut adalah fardhu kifayah. Seperti jihad, mengkafani jenazah, menshalatkan dan menguburkannya. Maka apabila kewajiban tersebut telah selesai ditunaikan oleh siapa saja yang mampu, gugurlah (kwajiban) tersebut atas yang lain ….

Artinya, menurut Imam Asy-syirazi, apabila fardhu kifayah itu jika belum selesai ditunaikan maka kewajiban tersebut masih tetap dibebankan diatas pundak seluruh mukallaf yang menjadi obyek khitab taklif. Syaikhul Islam Imam al-Hafidz an-Nawawi, dalam kitab Al-majmu’ Syarh Al-muhadz-dzab menjelaskan:

…وَغَسْلُ الْمَيِّتِ فَرْضُ كِفَايَةٍ بِاِجْمَاعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَمَعْنَي فَرْضُ الْكِفَايَةِ اَنَّهُ إِذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيْهِ كِفَايَةً سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْبَاقِينَ وَاِنْ تَرَكُوهُ كُلُّهُمْ اَثِمُوا كُلُّهُمْ وَاعْلَمْ اَنَّ غَسْلَ الْمَيِّتِ وَتَكْفِيْنِهِ وَالصَّلاَةِ عَلَيْهِ وَدَفْنِهِ فُرُوضُ كِفَايَةٍ بِلاَ خِلاَفٍ
Dan memandikan jenazah itu adalah fardhu kifayah berdasarkan ijma’ kaum Muslimin. Makna fardhu kifayah adalah apabila siapa saja yang pada dirinya ada kifayah (kecukupan untuk melaksanakan kewajiban tsb) telah melaksanakan maka akan menggugurkan beban atas yang lain. Namun apabila mereka semua meninggalkan kewajiban tersebut, mereka semua berdosa. Ketahuilah bahwa memandikan mayyit, mengkafaninya, menshalatinya serta menguburkannya adalah fardhu kifayah, tidak ada perbedaan pendapat (dalam hal ini).

Disini Imam An-nawawi menegaskan, apabila fardhu tersebut telah dikerjakan oleh siapa saja yang memiliki “kifayah” maka beban (kewajiban) tersebut gugur atas yang lain. Tapi, jika semua meninggalkan kewajiban tersebut, semuanya berdosa. Al-allamah Asy-Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-malibari menegaskan:

بَابُ الْجِهَادِ. (هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كُلُّ عَامٍّ) وَلَوْ مَرَّةً إِذَا كَانَ اْلكُفَّارُ بِبِلاَدِهِمْ، وَيَتَعَيَّنُ إِذَا دَخَلُوا بِلاَدَنَا كَمَا يَأْتِي: وَحُكْمُ فَرْضُ الْكِفَايَةِ أَنَّهُ إِذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيهِمْ كِفَايَةً سَقَطَ الْحَرَجُ عَنْهُ وَعَنِ الْبَاقِينَ. وَيَأْثَمُ كُلُّ مَنْ لاَ عُذْرَ لَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِنْ تَرَكُوهُ وَإِنْ جَهَلُوا
Bab Jihad. (jihad itu adalah fardhu kifayah setiap tahun) meski satu kali, apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka, dan menjadi fardhu ‘ain apabila mereka (menyerang) masuk di negeri kita, sebagaimana yang akan datang (pembaha-sannya); dan hukum fardhu kifayah itu adalah apabila fardhu kifayah tersebut telah dikerjakan oleh siapa saja yang memiliki “kifayah” maka akan gugurlah beban atas orang tersebut dan juga bagi yang lain. Dan berdosa atas setiap orang yang tidak udzur baginya dari kaum Muslimin apabila mereka meninggalkannya meski mereka bodoh

Disini Shahibu Fathil Mu’in menegaskan kembali apa yang dijelaskan oleh Imam An-nawawi. Beliau menambahkan catatan bahwa kaum Muslimin yang tidak ada udzur, tapi meninggalkan kewajiban tersebut berdosa.
Masih tentang fardhu kifayah, Syaikh Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi dalam kitab Nihayah Az-zain menjelaskan hal yang senada dengan yang dijelaskan oleh Imam An-nawawi. Namun beliau menambahkan bahwa yang melaksanakan kewajiban tersebut bisa jadi bukan orang yang terkena kwajiban. Beliau berkata:

بَابُ الْجِهَادِ أَيِ الْقِتَالِ فِي سَبِيْلِ اللهِ هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كُلُّ عَامٍّ إِذَا كَانَ الْكُفَّارُ بِبِلاَدِهِمْ وَأَقَلُّهُ مَرَّةً فِي كُلِّ سَنَةٍ فَإِذَا زَادَ فَهُوَ أَفْضَلُ مَا لَمْ تَدْعُ حَاجَةٌ إِلىَ أَكْثَرِ مِنْ مَرَّةٍ وَإٍلاَّ وَجَبَ لِبَعْضِ طَلَبِ الْجِهَادِ بِأَحَدٍ أَمْرَيْنِ إِمَّا بِدُخُولِ اْلإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ دَارَهُمْ بِالْجَيْشِ لِقِتَالِهِمْ وَإِمَّا بِتَشْحِيْنِ الثُّغُورِ أَيْ أَطْرَافِ بِلاَدِنَا بِمُكَافِئِينَ لَهُمْ لَوْ قَصَدُونَا مَعَ إِحْكَامِ الْحُصُونِ وَالْخَنَادِقَ وَتَقْلِيْدِ ذَلِكَ لِلأُمَرَاءِ الْمُؤْتَمِنِينَ الْمَشْهُورِينَ بِالشَّجَاعَةِ وَالنَصْحِ لِلْمُسْلِمِينَ وَحُكْمُ فَرْضُ الْكِفَايَةِ أَنَّهُ إِذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيهِمْ كِفَايَةً وَإِنْ لَمْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ فَرْضِهِ كَصِبْيَانٍ وَإِنَاثٍ وَمَجَانِينَ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنْهُ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِهِ وَعَنِ الْبَاقِينَ رُخْصَةً وَتَخْفِيفًا عَلَيْهِمْ بِفَرْضِ الْعَيْنِ أَفْضَلُ بِفَرْضِ اْلكِفَايَةِ كَمَا قَالَهُ الرَّمْلِي وَفُرُوضُ الْكِفَايَةِ كَثِيرَةٍ
Kitab Jihad. Maksudnya adalah perang di jalan Allah. Jihad itu adalah fardhu kifayah untuk setiap tahun, apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka. Paling sedikit satu kali dalam satu tahun, tapi apabila lebih tentu lebih utama, selama tidak ada kebutuhan lebih dari satu kali. Jika jihad tidak dilakukan maka wajib atas sebagian (kaum Muslimin) untuk mengajak jihad, dengan salah satu dari dua cara. Dengan masuknya Imam atau wakilnya ke negeri mereka (orang kafir) dengan tentara untuk memerangi mereka atau dengan memanaskan (situasi) perbatasan atau sudut-sudut (wilayah) negeri kita orang-orang yang kapabel untuk mereka, jika seandainya mereka, orang-orang kafir tersebut, bermaksud (menyerang) kita dengan adanya benteng atau parit dan dibawah kendali para pemimpin yang tidak diragukan yang masyhur dengan keberanian dan nasehatnya atas kaum Muslimin. Hukum jihad itu fardhu kifayah, karena apabila siapa saja yang memiliki kafa’ah mengerjakannya meski bukan yang termasuk yang diwajibkan seperti anak kecil, para wanita atau bahkan sukarelawan maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang diwajibkan. Sedangkan yang lain mendapat rukhshah serta keringanan. Fardhu ‘ain itu lebih utama dibanding fardhu kifayah, sebagaimana yang dinyatakan oleh (Imam) Ar-ramli. Fardhu kifayah itu banyak …

Alhasil, jika kita rangkum penjelasan para ulama’ diatas, fardhu kifayah itu meski tidak harus semua kaum Muslimin yang mukallaf wajib melaksanakan layaknya fardhu ‘ain tapi kewajiban tersebut harus dilaksanakan oleh jumlah yang memiliki “kifayah”. Itu pertama. Kedua, kewajiban tersebut dianggap terlaksana secara sempurna apabila telah sempurna ditunaikan. Contoh kewajiban merawat jenazah seorang Muslim yang dibebankan pada suatu komunitas. Kewajiban yang sifatnya fardhu kifayah tersebut dikategorikan selesai dilaksanakan apabila jenazah tersebut telah selesai dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan. Ketiga, bagi yang meninggalkan fardhu kifayah tanpa udzur berdosa, dan pelaksanaan fardhu kifayah itu tidak menutup kemungkinan dilaksanakan oleh yang tidak diwajibkan (karena konsekuensi pengabaian oleh orang yang wajib melaksanakan).
Nashbul khalifah, berdasarkan ibarah para ulama’ tersebut, adalah fardhu kifayah. Selama kewajiban tersebut belum ditunaikan secara sempurna maka kewajiban tersebut, tetap dibebankan diatas pundak seluruh mukallaf dari kaum Muslimin, dan meninggalkan kewajiban yang masuk kategori fardhu kifayah tanpa udzur adalah dosa.

Allah SWT tidak akan mentaklifkan sesuatu melebihi isthitha’ah hamba-Nya
Setelah kita simpulkan bahwa nashbul khalifah adalah fardhu kifayah atas kaum Muslimin, pembahasan berikutnya adalah isthitha’ah. Adalah suatu yang ma’ruf bahwa isthitha’ah kaum Muslimin itu berbeda satu dengan yang lain; pemahaman, tenaga maupun harta. Keberagaman ini kadang kala dijadikan hujjah oleh sebagian kaum Muslimin untuk menyatakan bahwa kaum Muslimin sekarang ini tidak mampu melaksanakan kewajiban tersebut. Benarkah?. Pengertian isthitha’ah (kemampuan). Allah Tabaraka wa Ta’ala ber-firman:
لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا (البقرة :286)
Imam al-Hafidz Abu Al-fida’ Ismail Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim menjelaskan:
وَقَوْلُهُ (الآية) أَيْ لاَ يُكَلَّفُ أَحَدٌ فَوْقَ طَاقَتِهِ …
Dan firman-Nya: (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya) adalah: bahwa tidak dibebankan pada seseorang melebihi kemampuannya.

Imam al-Qurthubi dalam Tafsirnya, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, men-jelaskan secara panjang lebar sebagai berikut:

التَّكْلِيْفُ هُوَ اْلأَمْرُ بِمَا يَشُقُّ عَلَيْهِ وَتَكَلَّفَتِ اْلأَمْرُ تَجَشَّمَتْهُ; حَكَاهُ الْجَوْهَرِي. وَالْوُسْعُ: الطَّاقَةُ وَالْجِدَّةُ. وَهَذَا خَبَرٌ جَزْمٌ. نَصَّ اللهُ تَعَالَى عَلَى أَنَّهُ لاَ يُكَلِّفُ الْعِبَادَ مِنْ وَقْتٍ نُزُولِ اْلآيَةِ عِبَادَةً مِنْ أَعْمَالِ اْلقَلْبِ أَوِ الْجَوَارِحِ إِلاَّ وَهِيَ فِي وُسْعِ الْمُكَلَّفِ وَفِي مُقْتَضِى إِدْرَاكِهِ وَبِنِيَّتِهِ; وَبِهَذَا اِنْكَشَفَتِ الْكُرْبَةَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ فِي تَأَوُّلِهِمْ أَمْرُ الْخَوَاطِرِ
Taklif itu adalah perintah untuk hal-hal yang memberatkan padanya dan (ungkapan) suatu perintah itu membebani artinya bahwa perkara tersebut telah membebaninya. Itulah yang dikemukakan oleh al-Jauhari. Sedangkan al-wus’u adalah kemampuan dan kesungguhan. Ini adalah informasi yang sifatnya pasti. Allah Ta’ala menegaskan bahwa Allah tidak mentaklifkan hamba sejak turunnya ayat tersebut dengan ibadah baik yang merupakan aktifitas hati atau anggota tubuh kecuali dalam batas kemampuan seorang mukallaf dan dalam lingkup pengetahuan serta niatnya. Dengan ayat ini terangkatlah kesusahan atas kaum Muslimin dalam menjelaskan hal-hal yang membahayakan.

Imam al-Baidhawi, dalam kitab tafsirnya, menjelaskan:

{لاَ يُكَلّفُ الله نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا} إِلاَّ مَا تَسَعُهُ قُدْرَتُهَا فَضْلاً وَرَحْمَةً، أَوْ مَا دُوْنَ مَدَى طَاقَتِهَا بِحَيْثُ يَتَّسِعُ فِيهِ طَوْقُهَا وَيَتَيَسِّرُ عَلَيْهَا كَقَوْلِهِ تَعَالىَ {يُرِيدُ الله بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ} وَهُوَ يَدُلُّ عَلىَ عَدَمِ وُقُوعِ التَّكْلِيفِ بِالْمُحَالِ
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya) Kecuali apa yang dalam cakupan kemampuannya, sebagai bentuk keutamaan dan merupakan rahmat (Allah), atau dengan pengertian lain apa yang tidak melebihi jangkauan kemampuannya, dalam arti bahwa taklif tersebut dalam lingkup kemampuan manusia serta memudahkannya, sebagaimana firman Allah: (Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu). Firman Allah tersebut menunjukkan bahwa taklif itu tidak jatuh pada hal yang mustahil (dilakukan).
Dalam tafsir Lubab At-ta’wil fi Ma’ani At-tanzil yang lebih dikenal dengan Tafsir al-Khazin dinukil riwayat jawaban Imam Sufyan ibn Uyainah ketika ditanya pengertian ayat diatas. Beliau berkata:

قَالَ: إِلاَّ يَسَرَهَا وَلَمْ يُكَلِّفْهَا فَوْقَ طَاقَتِهَا وَهَذَا قَوْلُ حَسَنٌ، ِلأَنَّ الْوُسْعَ مَا دُوْنَ الطَّاقَةِ وَقِيْلَ مَعْنَاهُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يُكَلِّفُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا فَلاَ يَتَعَبَّدُهَا بِمَا لاَ تُطِيقُ
Beliau berkata kecuali Allah akan memudahkannya dan Allah tidak mentaklifkannya melebihi kemampuannya dan ini adalah ungkapan yang bagus. Karena (kata) al-wus’u itu adalah apa yang tidak melebihi kemampuan. (Selanjutnya Imam Abu al-Hasan Ali bin Ibrahim bin Umar Asy-syaihi yang lebih dikenal dengan Al-khazin menjelaskan), juga dikatakan bahwa pengertian “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” adalah bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mentaklifkan pada manusia kecuali dalam batas kemampuannya, maka Allah tidak memerintahkan manusia untuk beribadah dengan hal-hal yang di luar kemampuannya.

Para mufassir terkemuka diatas telah memaparkan secara gamblang pengertian Surah Al-baqarah ayat 286. Benar, bahwa Allah telah menegaskan bi nash ash-sharih bahwa Dia tidak akan mentaklifkan pada hamba-Nya perkara yang diluar kemampuannya. Bahkan pada Surah at-Taghabun ayat 16, Allah SWT memerintahkan kita untuk bertaqwa sesuai dengan isthitha’ah kita. Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ … (التغابن: 16)
Imam Al-hafidz Ibnu Katsir menjelaskan:

وَقَوْلُهُ تَعَالَى فَاتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ أَيْ جُهْدُكُمْ وَطَاقَتُكُمْ كَمَا ثُبِتَ فِي الصَّحِيْحَينِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَائْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ
Dan firman-Nya Ta’ala: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” maksudnya adalah dengan kesungguhan dan kemampuan kalian, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam dua kitab shahih dari Abi Hurairah ra. Dia berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Apabila aku perintahkan kalian dengan suatu perintah maka tunaikan berdasarkan kemampuan kalian, sedangkan perkara yang aku larang untuk kalian maka jauhilah … “.

Inilah yang ditegaskan Allah SWT atas kita, Allah tidak mentaklifkan pada kita suatu perkara yang diluar batas kemampuan kita. Pertanyaannya adalah, apakah nashbul khalifah litathbiqi syari’atillah merupakan kewajiban yang diluar batas ke-mampuan kita? Memang, kalau kewajiban tersebut hanya dilaksanakan oleh individu-individu kaum Muslimin, tentu akan melampaui batas kemampuan mareka. Tapi bukankah kewajiban nasbu al-khalifah tersebut adalah fardhu kifayah? kewajiban yang dibebankan terhadap kita kaum Muslimin secara umum? Artinya, selama kewajiban tersebut belum tertunaikan maka kewajiban nashbul khalifah tetap dibebankan diatas pundak kita; seluruh kaum Muslimin. Jadi nashbul khalifah adalah kewajiban kita semua. Tidak sungguh-sungguh untuk nashbul khalifah, tanpa udzur syar’i, secara syar’i terkategorikan sebagai penelantaran kewajiban yang dibebankan Allah pada kita. Apatah lagi diam, menghambat atau bahkan melawan perjuangan tersebut.
Khulashatul qaul kewajiban nashbul khalifah adalah fardhu atas seluruh kaum Muslimin, dan yang mengabaikan hal tersebut tanpa udzur syar’i berdosa. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

عقد في صنعاء المؤتمر الإقليمي الثاني لتعزيز النزاهة ومكافحة الفساد يومي 26 و 27/07/2010م وقد حضر المؤتمر نحو 100 مشارك من 17 دولة وعدد من المنظمات الدولية المعنية بمكافحة الفساد، وقال رئيس مجلس الوزراء اليمني: “إن الفساد يمثل تحديا كبيرا للحكومات والمجتمعات، فهو يلتهم ثروات الشعوب، ويعيق الاستثمار، ويضعف حكم القانون، ويعطل العدالة الاجتماعية، ويقود إلى هدر كبير للموارد البشرية والطبيعية، ويقوض العملية السياسية”.

إن حزب التحرير-ولاية اليمن يبين الأمور التالية حول الفساد وأصله وأضراره وآثاره ومن يرعاه:

أولا: إن النظرة إلى الفساد تختلف من مبدأ إلى آخر، فالإسلام ينظر إلى فساد الأصل وهي القاعدة الفكرية، أو العقيدة التي تنبثق منها الأنظمة، والرأسمالية لا تصلح عقيدتها (فصل الدين عن الحياة) ولا أنظمتها لمعالجة مشكلة الإنسان، ومن هنا نظر المؤتمرون إلى الفساد بالمنظار الرأسمالي، والذين عرفوا الفساد بأنه: (سوء استغلال الوظيفة العامة لتحقيق أغراض شخصية بالمحاباة والرشوة والمحسوبية وغيرها)، ولم ينظروا إلى عقيدة النظام والقوانين المنبثقة عنها، فأقروا بصحة ما يحكمون به إلا سوء استخدام الوظيفة العامة لتحقيق أغراض شخصية، مع أن الفساد أتى من أصل الفكر الذي يحكمون به، أي أتى من الدستور والقوانين التي تقوم على أساس رأسمالي وعلماني، والتي نهب الحكام ثروات الشعوب باسم القانون، وزادت الرأسمالية الغني غنىً والفقير فقرا، وقد بنيت اتفاقية الأمم المتحدة لمكافحة الفساد على أساس باطل بل وشاذ.

ثانيا: إن الأنظمة الحاكمة في العالم الإسلامي هي التي تحتاج للتغيير قبل غيرها لوجود مبدأ الإسلام الصالح للمعالجة، ولفساد نظامها السياسي والاجتماعي والاقتصادي والعسكري الذي تحكم به. فنظامها السياسي قائم على الرأسمالية والأمر الأساس فيها هو استغلال الشعوب، ومص دمائها، ونهب ثرواتها، من قبل القائمين على تلك الأنظمة البالية، والاستعمار هو الذي يسير تلك الأنظمة ويحميها ويدعمها حتى يحقق أهدافه ومصالحه بها، وبالتالي فمطالبة المؤتمرين لتوفير الإرادة السياسية إنما هو حرث في البحر ونفخ في الهواء، مع أنهم من تلك الأنظمة التي سلبت إرادتها، وحان زمان تغييرها.

ثالثا: إن الغرب الذي تتهاوى حضارته قد أفسد الأرض وسبب الشرور والمصائب للبشرية جمعاء، فكيف يأتي منه الصلاح والإصلاح، فالنظام الاجتماعي أشهر من أن يخفى، فتفكك الأسر وتسويق تجارة الجنس باسم السياحة وعصابات القتل والجريمة، والنظرة الحاقدة للأقليات تطفو على السطح محسوسةً ملموسةً للخاصة والعامة.

وأما النظام الاقتصادي فعجز ميزانية الأنظمة الحاكمة وبما فيه الولايات المتحدة يتزايد بشكل مذهل من سنة لأخرى، وشبه الانهيار في الدولار، والعجز التجاري أصبح مشكلةً تؤرق رجال الاقتصاد والمال في العالم.

وأما الوضع العسكري فجرائم الأنظمة لا تعد ولا تحصى من قتل وتعذيب وسجن وتجويع وإفقار وإذلال، سائرين على خطى أسيادهم الأمريكيين والبريطانيين كما في أبي غريب وفضائحهم التي أزكمت الأنوف من تعذيب المعتقلين والمعاملة الوحشية مع الأسرى، والإجهاز على الجرحى، والخلو من كل قيمة إنسانية في العدوان الوحشي على بلاد المسلمين في العراق، وفي أفغانستان وباكستان واليمن ومن قبل في كوريا وفيتنام، كل ذلك أظهر جليا فساد عقيدتهم وعقيدة من يتبعونهم من الحكام العملاء، فعن أي مكافحة فساد يتحدثون!! إن الفساد مقيم إقامةً دائمةً في الغرب ومنظماته، فكيف يكون قدوة لهذه الأنظمة، فالغرب هو الذي يحتاج إصلاحاً بل تغييرا، ومن كان هذا شأنه لا يكون قادراً على عرض مشاريع الإصلاح!!

رابعا: إن إصلاح بلاد المسلمين بل والبشرية جمعاء لا يكون إلا بالإسلام في عقيدته وشريعته: بجعل الولاء خالصاً لله ولرسوله والمؤمنين لا لأمريكا وبريطانيا وفرنسا وباقي الكفر والكافرين ومنظماتهم وأفكارهم، وجعل نظام الحكم هو النظام الذي أنزله رب العالمين وطـبَّقه رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم، وسار على نهجه الخلفاء الراشدون موضع التطبيق. ولن يكون ذلك إلا بإعلان نظام الخـلافة في بلاد المسلمين، التي تجمع المسلمين على صعيد واحد، تحت راية واحدة، راية لا إله إلا الله محمد رسول الله.

إن الإسلام، والإسلام وحده هو القادر على الإصلاح، هو القادر على إزالة الظلم والظلام وإحلال العدل والنور، إزهاقاً للشر ونشراً للخير في بلاد المسلمين وكل ربوع العالم.

Secara Bahasa menurut Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (VII/160): Bulan Ramadhan diambil dari ramidha ash-sha’im yarmadhu, yakni ketika tenggorokan kepanasan karena dahaga yang dahsyat. Pendapat lain menyatakan, konon orang Arab pada bulan ini memanaskan senjatanya untuk mempersiapkan peperangan pada bulan syawal.
Berikut beberapa keutaman yang dapat ditangkap dari dalil-dalil syar’iyah, walaupun selain yang disebutkan berikut masih banyak lagi.

Bulan Penuh Berkah
«قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرُ مُبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ اْلجَنَّةُ وَيُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ اْلجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ»
Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan penuh berkah. Pada bulan itu Allah mewajibkan atas kalian shaum. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. (HR Ahmad dan an-Nasa’i).

Bulan Penuh Ampunan
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala Allah semata maka diampunilah dosanya yang telah berlalu. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Bulan Diturunkannya Al-Quran
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda (furqan) (antara haq dengan bathil).” (QS. al-Baqarah [2] : 185).

Bulan Diwajibkannya Puasa; Pembentuk Ketakwaan.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183).

Bulan Perjuangan dan Pengorbanan.
Pada bulan ini, justru kaum muslim tidak pernah lelah untuk berjuang untuk membela Agama Allah swt. bukti dari hal tersebut adalah, pada bulan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang menunjukan produktifitas kaum beriman, yakni: perang badar, penaklukan kota Makkah, pertempuran di ‘Ain Jalut melawan tentara Romawi, dan lain-lain. Jika pada bulan Ramadhan (shaum) saja kaum muslim terdahulu sangat luar biasa dalam berjuang demi Islam, tentu apalagi bulan standar, pastinya mereka lebih semangat lagi. Artinya, aktivitas kemasyarakatan dan kenegaraan pada masa Rasulullah saw. dan pada masa Kekhilafahan Islam berlangsung sebagaimana adanya, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan. Dengan kata lain, suasana dan atmosfir keimanan itu ada sepanjang tahun, bukan hanya pada bulan Ramadhan; seakan-akan sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan.
Mengapa bisa demikian? Sebab, negara Khilafah telah menjadikan Islam sebagai asas pemerintahan dan kehidupan masyarakatnya, sistem hukum Islam menjadi pilar dasar seluruh interaksi kehidupan masyarakat dan para pemimpinnya, serta akidah Islam menaungi seluruh kehidupan umat. Pada waktu itu, orang-orang munafik dan fasik merasa malu mempertontonkan kemaksiatan dan kemunafikannya; orang-orang zalim akan menghadapi ketegasan hukum Islam yang dijalankan oleh negara Khilafah; musuh-musuh Islam dari kalangan negara kafir pun merasa gentar melakukan permusuhan dan makar melawan negara Khilafah dan kaum Muslim.
Jadi, mengapa kita selama bulan Ramadhan mampu ‘bermetamorfosis’ menjadi ‘orang baik-baik lagi salih’ namun enggan melanjutkan perubahan itu pada selain bulan Ramadhan?

Walhasil, jadikanlah Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan perubahan secara mendasar terhadap seluruh aspek kehidupan kita, baik kehidupan individu maupun kemasyarakatan dan negara. Dengan begitu, shaum kita tidak sia-sia dan kita berhasil meraih derajat takwa. Rasulullah saw. bersabda:
«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ اْلجُوْعِ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرِ»
Jangan-jangan orang yang shaum itu—pada saat puasanya—hanya memperoleh rasa lapar dan dahaga saja; jangan-jangan orang yang bangun malam juga hanya memperoleh ‘begadangnya’ saja. (HR ath-Thabrani).

Meski tidak menjadi berita besar, isu referendum (jajak pendapat umum) di Papua akhir-akhir ini sebetulnya sangat penting untuk diwaspadai. Setelah konflik Aceh pasca MoU Helsinky, kini gejolak menyeruak kembali di Papua. Saat ini gejolak lebih besar dipicu oleh aksi-aksi politis yang dilakukan masyarakat sipil. Demontrasi besar, misalnya, terjadi pada tanggal 18 Juni, dilanjutkan aksi ribuan warga Papua pada tanggal 8 Juli 2010. Aksi pada awal bulan Juli ini dikoordinasikan oleh Forum Demokrasi Rakyat Papua Bersatu (FDRPB). Forum ini menghimpun elemen-elemen sipil terdiri dari; DAP, PDP, WPNA, Solidaritas Perempuan Papua, PGGP, Sinode GKI, GIDI, Kemah Injil, Baptis Papua, Pantekosta, KNPB, AMPPTPI, AMWP, Front Papera, Garda-P, Forum Independen Mahasiswa,Bem/Senat Mahasiswa Se-Jayapura, dan OKP-OKP se-kota/Kab. Jayapura-Sarmi-Kerom. Dengan semboyan “Satu Tanah, Satu Hati, Satu Bangsa dan Satu Tujuan”, mereka bergerak mendesak DPR Papua melaksanakan sidang paripurna guna menindaklanjuti aksi demo tanggal 18 Juni 2010 dalam rangka menyerahkan hasil musyawarah masyarakat Papua. Tuntutannya adalah mengembalikan Otsus (otonomi khusus) sekaligus menuntut referendum.

Tentu, ini merupakan tantangan besar bagi Pemerintah Indonesia. Pasalnya, jika Pemerintah tak cermat, Papua akan mengalami kontraksi politik yang bisa berujung pada disintegrasi (pemisahan diri), sebagaimana halnya Timor-Timur yang telah lepas dari pangkuan negeri ini.

Latar Belakang Tuntutan Referendum

Luas seluruh Papua adalah 309.934,4 km², sama dengan 3,5 kali Pulau Jawa. Wilayah ini subur dengan kandungan mineral dan potensi SDA (sumber daya alam) yang melimpah; dari mulai hutan, tambang emas, tembaga hingga uranium. Dari sisi geopolitik pun, Papua sangat strategis.

Namun, dengan potensi SDA Papua yang demikian besar, Indek Pembangunan Manusia (IPM) Papua termasuk yang paling rendah dibandingkan dengan seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Tingkat kemiskinan masyarakatnya juga sangat merisaukan. Padahal Papua telah terbukti memberikan banyak keuntungan dengan kandungan kekayaan alamnya yang melimpah kepada perusahaan lokal, nasional maupun multinasional (asing). Namun, Papua seolah hanya menjadi pundi-pundi kekayaan dan sapi perah kepentingan perusahaan-perusahaan tersebut dan pihak asing, termasuk para elit penguasanya.

Pemerintah Indonesia melalui Otonomi Khusus Papua yang dituangkan dalam UU No 21 Tahun 2001 berusaha mengubah keadaan di atas. Sayang, Otsus seolah menjadi bumerang. Pasalnya, setelah berjalan 9 tahun, Otsus dirasakan tidak berpengaruh apa-apa, kecuali kepada segelintir elit politiknya. Dana Otsus yang mencapai rata-rata 10juta/warga Papua juga tidak memberikan perubahan berarti. Kondisi inilah yang mendorong sebagian masyarakat Papua (lebih tepatnya; elit politiknya) menyuarakan tuntutan referendum (yang arahnya adalah merdeka atau minimal berformat federalisme). Referendum dianggap sebagai pilihan akhir untuk mengubah keadaan itu semua.

Ada beberapa analisis mengapa wacana referendum mencuat. Pertama: karena Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus Papua tidak dilaksanakan secara konsisten dan serius oleh pemerintah pusat dan daerah. Ketidakseriusan ini terlihat pada adanya kebijakan-kebijakan yang kontra dengan UU Otsus Papua tersebut. Hal ini menjadi kendala sekaligus memunculkan berbagai masalah penerapannya di lapangan. Jadinya UU Otsus seperti tidak bergigi. Misal, di lapangan ditemukan Pemerintah Provinsi Papua mengaku hingga saat ini hanya ada sekitar 20 persen dari 380-an pemerintahan distrik atau kecamatan yang melaksanakan aktivitasnya dengan baik. Kondisi tersebut disebabkan masih minimnya sarana dan prasarana bagi pemerintahan distrik itu. Pemerintahan distrik sangat sedikit sekali melakukan pelayanan kepada masyarakat. Jika distrik sebagai ujung tombak pemerintah terdepan tidak memiliki kapasitas untuk membangun maka perubahan nasib warga Papua seperti menggantang asap, alias tidak akan berubah.

Kedua: UU Otsus Papua mengandung blunder politik terkait dengan peran lembaga-lembaga adat dalam melahirkan kebijakan-kebijakan politik di Papua. Pemerintah dianggap tidak memperhatikan pandangan/pendapat dari MRP (Majelis Rakyat Papua) yang dipandang mewakili lembaga-lembaga adat Papua. Inilah yang menjadi salah satu pemicu ketidakpuasan masyarakat Papua.

Ketiga: Pemerintah dianggap tidak serius dalam mewujudkan Pasal 34 UU No 21 Tahun 2001 tentang Otsus Papua ini. Terkait ayat 3 (yakni: Dana Perimbangan bagian Provinsi Papua, Kabupaten/Kota dalam rangka Otonomi Khusus), tidak ada realisasi atas pembagian hasil Sumber Daya Alam (SDA) Papua antara Papua dan Jakarta sebagaimana yang diamanatkan Pasal 34 UU Otsus Papua.

Keempat: Pelanggaran HAM yang dilakukan sejak 1963 hingga kini belum ditangani. Padahal UU Otsus Papua menghendaki hal itu. Para korban pelanggaran HAM dibiarkan. Orang Papua belum merasakan keadilan. Oleh sebab itu, bagi orang Papua, Pemerintah gagal melaksanakan UU Otsus Papua. Sekalipun triliunan rupiah sudah dikucurkan, mayoritas orang Papua masih hidup di bawah garis kemiskinan. Karena tidak merasakan manfaatnya maka rakyat Papua mengembalikan UU Otsus secara simbolik kepada pemiliknya, yakni Pemerintah melalui DPR Papua, dan menuntut referendum.

Peran Negara Asing (Penjajah)

Untuk menghilangkan tuntutan referendum dari Tanah Papua, faktor pemicu tuntutan ini perlu dipecahkan. Lepasnya Timor-Timor menjadi pengalaman sangat pahit. Sementara itu, Papua jauh lebih besar potensi SDA-nya dibandingkan Timor-Timur. Jika penguasa saat ini tidak mengubah kebijakan dan orentasi pembangunannya, niscaya Pemerintah akan menelan buah simalakama demokrasinya. Dalam ruang demokrasi tidak ada lagi sumbatan bagi setiap warga, khususnya warga Papua, untuk menyerukan keinginannya, bahkan di forum-forum internasional, termasuk PBB. Apalagi Papua adalah ladang subur tempat melampiaskan ketamakan para kapitalis asing melalui instrumen negaranya untuk melakukan penjajahan sekaligus mengeruk habis kekayaan Papua.

Indonesia harus mencermati ‘dalang’ di balik tuntutan referendum ini. Sebab, masyarakat kecil kebanyakan sebetulnya tidak begitu paham dengan referendum tersebut. Sekelompok elit politiklah yang sebenarnya bermain dengan membangun jejaring baik di pusat kekuasaan maupun jejaring internasional (pihak gereja dan LSM-LSM asing). Namun, sesungguhnya mereka hanyalah ‘alat’. Kepentingan negara-negara besarlah, khususnya Amerika dan Australia, yang memainkan peran penting di Papua. Sesungguhnya negera-negera penjajah inilah yang memiliki kepentingan dan bakal meraih keuntungan jika Papua merdeka atau memisahkan diri melalui referendum yang sedang diusahakan oleh mereka. Jika ini tidak dicermati Pemerintah, boleh jadi nasib Papua nanti akan seperti Timor Timur; lepas begitu saja dari pangkuan Indonesia.

Banyak ‘bukti’ yang menunjukkannya adanya dukungan Australia dalam membantu para pemberontak di Papua, baik secara langsung atau melalui New Guinea, yang juga menyediakan tempat yang aman kepada para pemberontak separatis di samping dukungan finansial dan militer. Kebijakan yang sama telah dilakukan Australia terhadap provinsi-provinsi di Indonesia selama puluhan tahun, seperti dalam kasus Aceh dan Timor Timur. Amerika juga mulai mengungkapkan keprihatinan besarnya atas konflik di Papua ketika tahun 2005 Kongres AS memutuskan untuk menerapkan klausul: berdasarkan apa Papua telah menjadi bagian dari Indonesia. Pada bulan Juni 2007, Utusan Khusus HAM Sekjen PBB, Hina Jilani, mengunjungi propinsi Aceh dan Papua. Ia membahas ‘pelanggaran HAM’ di dua provinsi itu. Pada bulan Juli 2007 ketua Subkomite Parlemen (Kongres AS) di Asia, Pasifik dan Global, Eni Faleomavaega, mengatakan, “Jika Pemerintah Indonesia tidak mampu menangani dengan baik isu Papua, kami akan memberinya kemerdekaan.”

Semua itu tentu saja menunjukkan betapa Amerika dan Australia begitu bersemangat untuk ‘melepaskan’ Papua dari Indonesia dengan memanfaatkan konflik-konflik yang terjadi di provinsi ini.

Solusi Islam

Indonesia adalah negeri Islam. Papua adalah bagian dari negeri Islam ini. Karena itu, wajib bagi kaum Muslim untuk mencegah para penguasa negeri ini melepaskan Papua, sebagaimana mereka dulu ‘melepaskan’ begitu saja Timor Timur.

Untuk mengurangi pengaruh dan provokasi Gereja (kaum Kristen) di sana, wajib pula bagi umat Islam untuk menyebarkan seruan Islam di kalangan orang Kristen di sana. Caranya adalah dengan mengundang mereka untuk melakukan perdebatan dengan cara terbaik. Mereka juga harus diingatkan bahwa hak-hak orang Kristen dilindungi di negeri-negeri Muslim.

Selain itu, penguasa harus menyadari bahwa politik sekular tidak memiliki kapasitas untuk membangun seluruh wilayah Indonesia, termasuk Papua, menjadi makmur, sejahtera dan berkeadilan. Sudah saatnya penguasa negeri ini menerapkan sistem Islam. Penguasa wajib menerapkan hukum syariah yang berasal dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya atas semua wilayah di negeri ini tanpa diskriminasi, antara satu provinsi dan lainnya. Dalam sistem Islam (Khilafah), semua orang yang memiliki kewarganegaraan negara akan memiliki hak yang sama, terlepas dari keturunan mereka atau agama mereka. Di sisi lain, penguasa wajib mencegah aksi separatis dan menanganinya secara adil di antara masyarakat.

Dalam Islam tidak diizinkan untuk memberikan otonomi untuk setiap provinsi yang bisa memicu kemunculan gerakan separatis. Ini dilarang (haram) dan merupakan kejahatan berat dalam Islam. Karena itu, salah besar memberikan otonomi kepada Papua. Karena itu pula, otonomi wajib dibatalkan dan Papua harus dibawa kembali di bawah pemerintahan pusat.

Umat Islam wajib untuk mencegah penguasa melepaskan wilayah Papua. Karena itu, kaum Muslim wajib mengerahkan tekanan dan bekerja untuk mengubah sistem sekular yang ada karena sistem inilah yang memungkinkan terjadinya pemecahbelahan negeri Muslim terbesar ini. Umat ini selanjutnya harus berupaya mendirikan negara Khilafah. Khilafahlah yang pasti bakal mampu mencegah aksi separatis dan menanganinya secara adil di antara masyarakat. Khilafah juga akan menerapkan hukum syariah Islam atas semua orang di negeri ini tanpa diskriminasi antara satu provinsi dan lainnya, juga tanpa melihat keturunan atau agama mereka.

Karena itu, marilah setiap diri kita berlomba mewujudkan cita-cita besar ini. Allah SWT berfirman:

Siapa saja yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan Mukmin, sesungguhnya akan Kami beri kehidupan yang baik (QS an-Nahl [16]: 97).

http://hizbut-tahrir.or.id/2010/07/21/kekuatan-asing-penjajah-di-balik-isu-referendum-papua/

Facebook, twitter, plurk, atau friendster dikenal oleh para penghuni dunia maya sebagai ajang nyari jodoh, eh temen. Atau lebih populer dengan istilah situs jejaring sosial (selanjutnya disingkat: sjs) alias social networking. Kita yang doyan pesbukan pastinya udah hapal gimana rasanya bisa temenan tanpa dibatasi jarak.

Malah tak sedikit yang beruntung bisa ketemu dengan keluarga yang udah lama raib atau temen yang hilang ditelan bumi dengan bantuan situs jejaring sosial. Nah, di rubrik gaptek kali ini kita coba kupas perihal social networking yang ternyata juga dipake buat memata-matai tingkah umat islam di dunia maya. Nah lho? Let  Cekidot!

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: