Archive for Desember, 2012


Al-Islam edisi 635, 28 Desember 2012-14 Shafar 1434 H

Amerika dan Aliansinya Berpacu dengan Waktu Menyiapkan Koalisi yang Akan Memerintah dan Mendukungnya dengan Inisiatif-Inisiatif Internasional

Hal Itu Karena Khawatir Didahului oleh Al-Khilafah Al-Islamiyah di Pusat Dar al-Islam

khilafah

Hari-hari ini terjadi eskalasi yang sangat menyolok dari inisiatif-inisiatif politik untuk menyelesaikan krisis Suriah. Yang mutakhir adalah inisiatif Erdogan seperti dikutip oleh berbagai media massa pada 17 dan 18 Desember 2012, dan masih terus berlanjut. Ini menunjukkan berbagai lingkaran politik telah mulai serius. Tingkat keseriusan itu makin tinggi, sebab Moskow yang terkenal dengan sikapnya yang berdiri di samping rezim Suria dengan begitu kuat, justru menganggap inisiatif Erdogan itu “inovatif” dan tidak menolaknya seperti kebiasaannya selama ini! Hal paling menonjol dalam rencana itu adalah “Bashar turun dari kekuasaan pada tiga bulan pertama tahun 2013 dan kekuasaan pada masa transisi diserahkan kepada Koalisi Nasional …”. Keseriusan itu makin bertambah dengan pernyataan al-Shara’, wakil presiden Suria, dalam wawancaranya dengan al-Akhbar al-Lubnaniyah pada 15 Desember 2012 dan dipublikasikan oleh berbagai media masa pada tanggal 17 Desember 2012. Al-Shara’ mengatakan, “Wajib membela eksistensi Suria dan bukannya melancarkan peperangan demi seseorang atau rezim”. Karena Amerika adalah pihak yang memelihara rezim dan simbol-simbol rezim, maka al-Shara’ tidak akan mengeluarkan pernyataan itu tanpa lampu hijau dari Amerika. Ini semua menunjukkan adanya kesamaan tujuan antara pernyataan al-Shara’ dengan inisiatif Erdogan yang akan menyerahkan pemerintahan kepada Koalisi dalam rencana dekatnya, dan mungkin saja al-Shara’ mendapat bagian di dalamnya …!

Semua isyarat itu menunjukkan keseriusan yang lebih besar atas berbagai inisiatif, khususnya inisiatif Erdogan. Amerika dan sekutunya telah menyiapkan suasana untuk inisiatif-inisiatif ini sejak perekayasa Amerika, duta besar Ford, menghasilkan Koalisi pada 11/11/2012 … Sejak saat itu, Amerika dan sekutunya bekerja serius untuk menyiapkan suasana bagi Koalisi melalui berbagai bantuan … dan dengan berbagai pengakuan. Amerika secara rahasia telah mengakui Koalisi sejak didirikan, dan memberi pengakuan secara terbuka tanggal 12 Desember 2012 pada malam Konferensi Marakesh. Pada hari berikutnya, 13 Desember 2012, pengkauan itu diikuti oleh pengakuan dari berbagai negara yang berkumpul, jumlahnya lebih dari seratus! Seolah-olah mereka menunggu izin dari Amerika untuk melakukan hal itu! Semua ini bertujuan agar Koalisi menjadi antek pengganti, yang menggantikan antek lama, Bashar! Antek lama, Bashar, sudah hampir selesai perannya, maka mereka melemparkannya ke keranjang sampah seperti yang dilakukan terhadap kelompoknya sebelumnya.

]وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (TQS al-An’am [6]: 129)

Begitulah, mereka adalah antek-antek yang mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukmin, karena kerakusannya terhadap “perhiasan” yang dilemparkan oleh tuan-tuannya; atau karena harapan atas janji yang membangkitkan angan-angannya, sebagaimana setan memberi janji kepada para pengikutnya dan membangkitkan angan-angan mereka.

]يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا [

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (TQS an-Nisa’ [4]: 120)

Amerikalah yang ada di belakang inisiatif itu. Erdogan dan rezimnya adalah garis depan politik Amerika di Suria. Dimilai dari (inisiatif) Majelis Nasional pada 2 Oktober 2011, lalu Koalisi Nasional pada 11 November 2012, Majelis Anatolia Militer pada 8 Desember 2012 dan berbagai majelis serupa, hingga Koalisi saat ini! Akan tetapi yang menghantui Amerika dan sekutunya adalah mereka sadar bahwa Koalisi atau majelis-majelis yang mereka bentuk di luar negeri itu tidak memiliki dukungan publik di dalam negeri di antara orang-orang yang mengusung panji Rasul SAW, orang-orang revolusioner ash-Shadiqun yang membela masyarakat menghadapi rezim yang sempoyongan hampir tumbang … Karena itu, sangat mungkin Amerika akan meminta resolusi dari Dewan Keamanan untuk mengirimkan kekuatan internasional guna melindungi Koalisi setelah kekuasaan Bashar dialihkan kepada Koalisi. Juga tidak menutup kemungkinan pendahuluan yang digunakan untuk mengeluarkan resolusi itu adalah berbagai pembicaraan tentang senjata kimiawi, diangkatnya masalah penyelesaian problem-problem keamanan pasca Bashar, kebisingan penempatan rudal Patriot dan tuduhan terorisme terhadap beberapa gerakan Islam di Suria, padahal Amerika lah gembong terorisme di dunia!

Wahai kaum Muslimin, wahai orang-orang revolusioner ash-Shadiqun. Sesungguhnya darah-darah Anda yang tertumpah dan pengorbanan yang tercurah, tidak layak disia-siakan begitu saja, dengan hasil penerapan sistem republik sekuler demokrasi sipil, apapun nama dan sebutannya. Sistem itu adalah buatan manusia; sistem yang menjadi penyebab bencana dan derita di negeri-negeri kaum Muslimin yang terus mendera… Maka jangan beri kesempatan kepada Amerika, beserta sekutu dan Koalisinya untuk merealisasi angan-angan jahatnya di negeri Syam, pusat Dar al-Islam. Apalagi kemenangan telah hampir datang, dan dengan izin Allah tidak dikhawatirkan hilang. Armada Anda terus bergerak maju dan sebaliknya kelompok Bashar dan kaki tangannya terus mundur. Dan kemenangan itu bersama kesabaran… Anda telah membebani jiwa-jiwa Anda untuk mengalahkan keinginan beristirahat, agar Anda layak meraih kemuliaan dunia dan akhirat. Bagaimana mungkin bumi Syam layak dipelihara berdasarkan selain Islam?

]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50)

Dan bagaimana mungkin warga Syam merasakan keamanan, keselamatan, dan ketenteraman di dalam sistem selain Islam?

] فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى & وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا [

Maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (TQS Thaha [20]: 123-124)

Wahai kaum Muslimin, wahai orang-orang revolusioner ash-Shadiqun. Yang ada hanyalah satu dari dua tenda: tenda keimanan yang di dalamnya tidak ada kemunafikan dan tenda kemunafikan yang di dalamnya tidak ada keimanan. Maka jangan beri kesempatan pada kaum kafir penjajah dan antek-anteknya, untuk berhasil menobatkan Koalisi di pemerintahan republik demokratis sekuler. Jika itu terjadi, Anda akan kembali ke rezim yang Anda telah keluar darinya. Rezim dengan wajah yang dirias untuk mempercantiknya, dengan antek baru pengganti antek yang lama… Pada saat itu Anda akan kembali mengalami kezaliman dan penderitaan yang telah diperingatkan kepada Anda. Darah-darah Anda akan mengadu kepada Penciptanya. Pengorbanan-pengorbanan Anda akan memperkarakan Anda kepada Zat yang di sisi-Nya tidak ada seorang pun yang dizalimi. Maka Anda akan merugi dan menyesal di mana ketika itu penyesalan tidak ada gunanya. Anda akan menjadi seperti seorang perempuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya menjadi cerai berai!

Maka kerahkanlah segenap daya upaya agar tenda keimanan berhasil tegak, yaitu tenda para pejuang al-Khilafah, tenda kebenaran, keikhlasan, dan kemuliaan.

] وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ [

Dan kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (TQS al-Munafiqun [63]: 8)

Yaitu kemah sebaik-baik umat yang telah dikeluarkan untuk umat manusia …

Wahai kaum Muslimin, wahai orang-orang revolusioner ash-shadiqun. Sesungguhnya Hizbut Tahrir berasal dan bagian dari Anda serta bersama Anda. Hizbut Tahrir mengulurkan tangannya meminta nushrah dari setiap orang mukhlis pemilik kekuatan untuk menegakkan al-Khilafah ar-Rasyidah pasca pemerintahan dikatator ini, sebagaimana yang telah disampaikan kabar gembiranya oleh Rasulullah SAW:

«…ثُمَّ تَكُونُ جَبْرِيَّةً، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

… kemudian ada penguasa diktator dan dia akan tetap ada sesuai kehendak Allah, kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya, kemudian ada khilafah yang berjalan mengikuti manhaj kenabian (HR Ahmad dan ath-Thayalisi)

Anda adalah pemilik kekuatan, maka tolonglah Islam dan pemeluknya, tolonglah para pejuang al-Khilafah. Jadilah seperti kaum Anshar yang menolong Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, sehingga Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. ‘Arsy ar-Rahman bergetar karena kematian pemimpin mereka, Sa’ad bin Mu’adz. Dan para Malaikat berjalan mengiringi jenazahnya. Semua itu merupakan penghormatan untuk aktifitas agung ini yang dilakukan oleh Sa’ad dan kaumnya; yaitu menolong Allah, rasul-Nya dan kaum Mukmin untuk menegakkan hukum Islam.

Sesungguhnya pemimpin itu wahai warga Syam, tidak membohongi warganya. Dan sesungguhnya Hizbut Tahrir memberi kabar gembira kepada Anda dan memperingatkan Anda dengan firman Allah SWT:

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ[

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (TQS Muhammad [47]: 7)

Hizbut Tahrir mengingatkan Anda dengan firman Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa:

]وَلاَ تَرْكَنُوْا إِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُوْنَ[

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.(TQS Hud [11]: 113)

Maka ikatlah perjanjian dengan Allah atas kabar gembira dan peringatan itu. Dan hendaklah Anda bersama orang-orang yang benar (ash-Shadiqun). Allah bersama Anda dan tidak akan menyia-nyiakan amal-amal Anda.

 

5 Shafar 1434

19 Desember 2012

 

Hizbut Tahrir

 

Iklan

Hukum Merayakan Natal Bagi kaum Muslim

 

0

Oleh: Hafidz Abdurrahman

Pertama: Keharaman Merayakan Hari Raya kaum Kafir dan Mengucapkan Selamat “Hari Raya”

Kaum Muslim haram mengikuti Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) merayakan Hari Natal atau hari raya mereka, serta mengucapkan ucapan “Selamat Natal”, karena ini merupakan bagian dari kegiatan khas keagamaan mereka, atau syiar agama mereka yang batil. Kita pun dilarang meniru mereka dalam hari raya mereka.

Keharaman itu dinyatakan dalam al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’ Sahabat. Pertama, dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

  وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

 “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kemaksiatan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Q.s. al-Furqan [25]: 72)

Mujahid, dalam menafsirkan ayat tersebut menyatakan, “az-Zûr (kemaksiatan) itu adalah hari raya kaum Musyrik. Begitu juga pendapat yang sama dikemukakan oleh ar-Rabî’ bin Anas, al-Qâdhî Abû Ya’lâ dan ad-Dhahâk.” Ibn Sirîn berkomentar, “az-Zûr adalah Sya’ânain. Sedangkan Sya’ânain adalah hari raya kaum Kristen. Mereka menyelenggarakannya pada hari Ahad sebelumnya untuk Hari Paskah. Mereka merayakannya dengan membawa pelepah kurma. Mereka mengira itu mengenang masuknya Isa al-Masih ke Baitul Maqdis.” [1]

Wajh ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, jika Allah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan az-Zur (Hari Raya kaum Kafir), padahal hanya sekedar hadir dengan melihat atau mendengar, lalu bagaimana dengan tindakan lebih dari itu, yaitu merayakannya. Bukan sekedar menyaksikan.

Kedua, mengenai as-Sunnah, dalil yang menyatakan keharamannya adalah hadits Anas bin Malik ra, yang menyatakan:

 قَدَمَ رَسُوْلُ الله [صلم] اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله [صلم]: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ [رواه أبو داود، وأحمد، والنسائي على شرط مسلم]

 “Rasulullah saw. tiba di Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari, dimana mereka sedang bermain pada hari-hari tersebut, seraya berkata, ‘Dua hari ini hari apa?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adhha dan Hari Raya Idul Fitri.” (Hr. Abu Dawud, Ahmad dan an-Nasa’i dengan syarat Muslim)

Wajh ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, bahwa kedua hari raya Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah saw. Nabi juga tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang menjadi tradisi mereka. Sebaliknya, Nabi bersabda, Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik.”  Pernyataan Nabi yang menyatakan, “mengganti” mengharuskan kita untuk meninggalkan apa yang telah diganti. Karena tidak mungkin antara “pengganti” dan “yang diganti” bisa dikompromikan. Sedangkan sabda Nabi saw, “Lebih baik dari keduanya.” mengharuskan digantikannya perayaan Jahiliyah tersebut dengan apa yang disyariatkan oleh Allah kepada kita.

Ketiga, tindakan ‘Umar dengan syarat yang ditetapkan kepada Ahli Dzimmah telah disepakati oleh para sahabat, dan para fuqaha’ setelahnya, bahwa Ahli Dzimmah tidak boleh medemonstrasikan hari raya mereka di wilayah Islam. Para sahabat sepakat, bahwa mendemonstrasikan hari raya mereka saja tidak boleh, lalu bagaimana jika kaum Muslim melakukannya, maka tentu tidak boleh lagi.

‘Umar pun berpesan:

 إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ [رواه أبو البيهقي إسناد صحيح].

 “Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.” (Hr. al-Baihaqi dengan Isnad yang Shahih)

Ibn Taimiyyah berkomentar, “Umar melarang belajar bahasa mereka, dan sekedar memasuki gereja mereka pada Hari Raya mereka. Lalu, bagaimana dengan mengerjakan perbuatan mereka? Atau mengerjakan apa yang menjadi tuntutan agama mereka. Bukankah melakukan tindakan mereka jauh lebih berat lagi? Bukankah merayakan hari raya mereka lebih berat ketimbang hanya sekedar mengikuti mereka dalam hari raya mereka? Jika murka Allah akan diturunkan kepada mereka pada hari raya mereka, akibat tindakan mereka, maka siapa saja yang terlibat bersama mereka dalam aktivitas tersebut, atau sebagian aktivitas tersebut pasti mengundang adzab tersebut.”[2]

Hal senada juga dikemukakan oleh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Ahkam Ahl ad-Dzimmah, Juz I/161. Beliau menyatakan, para ulama’ sepakat tentang keharaman mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka, tidak ada perselisihan pendapat.

Kedua: Mereka yang Membolehkan

Dr. Quraisy Shihab menyatakan, memberikan ucapan selamat Natal sudah diajarkan dalam al-Qur’an, seperti tertuang dalam surah Maryam ayat 34.

 ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ

 “Itu tentang Isa putera Maryam, yang merupakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.” (Q.s. Maryam [19]: 34)

Ayat ini sama sekali tidak membahas tentang hukum kebolehan mengucapkan “Selamat Natal”. Menurut al-Qurthubi, ayat ini menjelaskan tentang siapa Nabi ‘Isa –‘alaihissalam. Dia adalah putra Maryam, tidak seperti yang dituduhkan orang Yahudi, sebagai putra Yûsuf an-Najjâr, atau seperti klaim orang Kristen, bahwa dia adalah Tuhan (anak), atau putra Tuhan.[3]

Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan, bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama, selama tidak merugikan agama lain. Termasuk hak tiap agama untuk memberikan ucapan selamat saat perayaan agama lain. Dia mengatakan, “Sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan ucapan selamat kepada non-Muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik).

Sebagaimana firman Allah SWT:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada  orang-orang yang tiada memerangimu karena agamadan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.s. al-Mumtahanah: 8)

Kebolehan memberikan mengucapkan selamat ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan ucapan selamat kepada kita dalam perayaan hari raya kita:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

 Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (Q.s. an-Nisa: 86)

Begitu, kata Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Padahal, Q.s. al-Mumtahanah: 8 di atas, khususnya frasa “Tabarrûhum wa tuqsithû ilaihim” (berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka) tidak ada kaitannya dengan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada kaum Kafir yang tidak memerangi kita. Karena bersikap baik dan adil kepada mereka dalam hal ini terkait dengan mu’amalah, bukan ibadah. Sedangkan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka bagian dari ibadah. Konteks ayat ini terkait dengan Bani Khuza’ah, dimana mereka menandatangani perjanjian damai dengan Nabi untuk tidak memerangi dan menolong siapapun untuk mengalahkan baginda saw, maka Allah perintahkan kepada baginda saw untuk berbuat baik, dan menepati janji kepada mereka hingga berakhirnya waktu perjanjian.[4] Jadi, konteks “berbuat baik” di sini sama sekali tidak ada kaitannya dengan “Selamat Hari Raya” kepada mereka, yang merupakan bagian dari “berbuat baik”.

Demikian juga dengan Q.s. an-Nisa’: 86. Ayat ini menjelaskan tentang tahiyyah (ucapan salam) yang disampaikan kepada orang Mukmin. Tahiyyah juga bisa berarti doa agar diberi kehidupan. Menurut at-Thabari, “Jika kalian didoakan orang agar diberi panjang umur, maka diperintahkan untuk mendoakannya dengan doa yang sama.”[5] Namun, menurut al-Qurthubi, tahiyyah di sini bisa berarti ucapan salam. Jadi, “Jika kalian diberi salam, maka jawablah salamnya dengan lebih baik.” Hanya, menurut al-Qurthubi, balasan lebih baik ini dikhususkan kepada orang Islam, jika mereka yang mengucapkan salam. Jika yang mengucapkan salam orang Kafir, termasuk Ahli Dzimmah, maka tidak boleh membalas salam mereka, kecuali dengan jawaban yang diajarkan oleh Nabi, “Wa ‘alaikum.” [6]

Jadi, menggunakan ayat ini untuk membolehkan kaum Muslim mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada kaum Kafir jelas tidak tepat. Bahkan, bertentangan dengan sejumlah dalil, baik al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijma’ Sahabat. Meski begitu, Dr. Yusuf al-Qaradhawi secara tegas mengatakan, bahwa tidak halal bagi seorang Muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan khas agama lain.

Adapun Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’ menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan selamat kepada orang Kafir. Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang dianut jenazah tersebut.

Menurut beliau, ucapan “Selamat Hari Raya” kepada para  pemeluk Kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, juga tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang Muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama. Dia juga memfatwakan, bahwa karena ucapan selamat ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

Namun dia juga menyatakan, bahwa ucapan selamat ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

Mengenai berdiri atau duduknya Nabi ketika jenazah Yahudi lewat, sebenarnya bukan dalil khusus, tetapi ini merupakan tindakan yang dilakukan Nabi secara umum terhadap jenazah, baik Muslim maupun non-Muslim. Karena dalam riwayat al-Hasan maupun Ibn ‘Abbas dinyatakan, bahwa Nabi terdakang berdiri dan terkadang duduk, saat ada jenazah melintas di hadapan baginda saw. Ini juga tidak ada kaitannya dengan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka. Karena konteksnya jelas-jelas berbeda.

Tentang pembuatan kartu Natal atau pernak-pernik Natal jelas haram, karena ini menyangkut madaniyyah khâshash yang terkait dengan peradaban lain, di luar Islam, yang nota bene adalah Kufur. Karena itu, hukum membuat, menjual, memanfaatkan dan mengambil harga dan keuntungan darinya juga haram.

Mengenai pernyataan Menteri agama yang menyatakan, bahwa ini hanyalah masalah mu’amalah, juga merupakan pernyataan yang tidak cermat. Karena tidak memilah mana yang ibadah dan mu’amalah. Merayakan Natal Bersama adalah bagian dari ibadah, yang haram dilakukan oleh kaum Muslim. Bahkan bisa menjerumuskannya dalam kemurtadan. Kalaulah memberi ucapan “Selamat Hari Raya” dianggap oleh Menag bagian dari mu’amalah, maka ini pun bagian dari mu’malah yang haram dilakukan oleh kaum Muslim kepada non-Muslim, apapun alasannya. Apakah untuk mujamalah (basa-basi), yang nota bene adalah sikap nifaq, maupun tasamuh (toleransi).

Pernyataan yang juga menggelikan adalah pernyataan MUI, yang menyatakan  boleh menghadiri, asal serimonialnya bukan ritualnya. Pernyataan seperti ini juga batil, yang sama sekali tidak ada dalilnya. Sebab, siapapun yang menelaah dalil-dalil yang dikemukakan di atas, pasti paham, bahwa jangankan untuk menghadiri seremoninya, karena melihatnya saja jelas-jelas tidak boleh.

 

Kesimpulan

Dari uraian tersebut bisa disimpulkan:

1-   Hukum mengucapkan “Selamat Natal” atau “Selamat Hari Raya” bagi orang non-Muslim dalam hari raya mereka jelas haram. Dalam hal ini, menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’.

2-   Hukum mengikuti ritual maupun seremoni hari raya orang non-Muslim juga haram, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’.

3-   Membuat kartu atau pernak-pernik natal atau hari raya agama lain juga diharamkan, karena ini menyangkut madaniyyah khashah yang bertentangan dengan Islam.

4-   Dalil-dalil yang menyatakan keharamannya juga jelas, baik dalam al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijma’ Sahabat. Sedangkan dalil-dalil yang digunakan untuk menyatakan kebolehannya sama sekali tidak ada kaitannya, baik langsung maupun tidak. Karena itu, tidak layak dijadikan hujah dalam masalah ini.

Wallahu a’lam.

[http://hizbut-tahrir.or.id]

Hafidz-abdurahhaman_hti21Hafidz Abdurrahman,
Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI

Penduduk Kristen baik Katolik maupun Protestan di Indonesia per Sensus 2010 tidak lebih dari 13,7 persen. Namun bila menjelang Natal, seakan mereka menjadi penduduk mayoritas di negeri ini. Di ruang publik berbagai atribut Natal di pasang bahkan karyawan Muslim di berbagai mall dan hotel turut menyemarakkannya dengan menggunakan topi Santaclaus. Mengapa bisa terjadi? Apa motif politik dan ekonomi di balik pendangkalan akidah ini? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Hafidz Abdurrahman. Berikut petikannya.

 Di negeri yang mayoritas Muslim ini mengapa budaya Natal marak?

Fenomena seperti ini bukan hanya di Indonesia, tetapi di setiap negara yang mengadopsi paham pluralisme. Paham yang menyatakan, bahwa semua agama sama. Paham ini lahir dari kebebasan beragama, yang membebaskan orang menentukan pilihan agamanya, bahkan untuk murtad sekalipun.

 

Konsekuensinya, ruang toleransi tanpa batas harus dibuka. Maka, saat Hari Raya Idul Fitri, umat Islam merayakannya dengan semarak. Giliran orang Kristen merayakan Natal, mereka pun akan melakukan hal yang sama. Orang Hindu, Budha dan bahkan Konghucu juga melakukan hal yang sama.

Bertambah semarak, karena perayaan ini kemudian ditayangkan di berbagai stasiun televisi.  Bahkan lebih narsis lagi, karena pemilik stasiun televisi adalah politisi yang ingin meraih dukungan dari kalangan umat beragama. Maka, kepentingan politik bertemu dengan kepentingan agama. Terjadilah simbiosis mutualisme.

Lantas apa motif dan bahaya dari membudayakan perayaanNatal di tengah-tengah penduduk yang mayoritas Muslim ini?

Bagi kaum Kristen ini bagian dari upaya kristenisasi di dunia Islam. Kristenisasi di dunia Islam telah digunakan sebagai senjata kaum kafir penjajah untuk menghancurkan pemikiran Islam kaum Muslim. Baik melalui pluralisme maupun sinkritisme.

Mereka telah berhasil merusak kekayaan terpenting umat Islam, yaitu pemikiran Islam. Ketika umat Islam ini pemikirannya rusak, maka dengan mudah dijajah kemudian kekayaannya dijarah.

Di masa Khilafah Utsmaniyyah, seorang misionaris bernama Eli Smith, telah menggunakan senjata kristenisasi ini sebagai senjata untuk melemahkan kekuatan Khilafah. Menyemai benih perpecahan dan pemberontakan dunia Arab dari Khilafah Utsmaniyyah.

Di Indonesia, sepak terjang Uskup Bello, juga membuktikan hal yang sama. Kristenisasi yang dilakukannya di Dilli, Timor Timur, telah berhasil dijadikan senjata untuk memisahkan wilayah itu dari Indonesia.

Dengan demikian, selain motif politik, yaitu penjajahan, dan motif ekonomi, yaitu eksploitasi dan penjarahan kekayaan alam umat Islam, juga ada motif bisnis, yaitu bisnis musiman. Menjual pernak-pernik Natal. Karena demand yang bagus, maka ini juga bisa menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Meski tentu hukumnya haram bagi kaum Muslim.

Hukum seorang Muslim yang berjualan atribut Natal?

Hukumnya haram. Karena, apa saja yang haram dimakan, digunakan, dinikmati, dibuat, maka hukumnya haram menjual dan mengambil harganya.

Bagaimana dengan hukum karyawan Muslim yang mengenakan atribut Natal, haram juga?

Atribut Natal, seperti tutup kepala Sinterklas, salib atau pohon dan kembang Natal, adalah bagian dari madaniyyah (bentuk fisik) tertentu, yang terkait dengan peradaban tertentu, yaitu Kristen. Hukum memakai, menjual dan menggunakan atribut ini jelas haram, karena larangan mengambil selain Islam sebagai jalan hidup (QS Ali ‘Imran [03]: 85). Selain itu, juga termasuk dalam larangan menyerupai orang kafir.

Lalu bagaimana, jika memakainya karena alasan takut dipecat?

Alasan ini tidak bisa dijadikan sebagai rukhshah, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits, “Dan apa saja yang mereka dipaksa (untuk melakukannya).” Sebab konteks paksaan di sini berlaku jika paksaan tersebut termasuk dalam kategori ikrah mulji’, seperti dibunuh. Selain itu, tidak ada pilihan lain, kecuali itu. Dalam kasus karyawan tersebut, dua-duanya tidak terjadi. Karena itu, hukum rukhshah dalam kasus seperti ini tidak ada.

Ketika Lebaran orang Kristen mengucapkan “selamat” kepada kita, mengapa saat Natal kita dilarang ucapkan “selamat” pada mereka?

Karena mengucapkan selamat hari raya kepada orang Kristen ketika mereka merayakan Natal, menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, hukumnya haram dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Kalau pejabat-pejabat Muslim dari tingkat RT sampai presiden diharamkan juga mengucap selamat Natal? Tapi kan mereka harus mengayomi semuanya bukan hanya orang Islam.

Mengayomi umat beragama yang menjadi warga negara tidak mengharuskan seorang pejabat negara memberi ucapan selamat hari raya dan sebagainya. Mengayomi warga negara non-Muslim adalah dengan membiarkan mereka bebas menjalankan agamanya pada batas yang dibenarkan oleh syariah. Selain itu, juga menjamin seluruh hak dan kewajiban mereka, sama persis seperti ketika negara menjamin seluruh hak dan kewajiban kaum Muslim.

Ketika khilafah kembali tegak, apakah khalifah akan melarang non Muslim termasuk Kristen merayakan hari rayanya?

Merayakan hari raya masing-masing agama adalah hak setiap pemeluk agama. Dalam konteks ini, Negara Khilafah tidak boleh melarang mereka merayakan hari rayanya. Sebagai sabda Nabi, “Siapa saja yang tetap dengan keyahudian atau kenasraniannya, maka tidak boleh dihasut (untuk meninggalkan agamanya).” Termasuk, melarang mereka merayakan hari raya. Karena itu, mereka tetap dibiarkan memeluk agama mereka, menikah, makan, minum dan berpakaian sesuai dengan ketentuan agama mereka.

Hanya saja, Nabi menyatakan, “al-Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih (Islam itu tinggi, dan tidak boleh dikalahkan ketinggiannya (oleh yang lain).” Titah ini meliputi larangan kepada orang-orang non Muslim menampakkan atribut agama mereka, termasuk membunyikan lonceng di gereja, merayakan hari raya dengan disiarkan oleh stasiun televisi secara meluas. Karena semuanya ini menyalahi hadits di atas.

Jadi toleransi yang benar dalam pandangan Islam itu bagaimana?

Toleransi yang benar adalah membiarkan mereka tetap memeluk agama mereka. Tidak memaksa pemeluk agama lain untuk meninggalkan agamanya, dan memeluk Islam. Termasuk membiarkan mereka makan, minum, berpakaian dan menikah dengan menggunakan agama mereka. Namun, semuanya itu pada batas yang dibolehkan oleh syariah. (mediaumat.com, 25/12)

Sistem pemerintahan yang diberlakukan sekarang –yakni Kapitalis Sekuler– telah nyata gagal memberikan kesejahteraan. Seorang perempuan yang sejatinya adalah seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya, dalam sistem kapitalis telah berubah menjadi mesin ekonomi. Dalam sistem kapitalis, perempuan bekerja bukan karena mengakomodir jargon kesetaraan gender, namun alasan utama pemanfaatan jasa mereka lebih pada hitung-hitungan ekonomi. Pudjiwati Sayogjo (1989), pakar Sosiologi Pedesaan IPB, menyatakan bahwa memperkerjakan perempuan lebih menguntungkan. Selain teliti, tekun dan sifat-sifat lain yang umumnya menjadi ciri khasnya, tenaga kerja perempuan dipandang lebih penurut dan murah sehingga secara ekonomis lebih menguntungkan bagi pengusaha.

Fenomena TKI makin menunjukkan nasib tragis kaum perempuan di Indonesia. Kasus-kasus pilu TKI bertahun-tahun terus disuguhkan kepada publik. Namun hal itu belum cukup menggerakkan kemauan penguasa untuk total menghentikan ekspor TKI. Walaupun banyak pihak berteriak agar pengiriman TKI ditutup, pemerintah hanya melakukan moratorium sementara. Lagi-lagi motif ekonomi lebih melatarbelakangi kenekadan pemerintah itu. Kontribusi buruh migran cukup besar dalam memberikan sumbangan devisa negara. Data Depnakertrans tahun 2006, menunjukkan dari 680.000 TKI di luar negeri, sebanyak 541.708 (79,6%) di antaranya adalah TKW. Menurut data BNP2TKI, selama Januari-Juni 2012 saja jumlah remitansi atau kiriman uang TKI sebanyak US$ 3,390 miliar atau setara Rp 32,428 triliun – dengan nilai tukar Rp 9.500 per dolar AS.

 

Derita Ibu Tanpa Khilafah

Perempuan yang seharusnya menjadi pembuat ketenangan dan ketentraman keluarga, penjaga anak-anak dan pengurus rumahtangga, akhirnya dibebani tanggungjawab ‘menyelamatkan’ kondisi ekonomi keluarga. Sifat kasih sayang yang telah Allah lekatkan kepada para ibu terkikis seiring interaksi yang terus berkurang akibat mereka meninggalkan rumah. Bahkan tak jarang dalam hitungan tahun mereka tidak bertemu dengan anak-anaknya karena menjadi TKW.

Saat bekerja, para perempuan, kaum ibu ini rentan penganiayaan. Berbagai kezaliman mereka rasakan, gaji tidak dibayar, dilecehkan, disiksa, diperkosa, bahkan dibunuh. Fungsi ibu sebagai ‘madrasah pertamabagi putera-puteri mereka tidak berjalan. Pendidikan Aqidah, Syari’ah, Akhlak dan pembentukan kepribadian anak yang wajib dilakukan oleh ibu tidak terjadi. Pengontrolan intensif setiap hari terhadap perkembangan naluri dan jiwa anak terabaikan.

Kenikmatan seorang ibu saat menjalani fungsi merawat, mendidik, menjaga dan melindungi serta pendidikan anak tidak didapat. Kebanggaan mereka menjadi ibu sejati tidak bisa dirasakan. Yang ada hanyalah kesedihan karena tidak bisa melakukan berbagai fungsinya. Ibu tidak bisa merasakan ungkapan rasa terima kasih dari anak-anak mereka. Terkadang justru yang diterima adalah berbagai tuntutan dan kecaman dari anak yang kurang mendapatkan kasih sayang. Sungguh menyedihkan.

Dampak lanjutannya adalah fungsi kepemimpinan (qowwam) suami pun pada akhirnya terus terkikis, makin lama akan hilang. Ketaatan istri kepada suami tidak lagi dijadikan sebagai bentuk kewajiban dan hormat seorang istri kepada suaminya. Bahkan suami akhirnya tidak lagi merasa berkewajiban memberi nafkah kepada istrinya, karena sang istri dianggap sudah sanggup menghidupi dirinya.

Akibatnya ikatan persahabatan suami-istri berubah menjadi ikatan yang sifatnya formalitas belaka. Struktur keluarga pun mulai goyah. Peran yang seharusnya dimainkan oleh anggota keluarga tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, ayah sebagai kepala keluarga yang berkewajiban memenuhi nafkah keluarga tidak lagi berjalan. Di lain pihak, istri yang seharusnya ia berperan sebagai sahabat suami dan berkhidmat kepada suaminya semata karena Allah, tidak lagi ada. Kondisi yang tidak harmonis ini tak jarang berakhir pada perceraian. Istri tiba-tiba menjadi kepala keluarga, dan seolah menjadi ‘wali’ bagi anak-anak mereka. Posisi yang ditetapkan Islam berada di pundak laki-laki dipaksa beralih ke pundak perempuan. Ini adalah kondisi abnormal yang menyalahi fitrah perempuan itu sendiri. Kondisi ini terjadi karena Islam tidak diterapkan dalam kehidupan.

 

Khilafah Memuliakan dan Menyejahterakan

Dari semua fakta itu sangat jelas bahwa ide kapitalis-liberal telah gagal menyelesaikan persoalan perempuan. Sebalinya justru telah sukses menjerumuskan perempuan ke dalam jurang kejahiliyahan dan kegelapan. Betapa tidak, kondisi kaum perempuan saat ini tidak banyak berbeda dengan nasib perempuan sebelum Islam datang. Apakah kita masih ingin tetap berada dalam kegelapan dengan terus berharap pada sistem yang rusak ini? Allah SWT telah memperingatkan kita:

]وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا… [

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit(TQS. Thaha [20]:124)

 

Imam Ibn Katsir menjelaskan maknanya: ”Siapa yang menyalahi ketentuan-Ku, dan apa yang Aku turunkan kepada rasul-Ku, berpaling darinya dan berpura-pura melupakannya serta mengambil dari yang lain sebagai pentunjuknya, maka baginya kehidupan yang sempit yakni di dunia.” (Imam Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’ân al-’Azhîm).

Karena itu sudah saatnya kita bergerak membangunkan umat dari keterlenaan. Kegelapan ini tidak akan pernah beranjak dari umat secara keseluruhan, selama umat Islam terus meninggalkan aturan-aturan dari Allah dan Rasul-Nya. Umat akan merasakan kemuliaan dan meraih kemenangan seperti generasi kaum muslim sebelumnya hanya jika umat Islam menerapkan aturan Allah dan Rasul-Nya yaitu hukum-hukum Islam secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah.

Allah SWT menegaskan bahwa tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum-hukum Islam. Allah SWT berfirman:

]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah [5]:50)

 

Maka, solusi mendasar dari semua persoalan yang kita hadapi sekarang –yang menyebabkan keterpurukan– ini hanyalah dengan mencampakkan sistem yang rusak dan kembali kepada sistem yang mampu memberi jaminan penyelesaian secara tuntas dan adil, yakni sistem yang berasal dari Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Adil, tidak lain adalah sistem Islam. Sistem Islam telah terbukti selama berabad-abad membawa umat ini pada kemuliaan dan martabatnya yang hakiki sebagai khayru ummah. Sistem Islam juga terbukti mampu menjadi motor peradaban dan membawa rahmat bagi seluruh manusia.

Islam memiliki aturan yang komperehensif yang menjamin keadilan bagi siapapun termasuk perempuan. Hanya sistem Islam yang memberi solusi atas setiap persoalan kehidupan yang berangkat dari pandangan yang universal mengenai perempuan. Yakni pandangan yang melihat perempuan sebagai bagian dari masyarakat manusia, yang hidup berdampingan secara harmonis dan damai dengan laki-laki dalam kancah kehidupan ini.

Islam telah menetapkan hukum-hukum syara’ dengan sangat rinci dan detil. Dengan hukum-hukum syara’ inilah, semua persoalan perempuan akan diselesaikan secara tuntas dan adil. Kemuliaan perempuan juga akan terjaga. Hal ini sejalan dengan pandangan Islam yang menetapkan peran dan posisi yang strategi dan mulia bagi perempuan, yakni sebagai pendidik dan penjaga generasi. Dan Islam menetapkan fungsi negara untuk menjamin agar peran dan posisi strategis dan mulia perempuan melalui penerapan hukum-hukum syara’ secara utuh dan konsisten. Hukum Islam yang total ini tidak akan berfungsi dengan sempurna kecuali hanya dalam wadah institusi Daulah Khilafah Rasyidah ’ala minhaj an-nubuwwah.

Khilafah Islam, tidak saja mempersiapkan kaum perempuan kompeten menjadi Ibu dan pengelola rumah tangga, namun juga mempersiapkan kaum perempuan agar mampu menjalankan berbagai fungsi publik yang disyariatkan baginya. Misal sebagai anggota parpol, anggota majelis umat, dokter, guru, perawat, bidan, serta berbagai keahlian lain yang selaras dengan fitrah perempuan dan penting bagi eksistensi kepemimpinan peradaban Islam.

Dalam sistem Khilafah, umat hidup dalam ketenangan dan rasa aman, karena Khalifah akan memberikan perlindungan dan pertolongan kapan saja. Tidak dijumpai pada masa Khilafah berbagai tindak kekerasan dan pelecehan, apalagi kepada perempuan, seperti yang terus terlihat saat ini.

 

Wahai Kaum Muslimin

Sudah saatnya umat negeri ini sadar, termasuk para pemimpinnya, bahwa sistem pemerintahan yang diterapkan saat ini telah gagal menyejahterakan, bahkan membuat perempuan terhinakan. Jalan terbaik satu-satunya adalah kembali ke jalan Islam. Jalan yang menjanjikan kemuliaan manusia sebagai individu maupun umat, melalui penerapan aturan Islam secara kaffah dalam wadah Khilafah Islamiyah. Aturan-aturan Islam inilah yang akan menyelesaikan berbagai persoalan manusia secara adil dan menyeluruh, termasuk masalah kemiskinan berikut dampak turunannya. Dalam sistem ini, para penguasa dan rakyat akan saling menjaga dan mengukuhkan dalam melaksanakan ketaatan demi meraih keridhaan Allah. Maka sudah saatnya kapitalisme segera kita campakkan dan Syari’ah Islam kita terapkan dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfal [8]: 24)

 

Wallâh a’lam bi ash-shawâb.[]

Seusai menghadap presiden SBY untuk audiensi tentang kesiapan penyelenggaraan perayaan puncak Natal 2012, ketua panitia Perayaan Natal Nasional, Nafsiah Mboy yang juga menteri kesehatan, menyatakan bahwa presiden SBY dan wapres Boediono akan turut menghadiri perayaan puncak Natal nasional yang akan diselenggarakan tanggal 27 Desember. Mboy juga menyatakan, “Presiden mengharapkan penyelenggaraan puncak perayaan Natal 2012 bersifat inklusif, dan dapat dirasakan semua pihak, tidak hanya oleh umat Kristiani. ” (lihat, antaranews.com, 7/12).

Ancam Akidah Umat

Selama bulan Desember, negeri Islam ini yang mayoritas penduduknya muslim, tampil bak negeri kristen di Eropa. Di toko-toko, supermarket, perusahaan swasta, sampai instansi pemerintahan hari natal disambut dengan meriah. Acara TV pun dipenuhi dengan film, dokumentar, talkshow, berita, entertainment yang bertemakan natal.

Bagi pemeluk agama Nashrani tentu sah-sah saja merayakan natal. Tapi ‘memblow up’ demikian rupa kegiatan Natal, dan memberlakukannya untuk dan agar diikuti oleh semua orang, bisa menyakiti umat Islam. Di super market dan mall-mall yang tentu saja mayoritas pengunjungnya umat Islam disuguhkan lagu-lagu natal terus menerus. Tidak hanya itu, karyawan sampai satpam yang kita yakin mayoritasnya muslim “diharuskan” memakai atribut Natal seperti topi Santa Claus, dll.

Umat pun diseru untuk mengucapkan selamat Natal dan bila perlu ikut merayakan atau memfasilitasinya. Semua itu dikatakan sebagai wujud nyata toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Anggapan seperti itu sangat berbahaya. Seolah-olah siapa yang tidak mau ikut merayakan atau memberikan ucapan selamat Natal dianggap tidak toleran. Anggapan itu jelas keliru dan dangkal.

Umat Islam harus mewaspadai seruan-seruan untuk merayakan atau mengucapkan selamat Natal, termasuk harapan presiden SBY di atas. Sebab dibalik seruan itu ada bahaya besar yang bisa mengancam aqidah umat Islam. Seruan berpartisipasi dalam perayaan Natal, tidak lain adalah kampanye ide pluralisme yang mengajarkan kebenaran semua agama. Menurut paham pluralisme, tidak ada kebenaran mutlak. Semua agama dianggap benar. Itu berarti, umat muslim harus menerima kebenaran ajaran umat lain, termasuk menerima paham trinitas dan ketuhanan Yesus.

Seruan itu juga merupakan propaganda sinkretisme, pencampuradukan ajaran agama-agama. Spirit sinkretisme adalah mengkompromikan hal-hal yang bertentangan. Dalam konteks Natal bersama dan tahun baru, sinkretisme tampak jelas dalam seruan berpartisipasi merayakan Natal dan tahun baru, termasuk mengucapkan selamat Natal. Padahal dalam Islam batasan iman dan kafir, batasan halal dan haram adalah sangat jelas. Tidak boleh dikompromikan !

Paham pluralisme dan ajaran sinkretisme adalah paham yang sesat. Kaum Muslimin haram mengambil dan menyerukannya. Allah SWT telah menetapkan bahwa satu-satunya agama yang Dia ridhai dan benar adalah Islam. Selain Islam tidak Allah ridhai dan merupakan agama yang batil (lihat QS Ali Imran [3]: 19). Karena itu Allah SWT menegaskan:

] وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [

Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi (TQS Ali Imran [3]: 85)

 

Haram Merayakan dan Mengucapkan Selamat Natal

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa, beruntung, tercapai maksudnya, dsb.

Perayaan Natal adalah peringatan kelahiran Yesus Kristus (nabi Isa al-Masih as) yang dalam pandangan Nashrani dianggap sebagai anak Tuhan dan Tuhan Anak. Lalu bagaimana mungkin, umat Islam disuruh mendoakan agar orang yang berkeyakinan bahwa Isa as adalah anak Tuhan, Tuhan anak dan meyakini ajaran Trinitas, agar orang itu selamat, tidak kurang suatu apa dan beruntung? Padahal jelas-jelas Allah SWT menyatakan mereka adalah orang kafir (QS al-Maidah [5]: 72-75) yang di akhirat kelak akan dijatuhi siksaaan yang teramat pedih.

Umat Nashrani menganggap Isa bin Maryam as sebagai anak Allah. Anggapan seperti itu merupakan kejahatan yang besar. Allah SWT menegaskan:

] تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا [

hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (TQS Maryam [19]: 90-92)

 

Bagaimana bisa kita diminta mengucapkan selamat kepada orang yang meyakini, merayakan dan menyerukan sesuatu yang di hadapan Allah merupakan kejahatan besar seperti itu?

Tentang Perayaan Natal Bersama (PNB), PNB adalah salah satu media untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat. MUI telah mengeluarkan fatwa melarang umat Islam untuk menghadiri PNB. Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) Agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI itu.

Allah SWT berfirman:

]وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا[

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS al-Furqan [25]: 72).

 

Makna ayat ini bahwa mereka tidak menghadiri az-zûr. Jika mereka melewatinya, mereka segera melaluinya, dan tidak mau terkotori sedikit pun oleh az-zûr itu (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, iii/1346).

Menurut sebagian besar mufassir, makna kata az-zûr (kepalsuan) di sini adalah syirik (Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, iv/89). Menurut beberapa mufassir seperti Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, az-zûr itu adalah hari raya kaum Musyrik. (Tafsir Ibnu Katsir, iii/1346).

Kata lâ yasyhadûna, menurut jumhur ulama’ bermakna lâ yahdhurûna az-zûr, tidak menghadirinya (Fath al-Qadîr, iv/89). Hal itu lebih sesuai dengan konteks kalimatnya, dimana sesudahnya ayat tersebut menyatakan (artinya) “Dan apabila mereka melewati (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS al-Furqan [25]: 72).

Berdasarkan ayat ini pula, banyak fuqaha’ yang menyatakan haramnya menghadiri perayaan hari raya kaum kafir. Imam Ahmad berkata: “Kaum Muslimin telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.“ Imam Baihaqi menyatakan, “Jika kaum Muslimin diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.” Al-Qadhi Abu Ya’la al-Fara’ berkata, “Kaum Muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafir atau musyrik”. 

Imam Malik menyatakan, “Kaum Muslimin dilarang untuk merayakan hari raya kaum musyrik atau kafir, atau memberikan sesuatu (hadiah), atau menjual sesuatu kepada mereka, atau naik kendaraan yang digunakan mereka untuk merayakan hari rayanya. Sedangkan memakan makanan yang disajikan kepada kita hukumnya makruh, baik diantar atau mereka mengundang kita.” (Ibnu Tamiyyah, Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, hal. 201).

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, “Sebagaimana mereka (kaum Musyrik) tidak diperbolehkan menampakkan syiar-syiar mereka, maka tidak diperbolehkan pula bagi kaum Muslimin menyetujui dan membantu mereka melakukan syiar itu serta hadir bersama mereka. Demikian menurut kesepakatan ahli ilmu.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ahkâm Ahl al-Dzimmah, i/235).

Rasul saw sejak awal melarang kaum muslim ikut merayakan hari raya ahlul Kitab dan kaum musyrik. Dari Anas ra bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya (hari raya Nayruz dan Mihrajan) yang mereka rayakan, maka Rasul saw bersabda:

«قَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ»

“Sungguh Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan idul Fithri.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i dengan sanad yang shahih).

 

Wahai Kaum Muslimin

Sungguh amat berbahaya bila hari ini umat justru diseru agar menggadaikan akidahnya dengan dalih toleransi dan kerukunan umat beragama. Begitulah yang terjadi ketika hukum-hukum Allah dicampakkan. Tidak ada lagi kekuasaan berupa al-Khilafah yang melindungi aqidah umat ini. Islam dan ajarannya serta umat Islam terus dijadikan sasaran. Karena itu kita harus makin gigih menjelaskan Islam dan menyerukan syariah dan Khilafah. Sebab hanya dengan syariah dan Khilafahlah, aqidah umat Islam terjaga sekaligus menjamin kesejahteraan dan keamanan umat manusia baik muslim maupun orang-orang kafir. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

 

%d blogger menyukai ini: