Oleh: Sa’id al-As’ad – Palestina

 

Penerapan Islam merupakan perkara Agama yang pasti (ma’lum min ad-din bi ad-dharurah), dua kubu kaum muslim tidak berbeda pendapat terkait hal tersebut –baik yang pro tadarruj/bertahap maupun yang kontra. Memang terdapat ikhtilaf dan kesimpang siuran dalam memahami kebolehan tadarruj (bertahap) dalam penerapan hukum-hukum Islam –baik hal tersebut bertujuan baik maupun tidak–, hal demikian terjadi akibat analogi atas bertahapnya pensyariatan pengharaman sebagian hukum Islam, seperti pengharaman khamer yang pada mulanya diharamkan hanya pada waktu shalat, selanjutnya khamer tersebut diharamkan total dalam semua kondisi. [1]

Sekali lagi, meski terdapat kesimpang siuran, namun semua sepakat hanya Islam saja yang mesti diterapkan dan bukan yang lain. Kami memperhatikan seruan untuk bertahap dalam penerapan hukum Islam ini, karena rasa khawatir terhadap sebagian gerakan Islam yang terjerumus dalam bahaya tersebut, yang berakibat menjauhkan Islam sedikit demi sedikit dari pintu kekuasaan, dan akhirnya rela sebagian gerakan Islam tersebut masuk dalam tampuk kekuasaan tapi tanpa Islam.

Sejatinya, hal tersebut adalah perangkap tipudaya negara-negara kafir, yang akan melelahkan dan menipu gerakan-gerakan tadi, meski diantara gerakan tersebut akhirnya mencari kepastian di tengah jalan, namun itu sia-sia, karena gerakan itu tidak akan sampai pada Islam, dan juga umatnya tidak mungkin sampai pada kebahagiaan dan ketentraman dalam naungan Pemerintahan Islam.

Masalah tadarruj (bertahap) dalam penerapan hukum-hukum Islam tidak memiliki dalil baik dari al-Quran maupun as-Sunnah, ditambah lagi dengan terdapatnya banyak nash yang sangat jelas menunjukan kewajiban penerapan Islam baik secara global maupun terperinci, tanpa ada pengurangan atau pengabaian meski satu hukum pun. Allah swt berfirman:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 49)

 

Dalam ayat ini terdapat ta’kid (penegasan) untuk “berhukum” berbentuk redaksi (bil lafzhi), yakni bentuk redaksi umum yang menunjukan penegasan menyeluruhnya penerapan semua hukum Islam, dan dirangkai dengan berurutannya ta’kid yang berfungsi ‘penghilangan kehendak untuk meragukan’ atau ‘melemahkan jiwa’. Jadi ayat tersebut mempunyai dua penegasan:

Pertama, ta’kid (penegasan) untuk menggunakan hukum Allah swt dengan dilalah umum (Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah), artinya semua hukum yang diturunkan Allah swt secara lengkap tanpa pengurangan.

Kedua, ta’kid (penegasan) untuk “berhati-hati” terhadap fitnah, yaitu ketiadaan penerapan sebagian apa yang diturunkan Allah swt. Perhatikanlah firman Allah swt berikut:

 

Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (QS. Al-Maidah: 49)

 

Syara’ menetapkan fitnah (bahaya) semacam ini mesti diwaspadai, begitu juga para penyeru dan pengikutnya, yaitu mereka pengikut hawa nafsu Setan yang berwujud manusia. Disamping itu terdapat pula tiga ayat yang berfungsi sebagai peringatan tentang hukum yang tidak berdasarkan apa yang diturunkan Allah swt, peringatan tersebut dinyatakan dengan tiga tingkatan: fasik, zhalim dan kufur. Semuanya menunjukan satu maksud, yaitu tidak berhukum dengan apa yang Allah swt turunkan: Barangsiapa tidak memutuskan perkara (berhukum) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir, zhalim dan fasik.[2]

Penegasan ini sangat jelas maksudnya, yaitu semua apa yang diturunkan Allah swt dengan menggunakan redaksi mâ al-maushul (kata sambung), karena termasuk bagian dari lafadz umum dalam bahasa al-Quran yang disepakati, begitu pula terdapat banyak ayat yang menegaskan wajib berhukum dengan apa yang Allah swt turunkan, ditambah terdapat tuntutan agar ridha, pasrah dan rela dengan hukum Allah swt tersebut dan tuntutan untuk membenci terhadap pengganti hukum Allah swt, bahkan pengganti hukum Allah itu disebut sebagai thaghut yang disembah selain Allah swt:

 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa: 60)

 

Semua ayat ini dengan jelas dan pasti menunjukan tuntutan berhukum dengan apa yang diturunkan Allah swt, terlebih jika digabungkan dengan firman Allah swt:

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

 

maka semakin mempertegas, bahwa kondisi seorang mukmin wajib patuh (terhadap hukum Allah swt), mereka tidak punya pilihan sedikitpun. Tindakan selain itu, dianggap sebagai fitnah (hal yang berbahaya) dan penyimpangan yang nyata, hal ini berdasarkan firman Allah swt:

 

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan (musibah di dunia) atau ditimpa azab yang pedih (di akhirat). (QS. An-Nuur: 63) [3]

 

Jadi tidak ada peluang bagi selain hukum Allah swt., tidak ada juga pengganti bagi hukum Allah swt, maupun alasan lain sedikitpun.

Adapun pendapat tentang kebolehan tadarruj (bertahap) dalam penerapan hukum syara’, sebenarnya pendapat demikian tidak memiliki argumentasi atau dalil, bahkan dalil yang mereka duga akan mendukung pendapatnya, justru malah membantah bolehnya bertahap dalam penerapan hukum. Pendapat yang mereka nyatakan itu merupakan pembenaran bagi perbuatan mereka yang menyimpang dari syariah tanpa dalil. Sedang dalil yang membantah bertahap dalam penerapan hukum sangat jelas, sebagaimana terdapat dalam riwayat Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya:

 

أنه عندما قدم وفد ثقيف ليفاوضوا رسول الله صلى الله عليه وسلم سألوه: «أَنْ يَدَعَ لَهُمْ الطّاغِيَةَ، وَهِيَ اللاتُ، لاَ يَهْدِمُهَا ثَلَاثَ سِنِينَ فَأَبَى رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ، فَمَا بَرِحُوا يَسْأَلُونَهُ سَنَةً سَنَةً وَيَأْبَى عَلَيْهِمْ حَتّى سَأَلُوا شَهْرًا وَاحِدًا بَعْدَ مَقْدَمِهِمْ، فَأَبَى عَلَيْهِمْ أَنْ يَدَعَهَا شَيْئًا مُسَمّى، وَإِنّمَا يُرِيدُونَ بِذَلِكَ فِيمَا يُظْهِرُونَ أَنْ يَتَسَلّمُوا بِتَرْكِهَا مِنْ سُفَهَائِهِمْ وَنِسَائِهِمْ وَذَرَارِيّهِمْ وَيَكْرَهُونَ أَنْ يُرَوّعُوا قَوْمَهُمْ بِهَدْمِهَا حَتّى يَدْخُلَهُمْ الإِسْلامُ فَأَبَى رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ إلا أَنْ يَبْعَثَ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ وَالْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ فَيَهْدِمَاهَا ، وَقَدْ كَانُوا سَأَلُوهُ مَعَ تَرْكِ الطّاغِيَةِ أَنْ يُعْفِيَهُمْ مِنْ الصّلاةِ وَأَنْ لا يَكْسِرُوا أَوْثَانَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَمّا كَسْرُ أَوْثَانِكُمْ بِأَيْدِيكُمْ فَسَنُعْفِيكُمْ مِنْهُ وَأَمّا الصّلاةُ فَإِنّهُ لا خَيْرَ فِي دِينٍ لا صَلاةَ فِيهِ «

Ketika utusan Bani Tsaqif datang bernegosiasi dengan Rasulullah saw, mereka meminta membiarkan patung Lata agar jangan dulu dihancurkan selama tiga tahun, namun Rasul saw menolak permintaan tersebut, mereka terus menerus memohon kepada Baginda saw, agar membiarkan Patung Lata setahun saja, Rasul saw tetap menolak permohonan tersebut, hingga akhirnya mereka hanya meminta sebulan saja selepas kedatangan mereka. Rasulullah saw tetap menolak permohonan yang telah mereka ajukan. Sebenarnya utusan Bani Tsaqif itu menghendaki menampakkan ke-Islaman, namun mereka ingin tetap aman dan selamat meski meninggalkan orang-orang bodoh (lemah), para wanita dan keturunan mereka, utusan Bani Tsaqif itu pun tidak senang –dengan menghancurkan Lata– khawatir membuat takut kabilahnya, kecuali jika Islam masuk ke semua orang di kabilahnya. Rasul saw tetap menolak permohonan utusan Bani Tsaqif, akan tetapi Rasul saw mengutus Abu Sofyan dan Al-Mughirah bin Syu’bah untuk menghancurkan patung Lata milik Bani Tsaqif itu. Sebenarnya maksud lain permohonan Bani Tsaqif untuk membiarkan Patung Lata, agar mereka diberi keringanan untuk tidak melaksanakan Shalat dan tidak usah menghancurkan Patung-patung (sesembahan mereka) dengan tangan mereka sendiri. Maka terkait hal ini, Rasulullah saw bersabda: Urusan penghancuran patung-patung oleh tangan kalian hal demikian kalian diberi keringanan (sehingga kalian tidak usah menghancurkan oleh tangan kalian sendiri), adapun perkara Shalat (ia merupakan kebaikan bagi Agama ini) karena tanpa shalat, tidak akan ada kebaikan dalam Islam.[4]

 

Dalil ini merupakan bukti –dan begitupun bagi yang mengikuti pendapatku, merupakan bantahan atas konsep tadarruj.

Sedangkan apa yang digunakan oleh sebagian pihak, tentang bertahap dalam tasyri’ (pensyariatan) yang mereka anggap sebagai bertahap dalam penerapan hukum, yang mereka sandarkan pada hukum pengharaman khamer. Sejatinya hal itu (hukum pengharaman khamer) konteksnya tasyri’ bukan dalam hal penerapan (at-tathbiq), karena sangat berbeda sekali antara konteks tasyri dan penerapan hukum.

Pada dasarnya hukum Allah swt yang diperintahkan kepada kita, seketika itu juga mesti diterapkan dan dengan dibarengi ketundukan, meski hal demikian berat bagi diri kita, Allah swt berfirman:

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)

 

Disini terdapat dalalah, yang menunjukan bahwa syara’ terkadang tidak datang dengan perkara yang disenangi jiwa dan juga bukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya, namun syara’ datang sebagai perkara yang memberi maslahat manusia sesuai yang Allah swt perintahkan.

Dan jika tidak demikian maka bagaimana dengan puasa Ramadhan, Allah swt mensyariatkannya sebulan penuh, namun tidak bertahap dengan membebani diri sedikit demi sedikit, dimulai dari tiga hari lalu seminggu, lalu sepuluh hari begitu seterusnya, bukankah puasa lebih berat ketimbang (larangan) khamer menurut pandangan banyak orang?

Demikian pula berperang dijalan Allah swt, yang membawa beban namun sangat kontras dengan urutan yang nampak pada pengharaman khamer, kaum mukmin diperintahkan dipermulaan perang untuk memerangi sepuluh kali lipat dari jumlah mereka, kemudian diringankan sekedar menjadi dua kali lipat dari jumlah mereka. Jadi jika perintah bertahap (tadarruj) itu ditunjukan dengan meringankan (at-takhfif) maka inilah bantahan keras atas pembebanan hukum dari yang berat kemudian bertahap menuju beban yang ringan. Dalam konteks ini artinya syara’ tidak menjadikan kondisi dan beban berat yang menghadang kaum muslim dalam peletakan awal negara mereka sebagai alasan pembenaran bertahap (dalam penerapan hukum), bahkan yang ada malah sebaliknya, hal demikian merupakan hikmah yang sangat membekas dalam membangun Daulah Islam, dan juga dalam mengokohkan umat dengan jalan halangan, rintangan dan kekuatan. Ini merupakan ayat yang membantah dengan keras terhadap orang-orang pengusung dan pelaku konsep bertahap dalam penerapan hukum Islam.

Lain halnya jika memahami ayat-ayat tadi dari aspek tasyri’ sebagai sebuah keringanan (at-takhfif), dalam membina atau melatih jiwa untuk terikat dengan keta’atan, lalu dituntut melaksanakan dan menerapkan pada dua perkara tadi (misal: hukum shaum & jihad) dalam berbagai keadaan, secara pasti dan tegas, dengan segera, sama saja apakah konteks tasyri hukum itu bertahap maupun sekaligus. Karena itu, tasyri’ (pensyariatan) adalah kewenangan Allah swt, sedang pelaksanaan adalah kewajiban kita dalam rentang waktu yang memang tidak ada hubungan dengan tasyri’, baik keringanan dan pembebanan, atau dari berat kemudian menuju keringanan, itu semua urusan Allah swt semata, bukan urusan manusia sedikitpun. Sedang peran kita adalah melaksanakan sesuai yang diperintahkan dan tanpa membantah lagi.

Ini dari aspek perbedaan antara tasyri dan penerapan. Adapun dalam konteks penerapan (hukum) dalam Daulah Islam, Pemerintahan hingga tataran individu, Rasulullah saw menolak bertahap dalam pelaksanan hukum Islam, begitupun termasuk juga individu-individu yang kami bicarakan, yang mereka memeluk Islam –terkait masalah meminum khamer sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam konteks tahapan tasyri’. Bahkan Baginda saw menerapkan (hukum Islam) sekaligus secara umum, penerapan tersebut dilakukan pada negeri yang telah ditaklukan sebelumnya, baik Tha’if, Yaman maupun Bahrain, begitu seterusnya. Hal tersebut berdasarkan dalil yang telah disebutkan, tentang permohonan utusan Bani Tsaqif kepada Rasul saw agar beliau mengizinkan bertahap dalam menerapkan hukum kepada mereka, berkaitan dengan sembahan patung maupun meninggalkan shalat, jawaban Rasul saw kepada utusan Bani Tsaqif adalah agar mereka menerapkan hukum sekaligus dan menolak tegas bertahap dalam penerapannya.

Semua ini adalah dalil yang jelas, pasti, tegas dan nyata, terkait ketidak bolehan bertahap dalam penerapan hukum, bahkan wajib untuk menerapkannya secara revolusioner (perubahan total), mendasar dan menyeluruh. Rasulullah saw pun telah berpesan kepada para sahabatnya yang akan memerintah negeri-negeri agar mereka berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul saw, dengan gambaran menyeluruh dan umum, tanpa bertahap dalam penerapan hukum. Hal ini juga menunjukan suatu kepastian (dalalah qati’ah) menerapkan hukum dengan jalan revolusioner, mendasar dan menyeluruh, bagi negeri yang sebelumnya tidak dalam kekuasaan Islam, penerapan tersebut tidak boleh bertahap meski hanya satu hukum pun tanpa memperhatikan lagi segala kondisi apapun.

Sedangkan terkait masalah ar-Rukhshah (dispensasi), sebetulnya masih dalam cakupan kewajiban yang sempurna terhadap hukum syara’, dalam perkara yang diperkenankan keringanan dari hukum asalnya, dan tidak ada hubungan dengan bertahap dalam penerapan hukum, karena hukum asalnya masih berlaku terhadap individu yang terkena cakupan kondisinya.

Ini semua terkait dengan ketentuan mendasar syara’, tentang larangan bertahap dalam penerapan syariah dan keberadaan satu satunya metode Islam dalam menerapkan hukum. Metode tersebut sesuai ketentuan nash-nash syara’, dan ditunjukan oleh perbuatan Rasulullah saw, karena itu Baginda saw senantiasa meminta agar para gubernur dan amilnya berjalan diatas metode ini, yakni metode revolusioner (perubahan total), mendalam dan menyeluruh, dalam kesempatan ini Abu Bakar as-Siddiq ra menyatakan:

 

وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عِقَالاً كَانُوا يُؤَدُّونَهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عليه

Demi Allah, seandainya mereka enggan membayar zakat kepadaku, meski hanya tali kekang (unta), sebagaimana mereka telah menunaikannya kepada Rasulullah saw, maka aku akan memerangi mereka. (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, al-Baihaqi dll)

 

Adapun masalah situasi dan kondisi internal, masalah prioritas, pengaturan rumah tangga, ketenangan, kepuasan jiwa, tidak terpancing emosi oleh masyarakat sekitar, ramah dalam menyambut orang lain, dan kepedulian… semua itu tidak dibangun dari dalil, hal itu merupakan kekuasaan penciptaan Allah swt, bukan ini tempat ittiba (meneladani), artinya perkara itu adalah sesuatu yang memang menyelisihi (pengecualian) dari perkara pokok yang sudah pasti, yakni keberadaan Islam sebagai risalah lengkap dan sistem yang sempurna, didalamnya terdapat solusi untuk memperbaiki semua kondisi, secara global maupun rinci, bagi setiap kondisi dan keadaan.

Bukankah Islam datang kepada (lingkungan) Jahiliyah yang kaafah dan Islam merubahnya dengan hukum-hukumnya dalam bidang yang menyeluruh.??!

Bukankan keberadaan pemerintahan Islam merupakan tahapan penerapan menyeluruh, ketika masyarakat membangunnya dengan pemikiran, opini umum, sehingga hukum menjadi lengkap dari aspek penerapan menyeluruh bagi semua masalah dan kepentingan secara sekaligus. Dalam arti pemerintah bertugas mengatur urusan masyarakat langsung berdasar hukum Islam?!

Kehendak untuk merubah sistem dan menyia-nyiakannya karena mahkota adalah sebuah ambisi yang ditolak Islam, meski itu dilakukan tanpa ikut serta dan bertahap dalam penerapan hukum.

Dalam sirah, diriwayatkan bahwa, ketika Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah menerima nushrah Islam untuk pemerintahan secara lengkap tanpa bertahap (penerapan hukum), tapi (mereka mengajukan syarat) pemerintahan speninggal Nabi saw mesti menjadi milik mereka, Rasul saw menolak penawaran tersebut, padahal itu adalah peluang yang sangat dibutuhkan. Jadi Rasul saw tidak menerima satu syarat pun, maka bagaimana sekiranya jika disyaratkan pada Beliau saw untuk condong menerapkan sebagian hukum, dengan pembenaran tadarruj (bertahap) agar bisa diterima? Ini berarti, penolakan atas disfungsi hukum Islam secara global karena alasan bertahap lebih utama (untuk ditolak) daripada penolakan pada sebuah syarat yang hanya mencegah metode Islam dalam meraih kekuasaan.

Islam meliputi sistem aturan bagi semua interaksi masyarakat, semua segi kehidupan, baik level individu, keluarga, komunitas, masyarakat atau hubungan umat Islam dengan bangsa lain… Perkara ini menunjukan tidak ada peran bagi seorang pun untuk mencari solusi ideologis selain dari hukum yang telah Allah swt pilih. Maka bagaimana dengan seorang mengemban dakwah, yang mendakwahi manusia, yang ia memiliki kemampuan, argumen, jalan dan kekuasaan, dan juga ketakwaannya pada Allah swt semata yang mendorong manusia menyembah karena Allah, begitu juga peringatan mereka terhadap siapapun yang menyelisihi hukum dan larangan-Nya, juga bagi yang tersesat dan yang bingung? [5] Bagaimana wajah kita dikala menemui Allah swt pada hari Kiamat sedang kita membaca firman Allah swt:

 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3)

 

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Yusuf: 40)

 

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)

 

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.  (QS. An-Nisaa: 65)

 

Dengan (ayat-ayat) inikah kita bersiul dan menyeru orang yang berada diatas mimbar, termasuk mereka yang senantiasa ada di acara-acara perayaan? Kemudian jika terdapat sesuatu yang memerlukan keseriusan dan upaya, kita katakan: dengan tahapan dan koalisi sayap kiri, bertahap menerapkan hukum temporer?!

Bagaimana bisa, kita mengharuskan orang agar menolak riba sedangkan kita membolehkan ketelanjangan dan menanggalkan kerudung?!

Dan bagaimana bisa, kita melarang suap sedang kita membiarkan campur baur (wanita & lelaki) bersama lawakan cabul?! [6]

Bagaimana bisa, kita membiarkan partai-partai tegak bukan berdasar Islam menyeru dengan semua kekufuran dan ateisme di negeri kita ini?! Maka apakah kita rela dan menerima di beberapa ibukota besar, seperti Mesir, Baghdad, Damaskus, Tunisia, Maroko, (termasuk Indonesia) disana sini dinaungi oleh perzinahan majelis (parlemen) yang sengsara, yang disana Islam tidak mampu menang melawan kekufuran, sehingga Islam & kekufuran seolah-olah bersaudara dalam kekuasan yang Allah swt karuniakan??!!

Jika terdapat larangan bertahap dalam penerapan hukum Islam, dan hal tersebut dinyatakan sebagai penyimpangan terhadap metode Islam dalam penerapan hukum, yakni penyimpangan dari metode perubahan total, mendasar dan menyeluruh. Maka bagaimana bisa (mereka) mengambil sebagian hukum Islam bersama hukum kufur, dianggap sebagai bertahap dalam penerapan hukum Islam, padahal nyatanya, bertahap itu adalah menerapkan sebagian dari Islam dan sebagian dari Kekufuran, dimana Syara’ menyatakan berhukum dengan seperti ini adalah kefasikan dan kekufuran?!!!

Sesungguhnya thariqah Islam adalah metode spesifik yang memiliki corak khusus dalam kehidupan, tidak menerima percampuran dengan yang lain, Islam adalah kebenaran dan selainya adalah kebatilan, sedang kebenaran menolak ikut serta bersama kebatilan bahkan (kebatilan) akan dilenyapkan sebagaimana ketentuan Allah swt:

 

Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). (QS. Al-Anbiya: 18)

 

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. Al-Israa: 81)

 

Maksud ayat tersebut sangat jelas, Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (QS. Al-Kafirun: 1-2)

 

Hukum Islam bagi rakyat, penguasa, bahkan bagi terdakwa dijamin oleh asal yang kuat, dibangun berdasarkan sabda Rasul saw berikut:

 

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ؟… لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Apakah kamu meminta syafaat dalam hudud Allah? … sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya (HR. al-Bukhari & Muslim)

 

Wahai para pelaku dakwah, para syaikh, dan para da’i gerakan Islam, ambilah Islam seluruhnya, jangan kalian tinggalkan satu hukum pun meski hanya se-ayat. Siapa yang menghendaki Islam sebagaimana ketentuan Allah, dan berupaya sesuai langkah-Nya, maka ia adalah mukmin, wajib baginya menerapkan hukum Islam seketika tanpa memilah dan memilih. Perhatikan firman Allah yang mengguncang jiwa berikut:

 

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebagian AlKitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 85)

 

Maka hati-hati dengan ke-Islaman kalian dan bergegaslah berhukum secara menyeluruh dan serentak, dengan sebuah metode yang wajib, yakni metode revolusioner (inqilabiyah), mendasar dan sempurna; metode yang menolak bersekutu dengan kekufuran dan kebatilan apapun kondisi dan alasannya. Allah Azza wa Jalla memerintahkan beribadah sesuai perintah-Nya, tidak dengan keinginan nafsu kita. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Maka sungguh demi Allah karena inilah manusia memilih kalian (umat Islam), demikian mereka mengharapakan kalian, seandainya mereka menginginkan ikut serta (dalam sistem kufur) dan bertahap (menerapkan Islam), jangan biarkan mereka melangkah meski hanya sejengkal tanah.

Sesungguhnya umat Islam akan berkondisi baik, jika mereka mengimani al-Quran secara keseluruhan, rela dengan hukum dan mau diatur dengan keputusan-Nya; Mereka juga seharusnya tidak boleh sedikitpun membiarkan eksistensi berbagai kelompok baik di timur maupun barat, yang bertujuan untuk menyebarkan bahaya kapitalisme dan memandulkan solusi (syariah) mereka, jika mereka tidak melakukan hal tersebut, maka makna dibalik keikut sertaan, bertahap dan tahapan (dalam menerapkan hukum) tidak lain adalah menerima hukum kufur dan hidup dengan sebagian hukum kufur itu sebagai ganti hukum Islam yang agung.

Maka bertakwalah kepada Allah swt dalam urusan Agama dan kehadiran kalian dalam kekuasaan, sungguh Allah telah mencabut kekuasaan itu dari oknum-oknum pemuja hukum kufur. Maka orang yang menerima sebagian hukum kufur, sejatinya kondisinya tidak lebih baik ketimbang orang terdahulu yang kekuasaannya telah Allah musnakan, Allah swt telah memutuskan perkara ini, dikala turun firman-Nya:

 

Apakah kamu beriman kepada sebagian AlKitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 85)

 

Akhirnya, nasihat yang tulus disampaikan, kepada setiap orang yang berjuang untuk kebaikan Islam, yang menghendaki hukumnya, dan yang berharap ridha Allah untuk kebahagiaan dunia-akhirat, hendaknya mereka tidak menerima pengabaian meski hanya 0,1 % dari satu bagian hukum Islam, janganlah menggunakan hukum kufur meski sekecil apapun, mudah-mudahan kita bisa menghadapi kematian dalam kondisi taat pada Allah, karena hal demikian adalah lebih baik dan lebih kekal ketimbang kehidupan dunia yang berlumur maksiat, Imam at-Thabrani meriwayatkan hadits dalam kitabnya al-Kabir, dari Muadz bin Jabal ra, dari Rasulullah saw bersabda:

“خُذُوا الْعَطَاءَ مَا دَامَ عَطَاءً، فَإِذَا صَارَ رِشْوَةً فِي الدِّينِ فَلا تَأْخُذُوهُ، وَلَسْتُمْ بِتَارِكِيهِ، يَمْنَعْكُمُ الْفَقْرَ وَالْحَاجَةَ، أَلا إِنَّ رَحَى الإِسْلامِ دَائِرَةٌ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ دَارَ، أَلا إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ، أَلا إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَقْضُونَ لأَنْفُسِهِمْ مَا لا يَقْضُونَ لَكُمْ، إِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ، وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ”، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ:”كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرَ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ”

Ambilah oleh kalian pemberian selama masih menjadi hadiah, jika sudah berubah menjadi suap dalam Agama maka jangan diambil, selama kalian tidak mengambil suap maka kefakiran dan kebutuhan akan terhindar dari diri kalian, ingatlah medan (pertempuran) Islam senantiasa berputar, maka berputarlah (istiqamah) bersama al-Kitab dikala berputar, ingatlah al-Kitab dan kekuasaan kelak akan terpisah, maka janganlah kalian memisahkan al-Kitab, ingatlah kelak akan ada para penguasa yang memimpin kalian, para penguasa itu memutuskan bagi diri mereka sendiri yang berbeda dengan keputusan terhadap kalian, jika kalian menentang (kejahatan) mereka maka mereka membunuh kalian, dan jika ditaati maka mereka akan menyesatkan kalian.” Para Sahabat bertanya, wahai Rasulullah saw apa tindakan yang mesti kami dilakukan jika mendapati masa tersebut? Rasulullah saw menjawab: “Bertindaklah seperti para pengikut Isa bin Maryam, mereka disiksa dengan gergaji dan digantung di atas kayu (karena konsisten dalam kebenaran), kematian dalam ketaatan kepada Allah swt lebih baik ketimbang hidup tapi bermaksiat kepada Allah[7]

 

Allah swt berfirman:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”. Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am: 161-163)

 

 

Sumber:

 

Al-Wa’ie edisi Arab No.302, Tahun ke-27, Rabiul Awwal 1433 H/ February 2012

 

(http://www.al-waie.org/issues/302/article.php?id=1112_0_85_0_C)

 


[1] Judul Asli:  الدعوة إلى التدرج في تطبيق أحكام الإسلام بدعة وفتنة مهلكة

[2] Lihat Surat Al-Maidah, ayat: 44, 45 & 47

[3] Makna Fitnah dalam ayat ini adalah: Ujian, Musibah & Cobaan di Dunia (az-Zuhaily, Tafsir al-Munir, 18/311)

[4] Sirah Ibnu Hisyam: II/540; lihat juga Zadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyum al-Jauziyah III/436

[5] Mereka pun tidak punya peran dalam pensyariatan, justru mereka seharusnya lebih benci terhadap seruan bertahap dalam penerapan hukum Islam, karena bertahap akan membuat dakwah mereka percuma dan sia-sia

[6] Ini adalah sindiran bagi para pengusung tadarruj, dianalogikan mereka itu sama dengan orang yang menyeru kebaikan tapi karena menggunakan cara bertahap maka disisi lain mereka membiarkan maksiat

[7] Imam at-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, vol 14/499, No Hadits: 16599