0Hafidz Abdurrahman, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI

Jika Arab Spring berlangsung begitu cepat di Tunisia, Yaman, dan Mesir, tidak dengan Suriah. Meski sudah hampir dua tahun, revolusi di Suriah belum berhenti. Para pejuang Islam dan kaum Muslimin menginginkan hal yang berbeda dengan negara-negara tetangganya. Mereka tak mau lagi demokrasi dan dipimpin rezim boneka. Bagaimana ujung perjuangan rakyat Suriah ini, wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo mewawancarai Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI Hafidz Abdurrahman. Berikut petikannya.

 

Apa catatan penting Anda terkait dunia Islam selama 2012?

Peristiwa yang paling menonjol pada tahun 2012 adalah Revolusi Syam di Suriah. Ketika Arab Spring nyaris berakhir setelah tumbangnya sejumlah rezim despot di Mesir dan Yaman, serta dimulainya pengadilan terhadap rezim-rezim tersebut, seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir, justru Revolusi Syam ini membara.

Apa bedanya Arab Spring pada umumnya dengan Revolusi Syam?

Revolusi ini berbeda dengan revolusi-revolusi rakyat di Tunisia, Mesir, Bahrain, Libya, Yaman dan beberapa wilayah yang lain. Ciri yang membedakan Revolusi Syam dengan Revolusi di Dunia Arab lainnya adalah sifat keislamannya.

Jika Revolusi di dunia Arab lainnya menuntut ditumbangkannya rezim boneka, maka Revolusi Suriah tidak hanya itu. Mereka juga menuntut diterapkannya syariah dan tegaknya khilafah. Bahkan, mayoritas pejuang Islam di sana telah menandatangi Mitsaq al-‘Amal li Iqamati al-Khilafah (Komunike Perjuangan untuk Menegakkan Khilafah).

Apa peran Hizbut Tahrir di Suriah?

Meski selama beberapa dekade sebelumnya telah dihabisi oleh rezim Ba’ats, sejak dipimpin oleh Hafiz Assad, kini Hizbut Tahrir tampil kembali di tengah-tengah umat untuk membimbing dan memandu arah dan perjalanan Revolusi Syam ini.

Hizbut Tahrir, sebagai partai ideologis, benar-benar menyadari tanggung jawabnya, bukan hanya kepada rakyat Syam, tetapi juga kepada Allah, Rasul-Nya dan seluruh umat Islam. Karena itu, siang dan malam, Hizbut Tahrir terus bekerja keras untuk mengawal Revolusi Islam ini hingga mencapai tujuannya, yaitu tumbangnya rezim kufur Bashar, kemudian menggantikannya dengan khilafah.

Hizbut Tahrir memobilisasi para pejuang Islam di sana untuk menandatangani Mitsaq al-‘Amal li Iqamati al-Khilafah. Hizbut Tahrir juga telah menyiapkan RUUD Negara Khilafah yang siap kapan saja diterapkan. Hizbut Tahrir juga telah mempersiapkan para aktivis terbaiknya untuk menjalankan roda pemerintahan.

Bagaimana dengan kesadaran umat akan kewajiban menegakkan kembali syariah dalam bingkai khilafah?

 Dalam kasus Suriah, kesadaran itu jelas-jelas nyata. Ketika revolusi ini hendak dibajak oleh antek-antek Barat yang menyusup di tengah-tengah mereka, baik melalui koalisi nasional, oposisi karbitan, hingga penyusupan di tengah-tengah aksi, seperti yang terjadi di Banash, semuanya berhasil digagalkan. Ini bukti, bahwa kesadaran politik umat jelas semakin menguat.

 Peluang berdirinya khilafah di dunia Arab?

Peluang berdirinya khilafah Islam di wilayah-wilayah tersebut tidak bisa dilepaskan dari kembalinya kesadaran politik dan keberislaman kaum Muslim di sana. Terlebih, ketika rezim boneka dukungan Barat dengan sistem monarki, republik dan demokrasinya jelas-jelas telah merampas hak-hak politik mereka, dan gagal menyejahterakan kehidupan mereka.

Kaum Muslim di kawasan tersebut juga masih meyakini Islam sebagai akidah dan sistem kehidupan mereka, hanya saja mereka tidak bisa melaksanakannya karena hak-hak politik mereka dirampas oleh rezim tiran itu.

Sejarah khilafah dengan segala kejayaannya juga menjadi bagian dari sejarah mereka. Mereka bisa membandingkan, terlebih saat mereka mengalami nasib tragis seperti saat ini. Di zaman khilafah mereka dihormati oleh kawan dan lawan, tetapi di bawah rezim boneka, mereka dinistakan, dan bahkan dibantai di sana sini.

Itu pula yang memotivasi rakyat Suriah untuk melawan rezim tiran?

Inilah yang memotivasi para pejuang di Suriah di satu pihak, serta Barat dan Timur dengan seluruh boneka mereka di pihak lain. Karena itu, Revolusi Syam ini lebih alot dibanding dengan Revolusi di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Meski kini telah memasuki babak akhir, setelah hampir semua wilayah jatuh ke tangan pejuang Islam. Tinggal Damaskus.

Dari aspek kausalitas, semuanya ini bisa mengantarkan pada terwujudnya janji Allah, tegaknya kembali khilafah.

 Dalilnya?

Allah menyatakan dengan tegas dalam Alquran Surat an-Nur: 55. Pertama, ayat ini dimulai dengan, “Wa’ada-Llahu (Allah berjanji)..yang menunjukkan jaminan kepastian akan terwujudnya apa yang dijanjikan.

Kedua, janji yang dijanjikan itu diungkapkan dengan menggunakan redaksi yang jelas, “La yastakhlifannahum (Dia sunguh-sungguh akan memberikan Khilafah [kekuasaan] kepada mereka).”  Frasa ini mempunyai makna yang mendalam, karena disusun dari, Lam yang merupakan jawab dari sumpah Allah, diakhiri dengan nun yang digandakan (tasydid), atau disebut nun taukid tsaqilah, yang berarti “penegasan ganda”.

Ditambah pilihan lafadz, yastakhlifa yang merupakan satu akar kata dengan lafadz khilafah. Semuanya ini tidak bisa diartikan lain, kecuali bahwa janji berdirinya khilafah ini merupakan janji yang pasti.

Mungkin ada yang mengatakan, bahwa janji ini sudah kadaluwarsa, karena sudah pernah terjadi sebelumnya. Namun, asumsi ini jelas salah. Karena konteks janji ini berlaku tanpa batas.

Selain itu, terwujudnya kembali janji ini juga dikuatkan oleh hadits Ahmad dari Nu’man bin Basyir yang menyatakan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah merupakan fase akhir setelah era Nubuwwah, Khilafah, Mulkan ‘Adhdhan dan Mulkan Jabariyyan.

Bila melihat pemaparan Anda di atas, berarti sangat mungkin khilafah berdiri di Suriah?

 Sangat mungkin. Banyak dalil yang menguatkan ghalabat ad-dzann kita. Antara lain, sabda Nabi, “Inna-Llah takaffala bi ahl Syam (Sesungguhnya Allah menjamin penduduk Syam).”

 Juga, “Syam uqru dar al-Islam (Syam pusat negeri Islam)serta, “Idza fasada Ahlu Syam la khaira fikum (Jika penduduk Syam rusak, maka tidak ada kebaikan pada kalian).Semuanya ini semakin menguatkan optimisme kita, bahwa khilafah segera tegak di sana.

 Pada 2013?

Sangat mungkin. Meski, perlu dicatat, bahwa masalah timing ini adalah masalah ilmu Allah, yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun. Memang benar, saat ini, para pejuang Islam telah menguasai hampir seluruh wilayah Suriah, kecuali Damaskus.

Mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari rakyat yang tidak hanya menginginkan tumbangnya rezim Kufur Bashar, tetapi juga menginginkan tegaknya syariah dan khilafah.

Bahkan, berbagai pembajakan revolusi yang hendak dilakukan oleh kaum kafir penjajah dan bonekanya juga berhasil digagalkan. Semuanya ini menguatkan optimisme kita, bahwa detik-detik berdirinya khilafah itu semakin dekat.

Namun, harus dicatat pula, bahwa Barat dengan seluruh rezim bonekanya tidak akan tinggal diam.

Rencana Turki, Iran, Qatar, Saudi termasuk Hizbullah –yang dijuluki para pejuang Islam dengan Hizbussyaithan— dan Mesir dengan Ikhwan-nya berikut utusan khusus PBB, Lakhdar Brahimi, HAM dan NATO yang sudah menyiapkan invasi militer ke Suriah dengan kedok misi kemanusiaan adalah bukti, bahwa mereka tidak akan membiarkan khilafah ini berdiri di Suriah menggantikan rezim Bashar. Semua faktor ini bisa menghambat dan menunda berdirinya khilafah.

Apa yang harus dilakukan agar faktor penghambat dan penunda ini bisa diatasi?

 Faktor yang paling dominan adalah masih kuatnya dukungan militer kepada rezim Bashar. Mengapa di Mesir Husni Mubarak bisa dijatuhkan dengan cepat, karena faktor dukungan militer. Libya, Yaman dan Tunisia juga sama. Selain itu, revolusi di negara-negara tersebut tidak seperti di Suriah, yang terang-terangan menuntut syariah dan khilafah.

Bashar, bukan hanya dilindungi oleh tentaranya, tetapi juga oleh AS, Rusia dan sekutunya. Karena itu, jika bisa dilakukan segera, maka dukungan militer yang menjadi tulung punggung Bashar harus segera ditarik agar mendukung perjuangan rakyat Suriah. Ini sudah terjadi di beberapa tempat.

Langkah lain, tentu dengan melumpuhkan kekuasaan Bashar. Bisa dengan membunuh Bashar, seperti yang dilakukan terhadap Qadafi, atau pasukan yang menopang kekuasaan Bashar. (mediaumat.com, 6/1)

Iklan