Bangsa Indonesia yang suka dipuji menjadi celah bagi Obama untuk meninabobokkan penduduknya.

Presiden Barack Obama tidak sendiri. Selain istrinya, Michelle, ia ternyata membawa sekitar 200 orang wartawan. Untuk apa? Tentu bukan sekadar merekam perjalanannya. Kehadiran wartawan tidak lain untuk menginformasikan langkah-langkah Obama di luar negeri yang akan berdampak bagi kepentingan rakyat Amerika.

Pengamat ekonomi Hendri Saparini menjelaskan, setiap Presiden Amerika yang berpidato di luar Amerika tujuannya bukan untuk masyarakat yang didatanginya. Dia sebenarnya sedang menyatakan kepada dunia dan kepada rakyat Amerika bahwa ia telah melakukan suatu kebijakan politik tertentu. “Sebenarnya kita tidak dapat apa-apa dari pidatonya itu,” kata Hendri kepada Media Umat.

Kedatangan Obama ke Indonesia, lanjut Direktur Econit Advisory Group ini, tak akan berdampak pada kesejahteraan rakyat Indonesia. Toh fakta menunjukkan, rakyat justru dibuat tak nyaman selama kedatangan Obama. Ada atau tidak ada Obama kondisi tak berubah.

Aneh bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut rakyat Indonesia menanti kedatangan Obama. “Kedatangan Presiden Obama sangat dinantikan rakyat Indonesia,” kata SBY dalam pidatonya di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11).

SBY pun mengatakan, kedatangan Obama yang pertama kali ini merupakan kehormatan bagi rakyat Indonesia. Rasanya hanya segelintir orang yang merasakan itu yakni orang-orang yang selama ini menetek ke Amerika. Mereka adalah para elite politik yang sedang berkuasa dan yang kebelet berkuasa serta kaki tangan Amerika di berbagai sektor.

Tim Obama sepertinya pa-ham betul dengan karakter orang Indonesia yang suka di-puji. Sejak di Istana Merdeka hingga di UI, Obama mencoba memuji keberhasilan Indonesia diselingi kekagumannya terha-dap beberapa jenis kuliner Indo-nesia seperti bakso, sate, dan nasi goreng.

Di sela itu ia mengajari Indonesia berdemokrasi. Demokrasi yang hasilnya amburadul seperti sekarang, menurut Obama, merupakan sebuah proses yang harus dijalani. Ia menandaskan demokrasi butuh lembaga yang kuat untuk mengontrol pemusatan kekuatan, butuh pasar terbuka, butuh pers dan sistem peradilan yang independen, serta butuh masyarakat terbuka.

Inilah racun yang disematkan secara halus. Indonesia diharuskan mau membuka pasarnya lebih terbuka. Persnya harus bebas dan masyarakat yang tidak terkungkung dalam sebuah nilai tertentu. Fakta menunjukkan, justru inilah yang menyebabkan berbagai krisis dan kerusakan masyarakat yang terjadi saat ini.

Dalam skala global, ekonomi terbuka justru remuk dan tak mampu bertahan menghadapi krisis karena dipermainkan para kapitalis global. Ini sangat berbeda dengan Cina yang tak mau mengikuti pola yang dikembangkan oleh kapitalisme global. Saat ini Cina menjadi negara paling kuat dari sisi ekonomi dan kekuatannya sangat mengkhawatirkan Amerika dan Barat pada umumnya. Kini Amerika berusaha keras menekan Cina agar mau membuka proteksi mata uangnya demi dominasi Amerika di kawasan Asia.

Obama pun tanpa rasa malu mengatakan Amerika me-miliki sumbangsih terhadap sebagian dari rakyat Indonesia yang merasakan kemakmuran. ”Tumbuhnya kelas menengah di sini juga berarti timbulnya pasar bagi produk-produk kami seperti juga Amerika merupakan pasar bagi Indonesia,” kata Obama.

Padahal orang Indonesia tahu, Amerika-lah yang mengeruk dan menikmati kekayaan alam Indonesia. Bahkan Timika yang menjadi pusat emas dan tembaga, rakyatnya menderita. PT Freeport, perusahaan Amerika, seolah menutup mata terhadap kondisi itu. Indoenesia pun hanya kebagian 1 persen dari royalti emas yang didapatkan Freeport. Sebelum tahun 1978, Freeport hanya melaporkan tambang tembaga. Emasnya diembat.

Apa yang diterima Indonesia dari Amerika justru sangat merugikan Indonesia. Bahkan kebijakan bagi hasil Amerika ini jauh lebih buruk dibanding tanam paksa yang dilakukan rezim penjajahan Hindia Belanda pada abad ke-19. Saat itu Belanda masih menyisihkan 20 persen hasil panen untuk petani miskin di Jawa. Dalam buku Ekspedisi Jalan Raya Pos terbitan Penerbit Buku Kompas disebutkan, 60 persen hasil petani diambil oleh birokrasi lokal. Hanya 20 persen yang dikirim ke negeri Belanda. Meski tidak manusiawi, porsi yang diberikan penjajah Belanda masih lebih baik dibandingkan hasil yang diberikan AS kepada Indonesia. Anehnya, kontrak karya yang jelas-jelas merugikan itu malah dipertahankan oleh para penguasa Indonesia.

Obama yang dikenal memiliki retorika pidato yang baik ini pun kembali mengulang apa yang pernah disampaikannya di Kairo, Mesir. ”Saya telah menegaskan bahwa Amerika tidak sedang memerangi, dan takkan terlibat perang dengan Islam. Namun, kita semua harus menghancurkan Al-Qaida dan antek-anteknya. Siapapun yang ingin membangun tak boleh bekerja sama dengan teroris,” kata Obama.

Faktanya? Sudah lebih dari sejuta orang di Irak tewas. Mereka bukan anggota Al Qaida. Mereka sebagian besar adalah warga sipil tak berdosa. Fakta yang sama terungkap di Afghanistan. Tentara Amerika secara membabi buta membunuh rakyat sipil di sana. Fakta ini tak terbantahkan sama sekali karena beberapa waktu lalau laman Wikileaks mengungkap kekejaman tersebut. Di Palestina, Amerika membiarkan Israel membunuhi warga sipil baik anak-anak maupun wanita.

Dalam masalah Palestina, Amerika mengajukan solusi dua negara. Ini berarti pengakuan eksistensi Israel sebagai negara penjajah. Obama menyebut bangsa Palestina dan Israel sedang memulai perundingan untuk itu. Nyatanya yang diakui sebagai bangsa Palestina hanyalah faksi Fatah. Hamas yang menang pemilu secara demokratis tidak diakui, malah diperangi.

Begitulah Amerika dan Obama. Mengemas racun seolah menjadi madu. Jangan tertipu![] humaidi

 

Rakyat: Emang Gue Pikirin

Begitu antusiasnya pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono menyambut Barack Obama, seolah itu mewakili denyut nadi rakyat Indonesia. Nyatanya bagi rakyat jelata, mau ada Obama mau tidak, mereka tak peduli. Emang Gue Pikirin alias EGP, begitu dalam bahasa gaulnya. Toh mereka tetap susah.
“Obama mau datang atau ndak yo monggo,” ujar Suratman ketika ditemui Media Umat di Pusat Kota Yogyakarta, di hari kedatangan Presiden AS itu ke Indonesia. Yang penting baginya adalah bagaimana mencari makan untuk menyambung nyawa.

Saat Obama dijamu SBY, Suratman mengaku sudah dua hari belum makan. Selama itu ia berkeliling Yogyakarta untuk mencari pekerjaan. Beberapa tempat seperti rumah makan dan restoran dihampirinya untuk menawarkan sebagai seorang pencuci piring. Tapi semua menolak dengan alasan umur. Padahal untuk pulang ke Gunung Kidul, lelaki 49 tahun pun tak punya ongkos.

Mirip dengan Suratman, pengusaha Jamur Tiram asal Cirebon Ade Mulyawan (35), mengatakan, kedatangan Obama tidak akan membawa pengaruh apa-apa. “Selama ini kan kita tidak pernah diuntungkan. Kalaupun mereka (AS-Indonesia) menjalin kerja sama tidak akan berpengaruh terhadap usaha budidaya jamur saya. Yang diuntungkan malah orang-orang yang punya proyek, ya perusahaan-perusahaan besar itu,” katanya.

Usaha kecil seperti miliknya selama ini tak dapat perhatian. Mau pinjam modal untuk usaha saja harus ada bunganya. “Kalaupun ada bantuan kredit dari pemerintah, jatahnya terbatas, belum lagi pengurusan yang rumit,” paparnya. Ia hanya berharap negeri ini tak ada lagi krisis seperti sebelumnya sehingga tidak mengancam usaha kecilnya.[] emil/joy

 

Iklan