HT-Australia-300x199

Sebagaimana diberitakan, dalam pidatonya di National Press Club, Perdana Menteri Australia Tony Abbot berkeinginan kuat untuk melarang Hizbut Tahrir (HT).

Upaya pelarangan ini sangat nyata terlihat dari beberapa pernyataan Tonny Abbott sendiri, yang dalam sebuah kesempatan dia berkata “Hizb ut-Tahrir is an organisation with an ideology which justifies terrorism” (Hizbut Tahrir adalah sebuah organisasi yang ideologinya membenarkan tindakan teorisme). (9/10/14, http://www.theaustralian.com.au).

PM Abbott juga dengan tegas menyatakan: “Tidak ada keraguan, mereka adalah organisasi yang berkampanye melawan nilai-nilai dan kepentingan Australia. Mereka adalah organisasi yang benar-benar pantas (dilarang)” (9/10/14, internasional.kompas.com).[1]

Upaya pelarangan kegiatan HT Australia ini –menurut media– dipicu oleh kegiatan ceramah umum Hizbut Tahrir Australia, di Sydney, Jumat (10/10/14) malam,  yang bertema The War To End The Blessed Revolution, yang intinya mengkritik kebijakan luar negeri Negara-negara Barat yang seolah bersatu menyerang organisasi IS, padahal justru tujuan mereka adalah menyerang para pejuang revolusi Suriah itu sendiri.

Menanggapi keinginan PM Abbott, Ismail Alwahwah dari HT Australia, dalam surat terbukanya yang ditujukan kepada dia terkait pidatonya di National Press Club itu, mengungkapkan bahwa keinginan kuat Abbott untuk melarang dan membungkam HT akan gagal. Alwahwah menyatakan, untuk berhasil dalam hal itu, Abbott harus mencoba sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya. Artinya, Abbott harus memilih untuk menghindari upaya yang telah dilakukan rezim Yordania, Irak, Suriah, Mesir, Arab Saudi, Rusia, Asia Tengah dan lain-lain; mulai dari penganiayaan, penjara dan penyiksaan, pembunuhan, pelarangan dan penyebaran fitnah. Faktanya, menurut Alwahwah pula, kegagalan semua rezim tersebut dalam membasmi HT sangat jelas.

Lebih lanjut dinyatakan dalam surat terbukanya kepada PM Abbott, “Jika contoh Jerman mungkin menarik bagi Anda, maka saya menyarankan Anda untuk berkonsultasi dengan mereka dan mengambil satu atau dua pelajaran dari kegagalan mereka, sebelum Anda mengikutinya. Jika Anda ingin datang dengan apa yang belum pernah dicoba oleh orang-orang sebelum Anda, maka Anda memiliki satu dan hanya satu cara, itu adalah cara termudah, terpendek dan paling efektif: mencegah aliran udara; untuk ide-ide yang tersebar melalui udara. Anda akan berhasil melarang ide dan penyebarannya ketika Anda dapat mencegah aliran udara itu sendiri.” Demikian tegas Ismail Alwahwah. (http://m.hizbut-tahrir.or.id/2015/02/12/keinginan-pm-abbott-melarang-ht-di-australia-akan-gagal/)

Dengan adanya upaya ini, Australia kini telah meningkatkan peran pentingnya sebagai sekutu Barat di dekat wilayah Asia Tenggara (Indonesia). Dengan mengamati upaya pelarangan ceramah umum tersebut, maka ada beberapa hal penting yang perlu diketahui umat:

Pertama, Bukti kemunafikan Barat dan Demokrasinya

Upaya pelarangan ceramah umum aktivis Hizbut Tahrir Australia merupakan indikasi kuat dan meyakinkan, bahwa Demokrasi hanyalah sebuah ide palsu. Para aktivis pro Demokrasi selalu bergumam bahwa Demokrasi itu esensinya adalah dialog mencapai kesepakatan berdasarkan kehendak mayoritas. Mereka pun mengatakan bahwa negara-negara Barat yang Demokratis selalu berpikiran terbuka dan menerima dialog, namun faktanya tidak demikian. Dengan pongahnya perdana menteri Australia berupaya menggagalkan lecturer (ceramah umum) Hizbut Tahrir Australia, dengan alasan kegiatan tersebut menyebarkan kebencian di tengah masyarakat Australia. Kebencian yang dimaksud padahal adalah sikap kritis komunitas Muslim dan Hizbut Tarir di negeri kangguru sana, terhadap kebijakan luar negeri Australia yang mendukung AS menyerang para mujahidin Suriah.

Dengan adanya kejadian ini, kita semakin paham bahwa Demokrasi adalah ide palsu yang penuh manipulasi, dan penuh dengan kemunafikan. Jika negara Barat selalu ingin di dengar pendapatnya, namun ketika umat Islam di negeri Barat yang menjadi minoritas, malah dibungkam agar tidak kritis terhadap kebijakan keliru pemerintahan mereka (Barat).

Kedua, Menghalangi Penyebaran ide Khilafah yang benar, di tengah masyarakat non muslim.

Ceramah umum yang membuat marah Tony Abbott berjudul The War To End The Blessed Revolution (Perang untuk menghentikan Revolusi yang diberkahi), ceramah tersebut membahas peran yang dimainkan negara-negara barat yang dipandang merugikan revolusi di Suriah. Hal ini artinya, HT Australia memiliki opini yang berbeda dengan opini mainstream yang dimainkan media Barat di negeri mereka sendiri. HT Australia mencoba menjelaskan kepada umat, melalui jalan pemikiran dan dialog tanpa kekerasan, bahwa koalisi untuk menyerang dan menghentikan revolusi suriah adalah keliru, dan revolusi Suriah yang sejak awal menghendaki Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah adalah revolusi yang benar. Konsekuensinya masyarakat muslim di Australia diajak memperjuangkan ide Khilafah. Dan bagi masyarakat non muslim pun sama diajak mengenal Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah secara objektif, bahwa Khilafah itu bukan ancaman apalagi negara teroris, namun sebuah negara yang mampu memimpin dunia menuju keberkahan hakiki.

Karena itu upaya pelarangan pemerintah Australia terhadap kegiatan ceramah umum ini, bisa dimaknai sebagai upaya mereka mencegah mayoritas non muslim dan minoritas muslim dari mendengar dan mendapat berita objektif seputar konsep Khilafah.

Ketiga, Seolah-olah menghalangi Hizbut Tahrir, namun esensinya menghalangi penyebaran Islam di kalangan masyarakat Australia.

Hizbut Tahrir di mana pun berada selalu mengedepankan analisis politik Islam, yang digali dari dalil-dalil syariah. Ide dan pendapat HT sejatinya berasal dari Islam. Karena itu upaya pelarangan ceramah umum HT Australia sama artinya menghalangi penyebaran Islam di kalangan masyarakat Australia.

Terlebih lagi HT merupakan organisasi yang berbasis kaderisasi, kajian-kajian HT sejauh yang penulis amati sangat concern dalam pembinaan Akidah Islam dan berbagai pemikiran Islam. Karena itu, sekali lagi ditegaskan, upaya pelarangan ceramah umum HT Australia di Sidney merupakan upaya pencegahan penyebaran Islam di tengah masyarakat non muslim Australia. Karena itu penulis sepakat dengan Utsman Badar (Jubir HT Australia) yang menyebut tindakan ini sebagai upaya Abbott dalam menciptakan histeria Islamophobia. (9/10/14, internasional.kompas.com).

Keempat, Upaya panjang untuk menciptakan komitmen masyarakat Australia dalam memerangi Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah.

Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah yang diserukan HT di seluruh dunia, merupakan bentuk Khilafah yang tepat. Khilafah ini akan menyatukan dunia Islam, dari Timur hingga Barat. Sudah banyak prediksi para pengamat luar negeri, yang menyatakan Khilafah model ini dalam waktu tak begitu lama akan tegak di Dunia ini.

Salah satu prediksi para pengamat adalah tertuju kepada Indonesia, negeri yang penduduknya mayoritas muslim dan memiliki potensi SDA-SDM unggul ini dikhawatirkan pengamat Barat (yang membenci Islam) akan menjadi pusat Khilafah tersebut.

Maka ketika Australia melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada penciptaan iklim kebencian sebagaimana upaya pelarangan ceramah umum diatas, hal ini sebenarnya merupakan upaya Barat menciptakan komitmen masyarakat Australia dalam memerangi Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah ketika kelak tegak.

Mengapa disini disebut masyarakat Australia? karena Australia secara geografis sangat dekat dengan Indonesia. Sehingga ketika Khilafah tegak di Indonesia misalnya, lalu penduduk Australia semenjak awal ditanamkan kebencian kepada Khilafah, nah hal ini tentunya menguntungkan Negara Barat manapun yang ingin menyerang Negara Khilafah (yang ada di Indonesia), karena bisa mendapat teritorial untuk dijadikan garis depan dalam menyerang Khilafah. Hal ini tidak akan terlaksana, kecuali pemerintah Australia di didukung rakyatnya, karena itu faktor komitmen rakyat Australia yang benci terhadap Khilafah sangat penting.

Kelima, Upaya provokasi dari penguasa negeri kufur agar ‘diteladani’ oleh penguasa di negeri muslim.

Hubungan penguasa-penguasa Barat dengn penguasa negeri muslim sangatlah akrab, sehingga tidak menutup kemungkinan upaya yang dilakukan Australia dengan melarang ceramah HT, adalah sebuah provokasi, agar hal serupa dilakukan di negeri muslim, terutama negeri muslim yang disitu terdapat gerakan HT.

Apalagi jauh-jauh hari, ketika sebelum menjadi Perdana Menteri, Tony Abbott mengatakan dalam kampanye pemilu di propinsi Victoria bahwa jika ia terpilih maka ia akan memobilisasi pelarangan Hizbut Tahrir dengan tuduhan Hizb mendukung untuk menciptakan lahan subur bagi teroris dan bahwa Hizb menyebarkan kebencian dan berencana menghancurkan nilai-nilai Australia. (29/8/2010, hizbut-tahrir.or.id). Dan kini cita-cita kampanyenya sedang diwujudkan.

Tahun lalu mantan presiden SBY (sebagai salah satu penguasa di negeri muslim) masih memutar lagu yang sama, “Terorisme adalah musuh kita semua,” kata SBY saat meresmikan Asrama Mahasiswa Indonesia Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir di Halaman Masjid Baiturrahim Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (3/10/2014, http://www.beritasatu.com). Walaupun pernyataan tersebut tidak mengarah kepada gerakan tertentu, tetapi kesamaan irama antara Abbott dan SBY ini cukup jelas terlihat.

Bahkan, dalam halaman resmi website Kementrian Pertahanan Republik Indonesia, disebutkan bahwa Australia dan Indonesia memang telah menjalin kerjasama penanggulangan terorisme semenjak dua tahun yang lalu, kerjasama tersebut meliputi: penanganan terhadap ancaman terorisme dan imigran gelap; serta kegiatan tukar-menukar informasi intelijen; kerjasama dan pengembangan kemampuan antara agen penegak hukum (www.kemhan.go.id).

Keenam, Makanan empuk bagi media sekuler di negeri muslim, untuk kepentingan opini global melawan ‘terorisme’ masa depan.

Terakhir, hal yang tak kalah penting dalam masalah isu pelarangan ceramah umum HT Australia adalah disebutkan berulang dan selalu disandingkannya, kata-kata radikal, teroris, dan upaya generalisasi media dengan menyebut bahwa Hizbut Tahrir banyak dilarang di Negara-negara tertentu. Ketika HT dianggap teroris –padahal sejatinya bukan– dan ingin menegakkan Khilafah, maka konklusi media bisa ditebak, selanjutnya ketika Khilafah tegak akan diisukan sebagai Negara teroris tentunya. Khilafah inilah yang dimaksud dengan terorisme masa depan.

 

Demikianlah enam hal penting dibalik pelarangan ceramah umum HT Australia, inti dari pelarangan ini tidak bisa dimaknai lain, kecuali sebagai upaya membungkam ide khilafah yang shahih dan sebuah upaya menutupi kebijakan negari Barat (Australia) yang penuh konspirasi. Wallahu A’lam.

 

——————————

[1] Walau pun begitu, UU di Negara Australia masih belum bisa membubarkan Hizbut Tahrir, karenanya Abbott mengaku kecewa dan marah karena Hizbut Tahrir tidak bisa dilarang di bawah aturan perundang-undangan yang ada sekarang. Padahal menurut Abbott, organisasi tersebut giat berkampanye menentang nilai-nilai (Barat) yang berlaku di Australia. (8/10/14, http://www.republika.co.id)