Archive for Maret, 2013


khilafah_palestineOleh : Adi Victoria

Dalam sejarah perjalanan dakwahnya, gerakan Ikhwanul Muslimin berdiri lebih awal daripada Hizbut Tahrir. Ikhwanul Muslimin didirikan oleh seorang mujtahid dan mujahid yakni al Imam asy syahid Hasan al Bana.

Tentang Hasan Al Bana menarik apa yang pernah disampaikan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, yang juga merupakan seorang mujadid abad ini. Beliau berkata “Syekh Al Banna merupakan orang yang alim, cerdas, sungguh-sungguh dan seorang mujtahid” Buku Hizbut Tahrir Al Islamy (1992) halaman 83).

Syaikh taqiyuddin juga mengomentari gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Bana, masih di judul buku dan halaman yang sama beliau berkata “Ikhwanul Muslimin merupakan jamaah Islam yang teguh dan tidak ada yang kurang padanya kecuali kajian tentang politik Islam”

Ittishal (Kontak)

Salah satu aktvitas yang selalu dilakukan oleh syabab Hizbut Tahrir adalah ittishal atau kontak. Ini sebagaimana merujuk kepada aktivitas dakwah rasulullah saw sejak dari Makkah hingga Madinah.

Sejak Allah SWT menurunkan surah al mudatsir. Nabi semakin memperluas zona dan obyek dakwahnya. Setelah sebelumnya beliau sukses mengajak orang dekat yang berda di ring satu seperti istri, maula beliau, sepupu beliau yakni ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau memasuki ring kedua yakni sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakar.

Melalui jaringan Abu Bakar inilah ring dua dapat dilalui dengan sukses. Islam diterima oleh Ustman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, dll. Hingga akhirnya Islam diterima oleh banyak kalangan dari beragam latar belakang. Inilah titik awal dakwah nabi. Titik awal yang dimulai dari kontak (ittishal) yang beliau lakukan. Kontak ini pula yang dilakukan oleh Abu Bakar as Siddiq hingga kemudian banyak orang menerima Islam. Dari kontak inilah terbentuk generasi awal (as sabiqul awwalun). Dari generasi awal inilah terbentuk kutlah Rasul dan selanjutnya bermetamorfosis menjadi hizb Rasul. Rasul saw adalah pimpinan hizb ini. Beliau mendidik anggotanya dan mengorgnisir aktivitas-aktivitas dakwah yang terarah dengan target yang jelas.

Hal ini juga yang kemudian dilakukan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Al-Ustadz Fauzi Sinnuqarth, menuturkan sejarah awal terbentuknya Hizbut Tahrir:

“Saya ingat, bahwa pertama kali beliau menjelaskan masalah Khilafah, ketika berada di Masjid al-Aqsa yang penuh berkah, di salah satu sudut sebelah barat daya. Di sana terdapat ruangan yang memanjang. Beliau berbicara kepada banyak orang setelah shalat Jum’at, suatu pembicaan yang sangat menyentuh dan jelas. Di sekeliling beliau ketika itu berkumpul ratusan orang. Beliau menceritakan kepada mereka Sirah Nabawiyyah. Sesekali beliau menceritakan wafatnya Rasulullah saw, dan bagaimana kaum Muslim setelah beliau wafat, mereka menyibukkan diri di Saqifah Bani Sa’adah untuk mengangkat seorang khalifah bagi mereka, sementara mereka membiarkan pemakaman beliau sampai bia’at kepada Abu Bakar as-Shiddiq berhasil dilakukan.

Jadi, itu merupakan pembahasan, dan pembicaraan pertama tentang penegakan khalifah serta seruan untuk menegakkannya. Peristiwa itu terjadi tepat pada tahun 1950 M. Syaikh Taqiyuddin kemudian melanjutkan kontak beliau dengan orang yang menginginkan kebaikan, yaitu para pemuda dari al-Quds. Lalu beliau pun mengontak para pemuda yang lain lagi, yang menginginkan kebaikan, atau beliau tahu kalau mereka itu baik dari daerah al-Khalil dan Tulkarim. Ketika beliau mendengar ada seseorang yang menginginkan kebaikan, atau beliau merasa bahwa dia baik, pasti akan beliau kontak. Dengan cara seperti itu, beliau berhasil merekrut banyak orang.

Beliau mengajak mereka berdiskusi dengan mendalam. Misalnya, diskusi beliau dengan salah seorang dari keluarga ‘Azzah, dan keluarga Hammad, sebuah diskusi yang mendalam. Melalui diskusi tersebut, beliau menulis pembahasan al-Qiyadah al-Fikriyyah fi al-Islam (kepemimpinan intelektual dalam Islam) yang telah dimasukkan dalam kitab Nidzam al-Islam. Diskusi beliau dengan seseorang, namanya Said Ramadhan tentang akhlak. Setelah itu, beliau menulis al-Akhlaq fi al-Islam (Akhlak di dalam Islam) dalam kitab Nidzam al-Islam.

Masuknya Sebagian Anggota Harakah 313 ke dalam Hizbut Tahrir

Harakah 313 merupakan harakah yang ada sebelum Hizb yang menyerukan tegaknya Daulah Islamiyah. Pendirinya adalah Syeikh Hamzah Abdul Ghafar Thahbub (sopir truk). Mereka beranggapan bahwa terpenuhinya anggota sebanyak 313 orang akan sempurna berdiri daulah (karena jumlah kaum muslim Mekah yang berhijrah ke Madinah adalah 313 orang muslim). Mereka mengharuskan anggotaanggotanya tidak berinteraksi dengan departemen-departemen dalam sistem pemerintahan kufur. Sampai-sampai mereka melarang salah seorang anggota mereka untuk pergi ke kantor polisi guna memberitahukan pencurian tokonya. Ketika Hizb at-Tahrir berdiri, simpul harakah 313 pun terurai karena mayoritas anggotanya bergabung dengan Hizb kecuali pendirinya.

Diantara mereka yang menonjol adalah : Ibrahim Syakir asy-Syarbati (mahasiswa Azhari dan sopir truk), Ahmad Ibrahim Misik (tukang roti), Abdul Ghafar asy-Syeikh Darah (pemilik restauran al-Quds di Amman sekarang), Syeikh Rabi’ Barakat al- Asyhab (tukang roti), Muhammad Nu’aim Utsman asy-Syarbati (sopir truk), Ya’qub Abdul Karim Abu Ramilah at-Tamimi (tukang samak kulit), Khalid Ahmad Ahmarou (penjahit), semua dari mereka bergabung ke dalam barisan Hizb at-Tahrir sejak awal. Mereka semuanya tanpa terkecuali memiliki sikap kepartaian yang sangat menonjol yang mengantarkan mereka ke penguntitan, penangkapan dan dipenjara beberapa kali.

Masuknya sebagian pemimpin Ikhwanul Muslimin dan kader nya ke dalam Hizbut Tahrir

Gerakan yang terkenal sebelum berdirinya Hizb selain gerakan 313 adalah gerakan Ikhwan al-Muslimin. Ikhwan al-Muslimin merupakan gerakan yang sudah lama dan lebih dahulu muncul di banding gerakan lainnya. Gerakan ini (Ikhwan al- Muslimin) didirikan oleh almarhum Hasan Abdurrahman al-Bana as-Sa’atiy di Mesir pada awal tahun 30-an abad ke dua puluh. Gerakan ini masuk ke Yordania melalui tangan seorang pengusaha yaitu Abdul Lathif Abu Qurah, dan ke al-Khalil melalui tangan seorang pengusaha, Isa Abdun Nabiy al-Nattsah.

Gerakan ini tidak sampai pada tingkat sebagai sebuah partai politik. Akan tetapi gerakan ini tetap sebagai jamaah khairiyah yang secara lembaga maupun aktivisnya diterima dan direstui oleh penguasa, khususnya Yordania, Saudi dan negara-negara arab teluk. Pendiri gerakan ini rahimahuLlâh, telah mengumumkan pada awal gerakan ini yaitu dalam ar-Rasâ’il dan buku Qadhiyatunâ bahwa mereka bukan orang-orang yang menyerukan kekuasaan atau perubahan pemerintahan, bahkan hal itu (menyerukan kekuasaan dan perubahan sistem pemerintahan) dianggap sebagai tuduhan yang harus ditolak.

Aktivis-aktivis gerakan ini mengumumkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menyerukan reformasi atas kondisi yang ada, bukan yang lain, dibawah payung penguasa negeri yang bagi mereka dianggap penguasa yang adil. Oleh karena itu aktivitas mereka dibatasi melalui dakwah individual. Maksudnya adalah memperbaiki individu, akan memperbaiki usrah dan akan membuat masyarakat menjadi baik …

Aktivitas mereka di al-Khalil terbatas pada dakwah individual yang menyerukan akhlak, mengumpulkan harta untuk didistribusikan kepada orang-orang fakir dan untuk membiayai aktivitas-aktivitas kebaikan (sosial), permainan olah raga dan rekreasi, kelompok kepanduan13 , klinik kesehatan, diskusi mingguan setiap kamis sore di Dâr al-Ikhwân, perayaan berbagai hari besar Islam dan program tahfizh Quran. Semua aktivitas jamaah Ikhwanul Muslimin itu di organisasikan dari pusat (markas) mereka yaitu Dâr al-Ikhwân al-Muslimîn di satu bangunan yang disewa di jalan Syuhada’ yang terasnya memanjang sampai jalan Bab az-Zawiyah. Juga termasuk aktivitas mereka adalah kajian pusparagam di rumah-rumah.

Kajian itu mereka namakan “usrah”. Setiap usrah menggunakan nama dan memiliki anggaran sendiri-sendiri, dan daftar orang yang memberikan kajian. 14 Jumlah anggota setiap usrah juga tidak dibatasi, kadang mencapai sepuluh orang atau lebih. Dalam pembentukan usrah-usrah itu terlihat jelas diperhatikan unsur stratifikasi. Usrah itu berkumpul pada hari tertentu setiap minggunya dan dihidangkan makanan, makanan pencuci mulut dan kue-kue. Tempat pertemuan dan tuan rumah pertemuan digilir diantara anggota usrah. Tidak ada kitab tertentu yang dibaca di dalam usrah, apalagi suatu program kajian tertentu dan mereka keras untuk menghafal al-Quran. Karakter usrah yang dideskripsikan di sini adalah fakta usrah pada akhir tahun empat puluhan dan awal lima puluhan. Fakta itu berbeda dengan bentuknya sekarang.

Ittishal yang dilakukan syaikh taqiyudin an Nabhani berhasil membuat sebagian para petinggi ikhwanul Muslimin berpindah dan masuk ke dalam gerakan Hizbut Tahrir. Syeikh Abdul Qadim Zallum, syeikh As’ad Bayoudh at-Tamimi, Syeikh Rajab Bayoudh, syeikh Abdul Hayyi ‘Arafah dan syeikh Abdul Qadir Zallum –ketua kepanduan di Ikhwanul Muslimun dan komandan terdahulu di Jihad al-Quds dibawah H. Amin al-Husaini-, termasuk para pemimpin al-Ikwan al-Muslimun di al-Khalil.

Bergabungnya beliau-beliau itu ke dalam barisan Hizb mengakibatkan kekuatan perjalanan gerakan al-Ikhwan al-Muslimun merosot, mulai redup dan melemah eksistensinya, langkahnya tersandung-sandung dan anggota masyarakat yang menisbatkan diri kepadanya juga berkurang dan jumlahnya semakin kecil.

Oleh karena itu dengan segera datang dari Mesir ustadz Sa’id Ramadhan –menantu Hasan al-Bana sekaligus orang kedua di al-Ikhwan al-Muslimun Mesir setelah menantu Hasan al-Banna yang lain yaitu Abdul Hakim ‘Abidin pemilik majalah al- Muslimun yang terbit di Kaero kemudian pindah ke Swiss-. Ustadz Sa’id Ramadhan bertemu dengan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani di rumah Muhammad dan Nashir asy-Syarbati di al-Khalil. Maksud pertemuan itu adalah untuk meyakinkan Syeikh Taqiyuddin agar membatalkan Hizb dan menggabungkan kedua jamaah. Pertemuan itu juga dihadiri oleh para pemuka al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil, antara lain : Syeikh Syukri Abu Rajab at-Tamimi, H. Nashir Amin Al-‘Aidah al-Harbawi, Syeikh Muhammad Sa’id Shalah, Nashir Ahmad asy-Syarbati, Muhammad Ahmad asy- Syarbati, H. Isa Shalih Abdun Nabi an-Natsyah, H. Abdul Hafizh Mishbah Masudah, H. Abdul Fatah Hasan ath-Thahir al-Muhtasib, Muhammad Rasyad Abdus Salam ‘Arif, Abdul Wadud Abu Gharbiyah asy-Sya’rawi. Namun pertemuan itu tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Hubungan Syeikh Abdul Qadim Zallum dengan al-Ikhwan al-Muslimun.

Syeikh Abdul Qadim Zallum memiliki kedudukan tinggi diantara para ulama di daerah al-Khalil karena keluasan pengetahuan, kemuliaan akhlak, ketakwaan dan kelembutan perhatian beliau. Beliau seperti bintang yang bersinar-sinar diantara para ulama. Setelah lulus dari al-Azhar, beliau bekerja menjadi pengajar di Madrasah al-Husein bin Ali di al-Khalil. Beliau bergabung dengan jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil dan menduduki jabatan kepemimpinan. Tidak lama, lalu beliau keluar dari al-Ikhwan al-Muslimun dan bergabung dengan halqah ula di Hizbut Tahrir. Beliau sangat dekat dengan Syeikh Taqiyuddin. Sebagian besar pemimpin jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil mengikuti jejak Syeikh Abdul Qadim Zallum dengan keluar dari jamaah untuk bergabung ke dalam barisan Hizbut Tahrir. Hal itu menyebabkan kegoncangan cabang jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al- Khalil.

Diantara pemimpin dan tokoh al-Ikhwan al-Muslimun cabang al-Khalil yang keluar dan bergabung dengan Hizbut Tahrir antara lain : Syeikh As’ad Bayoudh at- Tamimi-Abu Thal’at, Syeikh Rajab Bayoudh at-Tamimi-Abu Hamid, H. Abdul Qadir Zallum-Abu Faishal pendiri kelompok kepanduan al-ikhwan al-muslimiun di al-Khalil, H. Nashir Ahmad asy-Syarbati-Abu Hatim, Syeikh Abdul Hayyi ‘Arafah-Abu Mushthafa mufti al-Khalil dan Syeikh Abdus Sami’ ar-Rifa’iy al-Mishri.

Saya (penulis buku kekasih-kekasih Allah) ingin tegaskan di sini ketidahsahihan riwayat yang ada di beberapa buku individu al-Ikhwan al-Muslimun yang menunjukkan bahwa utusan al-Ikhwan al- Muslimun dari Mesir adalah asy-Syahid Sayid Quthub. Yakni perkataan yang sering dinukil oleh kalangan pemudah ikhwan (generasi ikhwanul Muslimin) yaitu “biarkan saja mereka, mereka akan berhenti pada titik seperti awal ikhwan” yang dinisbatkan kepada asy-Syahid Sayid Quthub. Perkataan ini juga tidak benar. Perkataan perkataan ini dibuat-buat demi tujuan picisan, sudah nampak jelas kebohongan
mereka.

Sebagai pengaruh dari kegagalan pertemuan itu, mulai terjadi pergolakan pemikiran yang sengit disertai serangan yang keras dan zalim kepada Hizb dan para pengikut Hizb oleh individu-individu jamaah al-Ikhwan al-Muslimun. Sebagai contoh serangan itu, tatkala H. Nashir asy-Syarbati kemudian bergabung ke dalam barisan Hizb meninggalkan al-Ikhwan al-Muslimun, bersamaan dengan kedatangan rekan beliau dari Kuwait, akhi Abdul ‘Aziz al-Madhun yang datang meminta beliau kembali ke barisan al-ikhwan al-muslimun dan meninggalkan Hizb. Setelah diskusi yang panas, akhi Abdul ‘Aziz mengakhiri diskusi dengan mengatakan : “saya menganggap engkau seperti orang murtad dan saya tidak akan pernah sekalipun mengucapkan salam kepada engkau selama hidupku”.

Begitu juga sebagian mereka (orang-orang al-ikhwan al-muslimun) menjawab salam yang diucapkan oleh syabab Hizb dengan perkataan : “salam, kami tidak ingin menjadi kaum yang bodoh”. Hal itu seperti yang terjadi pada ustadz H. Abdul Qadir Zallum dan murid beliau yang durhaka, akhi Jibril Badawi al-Hanini.

Sebagian penulis al-ikhwan al-muslimun mengklaim bahwa Hizbut Tahrir adalah pecahan dari barisan mereka (al-Ikhwan al-Muslimun). Perkataan demikian sangat jauh dari kebenaran. Tidak satu orangpun dari halqah ula Hizbut Tahrir yang berasal dari al-ikhwan al-muslimun. Meski banyak dari hizbiyin generasai awal di al- Khalil berasal dari barisan al-ikhwan al-muslimun, namun mayoritas mereka berasal dari harakah 313. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari partai komunis.

Syeikh Taqiyuddin dan sahabat-sahabat beliau yang menduduki kepemimpinan Hizb tidak memiliki hubungan sama sekali dengan al-ikhwan al-muslimun. Begitu pula Syeikh Taqiyuddin tidak memiliki hubungan sama sekali dengan jamaah H. Amin al- Huseini seperti yang diindikasikan oleh sebagian penulis al-Ikhwan al-Muslimun. Kedua perkataan itu (Hizb pecahan dari al-Ikhwan al-Muslimun dan adanya hubungan Syeikh Taqiyuddin dengan jamaah H. Amin al-Huseini) merupakan dua perkataan yang ditulis dari sisi kedustaan yang disengaja dengan tujuan buruk dan picisan. Sementara Ustadz Abdul Qadir Zallum lah rekan dekat mereka –sebelum bergabung dengan Hizb- yang memiliki hubungan dengan H. Amin al-Huseini. Karena sebelum bergabung dengan jamaah al-ikhwan al-muslimun, Ustadz Abdul Qadir Zallum menjadi bagian dari gerakan al-jihad al-Quds yang mengikuti jamaah H. Amin al-Huseini.

Sikap Masyarakat kala itu kepada Syaikh Taqiyudin dan kepada Hizbut Tahrir

Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani terkenal di masyarakat sebagai pendiri Hizbut Tahrir. Sampai-sampai Hizb pada awalnya disebut oleh masyarakat awam dengan sebutan “an-Nabhaniyun”. Sebagian mereka menyebut Hizb dengan sebutan “attâ’ûn ad-dawlah” yakni “rijâl ad-dawlah”.

Sebutan ini dinisbatkan kepada seruan paling menonjol yang diserukan Hizb yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. Khususnya setelah Hizb mengeluarkan buku “ad-Dawlah al-Islâmiyyah”. Meski berbagai sumber menyerang dan membantah Hizb dan meremehkan seruan penegakan daulah al- Khilafah, namun pendiri Hizb, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, tetap mendapat penghormatan yang tinggi dan kemuliaan dari seluruh lapisan masyarakat. Karena beliau termasuk generasi awal pengajar yang mukhlish ketika pada tahun 30-an beliau menjadi pengajar di Madrasah ar-Rasyidiyah di al-Quds. Beliau juga sangat terkenal di seluruh bagian Palestina sebagai seorang alim alamah diantara ulama ulama yang terkenal dan sebagai seorang yang mulia yang lembut baik hati dan akhlak seorang yang jujur (benar) diantara orang yang paling jujur. Beliau sebagai contoh seorang alim yang bertakwa dan wara’. Syeikh Taqiyuddin tidak pernah sekalipun dicela perilaku beliau dari kelompok atau arah manapun. Bahkan hingga orang yang paling keras memusuhi Hizb sekalipun, memuji Syeikh Taqiyuddin akan kewara’an dan ketakwaan beliau. Begitu pula amir Hizb yang kedua Syeikh Abdul Qadim Yusuf Zallum. Beliau adalah seorang syeikh yang lembut dan murah hati, lulusan al-Azhar dan pengajar di Madrasah al-Husein bin Ali di kota al-Quds –ayah beliau, Syeikh H. Yusuf Zallum seorang hafizh al-Quran yang terkenal- yang mendapat penghargaan dan penghormatan yang tinggi serta kecintaan dari masyarakat secara umum dan khususnya para syaikh.

Perlakukan Ikhwanul Muslimin kepada kadernya yang berinteraksi dengan Syaikh Taqiyudin

Berikut akan saya nukilkan salah seorang generasi awal syabab hizbut tahrir yang sebelumnya merupakan kader Ikhwanul Muslimin yakni Syaikh Abu Arqam (penulis buku ahbabullah/kekasih-kekasih Allah) yang mengisahkan kisah nya ketika keluar dari ikhwanul muslimin dan bergabung dengan hizbut tahrir. Beliau termasuk generasi pertama dalam barisan aktifis Hizbut-Tahrir (HT) yang pernah mendapatkan halqah dari Syaikh Taqiyiyuddin an-Nabhani rahimahullâh, pendiri Hizbut Tahrir. Berikut ini sekilas memoar beliau, sebagaimana dituliskan oleh Syaikh Thalib Audhullah dalam buku, Ahbâbullâh.

Awal Pertemuan dengan HT

Sejak tahun 1950 saya telah bolak-balik di Dar al-Ikhwan al-Muslimin (Rumah/Sekretariat Ikhwanul Muslimin). Pada saat itu Syaikh Abdul Qadim Zallum, H. Abdul Qadir Zallum dan yang lain juga suka bolak-balik ke sana. Ketika kami berkumpul di sana, terjadi diskusi dan tanya jawab. Saat itu saya sangat tertarik dengan pemikiran-pemikiran baru yang dilontarkan Syaikh Abdul Qadim Zallum.

Sebelumnya bersama Ikhwanul Muslimin kami tidak terbiasa dengan pemikiran seperti itu. Hal itu membuat saya dekat dengan beliau rahimahullâh.

Kemudian kami mulai berdiskusi dengan saudara-daudara kami di Jamaah (Ikhwan). Hal itu membuat mereka berkata kepada kami, “Kalian membicarakan sesuatu yang asing bagi kami.” Akhirnya, terjadi keterasingan antara kami dengan Ikhwan di sekretariat itu.

Setelah itu kami mulai berkumpul di rumah Syaikh As’ad Bayaudh bersama Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani ketika beliau hadir di al-Khalil. Ketika itu kami tidak lebih dari dua puluh orang. Saya ingat sebagian dari mereka seperti Syaikh Ibrahim asy-Syarbati dan saudaranya Ya’qub asy-Syarbati, H. Abdul Qadir Zallum, Ahmad Ibrahim Misik, Ibn al-Baladah al-Qadimah dan yang lain. Pertemuan biasanya berlangsung hingga azan subuh. Setelah kami menunaikan shalat subuh secara berjamaah lalu kami pulang ke rumah masing-masing. Ketika kami bertolak untuk menyeru masyarakat, mereka mengatakan kepada kami, “Kalian adalah pengikut ‘Nabi-Hani’ (plesetan dari Nabhani).” Sebagian yang lain menyebut kami ‘Nabhaniyun’.

Wallahu A’lam bisshowab.

Sumber tulisan :

Buku Kekasih-Kekasih Allah, penulis Syaikh Abu Arqam
Buku Hizbut Tahrir Al Islamiy, penulis ‘Auniy Al Judu’ Al ‘Abidy
Boklet DARI MASJID AL-AQSA MENUJU KHILAFAH:SEJARAH PERJALANAN HIZBUT TAHRIR

[http://adivictoria.wordpress.com]

Iklan

Picture1

PERNYATAAN

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Tentang

RUU ORMAS,

PINTU KEMBALINYA REZIM REPRESIF ALA ORDE BARU

Saat ini di gedung wakil rakyat digodog tentang RUU Ormas. RUU ini dianggap penting untuk mengatur dan mengelola masyarakat. Tapi faktanya, RUU ini justru mengusung semangat mengontrol dan merepresi ala Orde Baru melalui penghidupan kembali ketentuan asas tunggal (Pasal 2 RUU Ormas), larangan berpolitik bagi ormas (Pasal 7 RUU Ormas) dan kontrol ketat ormas oleh pemerintah (Pasal 58, Pasal 61 dan Pasal 62 RUU Ormas). Juga terlihat dari begitu luasnya cakupan dari definisi Ormas, sehingga alih-alih RUU ini akan memberikan ruang gerak yang lebih longgar untuk kemajuan masyarakat melalui partisipasi Ormas dalam pemberdayaan masyarakat, RUU ini justru sangat berpotensial membungkam sikap kritis masyarakat terhadap pemerintah dengan berbagai dalih. Hal ini jelas merupakan kemunduran besar mengingat TAP MPR no. XVIII/1998 sudah membatalkan TAP MPR no. II/1978 termasuk di dalamnya tentang Asas Tunggal. RUU ini juga bisa dituding membangkitkan trauma masyarakat terhadap otoritarianisme gaya Orde Baru.

RUU ini juga tampak sangat diskriminatif karena ada pembedaan pengaturan antara ormas biasa dengan ormas yang merupakan sayap partai (Pasal 4 RUU Ormas) sehingga terkesan parpol mau menangnya sendiri. Semua Omas harus tunduk kepada RUU ini, sedang Ormas milik parpol tidak.

Berkenaan dengan itu, Hizbut Tahrir Indonesia dan para tokoh Ormas Islammenyatakan:

  1. Menolak RUU Ormas karena RUU ini menjadi pintu yang sangat nyata bagi kembalinya rezim represif ala Orde Baru. RUU ini juga berpotensi sangat besar membungkam suara kritis masyarakat terhadap pemerintah dengan berbagai dalih.
  2. Sesungguhnya yang diperlukan sekarang adalah menata ulang kerangka berfikir secara benar tentang bagaimana membina masyarakat dan membawa negeri ini ke arah yang tepat, serta mengenali apa atau siapa sesungguhnya yang menjadi ancaman terbesar buat negeri ini dan bagaimana cara menghadapinya. Dari fakta yang ada, ancaman yang terbesar itu tidak lain adalah ideologi sekularisme, kapitalisme dan imperialisme modern yang telah mencengkeram negeri ini di berbagai aspek kehidupan, terutama di bidang politik dan ekonomi sehingga masyarakat terkotori dan negeri ini bergerak kepada arah yang salah. Untuk membalik arah perjalanan negara akibat pengaruh ideologi sesat menuju arah yang benar itulah semestinya energi benar bangsa ini harus diarahkan. Bukan justru menimbulkan sikap represif apalagi terhadap kegiatan keuamatan.
  3. Menyerukan kepada umat untuk dengan sungguh-sungguh berjuang bersama-sama bagi tegaknya kembali syariah dan khilafah. Yakinlah, hanya dalam naungan daulah Khilafah saja kerahmatan Islam yang telah dijanjikan oleh Allah SWT itu benar-benar akan terwujud,sedemikian sehingga arah perjalanan negara ini menjadi tepat dimana peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan dan organisasi demi kemajuan masyarakat akan mendapatkan tempat yang terhormat. Insya Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal mawla wa ni’man nashiir.

 

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto

Hp: 0811119796 Email: Ismailyusanto@gmail.com

 

Kantor Pusat Hizbut Tahrir Indonesia

Crown Palace A25.

Jalan Prof. Dr. Soepomo, SHNo. 231 Jakarta Selatan 12810

Phone:(021) 8378.7370 Fax:(021) 8378.7372

 

File tambahan presentasi: 11 Alasan Tolak RUU Ormas

Picture1Download di sini: 11 Alasan RUU Ormas Mengancam Umat

Atau disini: 11 Alasan RUU Ormas Mengancam Umat

Age_of_Caliphs

Oleh: KH. Hafidz Abdurrahman, M.A

Khilafah adalah negara kaum Muslim di seluruh dunia. Umat Islam, dengan berbagai suku, bangsa dan bahasa pun hidup di dalamnya sebagai satu umat, satu agama dan satu bendera. Mereka hidup selama 14 abad dalam satu negara yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Kondisi mereka memang mengalami pasang surut, seiring dengan maju dan mundurnya taraf berpikir mereka.

Islam telah mengajarkan kesatuan dan persatuan di tengah-tengah kaum Muslim. Karena itu, menjaga kesatuan dan persatuan ini pun hukumnya wajib bagi mereka. Hukum ini pun termasuk perkara yang sudah ma’lûmun min ad-dîn bi ad-dharûrah (diketahui urgensinya dalam ajaran Islam).

Allah berfirman, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, kemudian Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat-Nya orang-orang yang bersaudara, dan (ingatlah ketika) kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.s. Ali ‘Imran [3]: 103)

 Ayat ini bukan hanya berisi perintah untuk menjaga kesatuan dan persatuan, tetapi juga melarang bercerai berai. Menjaga kesatuan dan persatuan di sini bukan hanya terkait dengan individu, tetapi juga kesatuan dan persatuan wilayah. Ini ditegaskan oleh Nabi SAW, “Jika telah dibaiat dua khalifah, maka bunuhlah yang terakhir di antara keduanya.” (HR. Muslim dari Abî Sa’îd al-Khudrî, no 3444).

Satu Akidah, Satu UUD dan UU

Di satu sisi, Islam menjaga kesatuan dan persatuan, dan melarang perpecahan, pada saat yang sama, Islam tidak mengacuhkan potensi perbedaan dan perselisihan yang bisa menghancurkan kesatuan dan persatuan. Karena itu, Islam menetapkan akidah Islam sebagai dasar negara. Dari akidah Islam inilah, UUD dan UU yang digunakan untuk menyelenggarakan negara dibangun.

Dalam penyusunan UUD dan UU, Islam menetapkan sebagai hak Khalifah. Hukum syara’ yang diadopsi oleh Khalifah ini sekaligus untuk menghilangkan perselisihan yang berpotensi merusak kesatuan dan persatuan. Kaidah fiqih menyatakan, “Perintah imam (Khalifah) bisa menghilangkan perselisihan.” Karena itu, dengan adanya tabanni Khalifah dalam penyusunan UUD dan UU ini, berarti potensi perselisihan, akibat perbedaan pendapat, dengan sendirinya bisa diselesaikan.

Selain itu, Islam juga menetapkan, “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS an-Nisa’ [4]: 59). Ketetapan ini berlaku, jika perselisihan tersebut terjadi antara rakyat dengan Khalifah (negara), dan antara rakyat dengan rakyat. Semuanya ini dikembalikan kepada Allah dan Rasul, atau Alquran dan Sunnah. Teknisnya kembali kepada hukum syara’. Untuk kembali kapada hukum syara’ membutuhkan institusi, yaitu mahkamah, baik Khushûmât maupun Madzâlim.

Untuk menjaga keberlangsung dalam pelaksanaan UUD dan UU agar tetap dalam rel syariah, maka Khalifah dibaiat untuk menjalankan Kitab Allah dan Sunah Rasulullah (hukum syara’). Inilah yang menjadi dasar ketaatan rakyat kepada Khalifah. Ubadah bin Shamit menuturkan, “Kami dibaiat oleh Rasulullah untuk taat dan mendengar (titah baginda)..” (HR Muslim). Nabi juga menegaskan, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam melakukan maksiat kepada Khaliq (Allah).” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad)

Larangan Bughat dan Merebut Kekuasaan

Persatuan dan kesatuan negara dijaga oleh Islam, antara lain, dengan ditetapkannya larangan melakukan makar (bughat) dan memisahkan diri dari kekhilafah. Nabi bersabda, “Siapa saja mencabut ketaatan (kepada imam/khalifah), maka dia akan menghadap Allah tanpa hujah (yang bisa mendukungnya).” (HR Muslim)

Bahkan, “Larangan merebut kekuasaan dari pemangkunya” ini telah dijadikan syarat oleh Nabi dalam menerima baiat kaum Muslim. Ubadah bin Shamit menuturkan, “Hendaknya kami tidak merebut kekuasaan dari pemangkunya.” Kecuali, kata Nabi, “Jika kalian menyaksikan kekufuran yang nyata, yang bisa kalian buktikan di hadapan Allah.” (HR Muslim)

Jika larangan tersebut dilanggar, maka Islam menetapkan sanksi yang tegas bagi siapa saja yang melakukan tindakan makar terhadap negara (bughat). Al-Muhâmî al-‘Alim Syaikh ‘Abdurrahman al-Mâliki, dalam kitabnya Nidzâm al-‘Uqûbât, menjelaskan bahwa sanksi bagi mereka adalah had. Sanksi had ahl al-baghy adalah diperangi, sebagai pelajaran (qitâl ta’dîb) bagi mereka, bukan diperangi untuk dihabisi (qitâl harb) (al-Mâliki, Nidzâm al-‘Uqûbât, hal. 79).

Jika mereka adalah non-Muslim (ahli dzimmah), maka mereka akan diperangi untuk dihabisi (qitâl harb). Hukum memerangi mereka ini pun statusnya sama dengan jihad fi sabilillah, karena kelompok yang diperangi adalah orang-orang kafir, meski asalnya adalah ahli dzimmah. Dengan tindakan mereka ini, dengan sendirinya, mereka juga telah kehilangan dzimmah-nya dari kaum Muslim (negara Khilafah).

Qadhiyyah Mashîriyyah

Menjaga persatuan dan kesatuan Khilafah adalah kewajiban, dan memisahkan diri dari Khilafah adalah keharaman yang telah dinyatakan dengan tegas dalam Islam. Karena itu, tidak hanya sanksi yang tegas, Islam bahkan menetapkan masalah ini sebagai qadhiyyah mashîriyyah bagi negara dan kaum Muslim.

Qadhiyyah mashîriyyah yang dimaksud di sini adalah permasalahan yang harus diselesaikan dengan taruhan hidup dan mati (ijrâ’ al-hayâh aw al-maut). Inilah menjadi alasan terjadinya Perang Shiffin, ketika Khalifah yang sah, yaitu Sayyidina ‘Ali ra mengerahkan pasukannya untuk memerangi Mu’awiyah, yang ketika itu berstatus sebagai Wali Syam.

Khalifah al-Mu’tashim, pada zaman Khilafah Abbasiyyah, juga melakukan hal yang sama. Setelah menaklukkan Amuriyah, al-Mu’tahsim mengerahkan pasukannya untuk memerangi Abdurrahman ad-Dakhil di Spanyol. Karena dianggap memisahkan Spanyol ini dari wilayah Khilafah Abbasiyyah.

Hanya saja, tindakan militer dalam menjaga keutuhan wilayah Khilafah ini bukan satu-satunya tindakan yang harus diambil oleh negara. Karena itu, Khalifah harus memperhatikan aspek lain, yaitu pendekatan politik. Tindakan tegas negara memang diperlukan, tetapi jika tidak disertai pendekatan politik, maka justru yang terjadi bisa sebaliknya. Contohnya lepasnya wilayah Balkan pada zaman Khilafah Utsmaniyyah.

Gerakan separatisme di Balkan saat itu terjadi karena provokasi dari negara-negara kafir Eropa. Menghadapi tindakan tersebut, Khilafah Utsmaniyyah menindaknya dengan tindakan militer. Padahal, seharusnya saat itu negara bisa membongkar rencana jahat kaum kafir terhadap penduduk setempat, dan mempropagandakan bahasa separatisme kepada mereka. Menggunakan pengaruh ahl al-halli wa al-‘aqdi setempat untuk memadamkan api separatisme. Tetapi itu tidak dilakukan, karena lemahnya pemikiran penyelenggara negara saat itu. Karena itu, begitu diambil tindakan militer, bukannya api separatisme padam, justru semakin berkobar.

Hizbut Tahrir mempunyai pengalaman, saat Yaman menghadapi skenario Amerika di tahun 1990-an. Ketika Amerika hendak memisahkan Yaman Utara dengan Selatan. Saat itu, Hizbut Tahrir membongkar rencana jahat ini, dan menyerukan kepada ahl al-halli wa al-‘aqdi setempat untuk memadamkan api ini. Alhamdulillah, dengan izin dan pertolongan Allah, upaya itu berhasil. Yaman pun tetap utuh hingga sekarang.

Pengalaman berbeda terjadi di Sudan, ketika Sudah Selatan terus-menerus diprovokasi untuk memisahkan diri dari Sudan. Meski berbagai upaya telah dilakukan oleh Hizbut Tahrir di sana, tetapi mereka tidak hirau. Akhirnya terjadilah apa yang terjadi, sebagaimana yang kita saksikan hari ini. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, saat Timor Timur lepas dari pangkuan negeri ini. Semua ini terjadi, karena lemahnya kesadaran politik penyelenggara negara, dan rakyatnya.

Menutup Pintu

 Semuanya tadi terkait dengan tindakan kuratif yang bisa dilakukan oleh negara. Namun, selain tindakan kuratif, Islam juga menetapkan berbagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya tindakan sparatisme ini:

1-       Memata-matai Kafir Harbi fi’lan: Mereka adalah warga negara kafir yang terlibat peperangan atau memusuhi kaum Muslim. Keberadaan mereka di negeri kaum Muslim hanya diperbolehkan dengan visa khusus, meski tidak menutup kemungkinan mereka memanfaatkan izin tinggalnya untuk melakukan berbagai kontak dan memprovokasi penduduk setempat. Mereka wajib dipantau, bahkan dimata-matai.

2-     Memata-matai ahli ar-Raib: Mereka ini adalah warga negara Khilafah yang berinteraksi dengan warga negara Kafir Harbi fi’lan, dan diduga melakukan tindakan yang bisa membahayakan negara, termasuk separatisme.

3-    Menutup kedutaan negara-negara Kafir Harbi hukman yang dijadikan untuk memata-matai Khilafah. Adapun kedutaan negara-negara Kafir Harbi fi’lan, seperti AS, Inggris, Perancis, Rusia, Israel, dan lain-lain, sama sekali tidak boleh ada. Karena status mereka yang sedang berperang dengan kaum Muslim.

4-    Menutup kontak, hubungan dan kerja sama warga negara Khilafah dengan pihak luar negeri. Dalam hal ini, Khilafah akan menerapkan kebijakan satu pintu, yaitu Departemen Luar Negeri.

Inilah beberapa ketentuan Islam yang bersifat preventif terhadap berbagai gerakan separatisme. Wallahu a’lam.

[http://hizbut-tahrir.or.id]

Subuh telah jadi jelas bagi orang yang memiliki sepasang mata. Apa yang dahulu berlangsung rahasia, sekarang terang-terangan … Amerika pada tanggal 13/3/2013 melalui Menlunya, John Kerry, menuntut oposisi agar berdialog dengan diktator Bashar untuk membentuk pemerintahan transisi! Amerika bekerja keras dan serius membentuk pemerintahan transisi dari boneka-bonekanya di luar negeri dan di dalam rezim, dengan fatwa bahwa tangan mereka tidak berlumuran darah, namun hanya kecipratan darah saja! Hal itu agar pemerintahan transisi menghasilkan republik sekuler seperti sedia kala “disertai sentuhan baru” sesuai tuntutan keadaan! Maka mereka berkumpul di Kairo dan di Istanbul secara rahasia dan terbuka lalu berdiskusi dan menunda …

Amerika paham, masalahnya bukan masalah pembentukan pemerintahan transisi. Tidak sulit bagi Amerika mengumpulkan boneka-bonekanya yang bisa memenuhi “bejana” pemerintahan. Tetapi masalahnya bagaimana agar mereka bisa berdiri tegak atau agar diterima di bumi Syam. Amerika paham bahwa orang-orang revolusioner di dalam negeri adalah muslim yang memiliki emosi, baik yang pemikirannya mendalam dan cemerlang atau yang dangkal. Warga Syam melihat boneka-boneka Amerika di luar negeri dan mendengar mereka menyerukan negara sipil republik sekuler. Padahal sistem inilah yang menghasilkan “Bashar” dan yang lainnya. Lalu bagaimana mereka akan bisa menerima kelompok orang yang menyerukan sistem itu? Masyarakat telah merasakan banyak kepahitan dari rezim-rezim diktator ini. Rezim-rezim ini telah membuat kehidupan mereka diliputi “kegelapan” bertumpuk-tumpuk… Sungguh masyarakat menginginkan Islam yang terpancar dari akidah mereka. Dengan itulah mereka akan meraih kebahagiaan dan kemuliaan.

Bukan hal rahasia dan tersembunyi bahwa barat dengan pimpinan Amerika gemetar menggigil karena Islam dan hukum-hukumnya. Barat menginginkan sistem sekuler untuk Suria yang dipimpin oleh pengganti Bashar yang lebih sedikit noda hitam di wajahnya dan lebih lunak. Mereka memperdaya dan menyesatkan masyarakat! Namun, dilema mengepung Amerika dari berbagai sisi. Masyarakat di dalam negeri tidak menerima boneka-bonekanya di luar negeri, lalu bagaimana bisa menerima boneka-bonekanya di dalam rezim?! Pengganti Bashar, bagaimanapun panjang tangan dan lisannya, tidak akan mampu memerintah Syam, sementara ia hanya mencengkeram bagian luarnya. Pemerintahan transisi yang tidak mendapat persetujuan di dalam negeri tidak bisa menjalankan peran Amerika yang diminta, kecuali dilindungi oleh kekuatan internasional yang menyertainya. Ini merupakan perkara yang telah disodorkan sejak beberapa jangka waktu lalu dan belum ditarik dari peredaran, namun hambatan-hambatannya di luar perhitungan … Dahulu Amerika beranggapan, dan anggapan Amerika akan berbalik kepadanya atas izin Allah, bahwa kekerasan dan penghancuran bisa membuat orang-orang revolusioner di bumi Syam, pusat Dar al-Islam, menerima boneka-boneka itu dengan lapang dada atau bahkan dengan tangan terbuka!… Begitulah, Amerika mendukung rezim diktator “Bashar” dengan sebab-sebab kehidupan, harta dan senjata, melalui garis depannya: Rusia dan rezim di Iran, para bodyguard dan para pengikut; dan melalui garis belakangnya: rezim-rezim di Turki, Irak, dan Lebanon dan termasuk di dalamnya rezim Mesir! Sebagian orang merasa aneh dan bertanya-tanya: kenapa Rusia dan rezim di Iran merupakan garis depan, sedangkan rezim-rezim di Turki, Irak dan Lebanon dan termasuk di dalamnya rezim Mesir merupakan garis belakang? Akan tetapi, siapa saja yang memperhatikan fakta dan situasi, hal itu sudah cukup menjadi rincian jawaban dari pertanyaan tersebut! Sedangkan Eropa dan para pengikutnya, khususnya Qatar, mereka berjalan di sisi-sisi garis depan dan garis belakang menunggu-nunggu jendela untuk masuk dan mendapatkan bagian .. ini jika mungkin!

Wahai orang-orang revolusioner di bumi Syam pusat Dar al-Islam: itulah tipudaya kaum kafir imperialis, kaki tangan dan para pengikutnya. Tipudaya mereka dengan izin Allah akan gagal. Menggagalkan tipu daya mereka dan mengalahkan mereka, merupakan perkara yang mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Yaitu orang yang memahami ayat-ayat Allah yang muhkam, memahami sirah Rasul-Nya saw, yakin dan dengan hati dan seluruh lahiriahnya mengimani firman Allah SWT:

﴿إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Jika kalian menolong Allah niscaya Allah menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (TQS Muhammad [47]: 7)

 

Namun pertanyaannya adalah bagaimana kita menolong Allah SWT?

Seruan pemerintahan republik sekuler demokratis sipil dan pengibaran panji Sykes-Picot yang disebut sebagai bendera kemerdekaan, untuk menyenangkan barat umumnya dan Amerika khususnya, apakah itu menolong Allah SWT? Keengganan menyerukan al-Khilafah, tidak mengibarkan panji al-‘Uqab, panji Rasulullah saw, panji Lâ ilaha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dengan dalih takut memprovokasi dan membuat barat marah, apakah itu menolong Allah SWT? Meminta bantuan barat kafir imperialis, senjata dan harta, dan loyal kepada negara-negara yang memerangi kaum Muslimin, apakah itu menolong Allah SWT? Mengatakan pentahapan penerapan hukum, sehingga khamr dihalalkan setahun dan diharamkan setahun, hudud ditelantarkan bertahun-tahun, Allah diperangi dengan tersebarnya riba di perbankan dan kehidupan perekonomian, apakah itu menolong Allah SWT? Pengorbanan nyawa dan harta untuk mengganti antek dengan antek lainnya tanpa mencabut rezim dari akarnya dan tanpa menegakkan al-Khilafah, apakah itu menolong Allah SWT?

Sungguh, semua ini bukan menolong Allah SWT. Maka pertolongan dari sisi Allah pun tertunda dan itu akibat ulah tangan manusia dan bukan luputnya janji Allah. Janji Allah adalah haq dan benar.

﴿وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah(TQS an-Nisa’ [4]: 87)

 

Maka tolonglah Allah dengan apa yang Dia cintai. Saat itulah kekuatan kaum kafir imperialis dan antek-antek mereka akan kecil di depan Anda. Besarnya kekuatan persenjataan mereka tidak akan membahayakan Anda. Hati mereka bergetar dan takut. Tipu daya dan makar mereka tidak akan membahayakan Anda. Di sisi Allah lah makar mereka akan hancur, meski makar mereka mampu melenyapkan gunung-gunung.

Wahai orang-orang revolusioner yang benar: sungguh pemimpin itu tidak akan membohongi warganya dan sungguh Hizbut Tahrir menyeru Anda untuk menolong Allah dengan benar sehingga Allah menolong Anda dengan haq:

Tolonglah Allah SWT dalam persatuan Anda dan keteguhan Anda berpegang kepada tali agama Allah seluruhnya, di belakang satu kepemimpinan yang mukhlis, percaya dengan Allah dalam kejernihan dan kemurniaan dalam semua amal yang dilakukannya, kepemimpinan yang memurnikan amalnya hanya untuk Allah saja. Allah SWT tidak menerima amal yang di dalamnya Dia disekutukan dengan yang lain. Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw, beliau bersabda:

«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ، مَنْ أَشْرَكَ بِي كَانَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ لَهُ»

Allah SWT berfirman: “Aku tidak butuh sekutu, siapa saja yang menyekutukan Aku maka sedikit dan banyaknya untuk dia”(HR Abu Dawud dan ath-Thayalisi di dalam Musnadnya)

 

Dan tolonglah Allah SWT dengan tidak menyenangkan manusia dengan kemurkaan Allah. Maka jangan Anda menyenangkan Amerika dengan mengumumkan negara demokrasi sekuler. Jangan Anda menyenangkan Amerika dengan memalingkan muka dari al-Khilafah, karena takut memprovokasi Amerika dan barat, takut membuat mereka marah. Sebaliknya biarlah mereka mati dengan kemarahannya. Sesungguhnya menyenangkan manusia dengan kemurkaan Allah mengakibatkan kehinaan dan kerendahan. Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibn al-Ja’du dalam Musnadnya dari Aisyah ra:

«مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ، وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرَضَا اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ النَّاسَ»

Siapa yang menyenangkan manusia dengan kemurkaan Alalh, maka Allah wakilkan dia kepada manusia. Sebaliknya siapa yang membuat marah manusia dengan keridhaan Allah, maka Allah mencukupkannya dari manusia.

 

Tolonglah Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa dengan tekad untuk menegakkan daulah yang satu yaitu al-Khilafah ar-Rasyidah, untuk menerapkan syariah Allah dalam hal kecil dan besar, dalam masalah muamalah, uqubat, hudud, jihad dan ibadah. Allah yang berfirman:

﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

Dan dirikanlah shalat (TQS al-Baqarah [2]: 43)

 

adalah juga yang berfirman:

﴿وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah (TQS al-Maidah [5]: 49)

 

Ketaatan kepada Allah itu tidak terbagi-bagi, melainkan harus utuh melaksanakan semua perintah-Nya sesuai konteknya sejak diturunkan. Begitulah yang dilakukan oleh Rasul saw teladan kita. Beliau menerapkan hukum langsung saat turunnya hukum tersebut. Begitu pulalah yang dilakukan Khulafa’ ar-Rasyidun. Mereka menerapkan hukum-hukum ketika membebaskan suatu daerah tanpa dibagi-bagi atau bertahap …Tolonglah Allah SWT dalam memberikan nushrah kepada Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir dengan izin Allah mampu menegakkan al-Khilafah sesuai yang seharusnya dan menerapkan hukum-hukum Allah sesuai rancangan yang telah disiapkan oleh Hizb yang diistinbath dari Islam dan tidak ada sedikit pun dari yang lain. Hizb memiliki bobot yang tinggi dalam hal kesadaran politik, yang dengan pertolongan Allah, akan mampu menggagalkan makar-makar kaum kafir imperialis dan menyibukkan mereka tentang diri mereka sendiri sampai pembebasan yang nyata.

Wahai orang-orang revolusioner di bumi Syam: di depan Anda tidak ada jalan ketiga. Jika Anda berjanji untuk menolong Allah, dan bersumpah di hadapan-Nya untuk tetap teguh di atas kebenaran yang agung, maka Anda akan bahagia di dunia dan akhirat. Negara-negara imperialis kafir akan kalah dan antek-antek pengkhianat akan terkubur. Darah suci yang ditumpahkan dan pengorbanan agung yang dicurahkan akan menyebut Anda dengan kebaikan… Adapun jika Anda tidak melakukannya dan Anda terima boneka Amerika, pemerintahan transisi yang akan membentuk negara republik sekuler sipil demokrasi, maka darah-darah Anda akan mengadukan Anda kepada Penciptanya dan Anda akan menjadi:

﴿كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali (TQS an-Nahl [16]: 92)!

 

Dan sungguh kami berharap Anda tidak menjadi seperti itu, dan Allah melindungi orang-orang shalih.

﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (TQS Qaf [50]: 37)

 

Ingatlah, bukankah kami telah menyampaikan. Ya Allah saksikanlah. Ingatlah, bukankah kami telah menyampaikan. Ya Allah saksikanlah. Ingatlah, bukankah kami telah menyampaikan. Ya Allah saksikanlah.

 

1 Jumadil Ula 1434 H/13 Maet 2013 M          

Hizbut Tahrir

 

Mengenal Hizbut Tahrir

156038_3930007867075_392885251_nApa itu Hizbut Tahrir?
Hizbut Tahrir adalah organisasi politik Islam global yang didirikan pada 1953 di bawah pimpinan pendirinya – seorang ulama, pemikir, politisi ulung, dan hakim Pengadilan Banding di al-Quds (Yerusalem), Taqiuddin an-Nabhani. Hizbut Tahrir beraktivitas di seluruh lapisan masyarakat di Dunia Islam mengajak kaum Muslim untuk melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Negara Khilafah.

Hizbut Tahrir beraktivitas di seluruh dunia Islam untuk memperkuat komunitas Muslim yang hidup secara islami dalam pikiran dan perbuatannya, dengan terikat pada hukum-hukum Islam dan menciptakan identitas Islam yang kuat. Hizbut Tahrir juga beraktivitas bersama-sama komunitas Muslim di Barat untuk mengingatkan mereka agar menyambut seruan perjuangan mengembalikan Khilafah dan menyatukan kembali umat Islam secara global. Hizbut Tahrir juga berupaya menjelaskan citra Islam yang positif kepada masyarakat Barat dan terlibat dalam dialog dengan para pemikir, pembuat kebijakan dan akademisi Barat.

Mengapa Hizbut Tahrir menyebut dirinya sebagai “partai politik Islam”?

Berbeda dengan tradisi sekular, dalam Islam tidak ada dikotomi antara agama dan politik. Aktivitas yang Hizbut Tahrir lakukan adalah aktivitas politik, karena dengan aktivitas ini Hizbut Tahrir berupaya memelihara kemaslahatan umat sesuai dengan hukum-hukum dan solusi-solusi Islam; Islam memandang politik sebagai aktivitas memelihara kepentingan masyarakat dengan aturan dan solusi Islam.

Apa metodologi Hizbut Tahrir?

Hizbut Tahrir mengadopsi metodologi yang digunakan oleh Nabi Muhammad saw untuk mendirikan Negara Islam pertama di Madinah. Nabi Muhammad saw membatasi aktivitas penegakan Negara Islam pada ranah intelektual dan politik. Beliau saw mendirikan negara Islam tanpa menempuh jalan kekerasan. Beliau saw berjuang memobilisasi opini publik agar mendukung Islam dan berupaya mempengaruhi kelompok elit intelektual dan politik pada masanya. Meskipun mengalami beragam penyiksaan dan pemboikotan, Nabi Muhammad saw dan golongan Muslim perdana tidak pernah mengambil jalan kekerasan.
Kami mengadopsi perjuangan intelektual dan politik ini karena kami yakin ini merupakan jalan yang benar dan efektif untuk menegakkan kembali Khilafah Islam. Karena itu, Hizbut Tahrir secara proaktif menyebarkan pemikiran-pemikiran Islam, baik yang bersifat intelektual maupun politik, secara luas di masyarakat-masyarakat Muslim sembari menantang status quo yang ada.
Hizbut Tahrir menyuarakan Islam sebagai jalan hidup yang komprehensif yang mampu menangani seluruh urusan bermasyarakat dan bernegara. Hizbut Tahrir juga mengemukakan pandangan-pandangannya terhadap peristiwa-peristiwa politik dan menganalisisnya dari perspektif Islam.

Hizbut Tahrir menyebarkan pemikiran-pemikirannya melalui diskusi dengan masyarakat, lingkar studi, ceramah, seminar, pendistribusian leaflet, penerbitan buku dan majalah dan via Internet.

Metodologi Hizbut Tahrir dijelaskan secara rinci dalam buku The Methodology of Hizb ut-Tahrir for Change.

Di mana Hizbut Tahrir beraktivitas?

Hizbut Tahrir beraktivitas di Eropa, Asia Tengah, Timur Tengah, anak benua India, Australasia dan Amerika.

Apakah Hizbut Tahrir menganjurkan kekerasan dan apakah Hizbut Tahrir menjadi kepanjangan tangan para teroris?

Hizbut Tahrir berkeyakinan bahwa perubahan yang dicita-citakan harus dimulai dari pemikiran orang-orang dan kami yakin orang-orang atau masyarakat tidak dapat dipaksa untuk berubah dengan kekerasan dan teror. Konsekuensinya, Hizbut Tahrir tidak menganjurkan atau terlibat dalam kekerasan. Hizbut Tahrir sangat terikat terhadap hukum Islam dalam seluruh aspek perjuangannya. Hizbut Tahrir adalah entitas intelektual dan politik Islam yang berupaya mengubah pemikiran umat melalui diskusi dan debat intelek. Kami memandang bahwa hukum Islam melarang penggunaan kekerasan atau perjuangan bersenjata melawan rezim penguasa sebagai metoda untuk menegakkan kembali Negara Islam.

Banyak sekali artikel yang dipublikasi di beragam saluran media, termasuk di antaranya Reuters, Itar-Tass, Pravda, AFP, Al-Hayat, AP dan RFERL, yang dengan jelas menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah organisasi nonkekerasan yang menolak perjuangan bersenjata atau kekerasan sebagai bagian dari metodologi partai.

Apakah Hizbut Tahrir kelompok ekstrimis?

Kelompok-kelompok ekstrimis mengeksploitasi rasa takut umat dan memberikan argumen-argumen mentah berdasarkan pemikiran yang lemah dan salah. Kami tidak bersembunyi di balik polemik dan slogan – kami yakin kekuatan pemikiran-pemikiran kami terlihat jelas dalam literatur kami. Para anggota kami telah berdiskusi dan berdebat dengan beberapa pemikir terbaik di dunia seperti Noam Chomsky, Daniel Bennett dan Flemming Larsen dari IMF, karena kami yakin satu-satunya cara untuk memajukan manusia ialah dengan terlibat dalam diskusi dan debat global. Kami yakin sekarang ini sudah saatnya menghapuskan label kuno ‘ekstrimis’ dan ‘moderat’ dan kami pun yakin bahwa setiap orang yang memiliki pandangan yang berbeda bisa terlibat dalam dialog yang rasional. Jika Anda ingin salah seorang anggota kami berpartisipasi dalam debat atau diskusi panel yang Anda selenggarakan, silahkan kontak kami.

Apakah Hizbut Tahrir memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok lain?

Hizbut Tahrir tidak ada hubungan dengan gerakan, partai atau organisasi Islam atau non-islam, baik dari segi nama maupun aktivitasnya.

Mengapa Hizbut Tahrir dilarang di banyak negara?

Hizbut Tahrir berada pada garis terdepan dalam aktivitas politik di Dunia Islam. Hizbut Tahrir telah menantang dan menjadi perhatian para penguasa tiran di Dunia Islam. Rezim-rezim tiran itu merespon aktivitas Hizbut Tahrir dengan cara memenjarakan, menyiksa dan membunuhi para anggota kami. Meskipun tantangan kami terhadap rezim-rezim ini berada pada tataran intelektual dan politik, yakni dengan melakukan debat dan diskusi, rezim-rezim ini mengambil langkah melarang dan membungkam partai, karena mereka tidak punya pemikiran intelektualnya sendiri. Karena rezim-rezim ini tidak menoleransi setiap oposisi, maka partai-partai yang beroposisi lainnya juga dilarang. Meskipun ada pelarangan dan intimidasi terhadap anggota-anggotanya, pemikiran-pemikiran Hizbut Tahrir terus menyebar di masyarakat.

Siapa yang mendanai Hizbut Tahrir?

Organisasi ini didanai sepenuhnya oleh anggota-anggotanya dan kami tidak menerima segala bentuk bantuan dana dari pemerintahan manapun. Karena perjuangan Hizbut Tahrir terfokus pada penyebaran pemikiran, maka biaya operasinya sangat minim, karena pemikiran tidak perlu biaya.

Siapa dan di mana pemimpin Hizbut Tahrir?

Pemimpin global Hizbut Tahrir, Ata Abu Rushta, berada di dunia Islam. Beliau menulis sejumlah buku politik dan hukum Islam dan sebelumnya pernah menjadi juru bicara resmi partai. Selama menjadi juru bicara partai di Yordania beliau pernah ditahan selama beberapa tahun sebagai tahanan politik. Sejak memangku amanah sebagai pemimpin partai beliau pernah berbicara dalam konferensi di Yaman dan Pakistan. Beliau juga rutin berbicara di website resmi Kantor Media Hizbut Tahrir, http://www.hizb-ut-tahrir.info. Dengan adanya penganiayaan terhadap para anggota kami di Dunia Islam, kami tidak ingin membantu para penguasa tiran dengan menunjukkan keberadaan pemimpin partai.

Dapatkah saya mengikuti pertemuan Hizbut Tahrir?

Semua pertemuan kami dilakukan secara terbuka dan siapapun yang tertarik, tanpa melihat pandangan politik dan intelektual mereka, berhak untuk berperan serta. Setiap peserta kami berikan hak untuk berpartisipasi dalam mendiskusikan isi pertemuan, apapun sikap dan pandangan mereka terhadap Islam atau apapun materi pertemuan tersebut. Untuk mengetahui rincian pertemuan yang terdekat dengan Anda, silahkan hubungi kami.

Bagaimana caranya bergabung dengan Hizbut Tahrir?

Keanggotaan Hizbut Tahrir bersifat terbuka bagi seluruh Muslim, pria maupun wanita, tanpa memandang suku bangsa, ras dan aliran pemikiran, karena partai melihat mereka semua dari sudut pandang Islam. Seseorang dapat menjadi anggota partai setelah melakukan kajian dan perenungan mendalam tentang pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat partai. Keanggotaan seseorang didasarkan pada kematangan individu dalam menguasai tsaqofah partai dan mengadopsi pemikiran dan pendapat partai.

Apakah wanita terlibat dalam Hizbut Tahrir?

Di Hizbut Tahrir wanita memainkan peran aktif dalam rangka mencapai tujuan partai. Mereka melakukan perjuangan intelektual dan politik termasuk menyeru para penguasa di Dunia Islam untuk bangkit dan berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan. Banyak anggota wanita di Hizbut Tahrir yang dipenjara sebagai tahanan politik oleh sejumlah rezim di Dunia Islam. Sesuai dengan hukum Islam, aktivitas wanita terpisah dari aktivitas pria.

Apa pandangan Hizbut Tahrir terhadap peristiwa 11/9 atau 7/7 dan pembunuhan atas warga sipil?
Hukum Islam melarang segala bentuk serangan terhadap warga sipil. Islam melarang pembunuhan atas anak-anak, orang tua dan wanita yang tidak berperang, bahkan di medan perang sekalipun. Islam melarang aksi pembajakan pesawat sipil yang membawa warga sipil tak bersalah dan Islam juga melarang penghancuran rumah dan kantor yang di dalamnya ada warga sipil tak bersalah. Semua tindakan semacam ini adalah bentuk serangan yang Islam larang.

Ariel Cohen dari Heritage Foundation menuduh Hizbut Tahrir menyuburkan sikap kekerasan anti-Amerika? Benarkah begitu?

Usaha absurd dari sejumlah think tank AS untuk mendiskreditkan kaum Muslim yang menolak model politik Barat sebagai ‘teroris’ adalah tanda keputusasaan ideologis. Meskipun Hizbut Tahrir menentang kepentingan kolonial Amerika dan menawarkan ideologi alternatif, tapi terlalu dangkal jika hanya sibuk membangkitkan perasaan anti-Amerika karena perasaan semacam itu sekarang ini sudah menjadi gejala umum di dunia.

Meskipun Ariel Cohen berusaha menjadikan dirinya sebagai pakar tentang Hizbut Tahrir, ‘penelitiannya’ terhadap partai penuh dengan ketidakakuratan. Dia belum pernah bertemu dengan satupun anggota Hizbut Tahrir, jadi bagaimana dia bisa mengetahui ideologi partai dengan baik?

Jika Anda bekerja untuk sebuah think tank dan tertarik dengan perjuangan Hizbut Tahrir, silahkan Anda mengontak kami untuk informasi lebih lanjut – kami dapat menyediakan pakar untuk berbicara di seminar, diskusi, sarasehan, dan konferensi.

Ahmed Rashid, dalam bukunya yang berjudul Jihad – the rise of militant Islam in Central Asia mengungkapkan bahwa kelak Hizbut Tahrir akan menjadi kelompok militan. Benarkah demikian?

Kami tidak setuju dengan penilaian Ahmed Rashid dan kami telah mengeluarkan penolakan atas banyak klaim yang ia buat di dalam bukunya. Buku tersebut mengandung banyak sekali ketidakakuratan faktual perihal Hizbut Tahrir dan jelas sekali dia tidak melakukan penelitian yang laik untuk menulis topik tersebut. Meskipun partai telah dengan jelas mengemukakan pandangannya dalam literatur resmi dan meskipun partai memiliki juru bicara di seluruh dunia, Ahmed Rashid malah memilih untuk mengandalkan sumber-sumber ‘anonim’ yang kredibilitasnya sangat dipertanyakan.

Argumen bahwa kami akan terprovokasi menjadi kelompok militan dengan adanya penindasan atas para anggota kami jelas bertentangan dengan sejarah partai. Sejak didirikan pada 1953, para anggota partai sudah pernah mengalami penyiksaan, penganiayaan dan pembunuhan oleh beragam rezim di Dunia Islam, termasuk di antaranya Yordania, Suriah, Mesir, Turki, Tunisia, Arab Saudi, Libia, Sudan, Irak, Kyrgyzstan, Tajikistan dan Uzbekistan. Meskipun selama beberapa dekade mengalami provokasi yang intensif dan tindakan represif dari para penguasa di Dunia Islam, partai tetap teguh pada metodologi tanpa kekerasan yang dijalani.

Apakah Hizbut Tahrir anti-Semit?

Kami dengan tegas menolak tuduhan anti-Semit karena Islam adalah sebuah risalah bagi seluruh umat manusia. Akan tetapi, pada saat yang sama kami juga secara tegas menolak Zionisme yang terejawantahkan dalam bentuk negara Israel. Dan Hizbut Tahrir, seperti halnya mayoritas organisasi Muslim lainnya, menentang keras pendudukan berkelanjutan atas Palestina oleh Israel.

Negara Israel didirikan di atas wilayah yang dirampasnya secara paksa, setelah mereka mengusir penduduk di sana, baik yang Muslim maupun yang Kristen. Ini merupakan bentuk ketidakadilan, yang dari sudut pandang Islam tidak akan pernah kami terima, tanpa memandang ras pelakunya. Di Palestina, Islam terlibat konflik dengan Israel – bukan dalam kapasitas mereka sebagai Yahudi yang secara historis pernah hidup berdampingan dengan kaum Muslim dalam damai dan tentram selama berabad-abad – tapi dalam kapasitas mereka sebagai penjajah dan agresor.

Sejarah menjadi saksi bahwa dulu kaum Yahudi dan Muslim hidup bersama di bawah naungan Islam selama hampir tiga belas abad. Selama periode itu kaum Yahudi memiliki standar hidup yang sama tingginya dengan kaum Muslim. Mereka menikmati hak-hak, kesejahteraan, kebahagiaan, ketentraman dan keamanan yang sama.

Apa pandangan Anda tentang demokrasi?
Sistem pemerintahan Islam, Khilafah, membolehkan dan mendorong pertanggungjawaban penguasa dan memiliki aturan tersendiri ihwal pemilihan dan konsultasi. Islam tidak menerima kebijakan negara dipengaruhi atau diarahkan oleh elit pengusaha. Islam mewajibkan warga negara Khilafah untuk terlibat dalam aktivitas politik dan mengawasi jalannya pemerintahan.

Demokrasi dalam negara kapitalis ialah sistem pemerintahan yang berbeda dengan sistem pemerintahan Islam. Ini karena Islam dan Kapitalisme dibangun di atas filosofi dasar yang sangat berbeda. Bila sistem kapitalis menyematkan kedaulatan untuk membuat hukum pada manusia, sistem Islam memandang bahwa kedaulatan hukum ada di tangan Sang Pencipta. Karena alasan inilah, demokrasi tidak sesuai dengan sistem Islam.

Demokrasi adalah sistem yang rusak, yang dikendalikan oleh korporasi-korporasi besar dan tidak peduli pada kepentingan rakyat. Jumlah para pemilih (voter) di Barat selama ini begitu rendah dan orang-orang harus turun ke jalan untuk menyuarakan rasa frustrasi mereka. Meskipun setiap orang punya ‘kebebasan’ untuk mengkritik dan menentang para politisi mereka di Barat, realitas menunjukkan bahwa siapapun politisi yang terpilih, mereka berasal dari elit ekonomi dan mereka memerintah untuk kepentingan para elit ekonomi itu.

KHILAFAH
Apa itu Khilafah?

Khilafah merupakan sistem pemerintahan dalam Islam yang digali dari sumber hukum Islam. Khilafah bertanggungjawab atas penerapan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Khilafah memberlakukan aturan-aturan hukum pidana Islam dalam masalah peradilan, pemerintahan, ekonomi, sistem sosial, pendidikan, dan kebijakan luar negeri. Khilafah bertanggungjawab untuk menyampaikan dan mempropagandakan Islam ke seluruh dunia melalui kebijakan luar negerinya. Khilafah sangat berbeda dari model pemerintahan yang lain seperti demokrasi, teokrasi atau monarki.

Khilafah akan melakukan rekonsiliasi antara seluruh umat Islam dan akan menghapus segala bentuk kesukuan dan kebangsaan. Negara Khilafah bukan negara untuk faksi atau kelompok orang tertentu. Khilafah akan memandang seluruh warganegaranya, baik yang Muslim maupun yang non-Muslim, dengan pandangan yang sama. Khilafah akan menerapkan Islam sesuai dengan dalil-dalil terkuat dari sumber hukum Islam. Khilafah bukanlah negara untuk etnis atau ras tertentu. Setiap orang, apakah dia Arab atau non-Arab, putih atau hitam, memiliki kedudukan yang sama sebagai warganegara. Meskipun Khilafah adalah Negara Islam akan tetapi Khilafah tidak hanya mengurusi kaum Muslim, tetapi juga setiap orang yang menyandang status warganegara Negara Islam, baik dia Muslim ataupun non-Muslim. Saat mengurusi kepentingan warganegara yang non-Muslim, Negara Islam berkewajiban memperlakukan mereka sebagai warganegara dan bukan sebagai ‘etnis minoritas’.

Di mana Khilafah sekarang?

Saat ini Khilafah tidak eksis. Khilafah terakhir di Turki diruntuhkan oleh Mustafa Kemal setelah Perang Dunia I. Pada 24 Juli 1924, saat mengomentari keruntuhan Khilafah, Lord Curzon, menteri luar negeri Inggris saat itu, mengatakan kepada Majelis Rendah, ” … Turki (sebagai pusat Khilafah) telah mati dan tidak akan pernah bangkit kembali karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, Khilafah dan Islam.”

Bagaimana dengan Arab Saudi, Iran, Pakistan dan Sudan?

Untuk bisa disebut sebagai Negara Islam, setiap pasal dalam konstitusi negara, setiap aturan dan perundang-undangan, harus berasal dari hukum Islam. Negara-negara yang Anda sebutkan itu sama sekali tidak memenuhi kriteria itu. Di negara-negara tersebut, hukum Islam hanya sekadar label sebagai sumber legislasi negara tersebut, dengan segala bentuk legislasi sekular dan adat istiadat yang ada, sementara konstitusi lebih condong pada sistem demokrasi, sosialisme, kapitalisme dan semacamnya. Semua itu adalah konsep-konsep yang tidak bersumber dari Islam dan berasal dari filosofi dasar yang sangat berbeda. Karena itu, tidak bisa diklaim bahwa setiap negara Muslim adalah representasi dari Islam dan sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islamiyah.

Siapa yang akan menjadi penguasa dalam sistem Khilafah dan apakah ia akan memiliki akuntabilitas?

Khalifah memimpin negara berdasarkan perintah Allah swt sebagaimana termaktub dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Rakyat memilih dan menunjuk Khalifah. Sebagai warganegara Negara Islam, baik pria maupun wanita, Muslim ataupun non-Muslim, Anda bisa mendatangi Khalifah untuk alasan apapun, entah mendorongnya agar takut kepada Allah swt atau meminta hak-hak Anda dipenuhi. Rakyat wajib mengganti Khalifah jika ia menerapkan sistem selain Islam.

Bagaimana Khilafah memperlakukan non-Muslim?

Seorang ulama salaf, Imam Qarafi, mengatakan, “Menjadi tanggung jawab kaum Muslim terhadap orang-orang Zhimmi [warganegara yang non-Muslim] untuk memelihara mereka, memenuhi kebutuhan rakyat miskin, memberi makan orang-orang yang kelaparan, menyediakan pakaian, menyapa mereka dengan baik dan bahkan menoleransi kesalahan mereka meskipun datangnya dari seorang tetangga, dan meskipun kaum Muslim berada pada posisi tangan di atas [sebagai pemberi]. Kaum Muslim juga harus menasehati mereka dalam urusan mereka dan melindungi mereka dari siapapun yang berusaha menyakiti mereka atau keluarganya, mencuri harta mereka atau siapapun yang melanggar hak-hak mereka.”

Banyak non-Muslim yang pernah hidup dengan kaum Muslim di bawah naungan Islam selama hampir tiga belas abad. Selama periode itu orang-orang non-Muslim memiliki standar hidup yang sama. Mereka menikmati hak-hak, kesejahteraan, kebahagiaan, ketentraman dan keamanan yang sama.

Bagaimana posisi wanita dalam Khilafah?

Dalam sistem Khilafah, wanita memiliki peran aktif untuk membangun negara yang tidak hanya memiliki karakter moral yang unggul, tetapi juga secara ekonomi sejahtera dan maju secara teknologi. Khilafah wajib memberikan pendidikan gratis kepada anak laki-laki dan perempuan pada tingkat dasar dan menengah serta memberikan pendidikan gratis pada level pendidikan tinggi untuk bidang-bidang tertentu seperti sains dan kesehatan. Ini akan membuat wanita bisa menjalani profesi sebagai ahli kesehatan, insinyur, sains, arsitektur, akademisi dan semacamnya. Wanita diperbolehkan untuk berdagang, menginvestasikan harta, memiliki harta sendiri, menjalankan usaha dan menjadi pegawai atau atasan. Wanita bisa, misalnya, menduduki jabatan administratif dalam negara atau ditunjuk menjadi hakim, menyewa properti dan melakukan transaksi sosial lainnya. Selain itu, wanita akan menjalani peran vital sebagai istri dan ibu, menciptakan kehidupan keluarga yang tentram, merawat anak-anak dan keluarga dan membina generasi masa depan. Wanita memiliki peran politik yang aktif dan juga punya suara politik yang kuat dalam mengingatkan penguasa atas setiap bentuk ketidakadilan dan korupsi di masyarakat serta memelihara kepentingan komunitasnya.

Bagaimana interaksi pria dan wanita dalam sistem Khilafah?

Pria dan wanita berinteraksi dalam rangka memenuhi kebutuhan kehidupan publik mereka tapi tetap dalam koridor sistem sosial Islam yang mengatur hubungan antara pria dan wanita. Ini menciptakan lingkungan yang memfasilitasi kerja sama lintas jender dan membuat mereka bisa memenuhi hak dan kewajiban publik mereka tanpa mempengaruhi kondisi moral negara. Dengan begitu kehormatan dan kesucian setiap orang akan terlindungi dan aspek seksual dari hubungan pria dan wanita terbatas pada pernikahan. Misalnya, Islam telah menentukan pakaian publik khusus untuk wanita Muslimah serta mewajibkan mereka untuk menyembunyikan kecantikan mereka dari hadapan kaum pria yang bukan mahramnya dan Islam juga melarang pria dan wanita berkhalwat. Islam melarang hubungan yang bebas antara pria dan wanita yang tidak punya hubungan darah, serta segala bentuk perbuatan yang bisa menjurus pada perzinaan. Wanita memiliki kedudukan terhormat dalam sistem Khilafah dan karena itu tidak akan ada tindakan apapun yang diperbolehkan untuk mengkompromikan masalah ini.

Mengapa wanita tidak bisa menjadi penguasa dalam sistem Khilafah?

Konsep ini bersumber dari dalil-dalil Islam yang melarang wanita memegang jabatan kekuasaan. Orang-orang yang gagal mengkaji Islam secara mendalam mengklaim bahwa ini terjadi karena Islam memandang wanita secara fisik tidak mampu memangku jabatan tersebut dan karena itu mereka menganggap Islam mendiskriminasikan wanita. Islam tidak memberikan alasan spesifik tentang hal ini. Islam hanya melarang posisi-posisi tersebut untuk diemban oleh wanita.

Kekuasaan dalam Islam bukanlah posisi yang bergengsi, melainkan jabatan yang mengandung tanggung jawab. Dalam Islam, kedudukan sesorang tidak ditakar dari jabatan atau tanggung jawabnya, tetapi dari bagaimana ia memenuhi segala kewajibannya. Karena itu, seorang penguasa tidak otomatis lebih superior ketimbang seorang ibu. Masing-masing memiliki kewajiban yang harus dipenuhi untuk menjamin kemakmuran masyarakat.

Di dalam Khilafah, wanita boleh memilih penguasa. Secara historis, bahkan wanita turut hadir dalam delegasi pertama yang memberikan bai’at kepada Nabi Muhammad saw, menerimanya sebagai pemimpin pertama Negara Islam. Wanita boleh masuk ke dalam Majelis Ummah yang memberikan nasehat kepada penguasa dalam beragam urusan. Wanita wajib terlibat dalam kehidupan politik masyarakat Islam dan mengingatkan penguasa jika mereka melihat adanya korupsi atau ketidakadilan yang dilakukan oleh negara. Wanita juga bisa dipilih menjadi pejabat negara untuk posisi-posisi yang non-kekuasaan.

Akankah Khilafah menerima inovasi ilmiah dan teknologi?

Ketika Islam datang untuk pertama kalinya sebagai sistem kehidupan, Nabi Muhammad saw mengirim beberapa orang Muslim dalam misi khusus ke Syam (wilayah yang kini menjadi Suriah, Yordania, dan Palestina). Pada saat itu Syam tidak diperintah oleh sistem Islam dan justru dikuasai oleh negara adikuasa saat itu, Romawi, yang notabene Kristen. Orang-orang Romawi sangat terampil dalam teknologi militer dan telah mengembangkan dua alat pelontar (cikal bakal meriam). Kaum Muslim juga memperoleh teknologi parit dari negara adikuasa kedua saat itu, Persia, melalui Salman al-Farisi dan teknologi itu dimanfaatkan pada saat Perang Khandaq. Ini diperbolehkan dalam Islam karena kaum Muslim tidak mengambil sistem hidup dari Romawi dan Persia. Kaum Muslim tidak mengambil keyakinan, nilai dan sistem kehidupan Romawi dan Persia. Kaum Muslim hanya mengambil teknologi mereka, yang secara faktual tidak berasal dari keyakinan tertentu dan karena itu terbuka bagi seluruh umat manusia untuk menemukannya, dengan seizin Allah swt. Muhammad saw memberikan teladan bahwa mengadopsi teknologi adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam Islam, tapi dengan catatan bahwa teknologi itu hanya boleh dimanfaatkan untuk sesuatu yang diperbolehkan menurut hukum Islam. Maka, pisau bedah boleh digunakan untuk menyembuhkan, tapi tidak untuk melakukan aborsi terhadap bayi yang tak berdosa. Televisi, internet dan DVD bisa dimanfaatkan untuk mempropagandakan kebenaran atau untuk tujuan-tujuan pendidikan, tetapi tidak boleh digunakan untuk mengeksploitasi wanita sebagai objek materi.

Apakah Khilafah sistem monarki?

Sistem monarki bukanlah sistem Islam dan Islam tidak memperbolehkannya, entah raja yang hanya menjadi simbol tapi tak berkuasa, seperti dalam kasus Inggris dan Spanyol, karena Khalifah bukanlah simbol. Khalifah adalah penguasa dan pelaksana hukum-hukum Allah swt yang bertindak untuk kepentingan umat; Demikian pula jika raja menjadi kepala negara dan penguasa sekaligus, seperti dalam kasus Arab Saudi dan Yordania. Ini karena Khalifah tidak mengenal sistem pewarisan kekuasaan seperti yang terjadi dalam sistem monarki. Khalifah dipilih dan diberi bai’at. Islam tidak memperkenankan sistem pewarisan. Khalifah tidak memiliki hak-hak istimewa dibandingkan warganegara yang lain dan Khalifah tidak berkedudukan di atas hukum seperti halnya raja yang kebal hukum. Khalifah tunduk pada hukum Allah swt dan bisa dimintai pertanggungjawaban atas segala tindakan yang dilakukannya.

Apakah Khilafah sistem yang imperialis?

Wilayah-wilayah yang diperintah oleh Islam – meskipun terdiri atas beragam ras dan terhubung ke satu tempat yang menjadi sentralnya – tidak diperintah berdasarkan sistem imperialis, tetapi oleh sistem yang sangat bertentangan dengan sistem imperialis. Sistem imperialis tidak memperlakukan kelompok-kelompok ras secara setara, tetapi memberikan hak istimewa dalam pemerintahan, keuangan dan ekonomi kepada ras tertentu.

Sistem pemerintahan Islam memberikan kesetaraan antara rakyat di seluruh wilayah negara. Setiap non-Muslim yang menjadi warganegara memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warganegara yang Muslim. Mereka memperoleh keadilan yang sama dan mereka juga tunduk pada hukum yang sama. Selain itu, setiap warganegara, tanpa memandang keyakinannya, memiliki hak-hak yang bahkan tidak dimiliki oleh seorang Muslim di luar negeri yang tidak memiliki status warganegara. Dengan konsep kesetaraan seperti ini, sistem Islam sangat berbeda dengan sistem imperial. Sistem Islam tidak membeda-bedakan wilayahnya menjadi wilayah koloni, wilayah eksploitasi, atau wilayah sumber kekayaan yang diperas untuk kepentingan pusat. Khilafah memandang semua wilayah secara adil, tidak peduli betapa jauh jarak wilayah itu, dan tidak jadi soal betapa berbedanya ras di sana. Khilafah menganggap setiap jengkal wilayah sebagai bagian integral dari negara dan warganegara di setiap wilayah itu memiliki hak yang sama dengan warganegara yang ada di wilayah pusat kekuasaan. Khilafah juga menjadikan otoritas kekuasaan, sistem dan perundang-undangannya berlaku sama di seluruh wilayah.

(sumber : www.1924.org ; Frequently Asked Question-About Hizb ut-Tahrir)

(http://hizbut-tahrir.or.id)

Menjawab Syubhat terhadap Ide-ide Hizbut Tahrir

Soal :

Ada sebagian pihak yang membuat opini negatif untuk membuat keraguan tentang ide-ide Hizbut Tahrir.  Misalnya : Khilafah tidak wajib, khilafah hanya 30 tahun, khilafah bukan perkara penting, HT membolehkan melihat film/gambar porno, HT membolehkan berciuman dengan wanita lain, HT membolehkan bekerja menjadi agen negara kafir, dan masih banyak lagi. Bagaimana menjawab masalah ini?

Jawab :

File powerpoint sebesar 27MB dan terdiri dari 71 slide ini mencoba menjawab tuduhan-tuduhan tersebut.

Menjawab Syubhat terhadap Ide-ide Hizbut Tahrir ==>direct download, resumeable

Menjawab Syubhat terhadap Ide-ide Hizbut Tahrir ==>alternatif

Picture1

http://syariahpublications.com/2012/02/26/menjawab-syubhat-terhadap-ide-ide-hizbut-tahrir/

 

%d blogger menyukai ini: