Jakarta – Para politisi di DPR ternyata banyak yang mengidap hedonisme politik, yakni berpolitik demi kenikmatan sesaat. Suatu kecenderung politik menuju kebanalan dan kedangkalan.

Para akademisi dan pengamat melihat, sebagian politisi DPR terlalu berlebihan dalam memandang keindahan sehingga terperosok ke dalam lembah hedonisme yakni berlebih-lebihan dalam mencintai keindahan termasuk perempuan sehingga mengalami penyimpangan.

“Kecenderungan kepada kepicikan, kenikmatan hedonis dan nafsu pada kemewahan adalah fakta menguatnya hedonisme di kalangan politisi kita. Mereka emoh hidup sederhana, dan justru gemar mengumbar kemewahan. Hasrat menikmati pornografi, membangun gedung DPR yang megah dan boros adalah hedonisme politisi demi kepentingan sesaat,” kata pengamat sosial dan dosen UIN Jakarta Nanang Tahqiq MA, Selasa (12/4).

Menurutnya, salah satu pihak yang potensial menjadi korban politik pencitraan kelas tinggi adalah para pelakunya sendiri. Hedonisme adalah praktek bersenang-senang secara liar tanpa peduli nasib orang lain. Filsafat hedonisme tak kenal baik dan buruk kecuali mencandu kepuasan sedalam-dalamnya.

Sementara hedonisme politik adalah praktek menguras habis, memanfaatkan, memanipulasi, dan mencampakkan kepatutan, hanya demi mencapai ekstase (kesenangan) tanpa batas.

“Isu gedung baru, membuat politisi kerap dicap berulah hedon belakangan ini dan mereka nampak menjadi politisi hedonis, baik dalam perilaku, gaya hidup, maupun aktivitas korupsinya,” ujarnya.

Biasanya kecenderungan kepada hedonisme berpangkal kepada kepribadian seseorang. Misalnya, kesombongan dan egoisme adalah penyebab kecenderungan seseorang kepada kehidupan mewah. Politisi sombong akan selalu membanggakan kekayaan dan kedudukan yang dimilikinya untuk menunjukkan keunggulannya atas orang lain. Inilah hedonisme berbasis kekayaan dan kedudukan.

Persaingan tidak sehat untuk menunjukkan kemewahan terkadang menimbulkan perasaan dengki dan iri. “Mereka mengira bahwa cara menunjukkan kelebihan atas orang lain adalah dengan cara bersaing yang hedonis seperti ini,” kata Nanang Tahqiq, alumnus pasca sarjana McGill University, Kanada.

Secara terpisah, pengamat politik Ray Rangkuti melihat, para politisi yang hedonis memandang rendah kepada orang lain secara status. Pandangan ini sudah tentu akan menyebabkan jurang yang dalam antara mereka dengan orang lain.

“Dalam mengumpulkan harta dan barang-barang mewah mereka akan dikuasai oleh sifat ketamakan. Orang seperti ini tidak akan bersedia memberikan harta mereka kepada orang lain,” ujarnya.

Hedonisme politisi adalah awal dari sesat pikiran dan merosotnya akhlak di kalangan politisi: Ini sebuah gejala menuju kehancuran, bukan? (inilah.com, 12/4/2011)