Realitas Ramadhan Di Masa Nabi saw

Realitas bulan suci Ramadhan di masa Nabi saw dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Bulan Ramadhan tahun ke 2 Hijriyyah, Nabi saw dan para shahabat untuk pertama kali melaksanakan kewajiban puasa fardlu di bulan suci Ramadhan. Pada tahun yang sama, Nabi saw dan kaum Muslim menunaikan zakat fithrah dan mengerjakan sholat Iedul Fithriy untuk yang pertama kali.

2. Suasana Ramadhan di masa Nabi saw dipenuhi suasana ibadah, perjuangan, dan taqarrub kepada Allah swt. Nabi saw mendorong kaum Muslim untuk meningkatkan ibadah dan mengisi bulan itu dengan memperbanyak amal kebajikan. Pasalnya, syahr ash-shiyaam adalah bulan dimana Allah swt melipatgandakan pahala ibadah dan amal kebajikan kaum Muslim.

3. Tidak hanya memperbanyak mengerjakan ibadah-ibadah mahdlah saja, seperti sholat tarawih, membaca Al Quran, sedekah, dzikir, dan lain-lain, namun, bulan suci Ramadhan di masa Nabi saw juga diisi dengan aktivitas jihad untuk memerangi orang-orang kafir. Tanggal 17 Ramadhan 2 Hijriyah, Nabi saw dan para shahabat berperang melawan pasukan Quraisy di Badar (Perang Badar al-Kubra). Peperangan ini berhasil dimenangkan secara gemilang oleh kaum Muslim. Pada tanggal 10 Ramadhan 8 Hijriyah, beliau saw dan para shahabat menaklukkan kota Mekah.

Tradisi Ramadhan di masa Rasulullah saw terus dipelihara dan dilanjutkan hingga generas-generasi berikutnya.

Realitas Puasa Di Masa Khulafaur Rasyidin

Pada masa Khulafaur Rasyidin, suasana Ramadhan tidak ubahnya dengan suasana Ramadhan di era Nabi saw. Namun, wilayah kekuasaan Islam semakin meluas dan jumlah kaum Muslim semakin bertambah banyak. Suasana Ramadhan pun semakin marak dan pengaruhnya semakin menyebar ke seluruh penjuru dunia. Realitas di bawah ini setidaknya bisa menggambarkan suasana Ramadhan di masa Khulafaur Rasyidin.

1. Setiap akhir bulan Sya’ban dan Ramadhan, para shahabat memantau hilal untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan sebagaimana perintah Nabi Mohammad saw. [HR. Imam Abu Dawud]

2. Memulai dan mengakhiri puasa secara serentak pada hari yang sama untuk wilayah-wilayah dekat. Sedangkan untuk wilayah yang jauh dibiarkan mengawali dan mengakhiri puasa sama dengan pusat kota, dikarenakan adanya kesulitan dalam mendistribusikan informasi rukyat. [Kasyf al-Ghammah ‘An Jamii’ al-Ummah, juz 1/250]

3. Para Khalifah berkhuthbah di hadapan masyarakat pada malam pertama bulan Ramadhan. Jika malam pertama bulan Ramadhan telah masuk, Khalifah Umar bin Khaththab ra segera sholat Maghrib dan berkhuthbah di hadapan masyarakat. [Mushannaf ‘Abdur Razaq, juz 4/264]

4. Pada masa Umar bin Khaththab, kaum Muslim menyelenggarakan sholat tarwih di masjid secara berjama’ah dipimpin oleh seorang imam. Beliau juga mengirim surat kepada para wali agar mereka menyelenggarakan sholat tarwih secara berjama’ah di masjid. [Imam Nawawiy, al-Majmuu’, juz 3/527]. Adapun pada masa Nabi saw dan Abu Bakar ra, kaum Muslim mengerjakan sholat tarwih secara beragam, ada yang sendirian dan ada pula yang berjama’ah.

5. Umar bin Khaththab ra menyalakan pelita di masjid sepanjang malam pada bulan Ramadhan. [Imam Suyuthiy, Tarikh al-Khulafaa`, hal. 128]

6. Para khalifah dan kaum Muslim menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi shaa`imuun. Tidak hanya itu saja, mereka juga memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan. Umar bin Khaththab ra membangun sebuah rumah untuk tamu, orang yang kehabisan bekal di jalan, serta orang-orang yang membutuhkan. [Majalah al-Khilafah al-Islaamiyyah, hal. 7]

7. Mengkhatamkan al-Quran. Di bulan Ramadhan, para shahabat dan sebagian tabi’un mengkhatamkan al-Quran, selepas Isya’ hingga 1/4 malam. Dalam sehari mereka bisa mengkhatamkan al-Quran sekali atau dua kali. Utsman bin ‘Affan, Tamim ad Dariy, dan Sa’id bin Jabir mengkhatamkan al-Quran dalam waktu satu hari satu malam. Mujahid mengkhatamkan al-Quran antara waktu Maghrib dan Isya’, setiap malam bulan Ramadhan. Manshur bin Zadan mengkhatamkan al-Quran dari Dzuhur hingga Ashar, dan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan al-Quran antara Maghrib dan Isya’ sebanyak dua kali.[Imam Nawawiy, At Tibyan fi Adab Hamlat al-Quran, hal. 47-48]

8. Berburu lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sejak masa Nabi saw hingga sekarang, tradisi berburu lailatul qadar dengan cara i’tikaf di dalam masjid, dan memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah terus berlangsung dan terjaga. [Al-Mudawwanah al-Kubra, juz 1/237]

9. Mengeluarkan zakat fithrah dan menghidupkan malam Iedul Fithriy. Pada masa Nabi saw dan Khulafur Rasyidin, kaum Muslim mengeluarkan zakat fithrah pada pagi hari sebelum dilaksanakannya sholat Iedul Fithriy.

10. Melaksanakan sholat Iedul Fithriy di tempat tertentu. Pada masa Nabi saw dan khulafur rasyidin, sholat Iedul Fithriy dilaksanakan di lapangan terbuka di depan pintu masuk kota Madinah sebelah timur. Mereka tidak menyelenggarakan sholat Iedul Fithriy di dalam masjid. Namun, pada masa Umar bin Khaththab ra, kaum Muslim sholat Iedul Fithriy di dalam masjid di karenakan hujan. [Sunan Baihaqiy, juz 3/310]

11. Kaum Muslim bersuka ria dan mengisi Iedul Fithriy dengan aneka ragam permainan dan nyanyian yang mubah. [Ibnu Hazm, Al-Muhalla, juz 5/81]

Inilah realitas Ramadhan di masa Nabi saw dan Khulafaur Rasyidin. Dalam beberapa aspek, suasana Ramadhan di era Nabi dan Khulafaur Rasyidin masih bisa dijumpai dan dijaga hingga sekarang.

Namun, ada perbedaan penting Ramadhan sekarang dengan Ramadhan sebelum keruntuhan Khilafah Islamiyyah tahun 1924 Masehi. Sebelum tahun 1924 Masehi, kaum Muslim menjalankan ibadah puasa di bawah naungan Khilafah Islamiyyah dan kepemimpinan para khalifah yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga Islam dan kaum Muslim. Adapun sekarang, kaum Muslim harus melalui bulan Ramadhan di bawah naungan pemerintahan kufur dan pemimpin-pemimpin jahat yang mengatur urusan mereka dengan hukum-hukum kufur. Bahkan pemimpin-pemimpin itu rela menyerahkan harta dan nyawa kaum Muslim kepada musuh Islam dan kaum Muslim.

Semoga Ramadhan kali ini mampu mengubah yang buruk menjadi baik, dan mengubah yang baik menjadi lebih baik atas ijin Allah swt.