Archive for Juni, 2012


Al-Khilafah, Satu-satunya Sistem Pemerintahan yang Difardhukan oleh Allah, Rabb Semesta Alam

Dan Seruan Negara Demokrasi Sipil Merupakan Kesalahan Besar Khususnya Jika Hal itu Keluar dari Bibir Kaum Muslim!

Kemarin tanggal 24 Juni 2012 Komite Pemilihan Umum Presiden di Mesir memutuskan kemenangan calon Muhammad Mursi atas saingannya Ahmad Shafiq. Berikutnya, Komite mengumumkan (Muhammad Mursi adalah presiden Mesir arab yang baru). Pernyataan pertama dari presiden baru adalah bahwa dia menyerukan negara demokrasi sipil. Juga bahwa ia mengumumkan persetujuan Mesir atas perjanjian-perjanjian Mesir yang bersifat internasional. Dan puncaknya tentu saja, dan itu yang dimaksudkan dengan pernyataan itu, perjanjian Camp David khianat yang menyetujui perampasan oleh Yahudi atas bumi Isra’ dan Mi’raj, bumi yang diberkahi, Palestina.

Wahai Kaum Muslim: sistem al-Khilafah dan pemutusan perkara dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah SWT dalam perkara besar ataupun kecil, merupakan kewajiban dan sebaik-baik kewajiban. Hal itu sudah diketahui bersama, dan bukannya tidak diketahui. Al-Khilafah telah memakmurkan negeri-negeri kaum Muslim selama lebih dari tiga belas abad. Dengan al-Khilafah, kaum Mukmin bahagia dan mulia. Dan sebaliknya musuh-musuh Islam terpukul dan hina… Perkara ini telah ditetapkan dengan perintah Allah SWT:

] وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ [

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 49)

Juga telah ditetapkan dengan perintah Rasulullah saw:

« كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ »

Dahulu Bani Israel, (urusan) mereka dipelihara dan diurusi oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku dan akan ada para khalifah dan mereka banyak. Mereka (para sahabat) berkata: “lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Rasul saw bersabda: “penuhilah baiat yang pertama lalu yang pertama” (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah ra)

Sebagaimana, perjuangan untuk tegaknya al-Khilafah adalah fardhu yang bisa menyelamatkan dari neraka.

« مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً »

Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan niscaya dia menjumpai Allah pada hari Kiamat kelak tanpa memiliki hujjah dan siapa saja yang mati sementara dipundaknya tidak ada bekas baiat maka ia mati seperti kematian jahiliyah (HR Muslim dari Abdullah ibn Umar ra)

Baiat disini tidak ada kecuali kepada khalifah. Dan kematian jahiliyah merupakan kiasan atas dosa besar dimana orang yang tidak berjuang untuk al-Khilafah terjerumus di dalamnya.

Adapun negara sipil demokrasi maka itu adalah buatan sekulerisme yang diproduksi oleh barat kafir. Dengan negara sipil demokrasi, agama dipisahkan dari negara dan di dalam negara itu masyarakat menyerahkan keputusan hukum kepada manusia bukan kepada Rabbnya manusia, sehingga mereka menghalalkan dan mengharamkan, memperbolehkan dan melarang … Mereka bertanya kepada manusia dan sebaiknya mereka tidak bertanya kepada kitabullah SWT dan sunnah rasulullah saw.

Sedangkan keterikatan kepada perjanjian-perjanjian internasional yang menyia-nyiakan hak kaum Muslim, merampas tanah mereka dan menjadikan kaum kafir memiliki jalan untuk menguasai mereka, maka itu jelas merupakan kesalahan yang mengerikan dan merupakan pintu lebar untuk kesedihan dan kekerdilan di dunia dan sungguh azab Allah itu lebih besar … Semua itu merupakan musibah yang besar dan berbahaya dengan diserukan kewajiban-kewajiban ini di Mesir, Mesir al-Kinanah, Mesir yang merupakan anak panah Allah di muka bumi, Mesir yang mengalahkan pasukan salib, Mesir yang mengalahkan Tatar, dan Mesir yang mengalahkan entitas Yahudi dengan izin Allah dan melenyapkan eksistensinya … Semua itu merupakan musibah besar dan berbahaya yang diserukan di Mesir. Dan itu menjadi kesalahan yang lebih besar dan lebih serius jika diserukan dengan bibir orang-orang al-Ikhwan al-Muslimun yang calon mereka meraih kemenangan dengan dukungan suara kaum Muslim dengan anggapan mereka bahwa mereka akan diperintah dengan Islam dan berlindung di bawah naungan panji Islam, naungan al-Khilafah yang membuat mereka mulia setelah kerendahan, mereka aman setelah ketakutan dan mengembalikan bumi yang diberkahi setelah dirampas … Karena semua itulah mereka memberikan suara-suara dan dukungan mereka. Mereka memberikan suara dan dukungan mereka bukan agar sistem sekuler dikembalikan kepada mereka dengan wajah baru dan lisan baru tetapi dengan ucapan lama yang diperbarui menyerukan negara yang sekuler pemikiran, manhaj dan identitasnya!

Wahai Kaum Muslim: kita paham bahwa al-Khilafah ar-Rasyidah yang kedua dengan izin Allah SWT pasti datang, dengan hati orang-orang mukmin yang bertakwa, dengan tangan-tangan yang saling menyatu lagi bersih, dan dengan aliran yang kuat dan kokoh serta hidung musuh-musuh Islam pasti tersungkur … Ini adalah janji Rabb kita SWT.

] وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ [

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa (QS an-Nur [24]: 55)

Juga merupakan berita gembira Rasul kita saw:

« … ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ »

… kemudian akan ada Khilafah yang berjalan mengikuti manhaj kenabian (HR Ahmad)

Janji Allah SWT dan berita gembira Rasulullah saw pasti terjadi dengan izin Allah. Pada hari itu orang-orang yang beriman akan bergembira karena pertolongan Allah.

Sesungguhnya Hizbut Tahrir menyeru Anda wahai kaum Muslim agar Anda semua memenuhi panggilan Allah SWT dan tidak mengikuti kecuali jalan Allah SWT.

] قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ [

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf [12]: 108)

Janganlah Anda menyerahkan keputusan hukum kecuali kepada syariah Allah SWT dalam seluruh apa yang terjadi diantara Anda.

] فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS an-Nisa’ [4]: 65)

Hizbut Tahrir menyeru Anda agar berjuang bersama kami untuk melanjutkan kembali kehidupan Islami di muka bumi dengan menegakkan al-Khilafah ar-Rasyidah kedua yang mengikuti manhaj kenabian dan membaiat seorang Khalifah untuk beraktivitas dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah SWT, Anda jadikan dia sebagai pelindung dan berperang di belakangnya.

« وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ »

Dan sesungguhnya seorang imam tidak lain merupakan laksana perisai yang orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Kemudian nasihat yang tulus ikhlas karena Allah SWT semata kami sampaikan kepada Presiden baru di Mesir: bertakwalah kepada Allah sehingga Anda kembali dari menyerukan negara sipil demokrasi yang sekuler pemikiran, manhaj dan identitasnya. Rujuk (kembali) kepada kebenaran itu memiliki fadhilah (keutamaan). Hal itu supaya Anda tidak merugi kehilangan dunia seluruhnya setelah Anda rugi kehilangan sebagian besarnya karena Dewan Militer memotong sayap-sayap Anda dan melucuti wewenang Anda … Juga supaya Anda tidak merugi kehilangan akhirat karena Anda menyenangkan Amerika dan barat dengan pernyataan negara sipil demokrasi, dan sebaliknya membuat murka Rabbnya Amerika dan Barat dengan duduk dari penegakan al-Khilafah dan penerapan syariah Allah SWT … Tidak diragukan lagi bahwa Anda membaca hadits Rasulullah saw:

« مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ »

Siapa saja yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah menyerahkannya kepada manusia dan siapa saja yang membuat manusia marah dengan keridhaan Allah maka Allah mencukupkannya dari bantuan manusia (HR at-Tirmidzi dan Abu Nu’aim di al-Hilyah dari Aisyah ra)

Sungguh ini adalah nasihat yang tulus ikhlas karena Allah SWT. Kami tidak menginginkan dari Anda balasan ataupun ucapan terima kasih atasnya, kecuali sebagai pencegahan kegembiraan kaum kuffar beserta antek-antek mereka dan semua musuh-musuh Islam dengan kesengsaraan kaum Muslim ketika mereka tertawa lebar mendengar bahwa proyek mereka dalam negara sipil demokrasi telah diserukan oleh kaum Muslim, al-Ikhwan al-Muslimun. Dan innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji’ûn -sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kita pasti kembali-.

05 Sya’ban 1433 H

25 Juni 2012

Hizbut Tahrir

http://hizbut-tahrir.or.id/2012/06/27/al-khilafah-satu-satunya-sistem-pemerintahan-yang-difardhukan-oleh-allah/

Oleh: Muhammad Ismail Yusanto (Cendekiawan Muslim)

Salah satu cara untuk ‘melunakkan’—sekarang progam seperti ini lebih dikenal dengan istilah deradikalisasi—tokoh Islam di Indonesia adalah dengan mengajak mereka berkunjung ke sejumlah negara Barat, terutama AS. Dengan melihat langsung kondisi fisik, sosial dan ekonomi di sana diharap mereka menjadi lebih mengerti “keindahan, ketertiban dan kemakmuran” yang bisa dicapai negara-negara Barat yang sering dicap sebagai sekular. Maksudnya, tanpa Islam pun, semua kebaikan dan kemajuan itu bisa dicapai. Jadi mengapa mesti ngotot memperjuangan Islam sebagai dasar negara?

Mungkin terdengar lucu, apa iya hanya dengan berkunjung sesaat orang bisa berubah? Tapi, itulah faktanya. Sudah ratusan, bahkan mungkin ribuan pimpinan pesantren, tokoh ormas Islam, juga tokoh pemuda Islam yang mengikuti program ini. Beberapa waktu lalu bercerita pada saya satu tokoh pemuda dari ormas yang banyak mempunyai pesantren di Indonesia, bahwa ia dan belasan pemuda Islam lain baru saja diundang jalan-jalan ke AS. Di antaranya berkunjung ke Hawaii, Los Angeles, New York dan Washington; termasuk berkunjung ke Gedung Putih dan Gedung Capitol. Dulu pada tahun 70-an, Nurcholis Madjid dalamusia yang masih belia juga pernah diajak keliling AS selama 3 bulan.

Berhasilkah program itu? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas, kini tidak lagi terdengar nada kritis dari ormas pemuda tadi terhadap AS. Kita juga mungkin semakin sering mendengar ungkapan, “Negara Barat lebih islami daripada negeri Muslim.” Nurcholis Madjid yang ketika itu dijuluki Natsir Muda, sepulang dari AS menjadi lebih lunak, bahkan kemudian dikenal sebagai tokoh yang membawa arus liberalisasi Islam di Indonesia.

Namun, bila logika ini benar, jutaan pemuda Islam yang kini tinggal di negara-negara Barat mestinya juga tersekularkan. Nyatanya tidak selalu. Alih-alih tersekularkan, mereka justru bangkit dan makin yakin dengan kebenaran Islam. Di antara mereka terdapat sosok istimewa: Reza Pankrust.

++++

Reza lahir pada 1976 di Bristol, Inggris. Ia dibesarkan dalam rumah tangga sekular. Ibunya yang keturunan Iran menikah lagi dengan pria Inggris non-Muslim. Tak aneh bila masa kecilnya dihabiskan tanpa bimbingan agama. Ketika berusia 15 tahun, Reza masuk Islam, namun ia tidak terlalu paham apa itu Islam. Ia pun merasa senang dengan gaya hidup Baratnya.

Pertemuan dia dengan Hizbut Tahrir di kampus tempat ia kuliah mengubah segalanya. Ia menjadi benar-benar yakin akan kebenaran Islam. Ia tinggalkan gaya hidup Baratnya dan mengikatkan diri pada halal-haram. Ia bahkan akhirnya bergabung dengan Hizbut Tahrir. Berbeda dengan gerakan Islam lain, ia melihat Hizbut Tahrir fokus pada isu kunci untuk mengembalikan kehidupan Islam kaffah dalam institusi Khilafah. Ia meyakini bahwa Khilafah merupakan kewajiban atas umat yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Itu bukanlah keyakinan doktrinal, namun sebuah keyakinan intelektual. Hal itu ia kemudian buktikan melalui disertasi Ph.D-nya di London School of Economics and Political Science (populer dengan sebutan London School of Economics/LSE) yang baru saja ia rampungkan.

Saya terakhir bertemu dengannya di Kyoto, Jepang, Maret tahun lalu ketika bersama-sama menjadi pembicara dalam Workshop Internasional tentang Islamic World and Globalization, Beyond the Nation State the Rise of New Caliphate yang diselenggarakan oleh Cismor – Doshisha University. Melalui email ia mengabari saya bahwa disertasinya itu telah diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul The Inevitable Caliphate? A History of the Struggle for Global Islamic Union, 1924 to the Present.

 

Sesuai judulnya, buku ini merupakan gabungan telaahan historis-deskriptif tentang konsepsi Khilafah dari berbagai sudut pandang dan menurut berbagai sumber. Buku ini juga memuat sejarah perjuangan atau usaha untuk mewujudkannya kembali oleh berbagai kelompok Islam sejak masa-masa awal pasca penghapusan resmi Kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1924 hingga sekarang. Dengan kemampuan penguasaan bahasa Arab Reza yang cukup prima, membuat buku ini sangat kaya rujukan baik dari khasanah klasik maupun modern.

Dimulai dari periode penghapusan resmi Kekhalifahan, buku ini mengupas ide dan wacana dari berbagai tokoh Islam seperti Rasyid Ridha, Ali Abdul Raziq, Hasan al-Banna, Taqiyuddin an-Nabhani, Sayyid Qutb, Abul Ala al-Maududi, Usamah bin Laden dan Abdullah Azzam; serta kelompok Islam, termasuk Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, al-Qaida dan al-Murabitun—persamaan dan perbedaannya dalam memahami ide Khilafah, statusnya dalam teologi Islam, dan bagaimana hal itu dapat diterapkan dalam realitas kontemporer menuju terbentuknya the unity of the ummah (kesatuan global umat).

Demikian genial buku ini ditulis, membuat Professor James Piscatori, Head of the School of Government and International Affairs, Durham University, memuji buku Reza sebagai telah “memberikan panduan yang paling dapat diandalkan tentang ide Islam politik dan bagaimana gerakan-gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan al-Qaida mewujudkannya…”

Menurut dia, buku ini memberikan telaah pemikiran modern tentang Khilafah. Buku ini merupakan bacaan yang penting dan inovatif bagi siapa pun yang ingin memahami Kekhalifahan dan apa arti perjuangan ini bagi umat Islam. Buku ini juga disebut telah berhasil memberikan pemahaman yang unik dan provokatif tentang Islam politik, jalan kebangkitan Islam pada abad ini dan tentang bagaimana gagasan Kekhalifahan yang telah memudar kini muncul kembali.

Professor John T. Sidel, dari London School of Economics and Political Science (LSE) menyebut buku ini telah berhasil menjelaskan secara sistematis bagaimana ide khilafah mampu mendorong para ulama atau intelektual dan aktivis Islam. Oleh karena itu, menurut dia, “umat harus memastikan untuk membaca buku yang sangat mencerahkan dan instruktif ini… “

SubhanalLah wa astaghfirulLah… SubhanalLah atas keberhasilan Reza menuliskan buku tentang Khilafah dan usaha untuk menegakannya kembali dengan sangat bagus. Dengan telaahan sekelas disertasi dari sebuah perguruan tinggi terkemuka di Inggris, tak pelak akan membuat buku ini menjadi rujukan penting tentang Khilafah.

AstaghfirulLah untuk anak-anak muda, juga tokoh umat Islam di Indonesia, yang meski sudah demikian gamblang dijelaskan dalam berbagai buku—termasuk dari disertasi Ph.D Reza Pankrust—masih saja meragukan sistem Khilafah dan perjuangannya. Apalagi ada segelintir anak-anak muda Islam, juga tokoh umat, yang baru diajak berkunjung sesaat ke negara-negara Barat sudah luntur ghirah Islamnya. Sebaliknya, Reza dan ribuan anak-anak muda Islam yang lahir dan besar di negara Barat justru saat ini tengah bergiat untuk menegakkan kembali izzul Islam wal Muslimin melalui Khilafah Islam. Mereka tahu persis bahwa gemerlap dunia Barat (kalau boleh disebut begitu), yang sering mengecoh sebagian umat Islam di Indonesia, hanyalah sisi fisikal belaka. Di balik itu semua sesungguhnya terkandung sebuah basis peradaban material yang sangat rapuh, yang akan membawa kerusakan bagi siapa saja. Oleh karena itu, bagi Reza dan ribuan anak-anak muda Islam di Barat khususnya, masa depan kemuliaan peradaban manusia terletak hanya pada Islam, dengan syariahnya di bawah naungan Khilafah. Bagi mereka, tegaknya kembali Khilafah adalah sebuah kepastian yang tak terelakkan; persis seperti judul bukunya The Inevitable Caliphate…

[http://hizbut-tahrir.or.id/2012/06/07/the-inevitable-caliphate/]

Hasil Survei Soegeng Sarjadi Syndicate

Jakarta- Citra buruk Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga paling korup di Indonesia melekat sangat kuat dalam penilaian masyarakat. Selain itu, DPR juga dinilai sebagai tempat mencari nafkah bagi politikus.

Penilaian ini muncul dari hasil survei yang dilakukan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) terhadap oleh 2.192 responden yang tersebar di 33 provinsi.

“DPR dinilai sebagai lembaga paling korup dari daftar lembaga yang kami sodorkan. Responden yang memilih DPR sebagai lembaga yang paling korup adalah sebanyak 1.030 responden atau 47 persen dari 2.192 responden,” kata Koordinator Survei Pemetaan Capres 2014 Soegeng Sarjadi Syndicate, Muhammad Dahlan saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Rabu (6/5).

Kasus yang menimpa Gayus HP Tambunan dan Dhana Widyamitka juga menyumbang penilaian masyarakat terhadap lembaga yang paling korup. Kantor pajak dinilai korup oleh 21,4%, diikuti lembaga kepolisian dengan 11,3%. “Sedangkan parpol hanya 3,9 persen,” kata Dahlan.

Responden, lanjutnya, juga meyakini anggota DPR sekarang hanya sekedar mencari nafkah. Sebanyak 1.367 responden atau 62,4 persen mengatakan hal tersebut.

Sementara 21,3 persen lainnya menilai DPR hanya menjalankan tugas sebagai wakil rakyat. Sisanya menyatakan tidak tahu (15,6%) dan tidak menjawab (0,8%).

Sebagian masyarakat juga tidak mengetahui mengenai produk baru DPR yakni Badan Anggaran. Responden mengatakan, tidak tahu kalau Banggar DPR boleh ikut campur dalam pengalokasian anggaran untuk proyek dalam APBN.

Sebanyak 883 responden atau 40,3 persen menyatakan tidak tahu mengenai hal tersebut. Sedangkan yang menyatakan Banggar boleh ikut campur sebanyak 673 responden atau 30,7 persen.

Menurut Dahlan, banyaknya kasus suap dan korupsi yang terjadi saat ini membuat responden menyatakan bahwa kasus korupsi dan suap merupakan masalah yang paling mendesak untuk diselesaikan, yakni 1.044 responden atau 47,6 persen.

“Sementara masalah kemiskinan hanya 562 responden atau 25,6 persen, mafia di semua lini 235 responden atau 10,7 persen dan pengangguran 226 responden atau 10,3 persen,” katanya.[] (mediaindonesia.co.id)

%d blogger menyukai ini: