setan-malaikatSejarah Valentine

Ada beberapa versi tentang sejarah Valentine’s Day (VD): Pertama, sebagian memahaminya sebagai sebuah perayaan Lupercalia, yaitu rangkaian upacara pensucian masa Romawi Kuno, pada masa itu –14 Februari– para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi ‘pasangannya’ selama setahun untuk senang-senang dan objek hiburan. (The World Book Encyclopedia: 1998)

Kedua, ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka meng-upgrade upacara ini (baca: Lupercalia) dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor, (selanjutnya Anda tentu tahu bagaimana nasib para gadis tersebut?!). perlu diketahui, aktivitas tersebut kala itu didukung penuh oleh Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. (The Encyclopedia Britannica: Christiany)    

Ketiga, pada masa 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari. (The World Book Encyclopedia: 1998). Akan tetapi The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada tanggal 14 Februari, seorang diantaranya diklaim sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Tak jelas siapa Santo Valentine yang dimaksud.

Berdasarkan hal tersebut, nyatanya Valentine’s Day merupakan produk budaya yang bukan berasal dari dunia Islam. Sebagai seorang muslim, sikap kita seharusnya adalah tidak ikut serta dalam budaya tersebut.

Realitas Valentine’s Day

Valentine’s Day (Hari Kasih Sayang 14 Februari) sejatinya merupakan alat untuk mengkampanyekan kebebasan seksual alias perzinahan, khususnya dikalangan generasi muda. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Assumption University pada 2007 menyatakan: sepertiga dari 1.578 gadis usia belasan tahun di Thailand menyatakan bahwa mereka siap berhubungan seks di Hari Valentine bila pacar mereka memintanya. (www.mediaumat.com). Survei lain yang dilakukan Universitas Thai terhadap 1.222 pemudi menemukan, 11 persen dari mereka berencana menyerahkan keperawana-nya pada malam Valentine. (http://www.kompascommunity.com, 14/02/07). Di Indonesia sendiri, kampanye sekaligus praktik seks bebas sebetulnya sudah lama berlangsung dan dilakukan secara luas. Hal itu bisa dilihat dari beberapa data hasil penelitian. Misalnya, berdasarkan survei Komnas Anak dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 propinsi pada tahun 2007 terungkap sebanyak 62,7 % anak SMP yang diteliti mengaku sudah tidak perawan. Sebanyak 21,2 % anak SMA yang disurvei mengaku pernah melakukan aborsi (Media Indonesia, 19/7/08). Semua itu tentu dilakukan melalui berbagai macam media, dan salah satu media yang efektif membidik generasi muda adalah dengan perayaan sesat hari Valentine!

Akibat praktek perzinaan ini, sebagaimana yang dilansir BBC Indonesia (1/12) kasus HIV/AIDS di Indonesia secara kumulatif mencapai 120 ribu orang sejak 1997 sampai September 2012 dan penyebarannya semakin meluas di 33 provinsi dan 341 kabupaten/kota.

Valentine’s Day: Budaya Liberalisme

Budaya seks bebas yang dimobilisasi secara besar besaran dengan kedok hari kasih sayang/ Valentine’s Day, merupakan dampak diterapkannya aturan sekularisme di negeri ini. Sekularisme (pemisahan Agama dari kehidupan) menginginkan budaya liberalisme atau kebebasan bagi manusia dalam bertingkah laku –termasuk kebebasan dalam melakukan hubungan seksual diluar nikah. Padahal hubungan seks bebas berdampak buruk bagi generasi muda, termasuk akan menimbulkan problem sosial di tengah masyarakat, baik berupa penyakit seperti AIDS/HIV, aborsi, kerusakan moral dan lain sebagainya.

Dengan adanya liberalisme moral, maka generasi muda disibukkan dengan urusan syahwat dan menjauhi tugas mereka sebagai generasi penerus, yang seharusnya membangun peradaban kedepan dengan sains dan teknologi, belum lagi jika mereka terjangkit virus HIV/AIDS gara-gara malam Valentine’s Day, maka jangankan berpikir untuk umat, berpikir untuk sembuh saja mereka merana dan tersiksa. Akhirnya generasi kaum muslim hilang dan masuklah generasi muda barat yang hedonis dengan penjajahannya.

Pada intinya budaya liberalisme yang dewasa ini menyerang kehidupan generasi muda, adalah ulah dan strategi barat dalam menghancurkan sumber daya manusia Muslim, ini adalah poin penting yang harus segera disadari oleh semua pihak.

Metode Pencegahan dan Pemberantasan Budaya Liberalisme

Pencegahan dan pemberantasan berbagai fenomena Budaya Liberalisme di atas jelas menjadi hal yang penting. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya:

Pertama: Menempa pribadi umat dengan kepribadian Islam. Saat ini berkembang opini, “Semua terserah masyarakat.” Opini semacam ini sangat berbahaya dan merusak karena masyarakat sendiri saat ini sudah sakit dan semakin cuwek dengan berbagai kebobrokan yang ada. Akibatnya, ketika diambil tindakan pun, sudah banyak anggota masyarakat yang menjadi korban; kerusakan masyarakat sudah terjadi di sana-sini. Selain itu, baik-buruk, benar-salah, dan manfaat-madarat tidak boleh bergantung pada penilaian masyarakat. Semua itu harus dikembalikan pada penilaian dari Pencipta manusia, Allah SWT, Zat Yang Mahatahu. Artinya, semuanya harus dikembalikan pada penilaian syariat Islam. Sebab, Allah SWT berfirman: Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian; boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216).

Dengan demikian, ungkapan “semua terserah masyarakat”—yang tidak lain bersumber dari konsep kebebasan dalam demokrasi—adalah bentuk pengingkaran dan pembangkangan terhadap Zat Yang Mahatahu, Allah SWT.

Kedua: Membentuk masyarakat yang peduli. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat secara umum karena perbuatan orang-orang tertentu hingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka, sedangkan mereka mampu mengingkarinya, tetapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian, Allah pasti akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu.” (HR Ahmad dan ath-Thabrani).

Oleh karena itu, masyarakat secara umum harus berusaha sekuat mungkin dan sungguh-sungguh untuk mencegah dan menghalangi perilaku-perilaku yang menyimpang dari syariat Islam, termasuk Budaya Liberalisme beserta turunannya (Valentine’s Day dll). Masyarakat harus meningkatkan intensitas amar makruf nahi mungkar, baik dalam hal kualitas ketegasan maupun kuantitasnya.

Ketiga: Menciptakan pemerintah yang islami, yakni yang berlandaskan syariat Islam. Hanya pemerintah semacam inilah yang dapat mencegah, menghalangi, dan menghilangkan semua bentuk penyakit masyarakat. Sebaliknya, pemerintahan sekular dimana pun pada faktanya justru menjadi pendorong utama bagi tumbuh-suburnya penyimpangan sosial di atas. Sebab, pemerintah telah mengadopsi kebebasan dan HAM—yang menjamin segala bentuk kebebasan—sebagai mainstream (arus utama) dalam menata negeri ini dan negeri-negeri kaum Muslim.

Wahai kaum Muslim

Marilah kita bersama-sama menghadapi serangan Barat yang berupaya untuk menghancurkan Islam dan umatnya, termasuk generasi muda muslim yang sangat berharga. Marilah kita mengubur gagasan dan sistem sekuler yang menjadi sebab tersebarnya Budaya Liberalisme, untuk kembali kepada gagasan dan sistem Islam. Marilah kita menata hidup kita berlandaskan syariat Islam yang bersumber dari Pencipta kita, Allah SWT, bukan dari hawa nafsu manusia.Untuk itu, marilah kita semua kembali pada aturan-aturan Allah, bukan malah terus berpaling darinya. Sebab, Allah SWT telah berfirman: Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha [20]: 124). (Anshary)