Misionaris terus mengembangkan berbagai cara memurtadkan umat Islam di tengah keterpurukan kaum Muslim di berbagai bidang kehidupan.

Kristenisasi tak pernah mati. Para misionaris selalu berusaha men-cari cara agar umat Islam meninggalkan agamanya atau minimal tidak lagi terikat dengan agamanya.

Dalam sebuah konferensi para Evangelis (kelompok gereja) akhir Juli lalu di California AS, mereka memaparkan strategi pemurtadan terhadap kaum Muslim. Seperti dikutip The Christian Today, Kepala Gereja Presbiterian asal Ghana, Dr John Azumah, mengungkap ada empat strategi ampuh untuk memurtadkan orang Islam.

Strategi pertama, umat Kristiani harus melakukan upaya untuk mengetahui seluk beluk Muslim. Kedua, untuk menarik hati orang-orang Islam, para misionaris harus bersikap seperti “sinar” dan bukan sebagai “lampu sorot.”

”Hentikan pendekatan dengan gaya lampu sorot dan jadilah lentera. Jangan langsung menembak dengan menggunakan ayat-ayat alkitab, tapi tariklah mereka (Muslim) dengan cara menunjukkan bahwa Anda mencintai mereka, setelah itu baru gunakan ayat-ayat alkitab, ” jelas Azumah.
Strategi ketiga, dengan cara berbagi pengalaman dan pengakuan pribadi. Cara ini, kata Azumah, sangat ampuh karena langsung melibatkan orang yang punya pengalaman pribadi. Keempat, menunggu perubahan. ”Anda mungkin punya sumber daya, punya pengetahuan, punya antusiasme, tapi tunggulah sam-pai Roh Kudus datang pada kalian. Ini adalah bisnis spiritual,” ujarnya.
Dedengkot Evangelis ini menyarankan agar umat Kristiani membuka jalan untuk lebih banyak berinteraksi dengan komunitas Muslim. ”Masuklah ke komunitas-komunitas Muslim, negara-negara Muslim dan dunia Muslim-pelajari budaya dan bahasa mereka, jangan paksa mereka untuk memahami bahasa Anda,” kata Azumah.

Kristenisasi didorong oleh dua motif. Pertama, motif agama. Dalam Kitab Perjanjian Baru, Markus: 28: 18-19, disebutkan: “Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Ayat ini menjadi acuan keharusan menyebarkan Kristen ke seluruh dunia. Yang menjadi sasaran dalam motif ini ialah setiap penduduk bumi yang non-Kristen.

Kedua, motif ideologis. Dalam hal ini kristenisasi menjadikan Islam dan umatnya sebagai sasaran utama.  Kardinal Lavie Garry menyatakan bahwa agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itu para misionaris berharap agar seluruh kaum Muslim menjadi Kristen. Meskipun para misionaris juga menyebarkan ajaran mereka di kalangan Budha dan Hindu.

Kekalahan dalam Perang Salib membuat Kristen menaruh dendam kesumat terhadap Islam. Perang Salib juga menjadi inspirasi bagi lahirnya ‘Perang Salib baru’. Lutfi Liqunian, seorang penulis Kristen, menulis, “Eropa dalam Perang Salib menggunakan pedang, sekarang menggunakan penyebaran paham sebagai cara untuk mencapai maksud-maksudnya. Dengan Perang Salib baru ini, Eropa ingin mencapai tujuannya tanpa pertumpahan darah. Dalam usahanya ini, Eropa memanfatkan gereja, sekolah-sekolah, dan rumah sakit serta menyebarkan misionaris mereka.”

Raymond Lull adalah orang Kristen pertama yang mengumandangkan kristenisasi menyusul kekalahan pada Perang Salib. Menurutnya, cara untuk menaklukkan dunia Islam bukanlah dengan kekuatan senjata atau kekerasan, melainkan dengan kata, logika, dan kasih.

Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen, menyatakan, “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslimin sebagai seorang Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam agar jadi orang yang tidak berakhlak sebagaimana seorang Muslim. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu.” Strategi inilah yang berhasil meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah.

Kelemahan Umat
Keberhasilan misi Kristen di dunia Islam tidak lepas dari beberapa faktor. Pertama, faktor ideologis. Umat Islam sangat lemah dalam memahami fikrah (pemikiran/ide) Islam dan metode menerapkan pemikiran tersebut di tengah-tengah kehidupan mereka. Tak bisa dimungkiri ada persoalan akidah, baik yang kabur maupun lemah dalam memahami masalah paling mendasar ini. Akidah Islam hanya dipahami sebagai akidah ruhiyah (ritual) semata dan terlepas dari akidah politik yang menjadi landasan hubungan sesama manusia. Akibatnya, Islam pun dipahami secara sempit dan tidak menyeluruh (kaffah).

Faktor kedua yakni ketiadaan Daulah Khilafah Islam. Tanpa institusi politik Islam ini hukum-hukum Allah tidak bisa ditegakkan secara kaffah. Akibatnya, berbagai problema muncul di tengah-tengah umat seperti kemiskinan, kebodohan, pengangguran, disintegrasi, konflik horizontal, dan sebagainya. Prob-lem inilah yang dimanfaatkan oleh para misionaris untuk menggerogoti akidah umat Islam. Kaum Muslim tak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak memiliki pelindung sejati yang membentengi mereka.

Solusi
Menyimak faktor tersebut, tidak ada lain solusi masalah Kristenisasi ini yaitu tegaknya kembali Daulah Khilafah. Adanya khilafah akan menjamin berbagai kebutuhan pokok rakyat (sandang, pangan, dan papan). Negara juga berkewajiban memenuhi kebutuhan dasar rakyat seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan.

Lebih dari itu, khilafah akan menjaga dan melindungi akidah umat. Khilafah tidak akan membiarkan para misionaris berkeliaran menyebar virus akidah di tengah kaum Muslimin, kendati mereka tetap diperbolehkan menjalankan agama mereka.  Negara tak akan segan menghukum mati orang-orang murtad yang tak mau kembali kepada Islam.

Karena itu, hanya negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah yang bisa membendung arus Kristenisasi. Tidak ada alternatif lainnya.[] mujiyanto

 

Gold, Glory, dan Gospel

Kristenisasi tak bisa dilepaskan dari imperialisme. Kristen ke Indonesia bersamaan dengan masuknya para penjajah baik itu Portugis maupun Belanda. Kedatangan para penjajah itu selain untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia, menguasai wilayahnya, juga ingin mengkristenkan penduduknya.

Hj Irena Handono, pakar kristologi, menegaskan keterkaitan tersebut. Bertebarannya penjajah ke berbagai negeri Muslim mengemban misi ekonomi, politik, dan agama. Bagi Barat, menjadikan dunia sebagai komunitas Kristen merupakan bagian dari perintah agama.

Penguasaan politik suatu bangsa akan memungkinkan penjajah bisa dengan leluasa mendapatkan semua yang diinginkannya baik ekonomi maupun budaya termasuk menanamkan agama baru bagi rakyat yang dijajahnya.

Tipologi penjajahan Barat tidak berubah sejak dulu. Semboyan 3G yakni gold, glory, dan gospel terus menjadi pegangan. Kemenangan menguasai wilayah (the Glory), mengeruk kekayaan alam sebesar-besarnya (the Gold), dan penyebaran agama Kristen di seluruh tanah jajahan (the Gospel) merupakan prinsip yang tak pernah ditinggalkan. Semua itu bisa diraih Barat melalui penjajahan secara langsung (kekuatan militer) maupun tidak langsung. Pendudukan secara tidak langsung menggunakan tangan Multi National Corporation (MNC).

Jadi kegiatan misionaris tidak lepas dari aktivitas imperialis negara-negara Barat yang rakus untuk menguasai dunia Islam, memecah belahnya, dan mencegah kebangkitan Islam secara politik. http://www.mediaumat.com

Iklan