Oleh: Dr. Ir. Waluyo Sakarsono, CES. DEA*

Semenjak dicetuskannya bulan Mei sebagai bulan kebangkitan Nasional,1 banyak elemen –sejak orde lama, orde baru sampai masa reformasi– yang sudah dan tengah mengusahakan kebangkitan bangsa Indonesia berdasarkan visi, persepsi, dan orientasi masing-masing. Secara faktual kita lihat, ada yang concern dalam bidang ekonomi, karena menganggap problem krusial adalah ekonomi; ada yang concern dalam bidang politik, karena berasumsi problem yang harus dibenahi adalah politik Indonesia yang “minim ideologis”; bahkan ada pula yang fokus di bidang sosial, karena menduga masyarakat Indonesia “mulai” tidak bermoral. Namun dengan suatu analisis yang aktual, jujur dan fundamental, kita semua pasti menemukan suatu filosofi kebangkitan yang match (sesuai) bagi bangsa Indonesia bahkan seluruh peradaban, tapi filosofi kebangkitan apakah itu?

Kebangkitan secara etimologis adalah, renaissance, revival of art and literature in the 14th–16th c (kebangkitan kembali ilmu, dan literatur abad ke 14-15 masehi). period of this (masa kini). (often attrib.) style of art (kadang-kadang dimaknai sebagai attribut/ sifat) gaya seni, architecture, etc (etcetera) (arsitektur dan lain-lain), developed by it (pengembangan/ pembangunan dengan sendirinya), (renaissance) sinonimnya revival (bangkit), dan birth (kelahiran).2

Dalam literatur bahasa Arab, ternyata renaissance (kebangkitan) berpadanan dengan an-nahdhah, yang berarti qama (bangun), ath-thaqah wa al-quwwah (kekuatan dan kemampuan), harakah (gerakan), al-quwwah wa an-nasyath (kemampuan dan kesungguhan) (Lisan al-‘Arab: VII/245, al-Muhith: I/846, Mukhtar ash-Shihah: I/668, Mu’jam ath-Thullab: 608).

Secara istilah, kata kebangkitan digunakan untuk mengungkapkan suatu fakta tertentu yaitu berpindahnya sebuah umat atau bangsa atau seorang individu dari suatu keadaan menuju keadaan lain yang lebih baik (Hafidz Shalih, Falsafah Kebangkitan, 1988). Namun, bangkitnya manusia juga tergantung pemikirannya tentang alam, manusia dan kehidupan, serta hubungan ketiganya dengan sebelum (adanya pencipta) dan sesudah kehidupan dunia (akhirat) –yaitu syariat Allah swt–, kelak pemikiran tadi akan menjadi persepsi dalam mengarungi kancah kehidupan. (an-Nabhani, Nizham al-Islam, 2001: 4-5)

Jadi, esensi kebangkitan itu adalah tingginya taraf berpikir. Ketinggian taraf berpikir itu ditandai dengan adanya dua sifat yaitu amiq (pemikiran yang mendalam tentang ideologi) dan syumul (pemikiran yang menyeluruh tentang solusi). Sehingga untuk mewujudkan sebuah kebangkitan diperlukan adanya upaya untuk menanamkan pemikiran-pemikiran yang luhur yaitu pemikiran-pemikiran yang bersifat menyeluruh berkaitan dengan semua aspek kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi dan sebagainya. Pemikiran-pemikiran tersebut juga harus dibangun berdasarkan sebuah landasan yang kokoh yaitu berdasarkan sebuah akidah (keyakinan) atau sebuah ideologi tertentu.

Batasan tersebut memberikan deskripsi, suatu kebangkitan haruslah dimulai dengan meningkatkan taraf berpikir manusia sebagai sebuah bagian dari masyarakat, bangsa atau peradaban tertentu. Juga kebangkitan bukanlah sekedar kemajuan dalam salah satu bidang saja, namun kebangkitan adalah majunya suatu peradaban dalam seluruh bidang yang ada.

 

Motif Kebangkitan

Motif maupun dorongan kebangkitkan suatu bangsa atau peradaban, biasanya terjadi karena bangsa atau peradaban tersebut memang mengalami krisis yang luar biasa dalam seluruh ranah kehidupan (krisis multi dimensi), sehingga bangsa itu memerlukan terobosan untuk menyelamatkan dirinya dari kebinasaan peradaban. Memang, tepat sekali jika dikatakan Indonesia negeri jamrud khatulistiwa ini dalam posisi terpuruk. Negeri kaya sumber daya alam ini, sedang mengalami krisis multi dimensi semenjak akhir masa orde baru sampai sekarang. Berbagai macam solusi sudah dilakukan, dari pergantian pemerintahan, restrukturisasi kebijakan ekonomi baik makro maupun mikro, penataan sistem politik, usaha pemberantasan korupsi, dwi fungsi ABRI, bahkan amandemen undang-undang dasar 1945.

Akan tetapi, krisis tadi nampak tidak kunjung terselesaikan, bahkan semakin menjadi-jadi. Lihatlah kondisi politik yang tidak menentu,3 ekonomi yang kapitalistik termasuk kenaikan BBM 4 – Sembako,5 Hankam (pertahanan keamanan) Indonesia yang rawan intervensi negara-negara besar,6 pendidikan materialistik,7 dekadensi sosial termasuk hedonisme budaya seperti Narkoba,8 perusakan ajaran keagamaan dan lain sebagainya.9 Kenyataan tersebut, menunjukan kepada kita, bahwa bangsa Indonesia sangat perlu dibangkitkan, seperti bangkitnya Eropa dengan renaissans, ataupun Islam dengan masa Umayyah, Abbasiah maupun Utsmaniyah-nya.

 

Meraih Kebangkitan

Meraih kebangkitan bukanlah perkara mudah, tapi tidaklah mustahil untuk diwujudkan. Indonesia memang memerlukan bukti-bukti historis, empiris dan filosofis untuk mengambil metode kebangkitannya sendiri. Indonesia juga perlu mempertimbangkan kebangkitan model apa yang akan di capai, apakah kebangkitan model Eropa atau Islam.

Nampaknya, kita sebagai bangsa yang besar ini, diingatkan peristiwa sejarah, bahwa satu-satunya peradaban yang cocok untuk diambil model atau tipe kebangkitannya, adalah peradaban Islam. Mengapa harus peradaban Islam, jawabannya cukup mudah, karena semua model solusi bagi segala krisis sudah pernah digunakan, seperti solusi sosialime-komunisme, sekarang sekular-kapitalisme, akan tetapi fakta membuktikan semua solusi tersebut tidak pernah berhasil mengatasi krisis multi dimensi negeri Indonesia. Akhirnya, tinggal peradaban Islam-lah yang akan menjadi satu-satunya (harapan) model kebangkitan.

Umat Islam dulu memperoleh kejayaan selama berabad-abad, taraf berpikir mereka begitu tinggi. Ketinggian taraf berpikir kaum Muslim dulu bisa kita lihat dari infrastruktur yang mereka hasilkan, seperti gedung, observatorium, termasuk sains dan teknologi pada zaman itu (Fahmi Amhar, Bukti-bukti Historis Kemajuan Peradaban Islam, 2005).

Jerome R. Ravertz, dalam “Philosophy of Science”, mengungkapkan sebagai berikut:

Kebudayaan Islam paling relevan bagi (sumber) Ilmu Eropa. Bukan sekadar karena dekatnya hubungan antara Islam dengan Judaisme dan Kekristenan, melainkan juga karena adanya kontak kultural yang aktif antara negeri-negeri berbahasa Arab dengan Eropa Latin pada masa-masa yang menentukan. Ironisnya, zaman kebesaran Islam bersamaan waktunya dengan titik nadir (keterpurukan) kebudayaan di Eropa Barat. Penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh pengikut sang Nabi (Muhammad saw.) yang dimulai sejak abad ke-7 hingga abad ke-10 telah membuat bahasa Arab menjadi bahasa kaum terpelajar bagi bangsa-bangsa yang terentang mulai dari Persia hingga Spanyol. Para penakluk Arab (Khilafah Islamiyah) umumnya membawa kedamaian dan kemakmuran bagi negeri-negeri yang didudukinya. Sebagai contoh, perpustakaan Cordova di Spanyol nyata-nyata memiliki 500.000 buah buku pada saat bangsa-bangsa di Pyrenia utara paling-paling hanya mempunyai 5000 buah buku. Bangsa Muslim juga toleran terhadap keyakinan-keyakinan monoteis lainnya, sehingga orang-orang Yahudi mendapat posisi tinggi (dihargai / dilindungi karena termasuk warga Negara Khilafah Islam alias ahl al-Dzimmah) di negeri-negeri Islam pada saat mereka hampir tidak diizinkan hidup di Eropa. Tertarik akan tradisi-tradisi Ilmu Yunani, melalui para sarjana Kristen yang ada di Syiria, para penguasa Arab (Khilafah Islam) yang bertempat di Baghdad pada abad ke-9 memerintahkan penerjemahan besar-besaran terhadap sumber-sumber pengetahuan Yunani, dan segera sesudah itu peran sarjana Arab sendiri bergerak maju khususnya di bidang matematika, astronomi, optik, kimia, dan kedokteran ……………… Disamping sumbangannya yang sangat besar bagi peradaban Barat dalam memelihara dan menularkan warisan Yunani, bahasa Arab juga memberi kontribusi pada Ilmu modern dalam sejumlah kata, terutama berkenaan dengan tetumbuhan dan makanan, dan juga kata-kata seperti alkohol dan aljabar.10

Seorang cendekiawan muda, Arief B. Iskandar, juga menjelaskan tentang kemajuan peradaban Islam: Jika kita sepakat bahwa salah satu simbol kemajuan Islam adalah tingginya produktivitas (intelektual) para ulama kaum Muslim dalam menghasilkan karya berupa buku, mari kita membandingkan realitas berikut ini.
Pada masa-masa keemasan peradaban Islam (tentu ratusan tahun silam sebelum adanya gagasan liberalisasi pemikiran Islam yang muncul belakangan ini), sejumlah ulama dan ilmuwan Muslim telah menghasilkan banyak karya tulis dalam bentuk buku. Bahkan banyak di antara mereka yang menghasilkan ratusan judul buku, dalam berbagai disiplin ilmu.

Ibn Sina (terkenal di Barat sebagai Aveciena), misalnya, adalah seorang pakar kedokteran terkemuka hingga abad ini. Ia meninggalkan karya sekitar 267 buku. Al-Qânûn fî ath-Thibb adalah bukunya yang terkenal di bidang kedokteran.
Lalu ada Ibn Rusyd (terkenal di Barat sebagai Averous); seorang dokter sekaligus pakar fikih dari Andalusia. Al-Kulliyât adalah salah satu bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran.

Lantas ada az-Zahrawi; orang pertama yang mengenalkan teknik pembedahan organ tubuh manusia. Karyanya berupa eksiklopedia pembedahan dijadikan referensi dasar dunia kedokteran selama ratusan tahun, termasuk di berbagai universitas di Barat.
Kemudian ada az-Zarkalli; seorang ahli astronomi yang pertama kali mengenalkan astrolobe. Penemuan ini menjadi revolusioner karena dapat membantu navigasi laut yang kemudian mendorong berkembangnya dunia pelayaran secara pesat.

Selanjutnya ada al-Khawarizmi; ahli matematika, penemu angka nol, sekaligus pencipta salah satu cabang ilmu matematika, algoritma. Beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada awal abad ke-12 dan terus dipakai selama 400 tahun (hingga abad ke-16) sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di Eropa. Buku geografinya berjudul Kitâb Sûrât al-Ard yang memuat peta-peta dunia pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Di bidang ilmu kimia, ada masternya yang diakui oleh dunia. Dialah Jabir Ibn Hayyan. Pada abad pertengahan, karya-karya beliau di bidang ilmu kimia—termasuk kitabnya yang masyhur: Kitâb al-Kimyâ dan Kitâb as-Sab‘în—sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitâb al-Kimyâ bahkan telah diterbitkan oleh orang Inggris bernama Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Berthelot juga menerjemahkan beberapa buku Jabir, di antaranya dikenal dengan judul Book of Kingdom, Book of the Balances, dan Book of Eastern Mercury.

Lalu ada al-Idrisi; pakar geografi. Ia telah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 kilogram untuk Raja Roger II dari Sicilia. Globe buatan al-Idrisi ini secara cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan sungai, kota-kota besar, dataran serta pegunungan. Beliau memasukkan pula beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggian secara tepat. Bola dunianya itu oleh Idris sengaja dilengkapi pula dengan Kitâb ar-Rujari (Roger’s Book). Al-Idrisi pula yang pertama kali memperkenalkan teknik pemetaan dengan metode proyeksi; suatu metode yang baru dikembangkan oleh ilmuwan Barat, Mercator, empat abad kemudian.

Lantas ada Nashiruddin ath-Thusi; masternya ilmu astronomi dan perbintangan.
Kemudian ada Ibnu al-Haytsam; master ilmu alam dan ilmu pasti. Ia menulis buku berjudul Al-Manâzhir yang berisi tentang ilmu optik. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Frederick Reysnar, dan diterbitkan di Swiss pada tahun 1572 dengan judul, Opticae Thesaurus.

Kemudian ada al-Kindi; simbol kedigdayaan ilmuwan Muslim. Ia adalah master dalam ilmu fisika dan filsafat. Ia mewariskan sekitar 256 judul buku hasil karyanya. Lima belas buku di antaranya khusus mengenai meteorologi, anemologi, udara (iklim), kelautan, mata, dan cahaya; dan dua buah buku mengenai musik.
Di bidang sejarah dan ilmu sosial tentu saja ada Ibnu Khaldun sebagai sang maestronya.

Sementara itu, ribuan karya para ulama di bidang tsaqâfah Islam (bahasa Arab, ulumul Quran, ulumul hadis, tafsir, fikih, ushul fikih, dll) sudah tidak terhitung lagi secara pasti. Di kalangan Ahlus Sunnah saja, selain empat Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali), kita mengenal as-Suyuthi, Ibn Taimiyah, al-Ghazali, dll. Imam al-Ghazali, misalnya, yang dijuluki ‘Hujjah al-Islâm’, menghasilkan lebih dari 100 judul buku dari berbagai disiplin ilmu. Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn hanyalah salah satu masterpiece-nya.

Merekalah di antaranya yang telah memberikan banyak sekali sumbangsihnya bagi kemajuan peradaban Islam pada masa lalu, yang masih terasa denyutnya hingga kini, justru pada saat orang-orang Eropa masih bergulat dengan masa kegelapannya yang panjang. Tanpa kehadiran mereka, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Secara jujur, hal ini diakui oleh seorang cendekiawan Barat, Montgomery Watt, “Peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.” Jacques C. Reister juga berkomentar, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatan, ilmu pengetahuan, dan peradabannya yang tinggi.”11

Benarlah kata pepatah, ” Bangsa yang tidak memiliki masa lalu; tidak memiliki masa kini, apalagi masa depan.” Karena peradaban Islam memiliki masa lalu yang gemilang, maka masa kini dan masa depan pasti bisa diupayakan kembali gemilang. Kita tentu ingat sabda Rasulullah saw.

Urusan ini pasti akan sampai (ke seluruh alam) sebagaimana sampainya siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik di tengah penduduk kota maupun di tengah penduduk kampung, kecuali Allah masukkan ke dalamnya agama ini, dengan kemuliaan yang dimuliakan, atau kehinaan yang dihinakan; kemuliaan yang ditetapkan oleh Allah untuk Islam, dan kehinaan yang ditetapkan oleh Allah pada kekufuran. (HR. Ahmad IV/203; ath-Thabrani I/126; al-Hakim III/155)

 

Langkah Praktis Kebangkitan

Langkah praktis kebangkitan, adalah menggunakan kembali metode berpikir produktif yang telah diwariskan oleh Islam, yakni, menggunakan khazanah keilmuan Islam yang kita miliki untuk menghukumi fakta yang kita hadapi. Dengan melakukan proses tersebut secara berulang-ulang, maka metode berpikir produktif tersebut akan terbentuk di dalam diri kita. Jika ini dimiliki oleh umat maka umat pun pasti akan mampu menyelesaikan problem yang mereka hadapi. Jadi, kuncinya memang terletak pada metode berpikir produktif mereka. Bukan yang lain. (Hafidz Abdurrahman, Membangkitkan Taraf Berpikir Umat, 2004).

Contohnya, ketika BBM mulai melonjak, sembako mulai langka, korupsi merajalela, prostitusi dimana-mana, maka kita sebagai bangsa jangan “malu-malu” untuk merumuskan solusinya berdasarkan pandangan Islam semata. Karena, secara filosofis Islam mempunyai konsep yang lengkap, baik dari segi ide maupun metodenya (lihat: QS. 2: 208). Juga secara empiris dan historis Islam memang diakui oleh para intelektual Barat sendiri, sebagai pusat kebangkitan yang mampu memberi kedamaian dan kemakmuran bagi dunia, hal itu dapat dibuktikan lewat literatur: Jerome R. Ravertz dalam Philosophy of Science; John William Draper dalam Intelectual Development of Europe; George Sarton dalam Introduction to the History of Science; dan masih banyak lagi. Kita harus optimis, Islam pasti mampu menjadi sarana kebangkitan bangsa ini, tentu dengan syarat, mempercayai Islam sebagai sebuah sistem hidup sembari menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., dan para sahabat beliau.

“Tak akan tersisa di muka bumi satu rumah di kota dan kampung, kecuali Allah memasukkan ajaran Islam ke dalamnya dengan kemuliaan yang dimuliakan, atau kehinaan yang dihinakan; Allah memuliakan mereka, sehingga mereka menjadi ahlinya, atau mereka dihinakan, sehingga mereka tidak memeluknya.” (HR. Ahmad VI/6; al-Hakim IV/476; Ibn Hibban XV/93; al-Baihaqi IX/181)
Wallahu A’lam

 

 

*) Direktur LAPIS (Lembaga Pengkajian Islam Strategis/DPD II HTI Purwakarta)

 

 

Catatan Kaki:

1. Tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang sebelumnya Sarekat Dagang Islam. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia, bukan Budi Utomo yang berdiri 1908 dengan digerakkan oleh para didikan Belanda. (Munarman SH, Mantan Ketua YLBHI, dalam Gentra RRI Bandung 15/5/2008).

2. Pocket Oxford Dictionary, 1994

3. Lembaga Survei Indonesia (LSI) melaporkan, kepuasan publik terhadap pemerintah dalam 3 tahun terakhir terus menurun dari 80% di bulan November 2004 hingga menjadi 54% di bulan Oktober 2007. Bahkan menurut hasil Jajak Pendapat Kompas, praktik politik uang (money politic) dalam pilkada (53,5%), ketidakyakinan kepala daerah mampu memberantas korupsi (66,6%), calon kepala daerah tidak bebas dari politik uang (73,8%).(Jajak Pendapat Kompas).

4. Menurut Pemerintah kenaikan BBM mencapai 30% pada Juni tahun 2008 (Dakta FM, 12/5/2008).

5. Seperti terjadinya penimbunan dan kelangkaan beberapa produk bahan pokok.

6. Jumat 27 April 2007 pemerintah Indonesia menandatangani kerjasama pertahanan (Defence Cooperation Agreement/ DCA) dengan Singapura. Perjanjian ini memberikan hak latih bagi militer Singapura di wilayah Indonesia yang membentang antara Pulau Natuna Besar dan Kepulauan Anambas. Padahal kita semua tahu Singapura Merupakan Sekutu AS di Asi. Sebagai warga negara yang baik, kita tentu tidak rela di-intervensi.

7. Anggaran pendidikan yang ditetapkan 20 %. Pada 2007 hanya 11,8 % / Rp 90.10 triliun dari APBN. (Dari berbagai media nasional, 2007)

8. Di Indonesia transaksi Narkoba perhari mencapai Rp. 19 Miliar (Liputan 6 SCTV 5/06/2007).

9. Menurut Aliansi Umat Islam (ALUMNI): di Indonesia aliran sesat yang mengatasnamakan Islam, sejak thn 1980 – 2006 jumlahnya mencapai 250 aliran (Republika, 1/11/07)

10. Jerome R. Ravertz. The Philosophy of Science (Filsafat Ilmu, alih bahsa oleh: Saut Pasaribu), cet. 1. Pustaka Pelajar – Yogyakarta. 2004. hlm. 19, 20 dan 22

11. Arief B. Iskandar. Kejumudan Berfikir (dalam rubrik Ibrah), Majalah al-Wa’ie – Media Politik dan Dakwah : Hizbut Tahrir Indonesia – Jakarta, 2007. hlm. 34-35; lihat juga: Ziauddin Sardar dan Zafar Abbas Malik, Islam for Beginners (Muhammad for Beginners, oleh: Julianty), cet. VIII. Mizan – Bandung. hlm. 90-91; Dr. Ibrahim Rabi’ Muhammad, al-Awail fi al-Islam (Ensiklopedia Perdana Dalam Islam oleh: H. Imam Awaludin, Lc), Pustaka al-Kautsar – Jakarta Timur, cet. 1. 2004. dalam banyak Bab beliau membahasnya dengan ringkas. Lihat pula: Sutan Takdir A. dkk. Sumbangan Islam kepada Sains & Peradaban Dunia, cet.I. Yayasan Nuansa Cendekia – Bandung. hlm. 6-10.

 

Iklan