TERPILIHNYA kembali Barrack Obama sebagai Presiden AS tidak akan membawa banyak perubahan positif bagi Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari rekam jejak kepimpinan Obama selama periode pertama yang masih menjajah sumber daya alam Indonesia.

“Dulu ekspektasi orang atas hubungan Obama dengan dunia Islam akan menjadi lebih baik, tapi kenyataannya sama saja,” tandas juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto, kepada Islampos.com, Kamis (8/11/2012).

Selama empat tahun kepemimpinan Obama, Ismail menilai Amerika terus mempertahankan hegemoni kapitalismenya di negeri ini. Kerjasama ekonomi antara kedua negara selalu menjadikan Indonesia di pihak yang dirugikan. “Bahkan Amerika memaksakan perpanjangan kontrak Freeport,” sambungnya.

Hal sama juga terjadi dalam hubungan diplomatik. Ismail beranggapan Amerika berupaya menekan Indonesia untuk menjadi pendukung negaranya demi mengamankan kepentingan Amerika di Asia Pasifik untuk melawan China.

“Siapapun Presiden Indonesia, memang selalu tunduk pada Amerika. Karena Amerika sudah menjadikan Indonesia sebagai negara satelitnya,” jelasnya.

Karena itu dalam  pemilihan umum Presiden AS, Ismail tidak ingin terjebak untuk melihat person to person, tapi lebih kepada permasalahan utama di Amerika yakni sebuah sistem perundangan-undangan buatan manusia.

“Jadi siapapun presiden Amerika akan sama saja,” tegasnya.

[http://islampos.com]

 

Iklan