Syabab.Com – Dalam hitungan detik, selepas seorang mahasiswi mengakhiri orasinya yang menggelora, lebih dari 1200 mahasiswi berdiri dari duduknya dan  “koor” meneriakkan sebuah kata yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya akan merinding hingga  membuat nafas berhenti sejenak.

“KHILAFAH!!! KHILAFAH!!!! KHILAFAH!!!”, kata-kata itulah yang membumbung berkali-kali ke angkasa intelektual pembangun peradaban bangsa. Sebuah harapan dan solusi atas berbagai persoalan dan masa depan negeri ini. Itulah gegap gempita para intelektual muda Muslimah dalam Konferensi Mahasiswi Jawa Barat (KMJB), Selasa, 07/12/2010.

KMJB diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Jawa Barat dan dan Keputrian DKM (Dewan Keluarga Masjid) Universitas Padjajaran bekerjasama dengan LDK-LDK di kampus Bandung yang berada dalam jaringan BKLDK.

Momen ini diselenggarakan untuk menjadi salah satu ajang reposisi, agregasi dan maksimalisasi potensi  intelektual mahasiswi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan civitas akademika kampus dan kalangan intelektual lainnya dalam melakukan perubahan di tengah masyarakat menuju Indonesia yang lebih baik dengan Islam.

Selain itu, konferensi ini juga ditujukan untuk meneguhkan tanggung jawab kalangan intelektual, terutama intelektual muda dan khususnya mahasiswi untuk memberikan kontribusi dalam upaya menuju Jawa Barat dan Indonesia bangkit dan mandiri dengan menjadikan Islam sebagai landasan pergerakannya.

KMJB 2010 dihadiri oleh Ibu Gubernur Jawa Barat, Hj. Netty Prasetiani Heryawan untuk memberikan Keynote Speech serta didukung juga oleh Rektor Universitas Padjajaran, Prof. Ganjar Kurnia, Ir.,D.E.A yang memberikan dukungannya pada acara ini, meskipun beliau berhalangan hadir.

Seruan intelektual mahasiswi pun silih sahut menyahur dalam orasi yang diwakili oleh 5 mahasiswa  yang berasal dari Unikom, UPI, UIN Sunan Gunung Djati, ITB, dan UNPAD. Mereka menyuarakan apa yang terjadi dengan Jawa Barat dan Indonesia serta solusinya.

Sementara itu, Intellectual Speech disampaikan oleh Dr. Hendri Saparini ( Direktur Econit),  Prof. Dr. Ina Primiana (Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), Indira S. Rahmawaty, S.IP., M.Ag.( Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri  Sunan Gunung Jati Bandung), dan Ustadzah Iffah Rahmah ( Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia).

Dalam keynote speechnya, ibu Hj. Netty Prestiani Heryawan memaparkan  bahwa acara ini harus berkontribusi positif dan kongkrit untuk kebangkitan Jawa Barat yang memiliki karunia sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang berlimpah.

Beliau  menyatakan bahwa kelompok muda  yang terbukti menjadi penggerak dalam berbagai perubahan, memiliki kesempatan besar untuk melakukan perbaikan Jawa Barat baik secara struktural maupun kultural di Jawa Barat.
Usai Keynote Speech dari ibu Gubernur Jawa Barat  dilanjutkan  dengan orasi  mahasiswi yang disampaikan dengan semangat bergelora dan menggemakan aula Graha Sanusi Hardjadinata.

“Islam punya solusi tuk mengentaskan segala permasalahan umat,” cetus  seorang mahasiswi beralmamater abu-abu. Sang calon guru teladan yang mewakili UPI ini berteriak dengan lantang meyakinkan semua peserta yang hadir di aula bersejarah Universitas Padjadjaran.

“Para pemuda yang menjadi tulang punggung peradaban bangsa kini hidup bagaikan anai-anai di tengah angin deras. Calon pemimpin bangsa masa depan  kini kelimpungan membuat skenario perjalanan hidup mereka. Sahabat, kita adalah pendidik bangsa yang dengan tangan kita, mulut kita, tenaga kita, harta kita harus bisa merubah skenario perjuangan para calon pemimpin bangsa. Allahu Akbar!!!”

“1430 tahun yang lalu, pemimpin kita, Rasulullah saw telah mempelopori terjadinya sebuah mega revolusi yang mempengaruhi dunia . Napoleon Bonaparte telah memulai revolusinya pada usia 26 tahun. Sang idola kita, sang pembebas kota Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih melakukannya di usia 24 tahun. Lalu di usia Anda sekarang, apa yang telah Anda lakukan untuk sebuah revolusi? Apa yang telah anda berikan untuk perubahan? Perubahan yang mana yang harus kita perjuangkan? Jawabannya tentu adalah perubahan yang mengarah kepada kebenaran dan kehidupan yang lebih baik. Saat ini, sampai kapan pun kebenaran itu pasti bernama ISLAM,” tegas seorang perwakilan mahasiswi ITB dalam orasinya.

“Islam sebagai way of life adalah sistem yang sempurna. Mengatur segala aspek dimulai dari sosial, politik, budaya, pendidikan, ekonomi. Khilafahlah yang akan membungkan Amerika dan antek-anteknya. Untuk itu, tegaknya syariah dan khilafah merupakan hal yang urgen. Perlu diingat walaupun memperjuangakan ide, tapi harus diperjuangkan dengan damai tanpa aksi anarkis. Rasulullah saw. Menempuh jalan damai, jalan tanpa kekerasan dalam menuju perubahan,” ujar salah seorang mahasiswi perwakilan dari UNPAD

“Sudah tiba saatnya kita rapatkan barisan dan perjuangan demi tegaknya syariah dan khilafah. Insya allah, hari ini menjadi bukti akan adanya mahasiswi islam yang rela berkorban demi tegaknya syariah dan khilafah,” tegasnya lagi.

Dr. Hendri Saparini mengawali pembicaraannya dalam intelectual speech dengan meberikan apresiasi terhadap acara KMJB sebagai acara yang luar biasa atau tepatnya diluar kebiasaan karena hanya konser musiklah yang biasanya mampu menarik mahasiswa yang berjumlah ribuan.

Dr. Hendri menegaskan bahwa masalah yang dihadapi Jawa Barat sejalan dengan masalah yang dihadapi Indonesia secara umum, kemiskinan, penganggguran, dll. “Jika kita ingin berkontribusi untuk membawa Indonesia dan Jawa Barat keluar dari masalah ini, maka kita harus memahami kenapa kita berkontribusi. Untuk memahami kenapa kita berkontriibusi maka kita harus mengetahui dan memahami fakta dan setelah itu kita harus mengetahui solusinya.”

Menurutnya, solusi akan sangat tergantung pada ideologi atau paradigma yang akan digunakan. Ideologi inilah yang harus ditegaskan, termasuk oleh para mahasiswi.  Para mahasiswi tidak hanya menjadi intelektual semata tapi harus menjadi pejuang intelektual.

Intelectual speech berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr.Ina Primiana yang menjelaskan bahwa Jawa Barat harus mengubah leading sector industriya. Prof. Ina menunjukkan bahwa mahasiswi memiliki peluang untuk memajukan daerahnya masing-masing dengan mengetahui potensi daerah serta melakukan positioning terhadap potensi daerahnya tersebut.

Indira S.Rahmawaty., S.IP., M.Ag pada Intellectual Speech selanjutnya menyampaikan tentang potensi, energi dan kekuatan besar yang dimiliki mahasiswi harus dihadapkan pada liberalisasi pendidikan yang mengerdilkan potensi kampus termasuk potensi mahasiswi. Karena dengan liberalisasi kampus terjadi komodifikasi pendidikan, pendidikan dianggap sebagai barang dagangan. Kampus juga seringkali menjadi tempat  untuk melahirkan pemikiran yang mengamini kebijakan kapitalis. Ini adalah realitas yang harus diubah oleh para mahasiswi,sebuah realitas yang menghalang hadirnya kebangkitan.

Intellectual Speech ditutup dengan orasi yang disampaikan oleh Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Ustadzah Iffah Rahmah yang menyampaikan bahwa ideologi Islamlah yang akan mengantarkan pada kebangkitan. Ideologi Islam yang diemban sebuah sistem Khilafah.

Menurutnya, para mahasisiwi sudah semestinya melakukan sosialisasi ideologi Islam ini secara massif, memberikan gambaran setiap sub system dalam sistem Islam mulai dari pemerintahan, ekonomi, social dan lainnnya. Beliau menutup Intellectual Speechnya dengan memberikan dorongan agar generasi muda Muslimah ini dapat bekerja keras, bersusah payah dalam upaya membangkitkan umat ini.

Lebih dari 1.200 mahasiswi hadir dalam KMJB ini. Mereka berasal dari berbagai kampus di Jawa Barat, di antaranya adalah dari UNPAD, ITB, IPB,  UPI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Unikom, Unisba, kampus-kampus di Cianjur, Sukabumi, Purwakarta, Subang, Cimahi,  Sumedang, Cirebon, Indramayu, Ciamis, Banjar, Tasikmalaya, dan daerah-daerah lainnya.

Dalam acara ini, disampaikan pernyataan sikap mahasiswi Jawa Barat yang berisi pandangan mahasiswi Jawa Barat tentang masalah yang terjadi di Jawa Barat dan analisis terhadapnya. Pernyataan ini ditutup dengan sebuah keyakinan bahwa sikap yang harus diambil oleh mahasiswi dan oleh seluruh masyarakat dalam melakukan perubahan menuju Jawa Barat dan Indonesia yang bangkit adalah dengan syariah dan Khilafah.

Acara yang diselenggarakan bertepatan dengan tahun baru 1432 Hijriah ini diakhiri dengan penandatangan pernyataan sikap oleh mahasiswi dari berbagai Universitas yang ada di Jawa Barat. Semoga, semua ini menjadi cikal bakal kebangkitan generasi muda, khusunya muslimah menuju kehidupan Islam. Amin! [m/dk/mup/syabab.com]