Presiden Otorita Palestina, Mahmoud Abbas melontarkan kecaman keras terhadap aktivis Islam, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menyusul sikapnya yang menolak kunjungan orang-orang Arab dan kaum Muslim ke al-Quds yang diduduki.

Surat kabar independen “Al-Masry Al-Youm” mengutip perkataan Abbas yang mengatakan: “Ketika al-Qaradhawi menyatakan bahwa pergi ke al-Quds haram, sesungguhnya dia itu tidak paham agama. Sebab Menteri Urusan Agama dan Wakaf Otorita Palestina, Mahmoud Habash membantahnya bahwa untuk pergi ke al-Quds disebutkan dalam al-Quran dan as-Sunnah. Bahkan ia berkata kepadanya, “Tunjukkan kepadaku dalil lain yang mengharamkan berkunjung ke al-Quds.” Sementara al-Qaradhawi tidak mampu menunjukkan dalilnya.

Abbas mengkritik seruan untuk tidak mengunjungi wilayah Palestina “dengan dalih normalisasi dengan Israel, serta tidak adanya visa dari Palestina”. Menurut Abbas bahwa “normalisasi itu dengan tahanan, dan tidak dengan sipir,” katanya.

Ia menambahkan: “Ketika saya sudah dapat mengeluarkan visa, maka saya tidak akan mengundang Anda, sedang sekarang saya butuh Anda. Sungguh, tidak ada artinya lagi Anda bersimpati dengan saya pada saat saya dalam keadaan damai dan tentram.”

Abbas mengatakan: “Cukuplah saya merasa bahwa Anda bersama saya ketika Anda datang kepada saya untuk memastikan kondisi saya, serta memberi dorongan moral dan spritual pada saya.”

Sungguh, ini bukan perdebatan pertama antara Abbas dan al-Qaradhawi. Sebelumnya, Abbas pernah juga mengecam al-Qaradawi karena tidak mau menarik fatwanya yang menyerukan agar Abbas dirajam di Ka’bah.

Abbas mengatakan bahwa fatwa itu datang sebagai respons partisan partai, bukan sebuah sikap ilmiah atau informasi faktual. Sehingga ia menyerunya untuk menyatakan secara terbuka penarikan fatwa ini. Bahkan ia memintanya untuk tidak campur tangan dalam arena politik tanpa informasi atau bukti.

Sebenarnya, akar konflik antara Abbas dan al-Qaradhawi sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, ketika keduanya sama-sama bekerja di Negara Qatar. Bahkan keduanya sering sekali konflik karena perbedaan pemikiran (alsiasi.com, 1/8/2010).

Iklan