(Muhammad Al-Fatih, Berkuasa: 855 – 886 H)

Disaat-saat terakhir hidupnya, Muhammad Al-Fatih berwasiat kepada anaknya. Yang berisi sebuah ungkapan jujur, tentang: jalan, nilai, dan prinsip hidup yang diyakininya. Wasiat ini pun merupakan harapan agar para Khalifah penggantinya mampu menempuh jalan kokoh, sebagaimana Muhammad Al-Fatih lalui.

Muhammad Al-Fatih berkata:
Sebentar lagi, Ayah akan meninggal. Tapi tiada yang mesti disesali, sebab Ayah meninggalkan orang sepertimu sebagai pengganti. Jadilah engkau orang adil, shalih dan penyayang; berikan rakyat perlindungan tanpa pandang bulu; bekerjalah untuk penyebaran Islam, karena itu kewajiban para penguasa di bumi; utamakan kepentingan Agama diatas segalanya, jangan pernah lemah melaksanakannya; jangan engkau angkat oknum-oknum pendosa besar, senang maksiat, perbuatan keji, dan pejabat yang tidak mau mementingkan Agama; hindari bid’ah perusak, termasuk jauhi orang-orang yang mendorong perbuatan itu; perluaslah perbatasan negeri dengan jihad, lindungi baitul mal (kekayaan negara) dari penjarahan; jangan merampas harta seorangpun dari rakyatmu kecuali karena hukum Islam, sediakan kebutuhan pokok mereka, berikan (zakat) dan hormati para mustahiq.
Sungguh, Ulama laksana benteng kokoh pelindung tubuh negara, maka muliakan, berada-lah disamping mereka dan dukung mereka. Jika suatu saat mendengar seorang Ulama yang ada di luar negeri, maka mintalah ia datang, sembari hormati Ulama itu dengan hadiah dari hartamu.
Berhati-hatilah terhadap harta dan sebidang tanah yang penuh tipu daya; jangan sampai para Ahli Syariah menjauhi pintumu; jangan pula kamu condong menyimpang dari hukum syariah, sebab Agama adalah tujuan, hidayah jalan hidup kita, karena itu kita senantiasa mendapat kemenangan.
Camkan pelajaran ini: Negeri ini dulu seperti semut kecil, lalu Allah memberiku nikmat yang besar (dengan takluknya Konstantinopel), teguhlah dan ambil jalanku; bersungguh-sungghuhlah memuliakan Agama ini dan hormati Ahlinya, jangan keluarkan anggaran negara untuk kemewahan dan foya-foya, terlampau banyak pengeluaran dari yang dibutuhkan merupakan sebab kehancuran.

Sumber:

Ad-Daulah al-‘Ustmaniyah: Awamil an-Nuhud wa Asbab as-Suqut.

Ali Muhammad Muhammad Shalabi.

As-Sulthan Muhammad al-Fatih: Fatih al-Qusthanthiniyah wa Qahir ar-Rum.
Abdussalam Abdul Aziz Fahmi.

Iklan