Oleh: Yahya Abdurrahman

Ijârah merupakan bentukan (musytaq) dari ajran dengan wazan fi’âlah, berasal dari ajara-ya’juru atau ajara-ya’jiru, artinya al-‘iwadh (kompensasi). Ijârah bisa juga musytaq dari îjâran, mashdar dari âjara-yu’jiru-îjâran, dengan wazan i’âlah yang fa’-fi’il-nya dihilangkan, artinya al-kirâ’ (sewa).  Kedua bentukan ini saling melengkapi.

Ajran/ujrah (gaji) merupakan ‘iwadh al-‘amal (kompensasi atas kerja), sedangkan al-kirâ’ merupakan kompensasi atas manfaat benda. Lalu ijârah secara majaz musababiyah (menyebutkan musabab, yang dimaksud adalah sebabnya) digunakan untuk menyebut akad yang mengakibatkan diperolehnya  ujrah (gaji) atau al-kirâ (sewa).  Dalam khazanah fikih, ijârah digunakan fukaha untuk menyebut dua macam akad ini, yaitu kontrak kerja dan sewa-menyewa.

Menurut Ibn Qudamah dalam al-Kâfi fî Fiqh Ibn Hanbal dan Ibn Dhawiyan dalam Manâr as-Sabîl, ijârah adalah bay‘ al-manâfi’ (jual-beli manfaat).  Definisi ini belum mendeskripsikan ijârah secara pas, karena bay‘ adalah saling mempertukarkan harta sehingga bay‘ al-manâfi’ itu bisa diartikan saling mempertukarkan manfaat.  Adapun dalam ijârah, manfaat bisa dipertukarkan dengan harta atau manfaat.

Al-Khathib asy-Syarbini dalam al-Iqnâ’ dan Zakaria al-Anshari dalam Fath al-Wahâb, mengartikan ijârah sebagai: tamlîk manfa‘ah bi ‘iwadh bi syurûth ta’ti (pemilikan manfaat dengan kompensasi dengan syarat yang dipenuhi).  Definisi ini lebih hanya mencakup akad ijârah yang sah memenuhi ketentuan syariat dan agaknya belum mencakup akad yang tidak sah ataupun fasad—meskipun ijârah yang sah memang merupakan tamlîk (pemilikan) musta’jir (majikan) atas manfaat dan pemilikan ajîr atau mu’jir (pekerja) atas kompensasi, baik berupa harta atau manfaat.

Asy-Syarbini dalam Mughni al-Muhtâj dan an-Nawawi al-Jawi dalam Nihâyah az-Zayn mendefinisikan ijârah sebagai:  ‘aqd ‘alâ manfa’ah maqshûdah ma‘lûmah qâbilah li al-badzli wa al-ibâhah bi ‘iwadh ma’lûm (akad atas manfaat tertentu yang dimaksud dan diketahui, yang mungkin dikerahkan dan mubah dengan kompensasi yang diketahui).

Ijârah jelas merupakan akad. Yang menjadi obyek akad adalah manfaat. Yang terjadi adalah pertukaran manfaat dengan kompensasi. Karena itu, definisi ringkas yang bersifat jâmi’ dan mâni‘ adalah definisi yang diberikan oleh al-Qadhi an-Nabhani dalam asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah juz II dan al-Murghiyani dalam Bidâyah al-Mubtadi fî Fiqh al-Imâm Abiy Hanîfah, bahwa ijârah adalah ‘aqd ‘alâ al-manfa’ah bi ‘iwadh (akad atas suatu manfaat dengan suatu kompensasi).  Kata al-manfa’ah membedakan ijârah dengan bay‘ (jual-beli), karena akad bay‘ berlaku atas zat sesuatu, sementara akad ijârah berlaku atas manfaat sesuatu itu.  Kata ini juga membedakan dari akad baiat Khalifah, karena akad itu bukan atas suatu manfaat, tetapi akad untuk memimpin; memerintah; serta menerapkan hukum dan sistem berdasarkan al-Quran dan as-Sunah.  Oleh karena itu, Khalifah tidak di-ujrah (digaji), karena bukan ajîr.  Adapun kata bi ‘iwadh (dengan suatu kompensasi) membedakannya dari ‘ariyah (pinjaman) yang merupakan akad atas suatu manfaat tanpa kompensasi.

Ijârah merupakan perkara yang disyariatkan.  Allah Swt. berfirman:

Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) kalian untuk kalian, maka berikanlah kepada mereka upahnya. (QS ath-Thalaq [65]: 6)

Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi saw. dan Abu Bakar. ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, mempekerjakan seorang laki-laki dari Bani Diyl sebagai penunjuk jalan.  Abu Said al-Khudzri dan Abu Hurairah menuturkan, Nabi saw. pernah bersabda:

Siapa saja yang mempekerjakan seorang ajir (pekerja) maka hendaklah ia memberitahukan upahnya. (HR al-Bayhaqi, Abu Hanifah, dan Ibn Abi Syaibah)

Ketentuan Pokok Ijârah

Manfaat yang menjadi obyek akad ijârah itu bisa berupa manfaat sesuatu (al-‘ayn, jamaknya al-a’yân), disebut ijârah al-a’yân atau al-kirâ’ (sewa), misalnya kontrak/sewa rumah, mobil, komputer, pabrik, dsb; bisa juga manfaat itu berupa manfaat dari seseorang, bisa berupa kerja seseorang itu (kerja tenaga, kerja otak atau keahlian) seperti menjahit, mengecat rumah, servis mobil, memotong rumput, mendesain rumah, dsb; bisa juga berupa manfaat diri seseorang itu sendiri seperti pembantu, buruh pabrik, dan pegawai pada umumnya.  Ijârah atas dua macam manfaat dari seseorang ini disebut ijârah al-ajîr (kontrak kerja).

Suatu ijârah agar sah harus memenuhi rukun dan syarat sahnya.  Tentang rukun, yang tepat seperti yang dinyatakan oleh Abu Bakar ad-Dimyathi dalam  I‘ânah ath-Thâlibîn dan Yusuf as-Sabatin dalam al-Buyû’ al-Qadîmah wa al-Mu’âshirah wa al-Bûrushât al-Mahaliyah wa ad-Duwaliyah (Dar al-Bayariq. 2002), bahwa rukun ijârah ada tiga, yaitu:

  1. ‘Aqidân atau dua pihak yang berakad, yakni musta’jir (majikan atau pihak yang menyewa) dengan ajîr (pekerja) dalam ijârah al-ajîr, atau dengan mu’jir (pihak yang menyewakan sesuatu).  Kedua pihak itu haruslah pihak yang sah melakukan akad, yaitu berakal.
  2. Ijab dan qabul.  Redaksi ijab dan qabul ini bisa menggunakan kata ijârah atau al-kirâ’ atau ungkapan yang semakna, yaitu yang menunjukkan secara jelas makna kontrak, kerja, atau sewa.
  3. Obyek akad haruslah dapat diambil manfaatnya.

Adapun syarat sah ijârah antara lain:

Pertama: Adanya keridhaan dari kedua belah pihak.  Jika salah satu pihak dipaksa maka akad ijarah itu tidak sah.

Kedua: Manfaat yang diakadkan haruslah ma‘lûm bagi kedua pihak dengan pengetahuan yang dapat menghalangi terjadinya perselisihan.  Dalam ijârah al-a‘yân, yang di-ijârah-kan adalah manfaat benda. Pengetahuan itu bisa diperoleh dengan melihat langsung atau melalui spesifikasi benda itu.  Adapun dalam ijârah al-ajîr, manfaat yang di-ijârah-kan adalah manfaat tenaga/kerja.  Deskripsi tentang tenaga atau kerja itu harus jelas sehingga  dapat menghalangi terjadinya perselisihan.  Harus ada penjelasan tentang batasan kerja, batasan waktu, besaran upah, dan batasan tenaga.  Penjelasan batasan kerja itu bisa dengan spesifikasi pekerjaan.   Batasan jangka waktu kerja bisa harian, mingguan, bulanan, tahunan atau yang lain.  Batasan jangka waktu kerja untuk menentukan kapan seorang ajir telah menyelesaikan akad ijârah sehingga ia berhak memperoleh upahnya. Jika harian, ia berhak memperoleh upahnya setiap hari.  Begitu juga jika mingguan, bulanan dan yang lain.  Adapun tenaga jelas sulit ditentukan ukuran hakiki dan presisinya. Karena itu, untuk menentukan batasan tenaga yang paling mendekati adalah dengan menentukan lamanya kerja, misal: jam kerja delapan jam sehari; juga harus ditentukan besaran upah.  Hal itu berdasarkan riwayat Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudzri di atas.  Ibn Mas’ud menuturkan, Nabi saw. pernah bersabda:

Jika salah seorang dari kalian mempekerjakan seorang ajir, maka hendaklah ia memberitahukan upahnya. (HR ad-Daruquthni dan ad-Daylami).

Demikian juga harus dijelaskan macam kerjanya, misalnya: mencangkul, tukang batu, sopir pribadi, satpam, tugas administrasi dan sebagainya. Penjelasan macam kerja ini juga menjelaskan kadar tenaga yang dikerahkan.

Ketiga: Pekerjaan yang diakadkan secara hakiki maupun syar‘i harus mampu dikerjakan oleh ajir. Seorang ajir tidak boleh dibebani pekerjaan kecuali yang mampu ia kerjakan.

Keempat: Adanya kemampuan menyerahkan benda/sesuatu yang di-ijârah-kan dengan manfaat yang disepakati. Karena manfaat benda itulah yang di-ijârah-kan, jika benda itu tidak mengandung atau tidak dapat memberikan manfaat tersebut, maka akadnya tidak sah.  Jika seseorang menyewakan rumah tinggal, ia wajib menyiapkannya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sesuai kelaziman.  Misalnya, ia harus menyiapkan kamar mandi, fasilitas air, listrik, membenahi yang bocor/rusak, mencat tembok, dan lainnya menurut kelaziman.

Kelima: manfaat yang di-ijârah-kan adalah mubah, tidak haram dan bukan wajib. Semua aktivitas yang haram bagi seorang Muslim, haram pula ijârah-nya, seperti: memeras khamr; mengangkut, membawakan, menuangkan, membelikan, dan menjualkannya; juga seperti aktivitas yang terkait riba yang bisa disepadankan dengan syâhid (saksi) dan kâtib (penulis) yakni orang yang mengurus, mengatus riba. Haram berkerja menjadi direktur bank atau lembaga keuangan ribawi, teller, analis kredit, yang mengurusi administrasi/menejemen riba.  Demikian juga haram bekerja menjalankan dan mengurusi akad dan transaksi batil. Haram, misalnya, menjadi agen atau pegawai dan menejemen asuransi; pialang saham atau yang mengurusi dan mengatur perdagangan saham; atau orang yang mengurusi dan mengatur akad-akad lain yang batil menurut syariat. Adapun  manfaat atau pekerjaan mubah lainnya maka semuanya boleh di-ijârah-kan. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. (al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006)