Archive for Juli, 2012


Oleh Adnan Khan

Sebuah penelitian di Inggris yang baru dilakukan atas negara demokrasi telah memperingatkan akan temuan bahwa demokrasi berada dalam “akhir kemunduran jangka panjangnya” karena kekuatan perusahaan-perusahaan menjadi semakin menguat, para politisi menjadi semakin kurang dalam mewakili konstituen mereka dan para warga yang kecewa berhenti untuk ikut memberikan suara atau bahkan berhenti mendiskusikan masalah-masalah politik saat ini.

Laporan itu menemukan bukti di banyak wilayah-wilayah lain di mana Inggris tampaknya telah semakin menjauh dari dua tolok ukur demokrasi perwakilan yang seharusnya dimiliki: kontrol atas pengambilan keputusan politik, dan bagaimana sistem itu bisa menggambarkan masyarakat yang diwakilinya dengan cukup adil.

Stuart Wilks-Heeg, penulis utama laporan itu, memperingatkan bahwa Inggris seharusnya segera harus bertanya pada dirinya sendiri “apakah negara ini masih merupakan representasi demokrasi yang sesungguhnya?” Keanggotaan pada partai politik dan jumlah pemilih dalam pemilu telah turun secara signifikan dalam dekade terakhir, dengan hanya 1% dari para pemilih yang ikut suatu partai, dan hanya lebih 6 dari 10 orang yang berhak memilih yang menggunakan haknya pergi ke kotak suara dalam pemilu tahun 2010 dan hanya satu dari tiga orang pada pemilu di Eropa dan pada tingkat lokal. Tapi dalamnya kekecewaan publik dan berbagai cara bagaimana pemilih berpaling dari politik diungkapkan oleh suatu studi terbaru yang bahkan membuat terkejut mereka yang terlibat dalam studi itu.
Permasalahan dalam demokrasi tidak hanya terbatas di Inggris, namun juga di seluruh dunia barat lainnya baik di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol atau tempat lahirnya peradaban Barat – Yunani, dimana para pemilih bersikap apatis, terjadinya kecurangan pemilu, pengaruh kelompok-kelompok kepentingan dan korupsi adalah kasus-kasus yang terlalu umum. Bagi setiap masalah politik, kita tahu bahwa kebohongan adalah sebuah solusi demokrasi. Bagi setiap peradaban, bagi setiap negara untuk setiap suku, setiap waktu – terdengar mantra – demokrasi adalah jawaban atas semua kerusakan yang kita rasakan. Pada dekade terakhir, kita telah melihat bagaimana Barat mengirim anak-anaknya untuk berperang di Irak dan Afghanistan untuk menyebarkan demokrasi, sementara di negerinya sendiri rakyatnya mengucilkan politik dalam demokrasi.

Demokrasi pada saat ini memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda, masyarakat sekuler Barat, tidak memiliki monopoli untuk mengklaim demokrasi sebagai milik mereka. Masayrakat lain melihat demokrasi tidak lebih dari sekedar pemilu – bahwa demokrasi harus memiliki karakter nilai-nilai dan lembaga-lembaga tertentu. Namun apa pun perbedaan kecil itu, demokrasi tidak lebih dari sekedar pemilu dan mereka yang percaya pada demokrasi mengambil sistem politik yang melembagakan kedaulatan legislatif – baik kedaulatan dalam masyarakat secara langsung maupun kedaulatan dalam perwakilan mereka yang terpilih sebagai dasar demokrasi- yaitu kemampuan untuk memilih dan membuat hukum adalah karakteristik kunci dari demokrasi.

Ada beberapa kelemahan mendasar dengan sistem pemerintahan ini, yang membuatnya tidak cocok bagi negeri-negeri Muslim. Pemilu di Irak, Afghanistan dan Pakistan semuanya menghasilkan kelompok elit yang korup, dan beralihnya Rusia kepada demokrasi telah menghasilkan oligarki yang lebih tertarik dalam menghasilkan uang daripada melayani masyarakat. Misalnya dalam dekade terakhir, sektor keuangan menurut Pusat Responsif Politik menghabiskan hampir $ 4 miliar dolar untuk melobi kongres. Karena itu anggota masyarakat biasa yang harus melakukan hubungan melalui email atau panggilan telepon dengan mereka menjadi diabaikan.

Banyak dari para pendiri demokrasi yang menguraikan pemerintahan oleh sekelompok massa dalam demokrasi. Yang menjadi keprihatinan adalah bahwa hukum tidak akan diputuskan berdasarkan manfaat sosial kepada kaum mayoritas namun akan berakar pada nafsu emosi dan kepentingan pribadi dalam upaya untuk merebut hak-hak kaum minoritas. Seperti yang dinyatakan oleh Thomas Jefferson “demokrasi tidak lebih adalah pemerintahan oleh segerombolan massa, dimana lima puluh satu persen orang akan mengambil hak-hak dari empat puluh sembilan persen gerombolan massa lainnya“.

Mengakui kelemahan-kelemahan mendasar ini, masyarakat Barat telah berusaha untuk mengurangi beberapa efek yang lebih keras dari ‘pemerintahan oleh segerombolan massa dengan melakukan berbagai pemeriksaan secara konstitusional dan politik. Biaya dan skandal lobi di Inggris yang terungkap adalah gejala dari kelas politik yang telah melupakan bagaimana seharusnya melayani masyarakat.

Pemilu Reguler Menguntungkan Kaum Elit

Sementara semua orang setuju bahwa pemimpin mereka harus dipilih, realitas atas demokrasi adalah bahwa pemilu reguler akan mendukung pemimpin yang memiliki uang dan karenanya berdampak negatif dan sulit pada pengambilan keputusan jangka panjang. Politik menjadi sesuatu untuk tentang melayani kaum elit dan bukan rakyat jelata. Yang menjadi masalah dengan pemilu yang sering dilakukan adalah bahwa semakin banyak pemilu dilakukan semakin banyak persyaratan uang yang diperlukan. Uang dan politik adalah salah satu kanker utama dalam politik demokrasi. Frekuensi pemilu membuat para politisi bertindak berat sebelah terhadap penanggulangan jangka panjang atas tantangan-tantangan dan malahan mendorong mereka untuk fokus pada popularitas jangka pendek. Sementara perencanaan suatu negara harus diukur dalam beberapa dekade, cakrawala politik hanya difokuskan pada pengelolaan siklus berita 24-jam dan bagaimana memenangkan pemilu berikutnya.

Sebagai sebuah contoh adalah bahwa seorang anggota parlemen terpilih AS pada bulan Februari 2010, sejak hari pertama, harus berencana untuk menaikkan satu juta dolar atau lebih bagi kampanyenya agar dipilih kembali dalam waktu dua tahun. Semua masalah ini memerlukan pilihan sulit dan negarawan menyukai solusi, namun mengambil keputusan seperti ini adalah seperti menulis sebuah catatan bunuh diri dalam pemilu.

Skandal pembiayaan di Inggris dimana parlemen Westminster, yang dianggap sebagai tempat lahirnya demokrasi, menghadapi krisis proporsi yang besar. Sistem ini tidak korup karena ada politisi yang korup, melainkan para politisi itu menjadi korup karena sistem yang mendasarinya adalah korup dan cacat. Jika masalahnya adalah seperti “beberapa apel busuk dalam satu negara” atau politik dari demokrasi tertentu adalah lebih buruk dari yang lainnya, orang mungkin akan memperbaiki suatu kasus untuk melakukan reformasi. Tapi masalah mendasar yang ada pada setiap sistim demokrasi sekuler, yang maju, sedang berkembang, yang besar, yang kecil, di barat maupun di timur dan tantangan jangka panjang semuanya secara konsisten menghindari tanggung jawab dan kewajiban.

Hukum Selalu Dapat Diubah Atau Ditunda

Kedaulatan legislatif yang ada di jantung peradaban Barat, kemampuan untuk membuat hukum sendiri, mengubahnya, beradaptasi dengan hukum itu dan menghentikan hukum dipertahankan sebagai salah satu landasan dasar demokrasi liberal. Sejak Peristiwa 11/9, demokrasi telah menyembelih begitu banyak prinsip-prinsip sucinya, demokrasi hanyalah teoritis, yang seharusnya menentang hal-hal seperti: pemerintahan korup, aturan-aturan yang paranoid dan pemerintahan tiran. Hak-hak kunci ini, yang tercantum dalam prinsip-prinsip pemerintahan Barat dan digunakan untuk memeras hukum-hukum lain telah diubah sesuka hati, meskipun mereka seharusnya menjadi landasan tradisi politik Barat. Namun rezim-rezim itu tidak berpura-pura bahwa mereka tidak melakukan itu dan mereka tidak juga berusaha untuk mempromosikan nilai-nilai mereka di luar negeri.

Keputusan Mayoritas Tidak Lantas Membuat Hukum Yang baik

Salah satu pilar dasar demokrasi adalah bahwa undang-undang itu dihasilkan melalui suara terbanyak. Pada dasarnya berbagai model berpotensi untuk muncul.

Kemampuan untuk mengubah hukum telah menghasilkan undang-undang yang sangat beracun. Untuk mencegah demokrasi melakukan pelanggaran tersebut, berbagai badan pencegah anti-demokrasi seperti lembaga supermayoritas dan Mahkamah Agung yang tidak dilakukan melalui pemilu telah ditempatkan, yang pengakuan eksplisit bahwa demokrasi murni dapat menghasilkan produk yang beracun. Karena itu, mengapa undang-undang yang penting harus berbeda?
Sifat beracun tentang bagaimana hukum yang disahkan dalam demokrasi itu sudah dipahami dengan baik oleh para filsuf, para pemimpin, dan suara-suara berpengaruh di Barat selama berabad-abad. Socrates dan Plato mengutarakan kemarahannya terhadap demokrasi di zaman Yunani kuno. Jefferson dan Adams memahami bahaya demokrasi murni, itulah sebabnya mengapa Amerika adalah negara republik dan mengapa demokrasi murni ditentang.

Kesimpulan

Mantra demokrasi terus menjadi alasan bagi dilakukannya intervensi militer Barat di negeri-negeri Muslim. Sementara di dalam negeri baik di Amerika Serikat dan Inggris serta Perancis, Jerman dan Italia semuanya mendapatkan hasil racun dari demokrasi, tetapi terus menyebarkan sistem pemerintahan yang korup ini di dunia Muslim. Sejak jatuhnya tembok Berlin dan ‘akhir sejarah,’ hingga sekarang ‘demokrasi adalah yang terbaik yang kita miliki,’ menunjukkan bahwa demokrasi mengalami kemunduran. Musim semi Arab telah menunjukkan bahwa dunia Muslim bekerja untuk menentukan nasibnya ke tangannya sendiri, inilah yang mengkhawatirkan dunia barat, hingga mereka berusaha untuk mempertahankan cara mereka hidup demokrasi untuk tetap hadir agar perang berlanjut. Mereka melakukan hal ini dengan hanya engan menghilangkan masalah-masalah demokrasi di dalam negeri.

 

Islam di sisi lain memiliki banyak detail dan telah ditulis disepanjang sejarah Islam. Sistem pemerintahan Islam – Khilafah, yang akan diuraikan dalam tulisan mendatang, memiliki aspek-aspek utama sebagai berikut:

 

1. Keadilan dicapai melalui peradilan yang independen dan hukum yag tetap, sehingga semua warga tahu di mana mereka berada

2. Islam telah dibangun dan didirikan di bawah langkah-langkah akuntabilitas yang ketat

3. Penyelesainya korupsi ke akar-akarnya dilakukan melalui pemisahan uang dan politik

4. Kohesi sosial dipertahankan melalui penerapan sistim Islam dan bukan melalui layanan badan-badan rahasia.[] (RZ)

Sumber: http://www.khilafah.com

Iklan

[Al Islam 617] Kasus pembunuhan di Bojong Gede, Depok, Jabar pada Rabu (18/7/2012) dini hari terhadap Jordan Raturomon (50) dan anaknya, Edward Raturomon (20) terungkap. Salah satu pelakunya adalah A, seorang remaja berusia 14 th. Kasus ini melengkapi empat kasus pembunuhan lain oleh remaja dalam tiga bulan terakhir.

Kriminalitas oleh Remaja Terus Meningkat

Beberapa tahun terakhir ini, masalah kenakalan dan kriminalitas remaja terus meningkat baik jumlah maupun kualitasnya. Kenakalan remaja saat ini makin mengarah pada tindakan kriminal seperti pencurian, pemerkosaan, penggunaan narkoba, bahkan pembunuhan.

Data Profil Kriminalitas Remaja 2010 oleh BPS mengungkapkan bahwa selama tahun 2007 tercatat sekitar 3.100 orang pelaku remaja berusia 18 tahun atau kurang. Jumlah itu meningkat pada tahun 2008 menjadi 3.300 pelaku dan menjadi 4.200 pelaku pada 2009. Hasil analisis data yang bersumber dari berkas laporan penelitian kemasyarakatan Bapas mengungkapkan bahwa 60,0 % dari mereka adalah remaja putus sekolah; dan 67,5 persen masih berusia 16 dan 17 tahun. Sebesar 81,5 % mereka berasal dari keluarga yang kurang/tidak mampu secara ekonomi. Sejalan dengan kondisi tersebut, tindak pidana yang dilakukan remaja itu umumnya adalah tindak pencurian (60,0 %) dengan alasan faktor ekonomi sebesar 46,0 % remaja (lihat, BPS, Profil Kriminalitas Remaja 2010).

Sementara itu ketua Komisi Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait mengungkapkan, saat ini setidaknya terdapat sekitar 7.000 lebih anak yang mendekam di penjara. Ada empat kasus yang kebanyakan melibatkan mereka, yaitu narkotika, pelecehan seksual, pencurian dan pembunuhan. Untuk kasus pembunuhan sendiri, terdapat 12 kasus sepanjang tahun 2012.

Mengurai Sebab

Menurut para ahli, kenakalan dan kriminalitas remaja bukanlah hasil dari faktor tunggal. Kenakalan dan kriminalitas remaja dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal.

Faktor internal yaitu faktor diri remaja itu sendiri, yang terpenting yaitu kontrol diri yang lemah dan kesalahan konsep diri. Kontrol diri yang lemah terjadi karena lemahnya keimanan dan akidah sehingga lebih dikuasai oleh hawa nafsu dan bisikan setan. Disamping juga karena kurangnya pemahaman tentang mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk beserta konsekuensinya di dunia apalagi di akhirat. Atau kalaupun punya pengetahuan tentang baik dan buruk, sekedar pengetahuan tanpa diyakini dan menjadi pemahaman, disamping tidak dibiasakan sejak dini menjadikannya sebagai pedoman.

Sementara konsep diri yang salah muncul karena remaja itu tidak paham jatidirinya, orientasi hidupnya dan tidak punya pandangan hidup yang jelas. Lebih parah lagi jika memang remaja itu memiliki kepribadian yang kacau bahkan rusak.

Dua faktor internal itu sebenarnya adalah hasil bentukan dari faktor eksternal, yakni faktor keluarga terutama orang tua, pendidikan, lingkungan bahkan negara dan penerapan sistem oleh negara.

Faktor keluarga terutama orang tua, sangat mempengaruhi corak perilaku dan kepribadian remaja. Rendahnya pendidikan agama, kosongnya contoh dan teladan di keluarga, pola komunikasi yang lebih diwarnai bentakan dan miskin aspek persuasi pemberian pemahaman dan argumentasi tentang baik-buruk, benar-salah, boleh dan tidak boleh, berpengaruh besar bagi munculnya kenakalan remaja.

Dalam banyak kasus, masalah kemiskinan menjadi salah satu faktor utama. Akibat kemiskinan, perhatian dan waktu orang tua lebih banyak terkuras mencari nafkah. Anak jadi kurang diperhatikan. Karena kemiskinan pula, orang tua tidak mendapatkan pendidikan yang memadai termasuk pendidikan agama, dan pengetahuan tentang anak dan mendidik anak. Akibatnya anak tidak mendapat pendidikan semestinya. Karena kemiskinan pula anak dan remaja tidak bisa mengakses pendidikan. Dari data profil kriminaitas remaja 2010 oleh BPS di atas dan berbagai kasus termasuk kasus yang melibatkan A di Bojonggede itu membuktikan hal itu. Kemiskinan bahkan menjadi semacam simpul bagi problem dan faktor lainnya.

Sementara itu sistem dan gaya hidup kapitalisme membuat orang tua berubah menjadi mesin-mesin produksi kapitalisme. Sebagian besar waktunya, bahkan hampir total, untuk bekerja dan menyelesaikan tuntutan kerja. Anak tidak mendapat perhatian, bimbingan dan kasih sayang dari orang tuanya. Diperparah lagi dengan anggapan bahwa bagi anak sudah cukup jika tercukup segala kebutuhan materinya.

Karena kemiskinan, anak tidak bisa mendapat akses ke pendidikan dan terpaksa putus sekolah. Setelah itu, anak terjun menjadi pekerja informal bahkan anak jalanan yang rawan dengan kenakalan dan kriminalitas. Jika pun bisa mengakses pendidikan, harus diakui bahwa pendidikan yang ada lebih hanya sekedar transfer pengetahuan dan nihil aspek pembentukan kepribadian islami. Kalaupun pendidikan agama diajarkan, toh hanya dua jam/minggu dan hanya berupa transfer pengetahuan, tidak sampai menjadi pemahaman apalagi menjadikannya pedoman sehari-hari.

Lebih buruk lagi jika lingkungan remaja itu tidak kondusif bagi pembentukan perilaku dan kepribadian yang baik baginya. Pengaruh lingkungan dan teman ini sangat besar. Bahkan Rasul saw pernah berpesan bahwa “seseorang itu bersama (dipengaruhi) agama (perilaku dan kebiasaan) temannya“.

Semua faktor itu pada akhirnya sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh negara dan sistem yang diterapkan oleh negara yaitu sistem kapitalisme. Kemiskinan yang ada di tengah masyarakat, lebih merupakan kemiskinan struktural akibat dari penerapan sistem. Sistem kapitalisme gagal mendistribusikan kekayaan negeri ini secara adil dan merata pada semua rakyat. Kekayaan hanya terkonsentrasi pada segelintir orang bahkan mengalir kepada asing. Atas dasar ajaran ideologi kapitalisme pula, negara meminimalkan peran dalam mengurusi kepentingan masyarakat secara langsung dan lebih banyak diserahkan kepada swasta dan mengikuti mekanisme pasar. Pendidikan jadi makin mahal tak terjangkau bagi rakyat miskin. Gaya hidup hedonisme terus dipropagandakan. Konten yang bisa berpengaruh langsung maupun tak langsung pada perilaku buruk seperti tayangan dan konten kekerasan, pergaulan bebas, dsb, atas nama kekebasan tidak boleh dibendung. Walhasil, semua faktor itu berujung pada penerapan sistem kapitalisme dan itulah sesungguhnya faktor mendasar dari berbagai kenakalan dan kriminalitas remaja yang terjadi di negeri ini.

Penerapan Syariah Solusinya

Problem kenakalan dan kriminalitas remaja hanya bisa diatas secara terpadu dari segala aspek. Yang bisa menjamin terwujudnya hal itu hanyalah penerapan syariah Islam secara utuh dan total.

Islam berbeda dengan kapitalisme yang menyerahkan pendistribusian harta kepada mekanisme harga. Islam memberikan semua hukum-hukum ekonomi dalam rangka pendistribusian harta secara adil pada semua rakyat. Harta tidak akan terkonsentrasi pada segelintir orang seperti dalam kapitalisme. Dengan itu kesejahteraan pun bisa dirasakan oleh semua.

Disamping itu, syariah Islam mewajibkan negara untuk memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok individu yaitu pangan, papan dan sandang. Negara memenuhinya melalui mekanisme ekonomi dan non ekonomi seperti yang diatur oleh syariah Islam.

Negara pun wajib memenuhi kebutuhan asasi masyarakat yaitu pendidikan, kesehatan dan keamanan, secara langsung dan bebas biaya. Biaya untuk itu bisa berasal dari harta milik negara dan harta milik umum yang oleh syariah ditetapkan harus dikelola oleh negara, mewakili rakyat, dan semua hasilnya semuanya dikembalikan kepada rakyat.

Pendidikan yang harus disediakan oleh negara untuk seluruh rakyat tanpa kecuali itu dijalankan berdasarkan sistem pendidikan yang menitikberatkan pada pembentukan kepribadian islami dan pemberian bekal untuk mengaruhi kehidupan. Pendidikan itu terbuka untuk orang miskin dan kaya. Pendidikan membentuk kepribadian islami itu bukan hanya dilakukan melalui jenjang sekolah tetapi juga memanfaatkan semua sarana pendidikan yang ada termasuk masjid-masjid yang tersebar di seluruh negeri. Dengan semua itu maka banyak faktor timbulnya kenakalan dan kriminalitas remaja bisa diselesaikan.

Melengkapi hal itu, Islam juga memerintahkan orang tua untuk mendidik anak dan membentenginya dari api neraka. Dan itu artinya membentengi anak dari kenakalan dan kriminalitas remaja. Allah SWT berfirman:

] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا …[

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka … (QS at-Tahrim [66]: 6)

Untuk melaksanakan itu, orang tua bisa mendapatkan bekalnya dari pendidikan formal dan non formal yang aksesnya terbuka luas untuk semua. Orang tua pun sudah terbantu oleh pendidikan anak di jenjang pendidikan yang diberikan oleh negara secara gratis dan berkualitas.

Jika dengan semua itu masih ada kenakalan dan kriminalitas remaja, maka benteng terakhir adalah penerapan sistem sanksi dan pidana (‘uqubat) Islam. Hukum-hukum ‘uqubat Islam selain berfungsi sebagai penebus (jawabir) juga sebagai pencegah (zawajir) yang bisa memberikan efek jera dan cegah yang membuat siapapun berpikir ribuan kali untuk berani melakukan kejahatan.

Wahai Kaum Muslim

Makin meningkatnya kenakalan dan kriminalitas remaja saat ini, semestinya menyadarkan kita bahwa sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini telah gagal. Hal itu makin mengokohkan keyakinan kita bahwa hanya Syariah Islam lah yang bisa mengatasi problem itu. Karena itu saatnya kita gandakan komitmen, usaha dan perjuangan untuk menerapkan Syariah Islam secara utuh dan total dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb.

Apa itu Berfikir?

Oleh: Dr. U Maman Kh., M.Sc (Direktur Pusbangsitek UIN Jakarta)

Apa yang dimaksud dengan aqal? Apa kaitan aqal dan berfikir? Mungkin inilah salah satu terma yang selalu dibahas dari dulu hingga sekarang. Yang jelas aqal bukanlah benda atau materi yang memiliki tempat, akan tetapi aqal lebih bersifat proses berfikir. Kemudian, apakah sebenarnya berfikir itu, hakikat dan hasilnya? Tulisan ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan di atas. Silahkan dinikmati…

Pengertian Berfikir

Integrasi keilmuan dapat ditinjau berdasarkan proses berpikir dengan asumsi bahwa pengetahuan, baik knowledge maupun sains merupakan hasil dari proses berpikir. Al-Quran mengajari manusia untuk berpikir. Berpikir identik dengan menggunakan akal. Berbeda dengan otak, akal bukanlah organ dari tubuh manusia. Akal identik dengan kemampuan dan proses berpikir. Berpikir dalam arti berusaha untuk memahami realitas untuk sampai pada kesimpulan tertentu.

Berpikir memiliki karakteristik tersendiri. Berpikir lebih bersifat empiris-faktual. Karena itu, berpikir akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan dalam bentuk teori yang bersifat empiris, memiliki implikasi bagi pemecahan permasalahn umat manusia, serta mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Melakukan kajian terhadap sesuatu yang tidak bersifat empiris tidak termasuk proses berpikir. Hoodbhoy mengkritik para ilmuan Pakistan pada zaman Presiden Zia ul-Haq yang mengembangkan sains Islam yang tidak bersifat empiris, seperti analisis tentang struktur kimia-fisika jin, derajat kemunafikan, dan rembetan panas api neraka.[1]

Dengan menjadikan realitas sebagai obyek berpikir, Taqyuddin an-Nabhani[2] membagi metode berpikir menjadi dua bagian: metode berpikir rasional (at-thariqah al‘aqliyyah) dan metode berpikir sains (at-thariqah al-‘ilmiyyah). Kedua metode berpikir tersebut sebenarnya tidak berbeda. Berpikir sains bersifat rasional, sistematis dan terorganisasi. Hanya saja, berpikir rasional cenderung mengandung perspektif tertentu sebagai pengaruh dari informasi yang dimiliki, baik berasal dari lingkungan sosial budaya, ideologi, kepercayaan, keyakinan atau agama. Berpikir rasional mengandung unsur subyektivitas; sedangkan berpikir sains lebih bersifat netral, obyektif dan bersifat eksperimental-laboratoris. Al-Quran mengajarkan metode berpikir rasional yang bertolak  dari fakta. Metode berpikir rasional ialah metode al-Quran, metode Islam.  Karena itu, berpikir rasional dapat menjadi acuan dalam merumuskan perspektif berpikir untuk mewujudkan integrasi keilmuan. Berpikir itu sendiri merupakan sesuatu yang paling berharga bagi manusia, paling mahal harganya dalam kehidupan, sekaligus menjadi tempat bergantungnya jalan kehidupan. Oleh karena itu, kita harus bersungguh-sungguh untuk memperhatikan aktivitas berpikir ini.

Hakikat dan Unsur-unsur Berpikir

Apakah berpikir itu? Berpikir pada hakikatnya merupakan usaha untuk memahami fakta (realitas empiris). Karena itu, salah satu unsur berpikir yang penting ialah fakta. Berusaha untuk memahami sesuatu yang berada di luar jangkauan indera (tidak empiris) bukan termasuk kegiatan berpikir. Berpikir harus menyimpulkan sesuatu yang berkaitan dengan realitas. Karena itu, berpikir memiliki implikasi yang sangat produktif bagi perumusan teori yang bersifat empiris, bagi pemecahan persoalan umat manusia dan bagi pengembangan masyarakat. Penemuan ilmiah hanya bisa dilakukan jika seseorang melakukan pengamatan terhadap reaslitas. Hoodbhoy[3] mengkritik para ilmuan Pakistan yang berusaha melakukan islamisasi sains dengan menjadikan obyek kajian hal-hal yang tidak empiris seperti struktur kimia dan fisika jin, derajat kemunafikan, rambatan panas api neraka, dan lain sebagainya yang tidak bersifat empiris.  Berpikir tentang realitas memerlukan fakta yang terindera. Karena itu, unsur berpikir yang kedua ialah indera. Yang dimaksud dengan fakta yang terindera ialah fakta yang dapat diindera,  baik langsung ataupun tidak langsung. Peralatan sebenarnya merupakan perpanjangan indera manusia, seperti kaca pembesar atau instrumen lainnya.

Kesimpulan tentang fakta sebagai hasil dari proses berpikir disimpan dalam benak. Karena itu, benak/otak manusia (ad-dimag) merupakan salah satu unsur penting dalam proses berpikir.

Unsur lain yang paling penting dalam berpikir ialah adaya informasi yang sudah dimiliki (ma’lumat sabiqah). Informasi dapat berasal dari lingkungan sosial, budaya, keyakinan, kepercayaan, ideologi, agama, termasuk keyakinan tentang tidak adanya Tuhan (atesis).

Berpikir atau sebut saja berpikir rasional atau metode ‘aqliyyah, merupakan proses pengkajian untuk mengetahui realitas sebagai obyek kajian dengan cara mentransfer fakta ke otak melalui indera, disertai dengan adanya sejumlah informasi pendahulu yang sudah dimiliki (ma’lumat sabiqah) yang akan digunakan untuk menafsirkan/menilai fakta yang ada. Penilaian ini, menurut Taqyuddin an-Nabhani, pada hakikatnya merupakan pemikiran (fikr)  atau kesadaran rasional (al-idrak al-‘aqli). Karena itu, berpikir merupakan proses yang melibatkan: (1) fakta/realitas; (2) indera; (3) otak; dan (4) informasi yang dimiliki. Dengan proses berpikir ini akan terbentuklah sebuah kesadaran. Apa yang disebut ‘teori ilmiah’ pada hakikatnya merupakan kesadaran seseorang terhadap realitas. Dengan sendirinya ‘teori’ itu sarat nilai, baik nilai yang berasal dari agama (wahyu), ideologi maupun lingkungan social-budaya tertentu. Dalam konteks ini, an-Nabhani mempertanyakan obyektivitas teori-teori ilmiah yang tidak bersifat fisikal dan eksperimen yang melakukan kontrol variabel.[4]

Pendapat MM Ismail tampak memperkuat  pandangan Taqyuddin an-Nabhani. Ismail menyatakan:

Pola pikir rasional adalah suatu metode pengkajian yang dilakukan agar seseorang sampai pada tahap mengetahui hakikat sesuatu yang sedang dikaji, melalui indera yang menyerap obyek. Proses penyerapan itu dilakukan melalui panca indera menuju ke otak, dibantu oleh pengetahuan/informasi sebelumnya yang akan menafsirkan dan memberikan sikap atas fakta tersebut. Keputusan tersebut dinamakan pemikiran atau ide,  yaitu pemahaman yang diperoleh akal secara langsung. Metode ini mencakup pengkajian obyek yang dapat diindera maupun yang abstrak yang berkaitan dengan pemikiran.[5]

Hampir disepakati oleh para ilmuwan, bahwa teori-teori ilmu sosial, politik, ekonomi dan budaya sering merupakan refleksi seseorang terhadap realitas; atau dibangun berdasarkan interpretasi atas realitas. Teori-teori sosial dan ekonomi Marxisme, misalnya, merupakan hasil refleksi Karl Marx terhadap kesenjangan sosial akibat laju industrialisasi masyarakat Jerman pada pertengahan abad ke-19. Ketika membangun sebuah teori, tentu ada nilai-nilai yang mendorong seseorang untuk bersikap terhadap realitas tersebut. Dengan demikian, teori-teori ilmu sosial tidak bebas nilai. Michael Kunczik mengingatkan bahwa teori-teori perubahan sosial dan pembangunan sering sarat dengan etnosentrisme. Kesadaran budaya sering menjadi standar penilaian terhadap budaya lain. Karena itu, rumusan-rumusan teori tidak lepas dari kesadaran budaya. Mengacu pada Edward B. Taylor (1873), Kunzcik menyebutkan budaya meliputi: pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat dan kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh dari sebuah sistem sosial.[6]

Berbagai rumusan teori ilmu-ilmu sosial, menurut perspektif ini, sebenarnya merupakan pengambilan keputusan atau sikap terhadap realitas yang dipengaruhi oleh informasi atau pengetahuan awal yang sudah dimiliki seseorang.  Demikian halnya teori-teori yang terkait dengan materi yang bukan merupakan hasil eksperimen laboratorium, seperti persoalan penciptaan dan asal-usul manusia. Karena itu, ilmu tidak bebas nilai. Teori Darwin tentang asal-usul manusia jelas merupakan refleksi terhadap realitas yang diilhami oleh keyakinan tertentu. Demikian halnya teori-teori sosial Marxisme, umpamanya. MM Ismail yang sejalan dengan Taqyuddin an-Nabhani menegaskan, berpikir rasional pada intinya merupakan proses interaksi yang melibatkan: fakta empiris, otak, indera dan pengetahuan atau informasi yang dimiliki. Berpikir dalam perspektif pola pikir rasional (metode ‘aqliyyah) merupakan proses transformasi fakta empiris ke otak, dilanjutkan dengan interpretasi/penilaian atas fakta tersebut berdasarkan informasi yang ada, yang akhirnya melahirkan sikap terhadap fakta tersebut.[7]

Dari sini sesungguhnya berpikir berarti penyerapan fakta yang terindera ke dalam benak berdasarkan informasi yang sudah dimiliki. Denga kata lain, berpikir pada intinya merupakan rekonstruksi terhadap realitas berdasarkan perspektif tertentu yang terkait dengan informasi yang dimiliki. Kesimpulan tentang realitas dengan sendirinya berada dalam sudut pandang tertentu. Ketentuan ini tidak hanya berlaku bagi Islam secara normatif, tetapi bersifat umum bagai setiap proses berpikir. Setiap teori yang merupakan hasil pemikiran dengan sendirinya mengandung unsur-unsur keyakinan perumusnya, baik pemikiran Islam, atheis, atau keyakinan lainnya.

Informasi yang dimiliki merupakan faktor bagi keragaman mode berpikir dan ini merupakan sudut pandang dalam memahami realitas. Manusia dapat merekonstruksi realitas berdasarkan sudut pandang tersebut. Relaitas yang sama dapat dipahami secara berbeda, bergantung pada sudut pandang tersebut. Mengacu pada pandangan Thomas Kuhn, berasarkan informasi yang dimiliki, manusia memiliki mode of thought atau mode of inquiry. Menurut  Kuhn, seseorang merekonstruksi realitas sosial  berdasarkan mode of thought atau mode inquiry sehingga  menghasilkan mode of knowing.[8]Terkait dengan pembahasan sebelumnya, cara berpikir merupakan paradigma untuk menghasilkan pengetahuan (knowledge). Realitas yang sama bisa menghasilkan kesimpulan dan teori yang berbeda hanya karena perbedaaan paradigm saat memahaminya.

Cakupan dan Hasil Proses Berpikir

Apakah seseorang harus langsung memahami realitas sebagai persyaratan agar ia bisa dikatakan berpikir? Secara faktual seseorang tidak mudah memahami realitas. Bahkan terdapat kecenderungan, pemahaman seseorang terhadap realitas sering didasarkan pada pemahaman orang lain atau melalui media tertentu. Bahkan dalam ilmu komunikasi, relitas terbagi menjadi dua bagian: realitas media dan realitas yang sesungguhnya. Realitas media ialah realitas yang disajikan oleh media massa melalui proses pemilihan yang tidak lepas dari perspektif tertentu. Pemahaman terhadap realitas menurut media massa masih masuk kategori berpikir, walaupun seseorang yang berusaha memahaminya perlu mengkritisi setiap fakta yang disajikan media. Pemahaman terhadap realitas menurut pemahaman orang lain, atau mengikuti proses berpikir yang dilakukan orang lain, masih termasuk kategori berpikir rasional, walaupun tentu saja kualitas berpikirnya masih rendah. Mengutip penyataan Ahmad Syafii Maarif dalam sebuah seminar, para pemikir di Indonesia cenderung hanya sebagai “pemamah biak”. Artinya, mereka hanya berpikir mengikuti cara orang lain berpikir, belum menghasilkan pemikiran orisinal. Mereka cenderung memahamai atau mengambil kesimpulan tentang realitas berdasarkan pemahaman dan kesimpulan orang lain.

Lalu apa saja cakupan dan lingkup berpikir? Berpikir berada dalam tatanan filosofis, mendasar dan menyeluruh. Berpikir tidak mengenal adanya spesialisasi. Berpikir akan mengantarkan seseorang pada penemuan berbagai teori. Dalam konteks ini, ilutrasi Will Durant dapat menjadi acuan. Berpikir bagaikan pasukan marinir yang berusaha merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantri.[9] Pasukan infantri  ialah pengetahuan, baik pada tataran knowledge maupun sains. Artinya, berfikir merupakan proses untuk menghasilkan berbagai teori ilmiah yang berimplikasi bagi pemecahan persoalan umat manusia.

Demikian pula, tidak ada batasan obyek berpikir. Seseorang dapat berpikir tentang fenomena alam, fenomena sosial, fenomena ekonomi, dan lain sebagainya. Yang penting, berpikir harus dilakukan terhadap fakta yang bersifat empiris. Isac Newton (1642-1627) mengamati berbagai fenomena alam, yang ditulis dalam sebuah buku yang berjudul, Philoshpopiae Naturalis Principia Mathematica (1686). Belakangan orang mengenal Newton sebagai ahli fisika, bahkan sebagai peletak dasar teori-teori fisika. Adam Smith (1723-1790) melakukan pengamatan terhadap  masalah-masalah etika, ekonomi dan sosial. Ia menuliskan hasil pengamatannya dalam buku The Welth of Nation (1776). Belakangan orang mengenal Adam Smith sebagai peletak dasar teori-teori ekonomi kapitalis, padahal ia sebagai guru besar filsafat moral.[10]

Demikianlah, proses berpikir telah menghasilkan pengetahuan (knowledge). Dengan sendirinya pengetahuan merupakan hasil proses interaksi antara fakta empiris, pengalaman, kepercayaan, ideologi dan/atau budaya tertentu. Manusia memperoleh pengetahuan, menurut Suriasumantri, berdasarkan kemampuannya selaku makhluk yang berpikir, merasa dan mengindera. Di samping itu, manusia memperoleh pengetahuan melalui intuisi dan wahyu.[11]

Wikipedia meyebutkan, antara pengetahuan (knowledge) dan kepercayaan (belief) memiliki hubungan yang sangat erat, walaupun pengetahuan berbeda dengan kepercayaan dan opini. Dalam pengetahuan terdapat unsur kebenaran dan kepercayaan bahwa hal itu benar. “Knowledge is both true and believed to be true,” (Pengetahuan adalah kebenaran dan kepercayaan bahwa itu benar), demikian Wikipedia.[12] Menurut pandangan Edwards pengetahuan adalah kepercayaan yang benar.[13] Sementara itu, menurut Sidi Gazalba, pengetahuan ialah semua milik atau isi pikiran. Dengan kata lain, pengetahuan merupakan hasil dari proses berpikir yang berinteraksi dengan kepercayaan dan opini.[14]

Sejalan dengan beberapa pernyataan tersebut, seseorang memperoleh pengetahuan — menurut  Charles Peirce seperti dikutip Kerlinger–  sering dengan cara keteguhan/kegigihan (method of tenacity). Artinya, seseorang menganggap pengetahuan itu benar karena ia sudah lama menganggap bahwa hal itu benar, dan ia memegang teguh kebenaran tersebut. Anggapan masyarakat bahwa hal itu benar semakin meningkatkan ‘validitas’ kebenaran tersebut. Bahkan dengan sangat ekstrem, Peirce mengemukakan, orang sering bersandar pada kepercayaannya dalam menghadapi fakta yang jelas-jelas berlawanan; dan mungkin seseorang menyimpulkan pengetahuan baru berdasarkan proposisi yang keliru.

Peirce mengakui bahwa ‘metode keteguhan’ cenderung ditinggalkan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih obyektif. Namun, ia mengakui bahwa adanya unsur keyakinan dalam pengetahuan tidak terhindarkan. Selain itu, lanjut Peirce, pengetahuan tidak terlepas dari otoritas dan kewenangan. Orang akan lebih percaya pada pernyataan-pernyataan teoretis  yang dikemukakan oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas. Dalam kenyataan, lanjut Peirce, kehidupan tidak akan dapat berjalan tanpa cara kewenangan dalam mengukuhkan pengetahuan yang dianggap benar.

Peirce selanjutnya mengemukakan cara lain untuk memperoleh pengetahuan, yakni: intuisi. Seseorang memperoleh pengetahuan melalui nalar atau proses berpikir, dan tidak harus selaras dengan pengalaman. Melalui pergaulan dan komunikasi, orang dapat mencapai kebenaran karena ia memiliki kecenderungan alami ke arah kebenaran. Karena itu, Kerlinger yang mengutip Peirce menegaskan, tidak menutup kemungkinan adanya pengetahuan teoretis yang berbeda sebagai hasil dari perbedaan penalaran yang dilakukan oleh orang yang berbeda.[15]

Proses berpikir berusaha untuk mencapai kesimpulan dalam bentuk knowledge. Menurut MM Ismail,[16] kesimpulan dari proses berpikir sering terkait dengan ada atau tidak adanya sesuatu, dan hal ini  bersifat pasti; tidak mungkin mengandung faktor kesalahan. Alat indera manusia tidak mungkin salah dalam menentukan eksistensi (keberadaan) sesuatu yang bersifat nyata. Kesalahan yang mungkin terjadi dalam proses berpikir hanyalah dalam menentukan esensi (hakikat) sesuatu akibat ‘kesalahan’ penginderaan. Misal: fatamorgana sering disangka air; benda lurus dalam wadah berair tampak bengkok. Namun, ‘kesalahan’ dalam mengindera esensi fakta-fakta ini tidak menafikan kebenaran tentang eksistensi-nya. Fatamorgana tersebut tetaplah bisa dipastikan keberadaannya. Demikian pula benda lurus yang dimasukkan ke dalam wadah berair. Dengan demikian, kesimpulan tentang eksistensi sesuatu pada dasarnya bersifat pasti.

Siapapun yang mengamati realitas yang ada akan sampai pada kesimpulan tentang eksistensi (keberadaan) sang Pencipta, Allah SWT. Ini bersifat pasti. Memahami Allah SWT dengan menggunakan metode ‘aqliyyah akan menghasilkan kesimpulan yang pasti tentang keberadaan-Nya; keberadaan-Nya tidak mungkin salah.

Apabila kesimpulan dari proses berpikir, lanjut MM Ismail, berkaitan dengan esensi (hakikat), fenomena atau sifat sesuatu, maka kesimpulan tersebut tidak bersifat pasti dan mengandung kemungkinan terjadinya kesalahan. Sebab, kesimpulan tersebut diambil berdasarkan informasi yang diperoleh atau interpretasi terhadap fakta yang terindera melalui informasi yang telah ada, namun informasi tersebut mungkin mengandung unsur kesalahan. Hanya saja, hasil pemikiran tersebut dianggap benar sampai terbukti kesalahannya. Jika terbukti salah, maka sejak saat itu kesimpulan dianggap salah, peneliti menggunakan kesimpulan baru yang lebih sahih.

Dengan demikian, knowledge sebagai kesimpulan dari proses berpikir bersifat relatif, memungkinkan di dalamnya terjadi kesalahan. Relativitas yang dimaksud bersifat kontinum, yakni suatu garis yang tidak memiliki batasan yang tegas. Pada titik terendah, ketidakpastian cenderung lebih tinggi sehingga probabilitas error cukup besar; sedangkan pada titik lain, kepastian yang lebih menonjol, bahkan tidak mungkin terjadinya kesalahan. Demikiian juga kesimpulan tersebut dipengaruhi oleh keyakinan ata agama yang tidak sesuai dengan Islam.

Pemahaman terhadap hakikat atau makna yang terkandung dalam ayat al-Quran dapat ditempatkan dalam perspektif ini. Memahami ayat-ayat yang bersifat zhanny memungkinkan terjadinya kesalahan. Jika seseorang berijtihad dan benar, maka ia memperoleh dua pahala, yakni pahala benar dan pahala ijtihad. Jika seseorang berijtihad dan salah, maka ia memperoleh satu pahala, yakni pahala ijtihad. Sebaliknya, pemahaman terhadap ayat yang qath’i ats-tsubut bersifat pasti, tidak mungkin salah. Kewajiban salat, zakat, puasa dan menurut aurat serta batasan aurat masuk kategori terakhir.

Demikilanlah pengetahuan merupakan hasil dari proses berpikir yang sarat dengan nilai. Pengetahuan merupakan produk dari konteksnya. Mulyanto menjelaskan bahwa ilmu merupakan produk dari konteks sosio-kultural dan kepercayaan. Jika lingkungan atau keyakinan umum bersifat ateis, maka pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang dihasilkan bersifat materialis. Jika ilmu dihasilkan dari proses berpikir yang sarat dengan nuansa akidah, maka ilmu (knowledge) akan sarat dengan nilai-nilai keimanan. Karena itu, dalam konteks ini Mulyanto mengingatkan perlunya mengkritisi konteks kelahiran ilmu. Teori-teori fisika mengenai kekebalan energy—yang meyakini materi sebagai sesuatu yang kekal dan menolak proses penciptaan—lahir  dalam konteks masyarakat ateis.[17] Walhasil, teori-teori ilmiah dalam konteks ini ternyata tidak lepas dari nilai yang menjadi keyakinan seseorag pada saat perumusan teori; dan keyakinan tersebut seringkali bertolak belakang dengan Islam.

Dalam konteks ini gagasan Islamisasi sains sangat relevan dan diperlukan, dengan melakukan langkah-langkah untuk mengoreksi atau mengganti teori-teori yang bertentangan dengan Islam.


[1] Pervez Hoodbhoy, Islam and Science, Religious Ortodoxy and The Beattle for Rationality, edisi Indonesia terjemahan Saria Meutia (Bandung: Mizan, 1996) hal. 38-39

[2] Taqyuddin An-Nabhani, At-Tafkir, cetakan pertama  (Hizbut Tahrir, 1973) hal. 27-39

[3]Hoodbhoy, Op.Cit. hal. 124

[4]Lihat Taqyuddin An-Nabhani, Op.Cit. hal. 28

[5] MM Ismail, Al-Fikru al-Islamy (Beirut: Maktab al-Wa’ie, 1958) hal. 88

[6] Kunczik, Michael, Communication and Social Change (Bon: Friedrich-Ebert-Stiftung, 1986) hal. 59

[7] MM Ismail, Op.Cit. hal. 88

[8] Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revelution, Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, terjemahan Tjun Surjaman (Bandung Remaja Rosdakarya, 2002) hal. 10-11; Lihat juga Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, Epistemologi, Metodologi dan Etika ( Jakarta: Teraju, 2004), h. 11.

[9] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Gramedia, 1988), hal. 22

[10] Ibid, hal.  24.

[11] Jujun S. Suriasumantri, “Mencari Alternatif Pengetahuan Baru”, dalam A.M. Saefuddin et.al., Desekularisasi Pemikiran (Bandung: Mizan, 1991) hal. 14.

[12] Lihat Anonim, “Epistemology,” Wikipedia, the Free Encyiclopedia dalam http:// en.wikipedia.org/wiki/Epistemology, dikunjungi tanggal 2 September 2005.

[13] Edwards, Paul (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Vol. V, edisi 2 (New York: Collie McMillan Publishing Company, 1972) hal. 187

[14] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Cetakan ke-1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1992) hal. 4

[15] Kerlinger, Fred N., Azas-Azas Penelitian Behavioral, terjemahan Landung R. Simatupang (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1992) hal. 8-9

[16] MM Ismail, Op.Cit. hal. 143-144

[17] Mulyanto, “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” dalam Moeflich Hasbullah (ed.), Gagasan dan Pedebatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Cidesindo, 2000) hal. 18-19.

http://www.pusbangsitek.com/?p=788

%d blogger menyukai ini: