KANTOR JURUBICARA
HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Nomor: 206/PU/E/07/11 Jakarta, 22 Juli 2011/20 Sya’ban 1432 H

PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Tentang

KUNJUNGAN MENLU AS HILLARY CLINTON

Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli kemarin tiba di Indonesia setelah lawatan dua hari ke India. Ia akan mengambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli ini. Ia juga akan bertemu dengan para menteri luar negeri dari Pertemuan Puncak Asia Timur (EAS), untuk mempersiapkan bagi keikutsertaan Presiden Barack Obama untuk pertama kalinya dalam pertemuan puncak 18 negara itu pada November mendatang. Dalam lawatannya ke Indonesia, Hillary Clinton juga akan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri Lower Mekong Initiative (LMI) keempat dengan para menteri luar negeri dari Kamboja, Laos. Thailand dan Vietnam. AS juga akan mengadakan pertemuan tiga pihak dengan Jepang dan Korea Selatan. Pada 23 Juli, Hillary Clinton akan memimpin delegasi AS ke Forum Regional ASEAN ke-18 untuk membicarakan masalah keamanan regional, dan menyampaikan pidato pembukaan pada Pertemuan Puncak Entrepreneurship Regional yang pertama pernah diadakan. Dan pada hari berikutnya, kepala diplomat AS itu akan bertemu dengan Menlu Indonesia Marty Natalegawa untuk membicarakan masalah penting bilateral, regional dan global.

Sebagaimana dinyatakan secara resmi, bahwa kunjungan Menlu Hillary Clinton ini tidak lain adalah untuk menunjukkan komitmen terus-menerus AS dalam peningkatan keterlibatan strategis di Asia Tenggara dan dengan Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Menolak kunjungan Menlu AS Hillary Clinton ke Indonesia. Sebab, setiap langkah diplomatik pejabat tinggi AS ke negara lain, termasuk ke Indonesia dan kawasan ASEAN, tidak lain adalah untuk makin mencengkeramkan pengaruh AS sebagai negara imperialis di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur yang memang sangat strategis bagi kepentingan politik dan ekonomi AS.

2. Menyerukan kepada pemerintah dan rakyat Indonesia untuk juga menolak kunjungan itu. Sebab, Amerika adalah negara penjajah yang nyata-nyata tengah menjajah berbagai negara, yaitu Irak, Afghanistan, juga Libya dan lainnya. Bila hal ini tidak dilakukan, maka para pejabat telah bertindak sebagai hamba dari negara penjajah itu karena telah membiarkan negeri ini juga menjadi mangsa negara imperialis AS. Hal ini jelas merupakan kebijakan yang sangat membahayakan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia sehingga tidak boleh dibiarkan begitu saja.

3. Menegaskan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk berjuang bersama-sama bagi tegaknya kembali syariah dan khilafah karena hanya dengan penerapan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Rasyidah sajalah, negara ini akan benar-benar merdeka baik secara ideologis, politik, ekonomi dan militer serta terhindar dari cengkeraman negara imperialis seperti yang saat ini terjadi.

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto

Hp: 0811119796 Email: Ismailyusanto@gmail.com

Iklan