Pemuda-pemudi secara bahasa dalam literatur, disebut dengan as-Syâbb dan as-Syâbbah yang artinya al-Fatâ’ (pemuda) dan al-Fatâh (pemudi) yakni kemudaan, awal dari sesuatu dan menyalakan.1

Namun jika kata pemuda – pemudi tersebut disususn (murakkab) dengan kata al-Islam –menjadi  asy-Syâbb al-Islâm/ asy-Syâbbah al-Islâm/ jamaknya: asy-Syâbab al-Islam (Pemuda atau Pemudi Islam), maka akan terlahir definisi baru yang berbeda dengan makna bahasanya, yakni Pemuda atau Pemudi Islam adalah Pemuda dan Pemudi yang mempunyai standarisasi (miqyâs) Islam dalam kancah kehidupannya.

Dengan kata lain Pemuda – Pemudi Islam adalah Pemuda atau Pemudi yang mempunyai kepribadian Islam (asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah).

Namun apakah yang dimaksud dengan kepribadian Islam itu. Apakah kepribadian Islam itu hanya cukup ditunjukan dengan selendang yang diikat di leher atau dikepala (Sorban) maupun dengan menggunakan sarung, baju koko, nenteng-nenteng al-Quran dan kopeah ?!. Walaupun hal tersebut baik namun niscaya kepribadian Islam sebenarnya lebih dari hal tersebut, ya benar lebih dari hal tersebut.

Perlu ditekannkan disini bahwa, Kepribadian di setiap manusia tersusun dari ‘aqliyyah dan nafsiyyah-nya, dan bukanlah bentuk fisik, badan, bukan pula postur tubuh dan lain sebagainya, semuanya hanya penampakan luar saja. Merupakan kedangkalan jika menduga salah satu dari semuanya adalah faktor dari faktor-faktor kepribadian atau yang mempengaruhinya.2

‘Aqliyyah (pola pikir) adalah tatacara yang dilakukan akal terhadap sesuatu yakni ­Idrâk (memahami sesuatu fakta yang terjangkau indera maupun yang dibawa indera). Dengan kata lain ‘aqliyyah (pola pikir) adalah tatacara yang mengikat fakta dengan informasi-informasi, atau informasi dengan fakta yang di standarkan atas suatu kaidah atau kaidah-kaidah tertentu. Lalu Nafsiyyah (pola sikap) adalah tatacara yang dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan naluri dan kebutuhan jasmani (makan, minum dll). Dengan kata lain adalah, tatacara yang mengikat dorongan-dorongan pemenuhan kebutuhan dengan mafâhîm (pemahaman terhadap sesuatu).3

Dengan singkat dapat kita pahami bahwa, Kepribadian Islam (asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah) adalah menjadikan ‘aqliyyah (pola pikir) dan Nafsiyyah (pola sikap) berdasarkan satu standar yang sama, yaitu Akidah Islamiyah. Sehingga terbentuk ‘aqliyyah Islâmiyyah (pola pikir Islami) dan Nafsiyyah Islâmiyyah (pola sikap Islami) atas dasar ‘aqîdah Islâmiyyah.

Aqliyyah Islâmiyyah (pola pikir Islami), adalah berfikir atas asas Islam, menjadikan Islam satu-satunya standar umum bagi pemikiran-pemikiran tentang kehidupan, dan bukan hanya dia saja yang ‘Aqliyyah jenius atau seorang pemikir. Tetapi sekedar manusia menjadikan Islam sebagai standar bagi seluruh pemikiran-pemkiran secara perbuatan dan nyata maka terbentuk di sisinya ‘Aqliyyah Islâmiyyah (pola pikir Islami). Nafsiyyah Islâmiyyah (pola sikap Islami), adalah menjadikan seluruh muyûl-nya (kecenderungan) atas asas Islam, menjadikan Islam satu-satunya standar umum bagi pemenuhan (naluri dan kebutuhan jasmani) seluruhnya, dan bukan hanya dia saja yang membujang atau yang bersikap keras (terhadap dunia/ zuhud). Tetapi sekedar manusia menjadikan Islam sebagai standar bagi seluruh  pemenuhan-pemenuhan (naluri dan kebutuhan jasmani) secara perbuatan dan riil maka terbentuk di sisinya Nafsiyyah Islâmiyyah (pola sikap Islami).4

Namum perlu dipahami disini bahwa, setelah pemuda atau pemudi menjadikan Islam sebagai dasar pola pikir dan pola sikapnya, maka orang mengatakan dia memiliki kepribadian malaikat yang tidak pernah salah sedikitpun, nah pernyataan tersebut adalah salah besar. Seseorang yang telah memiliki kepribadian Islam bukanlah yang dihayalkan oleh orang-orang bahwa mereka bagaikan malaikat yang suci dan tanpa kesalahan. Akan tetapi mereka walau bagaimanapun adalah manusia yang bisa saja salah, bahkan para sahabatpun pernah melakukan kesalahan. Maka dari itu yang menjadi masalah disini sebenarnya kekuatan Kepribadian Islam (asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah) di setiap muslim itu berbeda kekuatannya, ada yang kuat dan ada juga yang lemah.

Maka dari itu pemuda dan pemudi yang telah berkepribadian Islam, mau tidak mau harus memperkuat  ‘Aqliyyah Islâmiyyah (pola pikir Islami) dan Nafsiyyah Islâmiyyah (pola sikap Islam).

Untuk meningkatkan kualitas ‘aqliyyah Islamnya, seseorang secara mutlak wajib meningkatkan tsaqâfah Islamnya, sehingga mampu mengambil hukum syara’ langsung dari dalil-dalilnya. Cara yang paling mudah adalah dengan belajar dan terus-menerus mempelajari tsaqâfah Islam sepanjang hayatnya. Sebab, jika berhenti belajar ‘aqliyyah-nya akan menjadi tumpul. Akibatnya kepribadian Islamnya juga akan terdegradasi.5 Maka wajar jika menuntut ilmu itu menjadi wajib bagi setiap muslim.6

Dan untuk meningkatkan kualitas nafsiyyah Islamnya, seseorang harus meningkatkan kekuatan ikatan yang mengikat dorongan naluri dan kebutuhan jasmaninya dengan mafhûm (pemahaman) yang diperoleh dari ‘aqliyyah Islamnya. Karena itu, orang tersebut harus hidup dalam suasana keimanan, dan bergaul dengan orang orang shalih, memilih teman yang baik serta menjauhi orang-orang yng berbuat maksiat.7 Inilah yang diterangkan oleh Rasulallah saw.:

Orang itu tergantung ‘agana’ kawannya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian berhati-hati dalam memilih kawan.” (HR. Ahmad, Abû Dâwûd, Tirmîdzî).

Atau dengan cara menciptakan sendiri suasana keimanan, memperbanyak amalan-amalan sunnah, atau aktivitas yang dapat meningkatkan kualitas nafsiyyah-nya. Seperti membaca al-Quran, menghayati keindahan ciptaan Allah dalam rangka meningkatkan kekuatan spiritualnya; mengkaji dan menghayati perjalanan hidup Rasulallah saw dan para sahabat dengan tujuan untuk meneladani teladan yang agung tersebut; khusyû’ dalam shalat dengan menghadirkan seluruh makna lafadz dan pemikiran yang dibacanya sehingga kesadaran spiritualnya meningkat; membaca do’a dan qiyâm al-layl untuk menguatkan kekuatan spiritualnya dan selalu menghitung aktivitasnya dengan kesadaran, bahwa setiap amal yang dilakukannya adalah semata-mata untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Karena dia memahami firman Allah swt.:

“Siapa saja yang melakukan kebaikan, meskipun seberat dzarrahpun, pasti dia akan melihatnya. Dan siapa saja yang melakukan keburukan, meskipun seberat biji dzarrahpun, juga pasti akan melihatnya.” (QS. al-Zalzalah: 7-8)

Maka dari itu ulama membuat kaidah tentang keterikatan kita terhadap hukum syara’.

Hukum asal dalam perbuatan adalah terikat dengan hukum-hukum syara’ 8

Maka dari itu seyogyanya pemuda dan pemudi muslim adalah orang yang mempunyai ‘aqliyyah dan nafsiyyah Islam, yang selalu ber-standar perbuatannya dan pemikiran (miqyâs al-a’mâl wa miqyâs al-afkâr) bersandar pada akidah Islam yang shahih. Sehingga mereka akan tenteram di dunia dan akhirat kelak. (WaLlah a’lam bi ash-shawab).

Oleh: Aktivis Kampus UPI

Footnote:

  1. al-Fayrûz Âbadi, al-Qâmûs al-Muhîth, fashl asy-Syîn, t.tmpt, tt, hlm. 127
  2. Muhammad Ismâ’îl, al-Fikr al-Islâmiy, Maktabah lî al-Wa’yi – Beirut, hlm 67
  3. an-Nabhânî, asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, juz al-Awwal, Dâr al-Ummah – Beirut, (ed. Mu’tamadah), 2003, hlm.13; mafâhîm, secara bahasa bisa dikatakan ma’rifatuka asy-Syai’ bi al-Qalb (mengetahui sesuatu dengan hati), Ibn Manzhûr, Lisân al-‘Arab, Dâr Shâdir – Beirut, cet.1, tt, Juz.12, hlm. 459, secara Istilah an-Nabhânî, mendefinisikan mafâhîm dengan, makna-makna yang mempunyai fakta terjangkau di dalam benak, sama saja apakah fakta yang terindera di luar atau fakta di luar yang keberadaannya tunduk dibangun atas fakta yang terindera. lihat asy-Syakhsiyyah, hlm. 12
  4. 4. ibid
  5. Hafidz Abdurrahman, Diskursus Islam Politik Spiritual, al-Azhar Prees – Bogor, cet. 1, 2004, hlm. 84; ats-Tsaqâfah al-Islâmiyyah adalah pengetahuan-pengetahuan yang akidah Islam menjadi sebab di dalam pembahasannya. Sama saja apakah pengetahuan-pengetahuan ini termasuk akidah Islam dan pembahasannya contoh: ilmu tauhid, atau yang dibangun atas akidah Islam seperti al-fiqh, at-tafsîr, dan al-hadîs, atau yang dihendaki dipahami apa yang terpancar dari akidah Islam dari hukum-hukum misal pengetahuan-pengetahuan yang diwajibkannya Ijtihad dalam Islam seperti ilmu-ilmu bahasa Arab (‘Ulûm allughah al-‘Arabiyyah), mushthalah al-hadîs dan ‘ilm al-ushûl. lihat lihat asy-Syakhsiyyah, hlm. 265.
  6. Lihat al-Jâmi Shahîh Bukhari, bab kitâb al-‘Ilm.
  7. Ibid. Hlm 84
  8. Muhammad Ismâ’îl, ibid, hlm 21