Fakta Kerusakan Kepolisian dalam Naungan Demokrasi

Terbongkarnya beragam kasus di tubuh Polri semakin menambah persepsi negatif tentang lembaga Negara ini. Hal demikian semakin memperburuk citra polisi dan memperlemah kepercayaan masyarakat ketika berurusan dengan polisi. Mulai kasus korupsi simulator SIM hingga narkoba telah menjangkiti tubuh lembaga yang satu ini. Misal berikut beberapa fakta penegak hukum yang menjadi pemakai, bandar dan pengedar Narkoba:

1. Komisaris Sunhot P Silalahi, mantan Kasat Narkoba di Polresta Jambi, didakwa mengkonsumsi narkoba, bulan agustus 2012 lalu, divonis bersalah, pidana penjara selama 1 tahun dan denda Rp 100 juta apabila tidak dibayarkan maka diganti dengan 1 bulan penjara (jambi.tribunnews.com);

2. Abdul Waris Bahesti (27), mantan Kasat Narkoba Polresta Gorontalo, divonis 6 tahun penjara dan denda 800 juta, telah terbukti memiliki sabu-sabu seberat 18,62 gram (www.antaranews.com);

3. AKP Bambang Setiono, mantan Kasat Narkoba Polres Nunukan, divonis 7 tahun penjara, denda 3 milyar, terbukti menghilangkan barang bukti sabu-sabu (http://www.antaranews.com);

4. Bripka Agung Wahyudianto vonis 10 tahun, Briptu Yulianus Babatan, Briptu David Siregar dan Briptu Iqbal (Semua anak buah AKP Bambang, sebagai penyidik Satuan Narkoba Nunukan) vonis 6 tahun penjara (kaltim.antaranews.com)

5. Jaksa Esther Tanak, menggelapkan barang bukti pil ekstasi milik PN Jakarta Utara, tahun 2009 lalu. Uang haram digunakan membeli Blacberry seharga 7 juta saat itu, ia divonis 1 tahun penjara (metro.news.viva.co.id);

6. Anggota Polsek Pademangan Zenanto, divonis satu tahun penjara, dan pesuruh di polsek tersebut bernama Irfan divonis satu tahun enam bulan dan denda Rp 5 juta (metro.news.viva.co.id);

7. 75 anggota Polri dan 35 anggota TNI terlibat penyalahgunaan narkoba di Jakarta, data ini merupakan pengakuan Jendral Timur Pradopo, saat menjabat dia Kapolda Metrojaya tahun 2010 (bisnis.news.viva.co.id);

8. Pada dua tahun terakhir (2011-2012) tercatat sebanyak 1.000 aparat kepolisian terlibat dalam jaringan peredaran narkoba di Indonesia. Terakhir anggota koperasi Badan Intelijen Strategis (Bais) berinsial “S” yang terlibat penyelundupan sebanyak 1.412.476 butir pil ekstasi (www.merdeka.com)

9. Berdasarkan data kepolisian dan Badan Narkotika Nasional pada 2011, 100 orang polisi terlibat baik sebagai pemakai (96 orang) maupun pengedar (4 orang). Sementara anggota BNN sendiri yang terlibat sebanyak empat orang (www.merdeka.com)

10. Kasus terbaru Puji Wijayanto, seorang hakim Pengadilan Negeri Bekasi, ditangkap BNN di sebuah tempat hiburan malam bersama 4 orang wanita pelacur sedang mengkonsumsi sabu-sabu (www.indosiar.com)

Inilah fakta bobroknya mental aparat yang terjadi karena habitat Demokrasi-Sekuler, dimana meniadakan akidah, ketakwaan dan aturan Islam dalam melaksanakan tugas penting pengayom dan pelindung masyarakat. Karena itu sangat penting disini untuk dipaparkan tentang posisi dan fungsi Kepolisian dalam konteks Daulah Khilafah, yang insyaAllah dengan izin dan pertolongan Allah swt Negara Khilafah tersebut akan tegak dalam waktu yang dekat ini.

Paparan Ringkas Kepolisian dalam Daulah Khilafah

Dalam Islam, Polisi (syurthah) bertugas menjaga keamanan di dalam negeri, di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri (DKDN). Departemen ini mempunyai cabang di setiap wilayah/daerah yang dipimpin oleh kepala polisi (syahib as-syurthah) di wilayah/daerah tersebut.

Polisi (syurthah) dalam Negara Islam (Khilafah) ada 2 yakni polisi militer dan polisi yang berada di bawah otoritas Khalifah/kepala daerah. Adapun yang boleh menjadi polisi adalah pria dan wanita balig, dan warga Negara Khilafah. Mereka mempunyai seragam tersendiri, dengan identitas khusus untuk menjaga keamanan.

Dalil tentang (kewajiban) adanyaPolisi ini adalah berdasarkan hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Qais bin Saad di sisi Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam memiliki kedudukan sebagai ketua polisi dan ia termasuk di antara para amir.” Imam Tirmizi juga telah meriwayatkan dengan redaksi, “Qais bin Saad di sisi Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam berkedudukan sebagai ketua polisi dan ia termasuk di antara para amir. Al-Ansari berkata: iaitu orang yang menangani urusan-urusan polis.”

Adapun yang layak menjadi kepala polisi (syahib as-syurthah), menurut Ibn Abi ar-Rabi’ dalam Suluk al-Malik fi Tadbir al-Mamalik, adalah orang yang sabar, berwibawa, tidak banyak bicara, berpikir panjang dan mendalam, tegas, cerdas, hidupnya bersih, tidak grasa-grusu, sedikit senyum dan tidak mudah memberi ampun.

Tugas utama polisi adalah menjaga keamanan di dalam negeri. Selain itu, mereka juga ditugasi untuk menjaga system, mensupervisi keamanan di dalam negeri dan melaksanakan seluruh aspek teknis/eksekusi. Adapun maksud polisi berada di bawah otoritas Khalifah/kepala daerah (wali/’amil), mereka akan malaksanakan apa saja yag dibutuhkan oleh Khalifah/kepala daerah sebagai pasukan eksekusi untuk mengeksekusi pelaksanaan hukum syari’ah, menjaga system, keamanan, patrol, ronda malam hari, mengintip pencuri, mencari pelaku criminal dan orang yang dikhawatirkan keburukannya (Ajhizat Daulah al-Khilafah, hal 95, 96 dan 99; Anwar ar-Rifa’I, al-Insan al-‘Arabi wa al-Hadharah, hal 235).

Polisi juga bertugas menghukum orang-orang yang dicurigai (ahl ar-raib), karena bekerja sama dengan kafir Harbi fi’lan (musuh umat Islam). Orang-orang yang seperti ini bisa muslim maupun ahli Dzimmah, bisa individu maupun organisasi. Kalau sekarang, mereka itu seperti aktifis liberal, LSM komprador, dan antek-antek AS, Inggris maupun sekutunya yang lain yang memusuhi Islam. Dalam kasus ini negara bisa memata-matai mereka dengan alasan bahwa memata-matai kafir Harbi fi’lan hukumnya wajib dan kafir Harbi hukman dalam kondisi normal boleh, tetapi bisa juga wajib ketika membahayakan Negara.begitupun dengan orang-orang yang dicurigai juga boleh untuk memata-matai mereka.

Dalam kasus murtad, ketika vonis hukuman mati sudah dijatuhkan oleh pengadilan (qadha’ khushumah), maka polisilah yang mengeksekusi hukuman mati tersebut. Dalam kasus terror, merompak, merampok harta masyarakat dan menghilangkan nyawa mereka, Negara bisa mengirim polisi untuk mengikuti gerak-gerik mereka, menangkap dan menjatuhi hukuman bunuh dan disalib, atau dibunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang, atau dibuang di suatu tempat terpencil. Sementara terhadap tindakan mencuri, merampok, korupsi, menyerang orang, baik dengan memukul, melukai, membunuh maupun menyerang kehormatan mereka, dengan mencemarkan nama baik dan menuduh zina, kepolisian bisa mencegahnya dengan deteksi dini, pengawasan dan control. Dalam kasus ini, polisi juga bertindak sebagai eksekutor, ketika vonis telah dijatuhkan oleh pengadilan.

Inilah fakta kepolisian dalam system pemerintahan Islam. Tugas dan tanggung jawab mereka memang berat, tetapidengan ketakwaan dan tsaqofah Islam yang ditanamkan secara mendalam kepada mereka, maka tugas berat itu pun bisa mereka jalankan dengan keikhlasan sebagai ibadah kepada Allah.

Sosok polisi yang seperti inilah yang umat dambakan di masa akan datang yang mampu memberikan penyelesaian masalah benar-benar ikhlas menolong masyarakat tanpa melihat kaya dan miskin, tinggi dan rendah derajat mereka karena polisi tersebut bekerja berdasarkan kesadaran akan amanah dari Allah swt. (globalkhilafah.blogspot.com)

(Abu Husna)