Hukum Nashbul khalifah adalah Fardhu Kifayah
Pada point pertama ini kami kompilasikan sebagian maqalah para ulama’ Mu’tabar dari berbagai madzhab, terutama madzhab Syafi’i yang merupakan madzhab kebanyakan kaum Muslimin di Indonesia, tentang wajibnya imamah atau khilafah. Tentu pernyataan mereka tersebut adalah merupakan hasil istinbath mereka dari dalil-dalil syara’, baik apakah mereka menjelaskan hal tersebut maupun tidak. Syaikh Al-Islam Al-imam Al-hafidz Abu Zakaria An-nawawi berkata :

الفَصْلُ الثاَّنِي فِي وُجُوُبِ اْلإِمَامَةِ وَبَيَانِ طُرُقِهَا لاَ بُدَّ ِللأُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ الدِّيْنَ وَيَنْصُرُ السُنَّةَ وَيَنْتَصِفُ لِلْمَظْلُومِينَ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوْقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا. قُلْتُ تُوَلِّي اْلإِمَامَةَ فَرْضُ كِفَايَةٍ …
Pasal kedua tentang wajibnya imamah serta penjelasan metode (mewujudkan) nya. Adalah suatu keharusan bagi umat adanya imam yang menegakkan agama dan yang menolong sunnah serta yang memberikan hak bagi orang yang dizhalimi serta menunaikan hak dan menempatkan hal tersebut pada tempatnya. Saya nyatakan bahwa mengurus (untuk mewujudkan) imamah itu adalah fardhu kifayah…

Al-allamah Asy-Syaikh Muhammad Asy-syarbini Al-khatib menjelaskan:

فَقَالَ (فَصْلٌ) فِي شُرُوطِ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ وَبَيَانِ انْعِقَادِ طُرُقِ اْلإِمَامَةِ .وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ، إذْ لاَ بُدَّ لِلأُمَّةِ مِنْ إمَامٍ يُقِيمُ الدِّينَ وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ وَيُنْصِفُ الْمَظْلُومَ مِنْ الظَّالِمِ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا ، وَقَدَّمَا فِي الشَّرْحِ وَالرَّوْضَةِ الْكَلاَمَ عَلَى اْلإِمَامَةِ عَلَى أَحْكَامِ الْبُغَاةِ …
Maka (pengarang) berkata (pasal) tentang syarat-syarat imam yang agung serta penjelasan metode-metode in’iqadnya imamah. Mewujudkan imamah yang agung itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan.

Syaikhul Islam Imam Al-hafidz Abu Yahya Zakaria Al-anshri :

(فَصْلٌ) فِي شُرُوْطِ اْلاِمَامِ اْلاَعْظَمِ، وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ اْلاِمَامَةِ، وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ (شَرْطُ اْلاِمَامِ كَوْنُهُ أَهْلاً لِلْقَضَاءِ) بِأَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا حُرًّا مُكَلَّفًا عَدْلاً ذَكَرًا مُجْتَهِدًا ذَا رَأْيٍ وَسَمْعٍ وَبَصَرٍ وَنُطْقٍ لِمَا يَأْتِي فِي بَابِ الْقَضَاءِ وَفِي عِبَارَتِي زِيَادَةُ الْعَدْلِ (قُرَشِيًّا) لِخَبَرِ النَّسَائِي اْلاَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ فَإِنْ فُقِدَ فَكِنَانِي، ثُمَّ رَجُلٌ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيْلَ ثُمَّ عَجَمِي عَلىَ مَا فِي التَّهْذِيْبِ أَوْ جُرْهُمِي عَلىَ مَا فِي التَّتِمَّةِ، ثُمَّ رَجُلٌ مِنْ بَنِي إِسْحَاقَ (شُجَاعًا) لِيَغْزُوَ بِنَفْسِهِ، وَيُعَالِجَ الْجُيُوْشَ وَيَقْوَى عَلىَ فَتْحِ اْلبِلاَدِ ويَحْمِيَ اْلبَيْضَةَ، وَتُعْتَبَرُ سَلاَمَتُهُ مِنْ نَقْصٍ يَمْنَعُ اسْتِيْفَاءَ الْحَرَكَةِ وَسُرْعَةَ النُّهُوضِ، كَمَا دَخَلَ فِي الشَّجَاعَةِ
(Pasal) tentang syarat-syarat imam yang agung serta penjelasan metode in’iqad imamah. Mewujudkan imamah adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan (salah satu syarat menjadi imam adalah kapabel untuk peradilan). Maka hendaknya imam yang agung tersebut adalah muslim, merdeka, mukallaf, adil, laki-laki, mujtahid, memiliki visi, mendengar, melihat dan bisa bicara. Berdasarkan bab tentang peradilan dan pada ungkapan saya dengan penambahan adil adalah (dari kabilah Quraisy) berdasarkan hadits yang diriwayatkan  An-Nasa’i: “bahwa para Imam itu dari golongan Quraisy”. Apabila tidak ada golongan Quraisy maka dari Kinanah, kemudian pria dari keturunan Ismail lalu orang asing (selain orang Arab) berdasarkan apa yang ada pada (kitab) At-tahdzib atau Jurhumi berdasarkan apa yang terdapat dalam (kitab) At-tatimmah. Kemudian pria dari keturunan Ishaq. Selanjutnya (pemberani) agar (berani) berperang secara langsung, mengatur pasukan, memperkuat (pasukan) untuk menaklukkan negeri, melindungi kemurnian (Islam). Juga termasuk (sebagian dari syarat imamah) adalah bebas dari kekurangan yang akan menghalangi kesempurnaan serta cekatannya gerakan sebagaimana hal tersebut merupakan bagian dari keberanian …

Ketika Imam Fakhruddin Ar-razi, penulis kitab Manaqib Asy-syafi’i, menjelaskan firman-Nya Ta’ala pada Surah Al-maidah ayat 38, beliau menegaskan :

…اِحْتَجَّ الْمُتَكَلِّمُوْنَ بِهذِهِ اْلآيَةِ فِي أَنَّهُ يَجِبُ عَلىَ اْلأُمَّةِ أَنْ يَنْصَبُوا ِلأَنْفُسِهِمْ إمَاماً مُعَيَّناً وَالدَّلِيْلُ عَلَيهِ أََنَّهُ تَعَالَى أَوْجَبَ بِهَذِهِ اْلآيَةِ إِقَامَةِ الْحَدِّ عَلىَ السَّرَّاقِ والْزَنَاةِ ، فَلاَ بُدَّ مِنْ شَخْصٍ يَكُونُ مُخَاطَباً بِهَذَا الْخِطَابِ، وَأَجْمَعَتِ اْلأُمَّةُ عَلىَ أَنَّهُ لَيْسَ ِلآحَادِ الرَّعِيَّةِ إِقَامَةَ الْحُدُودِ عَلَى الْجُنَاةِ، بَلْ أَجْمَعُوا عَلىَ أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ إِقَامَةَ الْحُدُودِ عَلىَ اْلأَحْرَارِ الْجُنَاةِ إِلاَّ ِللإِمَامِ، فَلَمَّا كَانَ هَذَا التَّكْلِيْفُ تَكْلِيْفاً جَازِماً وَلاَ يُمْكِنُ الْخُرُوجُ عَنْ عُهْدَةِ هَذَا التَّكْلِيْفِ إِلاَّ عِنْدَ وُجُودِ اْلإِمَامِ، وَمَا لاَ يَتَأَتِّى الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ، وَكَانَ مَقْدُورًا لِلْمُكَلَّفِ، فَهُوَ وَاجِبٌ، فَلَزِمَ اْلقَطْعُ بِوُجُوبِ نَصْبِ اْلإِمَامِ حَيْنَئِذٍ
… Para Mutakallimin berhujjah dengan ayat ini bahwa wajib atas umat untuk mengangkat seorang imam yang spesifik untuk mereka. Dalilnya adalah bahwa Dia Ta’ala mewajibkan dalam ayat ini untuk menegakkan had atas pencuri dan pelaku zina. Maka adalah merupakan keharusan adanya seseorang yang melaksanakan seruan tersebut. Sungguh umat telah sepakat bahwa tidak seorangpun dari rakyat yang boleh menegakkan had atas pelaku kriminal tersebut. Bahkan mereka telah sepakat bahwa tidak boleh (haram) menegakkan had atas orang yang merdeka pelaku kriminal kecuali oleh imam. Karena itu ketika taklif tersebut sifatnya pasti (jazim) dan tidak mungkin keluar dari ikatan taklif ini kecuali dengan adanya imam, dan ketika kewajiban itu tidak tertunaikan kecuali dengan sesuatu, dan itu masih dalam batas kemampuan mukallaf maka (adanya) imam adalah wajib. Maka adalah suatu yang pasti qath’inya atas wajibnya mengangkat imam, seketika itu pula…

Imam Abul Qasim An-naisaburi Asy-syafi’i berkata :

…أَجْمَعَتِ اْلأُمَّةُ عَلىَ أَنَّ الْمُخَاطَبَ بِقَوْلِهِ {فَاجْلِدُوا} هُوَ اْلإِمَامُ حَتىَّ احْتَجُّوا بِهِ عَلىَ وُجُوبٍ نَصْبِ اْلإِمَامِ فَإِنَّ مَا لاَ يَتِمُّ اْلوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
…Umat telah sepakat bahwa yang menjadi obyek khitab (maka jilidlah) adalah imam. Dengan demikian mereka berhujjah atas wajibnya mengangkat imam. Sebab, apabila suatu kewajiban itu tidak sempurna tanpa adanya sesuatu tersebut maka ada sesuatu tersebut menjadi wajib pula.

Al-allamah Asy-Syaikh Abdul Hamid Asy-syarwani menyatakan:

قَوْلُهُ (هِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ) إِذْ لاَ بُدَّ لِلاُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ الدِّيْنَ وَيَنْصُرُ السُّـنَّةَ وَيُنْصِفُ الْمَظْـلُومَ مِنَ الظَّالِمِ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوْضِعَهَا…
…Perkataannya: (mewujudkan imamah itu adalah fardhu kifayah) karena adalah merupakan keharusan bagi umat adanya imam untuk menegakkan agama dan menolong sunnah serta memberikan hak orang yang dizhalimi dari orang yang zhalim serta menunaikan hak-hak dan menempatkan hak-hak tersebut pada tempatnya…

Dalam kitab Hasyiyata Qalyubi wa Umairah dinyatakan:

…فَصْلٌ فِي شُرُوطِ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ وَمَا مَعَهُ وَاْلإِمَامَةُ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ فَيَجْرِي فِيهَا مَا فِيهِ مِنْ جَوَازِ الْقَبُولِ وَعَدَمِهِ
…Pasal tentang syarat-syarat imam yang agung dan hal-hal yang menyertainya. Imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan maka berlaku di dalam imamah tersebut apa yang berlaku untuk peradilan baik dalam kebolehan menerima maupun tidaknya..

Al-allamah Asy-Syaikh Sulaiman bin Umar bin Muhammad Al-bajairimi berkata :

…فِي شُرُوطِ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ اْلإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ. كَالْقَضَاءِ فَشُرِطَ ِلإِمَامٍ كَوْنُهُ أَهْلاً لِلْقَضَاءِ قُرَشِيًّا لِخَبَرِ: الأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ شُجَاعًا لِيَغْزُوَ بِنَفْسِهِ وَتُعْتَبَرُ سَلاَمَتُهُ مِنْ نَقْصٍ يَمْنَعُ اسْتِيفَاءَ الْحَرَكَةِ وَسُرْعَةَ النُّهُوضِ كَمَا دَخَلَ فِي الشَّجَاعَةِ…
…Tentang syarat-syarat imam yang agung serta penjelasan metode-metode sahnya in’iqad imamah. Dan mewujudkan imamah tersebut adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan. Maka disyaratkan untuk imam itu hendaknya layak untuk peradilan (menjadi hakim). (syarat) Quraisy, karena berdasarkan hadits: “Bahwa para imam itu adalah dari Quraisy”. (syarat) Berani, agar berani berperang secara langsung. Begitu pula (dengan syarat) bebasnya dari kekurangan yang menghalangi kesempurnaan dan kegesitan gerakan dia sebagaimana masuknya keberanian sebagai salah satu syarat imamah…

Imam Al-hafidz Abu Muhammad Ali bin Hazm Al-andalusi Adz-dzahiri mendokumentasikan ijma’ Ulama’ bahwa (keberadaan) Imamah itu fardhu:

… وَاتَّفَقُوا أَنَّ اْلاِمَامَةَ فَرْضٌ وَاَنَّهُ لاَ بُدَّ مِنْ اِمَامٍ حَاشَا النَّجْدَاتِ وَأَرَاهُمْ قَدْ حَادُوا اْلاِجْمَاعَ وَقَدْ تَقَدَّمَهُمْ وَاتَّفَقُوا اَنَّهُ لاَ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عَلىَ الْمُسْلِمينَ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ فِي جَمِيْعِ الدُّنْيَا اِمَامَانِ لاَ مُتَّفِقَانِ وَلاَ مُفْتَرِقَانِ وَلاَ فِي مَكَانَيْنِ وَلاَ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ …
…Mereka (para ulama’) sepakat bahwa imamah itu fardhu dan adanya Imam itu merupakan suatu keharusan, kecuali An-najdat. Pendapat mereka sungguh telah menyalahi ijma’ dan telah lewat pembahasan (tentang) mereka. Mereka (para ulama’) sepakat bahwa tidak boleh pada satu waktu di seluruh dunia adanya dua imam bagi kaum Muslimin baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat…

Berkata Imam ‘Alauddin Al-kasani Al-hanafi :

… وَ ِلأَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ فَرْضٌ، بِلاَ خِلاَفٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ، وَلاَ عِبْرَةَ – بِخِلاَفِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ -؛ ِلإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ؛ لِتَقَيُّدِ اْلأَحْكَامِ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنَ الظَّالِمِ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لاَ تَقُومُ إلاَّ بِإِمَامٍ
…Dan karena sesungguhnya mengangkat imam yang agung itu adalah fardhu. (ini) tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq. Dan tidak diperhatikan—perbedaan dengan sebagian Qadariyyah—karena ijma’ shahabat ra atas hal tersebut (telah jelas), serta urgensitas kebutuhan terhadap imam yang agung tersebut. Untuk keterikakan terhadap hukum. Untuk menyelamatkan orang yang dizhalimi dari orang yang zhalim. Untuk memutuskan perselisihan yang merupakan obyek yang menimbulkan kerusakan, dan kemaslahatan-kemaslahatn yang lain yang memang tidak akan tegak kecuali dengan adanya imam…

Imam Al-hafidz Abul Fida’ Ismail ibn Katsir ketika menjelaskan firman Allah surah Al-Baqarah ayat 30 beliau berkata:

…وَقَدِ اسْتَدَلَّ الْقُرْطُبِيُّ وَغَيْرُهُ بِهَذِهِ اْلآيَةِ عَلَى وُجُوبٍ نَصْبِ الْخَلِيْفَةِ لِيَفْصِلَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا يَخْتَلِفُونَ فِيهِ، وَيَقْطَعَ تَنَازُعَهُمْ، وَيَنْتَصِرَ لِمَظْلُومِهِمْ مِنَ ظَالِمِهِمْ، وَيُقِيمَ الْحُدُودَ، وَيَزْجُرَ عَنْ تَعَاطِي الْفَوَاحِشِ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ اْلأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي لاَ يُمْكِنُ إِقَامَتُهَا إِلاَّ بِاْلإِمَامِ، وَمَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
…Dan sungguh Al-Qurthubi dan yang lain berdalil berdasarkan ayat ini atas wajibnya mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi diantara manusia, memutuskan pertentangan mereka, menolong atas yang dizhalimi dari yang menzhalimi, menegakkan had-had, dan mengenyahkan kerusakan dsb. yang merupakan hal-hal penting yang memang tidak memungkinkan untuk menegakkan hal tersebut kecuali dengan imam, dan apabila suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan suatu tersebut maka sesuatu tersebut menjadi wajib (pula).

Imam Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surah Al-baqarah ayat 30 berkata:
…هَذِهِ اْلآيَةُ أَصْلٌ فِي نَصْبٍ إِمَامٍ وَخَلِيْفَةٍ يُسْمَعُ لَهُ وَيُطَاعُ، لِتَجْتَمِعَ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتُنَفِّذَ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيْفَةِ. وَلاَ خِلاَفَ فِي وُجُوبٍ ذَلِكَ بَيْنَ اْلاُمَّةِ وَلاَ بَيْنَ اْلاَئِمَّةِ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ اْلاَصَمِّ … ثُمَّ قَالَ القُرْطُبِي: فَلَوْ كَانَ فَرْضُ اْلاِمَامَةِ غَيْرَ وَاجِبٍ لاَ فِي قُرَيْشٍ وَلاَ فِي غَيْرِهِمْ لِمَا سَاغَتْ هَذِهِ الْمُنَاظَرَةُ وَالْمُحَاوَرَةُ عَلَيْهَا، وَلَقَالَ قَائِلُ: إِنَّهَا لَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ لاَ فِي قُرَيْشٍ وَلاَ فِي غَيْرِهِمْ، فِمَا لِتُنَازِعَكُمْ وَجْهٌ وَلاَ فَائِدَةَ فِي أَمْرٍ لَيْسَ بِوَاجِبٍ …وَقَالَ, اَيْ القُرْطُبِي, وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ ثَبَتَ أَنَّهَا وَاجِبَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّرْعِ لاَ مِنْ جِهَةِ الْعَقْلِ، وَهَذَا وَاضِحٌ
…Ayat ini pokok (yang menegaskan) bahwa mengangkat imam dan khalifah untuk didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan, melalui khalifah, hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara umat, tidak pula diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-asham … Beliau berkata: …Maka kalau seandainya keharusan adanya imam itu tidak wajib baik untuk golongan Quraisy maupun untuk yang lain lalu mengapa terjadi diskusi dan perdebatan tentang Imamah. Maka sungguh orang akan berkata: bahwa sesungguhnya imamah itu bukanlah suatu yang diwajibkan baik untuk golongan Quraisy maupun yang lain, lalu untuk apa kalian semua berselisih untuk suatu hal yang tidak ada faedahnya atas suatu hal yang tidak wajib. Kemudian beliau menegaskan: …Dengan demikian maka (telah) menjadi ketetapan bahwa imamah itu wajib berdasarkan syara’ bukan akal. Dan ini jelas sekali.

Imam Umar bin Ali bin Adil Al-hambali Ad-dimasyqi, yang dikenal dengan Ibnu Adil, ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala surah Al-baqarah ayat 30 berkata:

…وَقَالَ ابْنُ الْخَطِيْبِ: َالْخَلِيْفَةَ : اِسْمٌ يَصْلُحُ لِلْوَاحِدِ وَالْجَمْعِ كَمَا يَصْلُحُ لِلذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى … ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ اْلآيَةَ دَلِيْلٌ عَلىَ وُجُوبٍ نَصْبٍ إِمَامٍ وَخَلِيْفَةٍ يُسْمَعُ لَهُ ويُطَاعُ، لِتَجْتَمِعَ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتُنَفِّذَ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيْفَةِ، وَلاَ خِلاَفَ فِي وُجُوبِ ذَلِكَ بَيْنَ اْلأَئِمَّةِ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ اْلأَصَمِّ، وَأَتْبَاعِهِ …
…Dan berkata Ibn Al-khatib khalifah itu isim yang cocok baik untuk tunggal maupun plural sebagaimana cocoknya untuk laki-laki dan wanita. Kemudian beliau berkata: ….ayat ini adalah dalil wajibnya mengangkat Imam dan khalifah untuk didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat, serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-asham dan orang yang mengikuti dia…

Berkata Imam Abu al-hasan Al-mirdawi Al-hambali dalam kitab Al-inshaf:
بَابُ قِتَالِ أَهْلِ الْبَغْيِ فَائِدَتَانِ إحْدَاهُمَا: نَصْبُ اْلإِمَامِ: فَرْضُ كِفَايَةٍ. قَالَ فِي الْفُرُوعِ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى اْلأَصَحِّ..
Bab memerangi orang yang Bughat, terdapat dua faedah. Pertama, mengangkat imam itu adalah fardhu kifayah. Dia berkata di dalam al-furu’: fardhu kifayahlah yang paling tepat….

Imam Al-bahuti Al-hanafi berkata:

…(نَصْبُ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ) عَلَى الْمُسْلِمِينَ (فَرْضُ كِفَايَةٍ) ِلأَنَّ بِالنَّاسِ حَاجَةً إِلَى ذَلِكَ لِحِمَايَةِ الْبَيْضَةِ وَالذَّبِّ عَنْ الْحَوْزَةِ وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ وَاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ وَاْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ…
…(Mengangkat Imam yang agung itu) atas kaum Muslimin (adalah fardhu kifayah). Karena manusia membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), menjaga konsistensi (agama), penegakan had, penunaian hak serta amar ma’ruf dan nahi munkar…

Dalam kitab Hasyiyyatul Jumal disebutkan:
…فِي شُرُوطِ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ، وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ اْلإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ (شَرْطُ اْلإِمَامِ كَوْنُهُ أَهْلاً لِلْقَضَاءِ) بِأَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا حُرًّا مُكَلَّفًا عَدْلاً ذَكَرًا مُجْتَهِدًا ذَا رَأْيٍ وَسَمْعٍ وَبَصَرٍ وَنُطْقٍ لِمَا يَأْتِي فِي بَابِ الْقَضَاءِ…
…Tentang syarat Imam yang agung dan tentang penjelasan metode in’iqad imamah. Mewujudkan imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan. (syarat Imam adalah yang layak untuk peradilan). Maka hendaknya dia muslim, merdeka, mukallaf, adil, laki-laki, mujtahid, cerdas, mendengar, melihat dan bisa bicara, sebagaimana yang terdapat dalam pembahasan pada bab tentang peradilan…

Sedangkan dalam kitab Mathalibu Ulin Nuha fii Syarhi Ghayatil Muntaha dinyatakan:

…(وَنَصْبُ اْلإِمَامِ فَرْضُ كِفَايَةٍ) ِلأَنَّ بِالنَّاسِ حَاجَةً لِذَلِكَ لِحِمَايَةِ الْبَيْضَةِ، وَالذَّبِّ عَنِ الْحَوْزَةِ، وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ، وَابْتِغَاءِ الْحُقُوقِ، وَاْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ…
…(Dan mengangkat imam itu adalah fardhu kifayah) karena manusia memang membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), memelihara konsistensi (agama), menegakkan had, menunaikan hak-hak, dan amar makruf serta nahi munkar.

Berkata shahibu Al-husun Al-hamidiyyah, Syaikh Sayyid Husain Afandi:
اِعْلَمْ اَنَّهُ يَجِبُ عَلىَ الْمُسْلِمِينَ شَرْعًا نَصْبُ اِمَامٍ يَقُومُ بِاِقَامَةِ الْحُدُودِ وَسَدَّ الثُّغُورَ وَتَجْهِيْزِ الْجَيْشِ …
Ketahuilah bahwa mengangkat Imam yang yang menegakkan had, memelihara perbatasan (negara), menyiapkan pasukan, … secara syar’i adalah wajib.

Khulashatul qaul, dapat kita simpulkan bahwa para Ulama’ Mu’tabar dari berbagai madzhab diatas menegaskan bahwa hukum nasbu al-Imam atau al-Khalifah adalah wajib. Apakah Kifayah atau ain? Imam al-Hafidz an-Nawawi, antara lain, yang menjelaskan bahwa kewajiban tersebut masuk kategori fardhu kifayah.

Pelaksaan fardhu kifayah
Suatu hal yang ma’lum bahwa fardhu itu ada dua macam. Fardhu kifayah dan fardhu ain. Sebagai kewajiban sebenarnya fardhu kifayah maupun fardhu ain sama, sama-sama fardhu, meski dari sisi pelaksanaannya berbeda. Imam Saifuddin al-Amidi dalam kitab al-Ihkam fii Ushul al-Ahkam menegaskan:

اَلْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَّةُ لاَ فَرْقَ عِنْدَ أَصْحَابِنَا بَيْنَ وَاجِبِ الْعَيْنِ، وَالْوَاجِبِ عَلىَ الْكِفَايَةِ مِنْ جِهَةِ الْوُجُوبِ، لِشُمُولِ حَدِّ الْوَاجِبِ لَهُمَا
Masalah yang ke dua. Tidak ada perbedaan (menurut ashab kita) antara wajib ain dan wajib kifayah. Dari sisi kwajiban. Karena inklusinya batas kewajiban untuk keduanya

Untuk batasan kesempurnaan pelaksanaan fardhu kifayah Imam Asy-syirazi, dalam kitab Al-luma’ fii Ushul Al-fiqh, menjelaskan:

فَصْلٌ إِذَا وَرَدَ الْخِطَابُ بِلَفْظِ الْعُمُومِ دَخَلَ فِيهِ كُلُّ مَنْ صَلَحَ لَهُ الْخِطَابُ وَلاَ يَسْقُطُ ذَلِكَ الْفِعْلُ عَنْ بَعْضِهِمْ بِفِعْلِ الْبَعْضِ إِلاَّ فِيمَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِهِ وَقَرَّرَهُ تَعَالَى أَنَّهُ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْجِهَادِ وَتَكْفِيْنِ الْمَيِّتِ وَالصَّلاَةِ عَلَيْهِ وَدَفْنِهِ فَإِنَّهُ إِذَا أَقَامَ بِهِ مَنَ يَقَعُ بِهِ الْكِفَايَةُ سَقَطَ عَنِ الْبَاقِين
Pasal. Apabila terdapat khitab dengan lafadz umum maka masuk di dalamnya siapa saja yang kitab tersebut visible baginya dan perbuatan tersebut tidak gugur atas sebagian karena perbuatan sebagian (yang lain), kecuali apabila syara’ datang di dalamnya, dan Allah menetapkan bahwa khitab tersebut adalah fardhu kifayah. Seperti jihad, mengkafani jenazah, menshalatkan dan menguburkannya. Maka apabila kewajiban tersebut telah selesai ditunaikan oleh siapa saja yang mampu, gugurlah (kwajiban) tersebut atas yang lain ….

Artinya, menurut Imam Asy-syirazi, apabila fardhu kifayah itu jika belum selesai ditunaikan maka kewajiban tersebut masih tetap dibebankan diatas pundak seluruh mukallaf yang menjadi obyek khitab taklif. Syaikhul Islam Imam al-Hafidz an-Nawawi, dalam kitab Al-majmu’ Syarh Al-muhadz-dzab menjelaskan:

…وَغَسْلُ الْمَيِّتِ فَرْضُ كِفَايَةٍ بِاِجْمَاعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَمَعْنَي فَرْضُ الْكِفَايَةِ اَنَّهُ إِذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيْهِ كِفَايَةً سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْبَاقِينَ وَاِنْ تَرَكُوهُ كُلُّهُمْ اَثِمُوا كُلُّهُمْ وَاعْلَمْ اَنَّ غَسْلَ الْمَيِّتِ وَتَكْفِيْنِهِ وَالصَّلاَةِ عَلَيْهِ وَدَفْنِهِ فُرُوضُ كِفَايَةٍ بِلاَ خِلاَفٍ
Dan memandikan jenazah itu adalah fardhu kifayah berdasarkan ijma’ kaum Muslimin. Makna fardhu kifayah adalah apabila siapa saja yang pada dirinya ada kifayah (kecukupan untuk melaksanakan kewajiban tsb) telah melaksanakan maka akan menggugurkan beban atas yang lain. Namun apabila mereka semua meninggalkan kewajiban tersebut, mereka semua berdosa. Ketahuilah bahwa memandikan mayyit, mengkafaninya, menshalatinya serta menguburkannya adalah fardhu kifayah, tidak ada perbedaan pendapat (dalam hal ini).

Disini Imam An-nawawi menegaskan, apabila fardhu tersebut telah dikerjakan oleh siapa saja yang memiliki “kifayah” maka beban (kewajiban) tersebut gugur atas yang lain. Tapi, jika semua meninggalkan kewajiban tersebut, semuanya berdosa. Al-allamah Asy-Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-malibari menegaskan:

بَابُ الْجِهَادِ. (هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كُلُّ عَامٍّ) وَلَوْ مَرَّةً إِذَا كَانَ اْلكُفَّارُ بِبِلاَدِهِمْ، وَيَتَعَيَّنُ إِذَا دَخَلُوا بِلاَدَنَا كَمَا يَأْتِي: وَحُكْمُ فَرْضُ الْكِفَايَةِ أَنَّهُ إِذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيهِمْ كِفَايَةً سَقَطَ الْحَرَجُ عَنْهُ وَعَنِ الْبَاقِينَ. وَيَأْثَمُ كُلُّ مَنْ لاَ عُذْرَ لَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِنْ تَرَكُوهُ وَإِنْ جَهَلُوا
Bab Jihad. (jihad itu adalah fardhu kifayah setiap tahun) meski satu kali, apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka, dan menjadi fardhu ‘ain apabila mereka (menyerang) masuk di negeri kita, sebagaimana yang akan datang (pembaha-sannya); dan hukum fardhu kifayah itu adalah apabila fardhu kifayah tersebut telah dikerjakan oleh siapa saja yang memiliki “kifayah” maka akan gugurlah beban atas orang tersebut dan juga bagi yang lain. Dan berdosa atas setiap orang yang tidak udzur baginya dari kaum Muslimin apabila mereka meninggalkannya meski mereka bodoh

Disini Shahibu Fathil Mu’in menegaskan kembali apa yang dijelaskan oleh Imam An-nawawi. Beliau menambahkan catatan bahwa kaum Muslimin yang tidak ada udzur, tapi meninggalkan kewajiban tersebut berdosa.
Masih tentang fardhu kifayah, Syaikh Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi dalam kitab Nihayah Az-zain menjelaskan hal yang senada dengan yang dijelaskan oleh Imam An-nawawi. Namun beliau menambahkan bahwa yang melaksanakan kewajiban tersebut bisa jadi bukan orang yang terkena kwajiban. Beliau berkata:

بَابُ الْجِهَادِ أَيِ الْقِتَالِ فِي سَبِيْلِ اللهِ هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كُلُّ عَامٍّ إِذَا كَانَ الْكُفَّارُ بِبِلاَدِهِمْ وَأَقَلُّهُ مَرَّةً فِي كُلِّ سَنَةٍ فَإِذَا زَادَ فَهُوَ أَفْضَلُ مَا لَمْ تَدْعُ حَاجَةٌ إِلىَ أَكْثَرِ مِنْ مَرَّةٍ وَإٍلاَّ وَجَبَ لِبَعْضِ طَلَبِ الْجِهَادِ بِأَحَدٍ أَمْرَيْنِ إِمَّا بِدُخُولِ اْلإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ دَارَهُمْ بِالْجَيْشِ لِقِتَالِهِمْ وَإِمَّا بِتَشْحِيْنِ الثُّغُورِ أَيْ أَطْرَافِ بِلاَدِنَا بِمُكَافِئِينَ لَهُمْ لَوْ قَصَدُونَا مَعَ إِحْكَامِ الْحُصُونِ وَالْخَنَادِقَ وَتَقْلِيْدِ ذَلِكَ لِلأُمَرَاءِ الْمُؤْتَمِنِينَ الْمَشْهُورِينَ بِالشَّجَاعَةِ وَالنَصْحِ لِلْمُسْلِمِينَ وَحُكْمُ فَرْضُ الْكِفَايَةِ أَنَّهُ إِذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيهِمْ كِفَايَةً وَإِنْ لَمْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ فَرْضِهِ كَصِبْيَانٍ وَإِنَاثٍ وَمَجَانِينَ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنْهُ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِهِ وَعَنِ الْبَاقِينَ رُخْصَةً وَتَخْفِيفًا عَلَيْهِمْ بِفَرْضِ الْعَيْنِ أَفْضَلُ بِفَرْضِ اْلكِفَايَةِ كَمَا قَالَهُ الرَّمْلِي وَفُرُوضُ الْكِفَايَةِ كَثِيرَةٍ
Kitab Jihad. Maksudnya adalah perang di jalan Allah. Jihad itu adalah fardhu kifayah untuk setiap tahun, apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka. Paling sedikit satu kali dalam satu tahun, tapi apabila lebih tentu lebih utama, selama tidak ada kebutuhan lebih dari satu kali. Jika jihad tidak dilakukan maka wajib atas sebagian (kaum Muslimin) untuk mengajak jihad, dengan salah satu dari dua cara. Dengan masuknya Imam atau wakilnya ke negeri mereka (orang kafir) dengan tentara untuk memerangi mereka atau dengan memanaskan (situasi) perbatasan atau sudut-sudut (wilayah) negeri kita orang-orang yang kapabel untuk mereka, jika seandainya mereka, orang-orang kafir tersebut, bermaksud (menyerang) kita dengan adanya benteng atau parit dan dibawah kendali para pemimpin yang tidak diragukan yang masyhur dengan keberanian dan nasehatnya atas kaum Muslimin. Hukum jihad itu fardhu kifayah, karena apabila siapa saja yang memiliki kafa’ah mengerjakannya meski bukan yang termasuk yang diwajibkan seperti anak kecil, para wanita atau bahkan sukarelawan maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang diwajibkan. Sedangkan yang lain mendapat rukhshah serta keringanan. Fardhu ‘ain itu lebih utama dibanding fardhu kifayah, sebagaimana yang dinyatakan oleh (Imam) Ar-ramli. Fardhu kifayah itu banyak …

Alhasil, jika kita rangkum penjelasan para ulama’ diatas, fardhu kifayah itu meski tidak harus semua kaum Muslimin yang mukallaf wajib melaksanakan layaknya fardhu ‘ain tapi kewajiban tersebut harus dilaksanakan oleh jumlah yang memiliki “kifayah”. Itu pertama. Kedua, kewajiban tersebut dianggap terlaksana secara sempurna apabila telah sempurna ditunaikan. Contoh kewajiban merawat jenazah seorang Muslim yang dibebankan pada suatu komunitas. Kewajiban yang sifatnya fardhu kifayah tersebut dikategorikan selesai dilaksanakan apabila jenazah tersebut telah selesai dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan. Ketiga, bagi yang meninggalkan fardhu kifayah tanpa udzur berdosa, dan pelaksanaan fardhu kifayah itu tidak menutup kemungkinan dilaksanakan oleh yang tidak diwajibkan (karena konsekuensi pengabaian oleh orang yang wajib melaksanakan).
Nashbul khalifah, berdasarkan ibarah para ulama’ tersebut, adalah fardhu kifayah. Selama kewajiban tersebut belum ditunaikan secara sempurna maka kewajiban tersebut, tetap dibebankan diatas pundak seluruh mukallaf dari kaum Muslimin, dan meninggalkan kewajiban yang masuk kategori fardhu kifayah tanpa udzur adalah dosa.

Allah SWT tidak akan mentaklifkan sesuatu melebihi isthitha’ah hamba-Nya
Setelah kita simpulkan bahwa nashbul khalifah adalah fardhu kifayah atas kaum Muslimin, pembahasan berikutnya adalah isthitha’ah. Adalah suatu yang ma’ruf bahwa isthitha’ah kaum Muslimin itu berbeda satu dengan yang lain; pemahaman, tenaga maupun harta. Keberagaman ini kadang kala dijadikan hujjah oleh sebagian kaum Muslimin untuk menyatakan bahwa kaum Muslimin sekarang ini tidak mampu melaksanakan kewajiban tersebut. Benarkah?. Pengertian isthitha’ah (kemampuan). Allah Tabaraka wa Ta’ala ber-firman:
لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا (البقرة :286)
Imam al-Hafidz Abu Al-fida’ Ismail Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim menjelaskan:
وَقَوْلُهُ (الآية) أَيْ لاَ يُكَلَّفُ أَحَدٌ فَوْقَ طَاقَتِهِ …
Dan firman-Nya: (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya) adalah: bahwa tidak dibebankan pada seseorang melebihi kemampuannya.

Imam al-Qurthubi dalam Tafsirnya, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, men-jelaskan secara panjang lebar sebagai berikut:

التَّكْلِيْفُ هُوَ اْلأَمْرُ بِمَا يَشُقُّ عَلَيْهِ وَتَكَلَّفَتِ اْلأَمْرُ تَجَشَّمَتْهُ; حَكَاهُ الْجَوْهَرِي. وَالْوُسْعُ: الطَّاقَةُ وَالْجِدَّةُ. وَهَذَا خَبَرٌ جَزْمٌ. نَصَّ اللهُ تَعَالَى عَلَى أَنَّهُ لاَ يُكَلِّفُ الْعِبَادَ مِنْ وَقْتٍ نُزُولِ اْلآيَةِ عِبَادَةً مِنْ أَعْمَالِ اْلقَلْبِ أَوِ الْجَوَارِحِ إِلاَّ وَهِيَ فِي وُسْعِ الْمُكَلَّفِ وَفِي مُقْتَضِى إِدْرَاكِهِ وَبِنِيَّتِهِ; وَبِهَذَا اِنْكَشَفَتِ الْكُرْبَةَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ فِي تَأَوُّلِهِمْ أَمْرُ الْخَوَاطِرِ
Taklif itu adalah perintah untuk hal-hal yang memberatkan padanya dan (ungkapan) suatu perintah itu membebani artinya bahwa perkara tersebut telah membebaninya. Itulah yang dikemukakan oleh al-Jauhari. Sedangkan al-wus’u adalah kemampuan dan kesungguhan. Ini adalah informasi yang sifatnya pasti. Allah Ta’ala menegaskan bahwa Allah tidak mentaklifkan hamba sejak turunnya ayat tersebut dengan ibadah baik yang merupakan aktifitas hati atau anggota tubuh kecuali dalam batas kemampuan seorang mukallaf dan dalam lingkup pengetahuan serta niatnya. Dengan ayat ini terangkatlah kesusahan atas kaum Muslimin dalam menjelaskan hal-hal yang membahayakan.

Imam al-Baidhawi, dalam kitab tafsirnya, menjelaskan:

{لاَ يُكَلّفُ الله نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا} إِلاَّ مَا تَسَعُهُ قُدْرَتُهَا فَضْلاً وَرَحْمَةً، أَوْ مَا دُوْنَ مَدَى طَاقَتِهَا بِحَيْثُ يَتَّسِعُ فِيهِ طَوْقُهَا وَيَتَيَسِّرُ عَلَيْهَا كَقَوْلِهِ تَعَالىَ {يُرِيدُ الله بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ} وَهُوَ يَدُلُّ عَلىَ عَدَمِ وُقُوعِ التَّكْلِيفِ بِالْمُحَالِ
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya) Kecuali apa yang dalam cakupan kemampuannya, sebagai bentuk keutamaan dan merupakan rahmat (Allah), atau dengan pengertian lain apa yang tidak melebihi jangkauan kemampuannya, dalam arti bahwa taklif tersebut dalam lingkup kemampuan manusia serta memudahkannya, sebagaimana firman Allah: (Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu). Firman Allah tersebut menunjukkan bahwa taklif itu tidak jatuh pada hal yang mustahil (dilakukan).
Dalam tafsir Lubab At-ta’wil fi Ma’ani At-tanzil yang lebih dikenal dengan Tafsir al-Khazin dinukil riwayat jawaban Imam Sufyan ibn Uyainah ketika ditanya pengertian ayat diatas. Beliau berkata:

قَالَ: إِلاَّ يَسَرَهَا وَلَمْ يُكَلِّفْهَا فَوْقَ طَاقَتِهَا وَهَذَا قَوْلُ حَسَنٌ، ِلأَنَّ الْوُسْعَ مَا دُوْنَ الطَّاقَةِ وَقِيْلَ مَعْنَاهُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يُكَلِّفُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا فَلاَ يَتَعَبَّدُهَا بِمَا لاَ تُطِيقُ
Beliau berkata kecuali Allah akan memudahkannya dan Allah tidak mentaklifkannya melebihi kemampuannya dan ini adalah ungkapan yang bagus. Karena (kata) al-wus’u itu adalah apa yang tidak melebihi kemampuan. (Selanjutnya Imam Abu al-Hasan Ali bin Ibrahim bin Umar Asy-syaihi yang lebih dikenal dengan Al-khazin menjelaskan), juga dikatakan bahwa pengertian “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” adalah bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mentaklifkan pada manusia kecuali dalam batas kemampuannya, maka Allah tidak memerintahkan manusia untuk beribadah dengan hal-hal yang di luar kemampuannya.

Para mufassir terkemuka diatas telah memaparkan secara gamblang pengertian Surah Al-baqarah ayat 286. Benar, bahwa Allah telah menegaskan bi nash ash-sharih bahwa Dia tidak akan mentaklifkan pada hamba-Nya perkara yang diluar kemampuannya. Bahkan pada Surah at-Taghabun ayat 16, Allah SWT memerintahkan kita untuk bertaqwa sesuai dengan isthitha’ah kita. Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ … (التغابن: 16)
Imam Al-hafidz Ibnu Katsir menjelaskan:

وَقَوْلُهُ تَعَالَى فَاتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ أَيْ جُهْدُكُمْ وَطَاقَتُكُمْ كَمَا ثُبِتَ فِي الصَّحِيْحَينِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَائْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ
Dan firman-Nya Ta’ala: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” maksudnya adalah dengan kesungguhan dan kemampuan kalian, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam dua kitab shahih dari Abi Hurairah ra. Dia berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Apabila aku perintahkan kalian dengan suatu perintah maka tunaikan berdasarkan kemampuan kalian, sedangkan perkara yang aku larang untuk kalian maka jauhilah … “.

Inilah yang ditegaskan Allah SWT atas kita, Allah tidak mentaklifkan pada kita suatu perkara yang diluar batas kemampuan kita. Pertanyaannya adalah, apakah nashbul khalifah litathbiqi syari’atillah merupakan kewajiban yang diluar batas ke-mampuan kita? Memang, kalau kewajiban tersebut hanya dilaksanakan oleh individu-individu kaum Muslimin, tentu akan melampaui batas kemampuan mareka. Tapi bukankah kewajiban nasbu al-khalifah tersebut adalah fardhu kifayah? kewajiban yang dibebankan terhadap kita kaum Muslimin secara umum? Artinya, selama kewajiban tersebut belum tertunaikan maka kewajiban nashbul khalifah tetap dibebankan diatas pundak kita; seluruh kaum Muslimin. Jadi nashbul khalifah adalah kewajiban kita semua. Tidak sungguh-sungguh untuk nashbul khalifah, tanpa udzur syar’i, secara syar’i terkategorikan sebagai penelantaran kewajiban yang dibebankan Allah pada kita. Apatah lagi diam, menghambat atau bahkan melawan perjuangan tersebut.
Khulashatul qaul kewajiban nashbul khalifah adalah fardhu atas seluruh kaum Muslimin, dan yang mengabaikan hal tersebut tanpa udzur syar’i berdosa. Wallahu a’lam bi ash-shawab.