Oleh: Hafidz Abdurrahman, Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI

Upaya untuk mencari justifikasi atas keabsahan menerima Obama sebagai tamu negara terus-menerus dilakukan, dengan menggunakan dalil-dalil agama. Mereka tidak malu sedikit pun kepada Allah, Rasul dan kaum Muslim, dengan menutup mata atas kenyataan, bahwa Obama adalah seorang Presiden AS, negara penjajah, yang haus darah, bahkan tangannya masih berlumuran darah saudara-saudara mereka. Entah tidak tahu, atau sengaja untuk menyesatkan umat, justifikasi Obama sebagai tamu sering digunakan. Termasuk, hak-hak yang harus diberikan kepada sang tamu, dan kewajiban yang harus dilakukan oleh tuan rumah.

Islam memang memerintahkan kaum Muslim untuk memuliakan tamu, yaitu seorang musafir yang kehabisan bekal (ibn sabil), dan singgah di rumah kita. Ini didasarkan pada hadits Nabi: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (Hr. Muslim) Tuan rumah pun wajib memberikan hak-haknya sebagai tamu, baik hak untuk menginap di rumahnya, makanan dan pakaian yang diperlukan. Ini didasarkan pada hadits Nabi: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya memuliakan tamunya. Haknya (tamu) adalah sehari semalam. Memberikan layanan kepada tamu itu tiga hari, selebihnya adalah sedekah. Tidak dihalalkan kepadanya (tamu) memberatkannya (tuan rumah), sehingga dia terpaksa mengusirnya.” Karena itu, hukum menjamu lebih dari sehari semalam adalah mustahab (sunah), bukan wajib, sebab yang wajib hanya sehari semalam. Tentu dengan catatan, bagi yang mampu. Bahkan, Imam Nawawi menambahkan, menurut Imam Malik, Sahnun dan Ahmad, itu pun hanya berlaku untuk orang kampung, bukan orang kota yang bertamu. Karena umumnya mereka bisa mencari penginapan sendiri dan bisa pergi ke pasar untuk mencari kebutuhan mereka (an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, juz II/16 dan juz XII/26).

Hanya saja, penghormatan yang diberikan oleh tuan rumah kepada tamunya itu berlaku untuk tamu Muslim, yang baik, bukan orang fasik. Ini didasarkan kepada lafadz: dhaifahu (tamunya), yang disandarkan kepada orang yang beriman.

Adapun riwayat yang menyatakan, bahwa Nabi pernah menerima tamu seeorang dari Negara Kafir, yaitu Jahjah bin Said al-Ghifari, yang dijamu oleh Nabi dengan disembelihkan seekor kambing dan diperahkan susu untuknya, maka fakta riwayat tersebut menunjukkan:

Pertama, Jahjah bin Said al-Ghifari adalah orang yang datang kepada Nabi dengan jaminan keamanan (al-aman), dengan kata lain statusnya sebagai Kafir Musta’min. Nabi menerimanya, memberi jaminan keamanan (al-aman), serta menjamu dan menghormatinya, karena keinginannya untuk masuk Islam. Karena itu, setelah diterima dan dijamu dengan baik, esok harinya, dia pun menyatakan masuk Islam (Hr Ibn ‘Abdi al-Barr, at-Tamhid, juz XXI/263). Ini sejalan dengan firman Allah dalam surat at-Taubah: 6. Karena itu, menurut al-Qurthubi, semua ulama’ sepakat, bahwa jika orang Kafir datang ke negeri Islam untuk belajar Islam, dia boleh mendapatkan jaminan ke-amanan (al-aman) (al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, juz VIII/75).

Kedua, status tamu Kafir Musta’min yang ingin mempelajari Islam, dengan jaminan keamanan (al-aman) yang diberikan oleh Nabi (kepala negara Islam), sama dengan tamu Muslim, karena mereka telah mendapatkan dzimmah, meski bersifat mu’aqqatah (sementara), bukan mu’abbadah sebagaimana Ahli Dzimmah. Dalam konteks ini, Nabi bersabda: “Siapa saja yang menzalimi orang yang terikat perjanjian (dengan kaum Muslim), atau mengurangi (hak-hak)-nya.. maka akulah  yang akan menjadi penuntutnya pada Hari Kiamat.” (Hr Abu Dawud, az-Zarkasyi, al-La’ali’ al-Mantsurah fi al-Ahadits al-Masyhurah, I/13)

Berdasarkan fakta hukum (manath al-hukm) nash-nash di atas, jelas bahwa Obama tidak layak dianggap sebagai tamu yang memenuhi kriteria manath hukum di atas. Pertama, Obama bukanlah ibn Sabil. Kedua, Obama bukanlah seorang tamu Muslim. Ketiga, Obama juga bukan Kafir Musta’min yang datang bertamu ingin mempelajari dan memeluk Islam. Sebaliknya, Obama jelas-jelas pemimpin negara Kafir Harbi fi’lan, yaitu AS, yang telah dan sedang berperang dengan umat Islam, baik di Afghanistan, Irak, Pakistan maupun Somalia.

Mungkin ada yang menyatakan, bukankah Rasul pernah menerima Musailamah di Madinah, dan tidak membunuhnya? Demikian juga, Rasul pernah menerima utusan (duta/konsul/delegasi) Musailamah, dan beliau juga tidak membunuhnya?

Benar Rasul pernah menerima Musailamah, bersama-sama dengan rombongan Bani Hanifah di Madinah, tetapi itu sebelum dia menyatakan dirinya sebagai Nabi palsu. Baru setelah dia kembali kepada kaumnya, dia menyatakan dirinya sebagai Nabi, yang sama dengan Rasulullah SAW. Jadi, peristiwa ini terjadi sebelum dia murtad.

Nah, setelah dia menyatakan diri sebagai Nabi, dia mengirim surat kepada Rasulullah yang dibawa oleh dua utusan, yaitu Ibn an-Nawwahah dan Ibn Utsal, yang isinya: “Dari Musailamah utusan Allah kepada Muhammad utusan Allah. Aku telah ditetapkan bersama Anda dalam mengurus urusan ini. Kami berhak atas separo bumi, dan separonya lagi menjadi hak kaum Quraisy. Tetapi kaum Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.” Nabi pun bertanya kepada mereka: “Apakah kalian mengimani aku sebagai utusan Allah?” Mereka menjawab: “Kami bersaksi, bahwa Musailamah adalah utusan Allah.” Nabi pun dengan tegas menyatakan: “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, andai aku boleh membunuh utusan, pasti aku telah bunuh kalian berdua.” (Rasyid Ridha, Abu Bakar, 78)

Ibn Qudamah memberi alasan, bahwa duta/konsul/delegasi negara Kafir Harbi tersebut tidak boleh dibunuh, karena faktor kepentingan kedua belah pihak, agar informasi dari kedua belah pihak bisa sampai satu kepada yang lain. Hadits ini menjadi dasar yang digunakan oleh semua fuqaha’, bahwa duta/kon-sul/delegasi negara Kafir Harbi itu mempunyai kekebalan diplomatik. Dengan catatan, jika mereka duta/konsul/delegasi, harus ada bukti surat yang dibawa dari negaranya yang ditujukan kepada Khalifah kaum Muslim. Mereka juga tidak boleh membawa senjata. Mereka juga tidak akan diizinkan masuk ke negeri kaum Muslim untuk mencuri, merampok atau melakukan mata-mata, karena bisa membahayakan kaum Muslim (Ibn Qudamah, al-Mughni, 2352).

Dari manath hukum duta/konsul/delegasi di atas, jelas Obama tidak bisa disebut duta/konsul/delegasi. Karena Obama adalah kepala negara Kafir Harbi fi’lan itu sendiri. Statusnya tentu berbeda dengan duta/konsul/delegasi, sebab dia pemimpinnya, dan orang yang jelas-jelas menyatakan perang dengan kaum Muslim. Karena itu, hukum yang berlaku untuk duta/konsul/delegasi tidak bisa diberlakukan kepada Obama, yang jelas-jelas bukan duta/konsul/delegasi, tetapi kepala negara Kafir Harbi fi’lan. Selain statusnya tadi, dia juga jelas-jelas datang, bukan hanya untuk memata-matai, mencuri, merampok, tetapi menjajah dan menguasai negeri kaum Muslim terbesar, Indonesia, meski dengan menggunakan soft power.

Karena itu, tidak ada satu dalil pun yang bisa digunakan untuk menerima dan menghormati Obama, baik sebagai tamu, maupun sebagai duta/konsul/delegasi. Adapun argumen yang digunakan oleh kaki tangan mereka itu tak lebih dari dalih, atau penggunaan dalil tidak sesuai dengan faktanya, dan penyesatan publik. []

Source: http://www.mediaumat.com/content/view/1394/65/

Iklan