Wajah Sayed Jamil terlihat murka, saat menceritakan bagaimana tentara Amerika Serikat di pangkalan militer Bagram membakar puluhan Qur`an, yang memicu kemarahan rakyat Afghanistan dan Muslim di berbagai belahan dunia.

Buruh di Bagram berusia 22 tahun itu ingat bagaimana tiga orang prajurit Amerika mengabaikan permintaan dia dan teman-temannya agar puluhan Qur`an itu tidak dibakar.

Insiden itu bermula saat tiga orang berseragam militer AS –satu wanita dan dua pria—tiba pada hari Senin lalu dengan sebuah truk membawa sejumlah barang-barang dan buku-buku agama.

Saat kendaraan itu berhenti di gerbang utama, seorang buruh lain bernama Wali melihat ke belakang bak truk di mana terdapat sejumlah Qur`an yang kemudian dibuang ke dalam oven untuk dibakar.

Pembakaran itu berlangsung sekitar lima menit.

“Saya siap untuk menumpahkan darah dan terbunuh atau dibunuh.” Kata Jamil kepada Reuters yang mewawancarainya di sebuah ruangan dekat pangkalan udara Bagram.

Para buruh yang diberitahu Wali tentang barang-barang di truk itu, bergegas menuju tempat oven untuk menghentikan pembakaran.

“Kami mengatakan kepada sopirnya, semua itu adalah barang-barang relijius dan bertanya mengapa mereka membakarnya. Orang-orang Amerika itu mengatakan bahwa barang-barang itu berasal dari penjara dan mereka diperintahkan untuk membuangnya,” kata Jamil, dikutip Reuters, Kamis (23/02/2012).

Para buruh pria itu kemudian memasukkan tangan mereka ke dalam oven, berusaha untuk menyelamatkan kitab-kitab suci tersebut. Beberapa orang bahkan terbakar jemarinya, saat berhasil menarik keluar delapan salinan al-Qur`an.

“Teman-teman berkerumun dan berteriak ‘Allahu Akbar’ sambil memeluk Qur`an yang terbakar itu ke dada mereka,” cerita Jamil.

“Truk itu kemudian meninggalkan lokasi dengan hampir separuh Qur`an yang tersisa di dalamnya,” kata Jamil.

Awalnya, kata Jamil, prajurit AS itu berkata lewat penerjemah bahasa, “Kami tidak mengingkan Qur`anmu, ambil dan bawa pergi.”

Tetapi kemudian, penerjemah yang disebut Jamil sebagai ‘pencuci anjing Afghanistan’ itu mengatakan kepada para prajurit AS itu, “Jika kalian membiarkan buku-buku ini keluar, maka akan menjadi bencana.”

Para buruh Afghanistan yang berhasil mendapatkan beberapa salinan Qur`an itu, kemudian berhasil membawanya keluar. Mereka menceritakan tentang kejadian di dalam pangkalan militer itu kepada orang-orang yang dijumpainya.

Takut ‘dilenyapkan’

Meskipun telah melakukan hal yang berani dengan menyelamatkan kitab-kitab suci al-Qur`an itu, Jamil dan teman-temannya khawatir akan keselamatan jiwa mereka.

Para buruh Afghanistan itu takut menjadi target penculikan dan pembunuhan oleh pasukan Amerika Serikat dan NATO.

Namun, mereka mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak, termasuk dari kalangan pemerintah.

“Tak ada seorang pun yang dapat menyentuh kalian, kawan. Seluruh rakyat Afghanistan berpihak kepada kalian. Jangan takut,” kata seorang pejabat pemerintah, dikutip Reuters.

Qur`an yang berhasil mereka selamatkan telah diserahkan kepada pemerintah sebagai bukti. Tindakan para buruh Afghanistan yang bekerja di pangkalan militer Bagram itu pun mendapat pujian dari Presiden Hamid Karzai. (hidayatullah.com, 24/2/2012)

Iklan