Bukannya mengirimkan pasukan untuk membebaskan Gaza serta mengusir penjajah Israel pencaplok tanah Muslim Palestina dan membantu negeri Syam, para kepala negara malah hanya duduk-duduk dan enggan untuk melakukan hal tersebut, kecuali ikut serta dalam menjaga keamanan Israel.

Gencatan senjata merupakan hal yang diinginkan Israel untuk menjaga keamanan di zona selatan, sehingga Israel dapat memokuskan persiapan di zona utara guna menghadapi para tentara kemerdekaan Suriah yang kian menguat serta berulangkali para tentara di Syam tersebut menyatakan penolakn mereka kepada Dewan Koalisi Nasional yang dibentuk di luar negeri, serta mereka dengan tegas bekerja untuk membentuk Negara Islam di bumi Syam.

“Kalau terjadi gencatan senjata, kita akan kirim pasukan perdamaian. Ini sama ketika kita kirim pasukan untuk menjaga perdamaian ke Lebanon,” kata Presiden SBY setelah menghadiri pertemuan dengan pemimpin Kelompok-8 Negara Berkembang (D-8) di Islamabad, Pakistan, Kamis malam.

Diantara para kepala negara yang membicarakan solusi untuk mengatasi masalah di Timur Tengah tersebut adalah Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Perdana Menteri Turki Recep Erdogan, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari, dan Wakil Presiden Mesir Mahmud Makki.

Para pemimpin negara berpenduduk mayoritas Muslim itu menyepakati tiga hal. Pertama, kekerasan dan pertumpahan darah harus dihentikan dan dilakukan gencatan senjata. Kedua, menyalurkan bantuan kemanusiaan.

“Ketiga, mesti ada transisi kekuasaan, transisi politik ke arah pemerintahan baru,” kata Presiden serta menambahkan transisi harus dilakukan secara damai supaya konflik berkepanjangan tidak lagi terjadi.

Demikianlah, para penguasa negeri Muslim itu akhirnya enggan mengirimkan pasukan sebagaimana diminta penduduk Gaza, melainkan hanya mengikuti langkah-langkah palsu. Demikian juga enggan mengirimkan pasukan ke negeri Suriah, Syam, di mana lebih dari 40.000 orang telah syahid dibantai rezim Assad.

Sejak berdirinya yang dibantu PBB, penjajah Israel telah merampas negeri kaum Muslim Palestina. Saat para tentara mujahidin siddiqun di Suriah kian menguat, tentu ini menjadi hal yang menakutkan bagi Israel sehingga mereka harus bersiap-siap.

Revolusi-revolusi di bumi Syam menyerukan mobilisasi pasukan umat ke Palestina untuk membebaskan Palestina dan menghancurkan entitas Yahudi. Apalagi, kaum revolusioner Syam terus berjalan dalam langkah-langkah yang teguh untuk mengembalikan kekuasaan kaum Muslimin dari penjaga Yahudi, despot Syam, Bashar Assad yang menjaga front utara tanpa letusan senjata satu pun selama empat puluh tahun.

Entitas Yahudi paham bahwa warga Syam yang mukhlis jika mereka berhasil melenyapkan Assad dan membaiat seorang imam untuk kaum Muslimin yang memerintah mereka dengan Islam, maka pada waktu itu tidak akan tersisa lagi eksistensi untuk entitas Yahudi.

Karena itulah mereka berusaha mati-matian untuk meraih gencatan senjata jangka panjang di front selatan dengan jalur Gaza melalui serangan brutal terhadap warga Gaza ini.  Mereka melakukan itu dengan sengaja berkolusi dengan rezim arab pengkhianat dalam menekan otoritas Gaza supaya mereka bisa leluasa menyiapkan diri untuk front Suria. [m/ant/syabab.com]

Iklan