Secara Bahasa menurut Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (VII/160): Bulan Ramadhan diambil dari ramidha ash-sha’im yarmadhu, yakni ketika tenggorokan kepanasan karena dahaga yang dahsyat. Pendapat lain menyatakan, konon orang Arab pada bulan ini memanaskan senjatanya untuk mempersiapkan peperangan pada bulan syawal.
Berikut beberapa keutaman yang dapat ditangkap dari dalil-dalil syar’iyah, walaupun selain yang disebutkan berikut masih banyak lagi.

Bulan Penuh Berkah
«قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرُ مُبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ اْلجَنَّةُ وَيُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ اْلجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ»
Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan penuh berkah. Pada bulan itu Allah mewajibkan atas kalian shaum. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. (HR Ahmad dan an-Nasa’i).

Bulan Penuh Ampunan
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala Allah semata maka diampunilah dosanya yang telah berlalu. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Bulan Diturunkannya Al-Quran
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda (furqan) (antara haq dengan bathil).” (QS. al-Baqarah [2] : 185).

Bulan Diwajibkannya Puasa; Pembentuk Ketakwaan.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183).

Bulan Perjuangan dan Pengorbanan.
Pada bulan ini, justru kaum muslim tidak pernah lelah untuk berjuang untuk membela Agama Allah swt. bukti dari hal tersebut adalah, pada bulan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang menunjukan produktifitas kaum beriman, yakni: perang badar, penaklukan kota Makkah, pertempuran di ‘Ain Jalut melawan tentara Romawi, dan lain-lain. Jika pada bulan Ramadhan (shaum) saja kaum muslim terdahulu sangat luar biasa dalam berjuang demi Islam, tentu apalagi bulan standar, pastinya mereka lebih semangat lagi. Artinya, aktivitas kemasyarakatan dan kenegaraan pada masa Rasulullah saw. dan pada masa Kekhilafahan Islam berlangsung sebagaimana adanya, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan. Dengan kata lain, suasana dan atmosfir keimanan itu ada sepanjang tahun, bukan hanya pada bulan Ramadhan; seakan-akan sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan.
Mengapa bisa demikian? Sebab, negara Khilafah telah menjadikan Islam sebagai asas pemerintahan dan kehidupan masyarakatnya, sistem hukum Islam menjadi pilar dasar seluruh interaksi kehidupan masyarakat dan para pemimpinnya, serta akidah Islam menaungi seluruh kehidupan umat. Pada waktu itu, orang-orang munafik dan fasik merasa malu mempertontonkan kemaksiatan dan kemunafikannya; orang-orang zalim akan menghadapi ketegasan hukum Islam yang dijalankan oleh negara Khilafah; musuh-musuh Islam dari kalangan negara kafir pun merasa gentar melakukan permusuhan dan makar melawan negara Khilafah dan kaum Muslim.
Jadi, mengapa kita selama bulan Ramadhan mampu ‘bermetamorfosis’ menjadi ‘orang baik-baik lagi salih’ namun enggan melanjutkan perubahan itu pada selain bulan Ramadhan?

Walhasil, jadikanlah Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan perubahan secara mendasar terhadap seluruh aspek kehidupan kita, baik kehidupan individu maupun kemasyarakatan dan negara. Dengan begitu, shaum kita tidak sia-sia dan kita berhasil meraih derajat takwa. Rasulullah saw. bersabda:
«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ اْلجُوْعِ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرِ»
Jangan-jangan orang yang shaum itu—pada saat puasanya—hanya memperoleh rasa lapar dan dahaga saja; jangan-jangan orang yang bangun malam juga hanya memperoleh ‘begadangnya’ saja. (HR ath-Thabrani).

Iklan