Definisi as-Sunnah

As-Sunnah adalah perkataan, perbuatan dan pembenaran Rasulullah saw., dimana semua yang berasal dari beliau selain al-Qur’an, juga merupakan wahyu. (Zallum, Mitsaqul Ummah, tt. :29)

Batasan “perkataan, perbuatan dan pembenaran Rasulullah saw.” menegaskan, bahwa susunan kalimat yang ada dalam as-Sunnah adalah berasal dari beliau. Bukan dari Allah SWT., meskipun maknanya adalah wahyu dari Allah SWT., sama dengan al-Qur’an.

Tetapi, di sini ada perbedaan antara al-Qur’an dengan as-Sunnah. Jika al-Qur’an merupakan wahyu, baik susunan lafadz maupun maknanya, dari Allah SWT., maka as-Sunnah maknanya dari Allah, sedangkan susunan lafadznya berasal dari Nabi saw. selain al-Qur’an” ini merupakan mu’jizat bagi beliau saw. (Al-Amidi, Al-Ihkam Fi Ushul al-Ahkam, Juz.I. 1981: 27)

Keqath’iyan as-Sunnah Sebagai Hujah

Kedudukan as-Sunnah sebagai dalil qath’i, bahwa ia merupakan sesuatu yang dibawa oleh wahyu, dengan makna dari Allah SWT. dan lafadz dari Rasululullah saw. jelas sebagaimana yang dinyatakan oelh Allah SWT.: “Dan apa saja yang dia (Muhammad) ucapakan itu sesungguhnya bukanlah bersumber dari hawa nafsunya, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 4).

Dan banyak nas-nas al-Qur’an yang lain. Karena itu, menolak as-Sunnah, atau ingkar sunnah, atau anti hadits, bisa dihukumi kufur. Sebab, telah menolak as-Sunnah sebagai hujah. Ini berbeda dengan orang yang menolak salah satu hadis, karena dianggap lemah, atau palsu.

Dalâlah (Makna) as-Sunnah

Dalalah (makna) as-Sunnah, sebagaimana al-Qur’an, dapat dibagi menjadi dua: (1) qath’iyyah, dan (2) dhanniyyah. Tetapi dalam hal ini, tidak ada istilah khusus sebagaimana yang digunakan dalam al-Qur’an. Contoh dalâlah qath’iyyah dalam as-Sunnah adalah:

“Siapa saja yang sengaja berdusta atas namaku, hendaknya ia bersiap-siap untuk mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, al-Bukhâri, Muslim, an-Nasâ’i).

Contoh dalâlah dhanniyah dalam as-Sunnah adalah:

“Siapa saja yang mau mendengarkan dan mau menta’ati (aku), maka hendaklah tidak shalat Ashar kecuali di Bani Quraydhah.” (HR. Ibn Humayd dari Ibn Syihâb az-Zuhri).

Riwayah as-Sunnah

As-Sunnah, berbeda dengan al-Qur’an, jika dilihat dari segi proses penyampaian informasi (riwâyah)-nya kepada kita. Jika al-Qur’an sampai kepada kita dengan cara nukil, atau menyampaikan apa adanya, tanpa ditambah dan dikurangi, sebagaimana yang diturunkan oleh Allah SWT., maka as-Sunnah disampaikan kepada kita melalui penuturan (riwâyah) seorang perawi, sehingga perawilah yang menyampaikan kepada kita apa saja yang didengarkan dan disaksikannya dari perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi saw. Karena itu, yang menentukan riwayat tersebut disebut hadits atau bukan adalah perawinya.

Orang yang meriwayatkan, bisa dikatagorikan menjadi dua: (1) sahabat, dan (2) non-sahabat. Jika sahabat yang menyampaikan riwayat, pasti bisa diterima. Sebab, secara keseluruhan mereka dinyatakan adil. Berbeda dengan orang lain, non-sahabat, baik tâbi’în, atau para pengikut tâbi’în dan seterusnya.

Dari sini, tidak mengherankan jika ulama’ ushul mengklasifikasikan riwâyah as-Sunnah menjadi dua: (1) qath’iyyah, dan (2) dhanniyah (Hilal, Studies In Ushul Ul Fiqh, tt:23). Hal ini tentu tidak terjadi terhadap al-Qur’an. Adapun as-Sunnah yang qath’i ar-riwâyah (riwayat qath’i) adalah Hadîts Mutawâtir, sedangkan yang dhanni ar-riwâyah (riwayat zanni) adalah Hadîts Ahâd (Hilal, Ibid, tt:23)

Hadîts Mutawâtir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang hiterogen (ghafîr) pada tiga periode, yang umumnya mustahil sepakat melakukan dusta (Abdullah, Dirasat Fi al-Fikr al-Islamy, 1994:29; Thahan, Taysir Musthalah al-Hadits, tt:19-20; Al-Khatib, Ushul al-Hadits, 1989: 301). Maksud “sejumlah orang yang hiterogen” adalah dari kelompok dari berbagai elemen, bukan satu elemen saja. Sedangkan “tiga periode” adalah: (1) periode sahabat, (2) tâbi’în, dan (3) tâbi’î at-tâbi’în. Riwayat tersebut juga berdasarkan penginderaan, baik dengan mendengarkan atau melihat langsung. Contoh, ketika perawi hadits mengatakan: “Saya mendengar…” atau “Saya melihat…”

Hadîts Mutawâtir sendiri bisa dikelompokkan menjadi dua: (1) mutawâtir lafdzi, dan (2) mutawâtir ma’nawi. Mutawâtir lafdzi adalah hadits yang lafaznya diriwayatkan secara mutawatir. Contohnya:

“Siapa saja yang sengaja berdusta atas namaku, hendaknya dia bersiap-siap untuk mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, al-Bukhâri, Muslim, an-Nasâ’i).

Mutawatir ma’nawi adalah hadis yang maknanya diriwayatkan secara mutawâtir. Contohnya, hadits shalat lima waktu, hadits mengangkat tangan, hadits tentang keluarnya air dari jari-jari tangan beliau saw.

Sedangkan Hadîts Ahâd adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang tidak mencapai batas Mutawâtir pada tiga periode (An-Nabhani, Syakhsiyyah, juz III. 1994:78) Hadits inilah yang kemudian dikelompokkan menjadi dua, jika dilihat dari: (1) aspek  kuantitas perawinya, hadits ini bisa dibagi menjadi: Gharîb (satu orang), ‘Azîz (dua orang) dan Masyhûr (tiga orang atau lebih), dan (2) aspek kualitas perawinya, maka bisa dibagi menjadi: Shahîh, Hasan dan Dhaif.

Korelasi Fungsional As-Sunnah Terhadap Al-Qur’an

Adapun  mengenai korelasi fungsional As-Sunnah terhadap Al Qur’an dapat diuraikan sebagai berikut:

  • As Sunnah berfungsi untuk menguraikan ayat Al Qur’an yang bersifat mujmal (umum). Mujmal adalah suatu lafadz yg blm jelas indikasinya  (dalalah/penunjukannya)  yaitu dalil yg belum jelas maksud  & perinciannya. Misalnya  perintah shalat, membayar zakat & menunaikan haji. Al Qur’an hanya menjelaskannya secara global dan  tidak menjelaskan bagaimana tata cara pelaksanaannya. Sunnah secara terperinci menerangkan tata cara pelaksanaan shalat, jumlah raka’at, aturan waktunya, serta hal-hal lain yang berkaitan  dengan shalat ; begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain.  Ibnu Hazm, menjelaskan : “Sesungguhnya di dalam Al Qur’an terdapat ungkapan yang seandainya tidak ada penjelasan lain , maka kita tidak mungkin melaksanakannya. Dalam hal ini rujukan kita hanya kepada Sunnah Nabi SAW. Adapun ijma’ hanya terdapat dalam kasus-kasus tertentusaja yang relatif sedikit. Oleh sebab itu secara pasti wajib kembali kepada Sunnah.”
  • As Sunnah berfungsi utk memberikan batasan khusus terhadap ayat Al Qur’an yg bersifat umum. Ayat Al Ql-Quran yang bersifat Umum ialah lafadz yang  mencakup segala sesuatu ma’na yang pantas dengan satu ucapan saja. Misalnya ‘Al Muslimun’ (orang-orang Islam), ‘Ar rijaalu’ (orang-orang laki-laki) dan lain-lain. Di dalam Al Qur’an itu terdapat banyak lafadz yang berma’na umum kemudian Sunnah mengkhususkan keumumannya Al Qur’an tersebut. Misalnya firman Allah SWT : “Allah mewajibkan kamu tentang anak-anakmu, untuk seorang anak laki-laki adalah dua bagian dari anak perempuan.” (QS. An Nisaa’ : 11) Berdasarkan ayat tersebut, setiap anak secara umum berhak mendapatkan warisan dari ayahnya. Jadi setiap anak adalah pewaris ayahnya. Kemudian datang Sunnah yang mengkhususkannya. Sabda Rasulullah SAW : “Kami seluruh Nabi tidak meninggalkan warisan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” (HR Imam Bukhari). “Seorang pembunuh tidak mendapat warisan.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah). Menurut hadits di atas Nabi tidak meninggalkan warisan bagi anak-anaknya serta melarang seorang anak yang membunuh ayahnya mendapat warisan dari ayahnya.

  • As-Sunnah memberikan Taqyid (persyaratan) terhadap ayat Al Qur’an yang bersifat Mutlak. Pengerian ayat yang bersifat Mutlak adalah lafadz yang menunjukkan sesuatu yang masih umum pada suatu jenis, misalnya lafadz budak, mu’min, kafir, dan lain-lain. Di dalam Al Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang bersifat mutlak (tanpa memberi persyaratan). Misalnya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri hendaklah kamu potong tangan (keduanya).” (QS. Al Maidah : 38). Ayat ini berlaku mutlak pada setiap pencurian (baik besar maupun kecil). Kemudian Sunnah memberikan persyaratan nilai barang curian itu sebanyak seperempat dinar emas ke atas. Sabda Rasulullah  SAW : “Potonglah dalam pencurian  seharga seperempat dinar dan janganlah dipotong yang kurang dari itu.” (HR Ahmad). Begitu pula halnya dengan batas pemotongan tangan bagi pencuri (sebagaimana ayat 38 Surat Al Maidah), yaitu pada pergelangan tangan dan bukan dari tempat lainnya, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

  • As Sunnah melengkapi keterangan sebagian hukum-hukum yg telah disebutkan dalam Al Quran. Peranan Sunnah yang lain adalah unutk memperkuat dan menetapkan apa yg telah tercantum dalam Al Qur’an di samping melengkapi sebagian cabang2 hukum yg asalnya dari Al Qur’an. Al Qur’an menegaskan tentang pengharaman memperisteri dua orang bersaudara sekaligus. “(Dan diharamkan bagimu) menghimpun (dalam perkawinan) dua perempuan bersaudara, kecuali yg telah terjadi pada masa lampau.” (QS. An Nisaa’ : 23). Di dalam Al Qur’an tidak disebutkan  tentang haramnya seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita saudara ibu, atau anak perempuan dari saudara laki-laki istri (kemenakan). Sunnah menjelaskan mengenai hal ini melalui sabda Nabi : “Tidak boleh seseorang memadu wanita dengan ‘ammah (saudara bapaknya), atau dengan saudara ibu (khala) atau anak perempuan dari saudara perempuannya (kemenakan)  dan tidak boleh memadu dengan anak perempuan saudara laki-lakinya , sebab kalau itu kalian lakukan, akan memutuskan tali persaudaraan.” (HR An Nasa’i dan Ibnu Majah).

  • As Sunnah Menetapkan hukum-hukum baru yang tidak terdapat dalam Al Qur’an. Sunnah juga berfungsi menetapkan hukum-hukum yang baru yang tidak ditemukan dalam Al Qur’an dan bukan merupakan penjabaran dari nash yang sudah ada dalam Al Qur’an, akan tetapi merupakan aturan-aturan baru yang hanya terdapat dalam Sunnah. Misalnya, diharamkannya ‘keledai jinak’ untuk dimakan, setiap binatang yang bertaring, dan setiap burung yang bercakar. Begitu pula tentang keharaman memungut pajak (bea cukai), penarikan hak milik atas tanah pertanian yang selama tiga tahun berturut-turut tidak dikelola oleh negara, tidak  bolehnya individu memiliki kepentingan umum seperti air, rumput, api, minyak bumi, tambang emas, perak , besi, sungai, laut, tempat penggembalan ternak dan lain-lain.

Demikian antara lain ketentuan tambahan (penyempurnaan) yang dilakukan Rasulullah SAW. Maka sikap seorang Muslim terhadap hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

“Ucapan orang-orang beriman, manakala mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Dia memberikan ketentuan  hukum diantara mereka, tidak lain hanya mengatakan : Kami mendengar dan Kami mematuhinya. Mereka itulah  orang-orang yang berbahagia.” (QS. An Nur : 51)

Penggunaan nash As Sunnah untuk masalah aqidah haruslah nash yang bersifat qath’i, karena tidak boleh adanya keraguan sedikitpun dalam masalah aqidah/i’tiqadiyah. Sedangkan untuk masalah hukum/syari’ah masih dapat dapat digunakan nash As Sunnah yang mencapai derajat  dzanni (prasangka kuat atas kebenarannya). Hal ini karena dalam masalah syari’ah tidak diharuskan suatu keyakinan yang pasti terhadap hasil ijtihad yang akan dijadikan sumber amaliah tersebut (bukan sumber untuk masalah i’tiqadiyah).

Iklan