Category: Tokoh Perjuangan


942445_495140480535067_1451756365_nImplementasi Struktur Daulah Islam: Pada Masa Rasul saw.

Dalil Wajibnya Menegakkan Institusi Politik Pemerintahan Islam.

Sejak Rasul saw tiba di Madinah, beliau memerintah kaum Muslim, memelihara semua kepentingan mereka, mengelola semua urusan mereka, dan mewujudkan masyarakat Islam. Beliau juga mengadakan perjanjian dengan Yahudi, dengan Bani Dhamrah, Bani Mudlij, Quraisy, penduduk Ailah, Jirba’, dan Adzrah. Beliau memberikan janji kepada manusia tidak akan menghalanghalangi orang yang berhaji ke Baitullah dan tidak boleh ada seorang pun yang takut dalam bulan-bulan haram. Lalu beliau mengutus Hamzah bin Abdul Muthallib, ‘Ubaidah bin al-Harits dan Sa’ad bin Abi Waqash dalam berbagai ekspedisi untuk memerangi Quraisy. Beliau juga mengutus Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan ‘Abdullah bin Rawahah untuk memerangi Romawi. Beliau mengutus Abdurrahman bin ‘Auf untuk memerangi Daumatul Jandal dan mengutus ‘Ali bin Abi Thalib beserta Basyir bin Sa’ad ke daerah Fidak. Selanjutnya Rasul saw mengutus Abu Salamah bin ‘Abdul Asad ke Qathna dan Najd, mengutus Zaid bin Haritsah ke Bani Salim lalu ke Judzam kemudian ke Bani Fuzarah di Lembah Qura terakhir ke Madyan, mengutus ‘Amru bin Al ‘Ash ke Dzati Salasil di wilayah Bani ‘Adzrah dan mengutus yang lainnya ke berbagai daerah. Beliau sering memimpin sendiri pasukan dalam berbagai peperangan terutama perang yang sangat besar.

Beliau mengangkat para wali untuk berbagai wilayah setingkat propinsi dan para amil untuk berbagai daerah setingkat kota. Beliau mengangkat ‘Atab bin Usaid menjadi wali di kota Makkah setelah difutuhat dan Badzan bin Sasan setelah dia memeluk Islam menjadi wali di Yaman, mengangkat Mu’adz bin Jabal al-Khazraji menjadi wali di Janad, mengangkat Khalid bin Sa’id bin Al ‘Ash menjadi amil di Sanaa, Ziyad bin Labid bin Tsa’labah al-Anshari menjadi amil di Hadhramaut, mengangkat Abu Musa al-Asy’ariy menjadi amil di Zabid dan ‘Adn, ‘Amru bin Al-‘Ash menjadi amil di Oman, Muhajir bin Abi Umayyah menjadi amil di Sanaa, ‘Adi bin Hatim menjadi wali Thuyyia, al-’Alla bin al-Hadhramiy menjadi amil di Bahrain dan Abu Dujanah sebagai amil Rasul saw di Madinah. Ketika mengangkat para wali, beliau saw memilih mereka yang paling dapat berbuat terbaik dalam kedudukan yang akan disandangnya, selain hatinya telah dipenuhi dengan keimanan. Beliau juga bertanya kepada mereka tentang tata cara yang akan mereka jalani dalam mengatur pemerintahan. Diriwayatkan dari beliau saw pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal al-Khazraji saat mengutusnya ke Yaman, “Dengan apa engkau akan menjalankan pemerintahan?” Dia menjawab, “Dengan Kitab Allah.” Beliau bertanya lagi, “Jika engkau tidak menemukannya?” Dia menjawab, “Dengan Sunah Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Jika engkau tidak menemukannya?” Dia menjawab, “Saya akan berijtihad dengan pikiran saya.” Selanjutnya beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pemahaman kepada utusan Rasulullah terhadap yang Allah dan Rasul-Nya cintai”. Diriwayatkan dari beliau saw pernah mengangkat ‘Abban bin Sa’id menjadi Wali di Bahrain, lalu beliau berpesan kepadanya, “Bersikap baiklah kepada ‘Abdul Qais dan muliakanlah orang-orangnya”.

Beliau saw selalu mengirim para wali dari kalangan orang yang terbaik dari mereka yang telah masuk Islam. Beliau memerintahkan mereka untuk membimbing orang-orang yang telah masuk Islam dan mengambil zakat dari mereka. Dalam banyak kesempatan beliau melimpahkan tugas kepada para wali untuk mengurus berbagai kewajiban berkenaan dengan har ta, memerintahkannya untuk selalu menggembirakan masyarakat dengan Islam, mengajarkan al-Quran kepada mereka, memahamkan mereka tentang agama dan berpesan kepada seorang wali supaya bersikap lemah lembut kepada masyarakat dalam kebenaran serta bersikap tegas dalam kezaliman. Juga agar wali tersebut mencegah mereka bila di tengah-tengah masyarakat muncul sikap bodoh yang mengarah kepada seruan-seruan kesukuan dan primordialisme, lalu mengubah seruan mereka hanya kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Beliau juga memerintahkan wali untuk mengambil seperlima harta dan zakat yang diwajibkan kepada kaum Muslim. Orang Nasrani dan Yahudi yang masuk Islam dengan ikhlas dari dalam dirinya dan beragama Islam, maka dia adalah bagian dari kaum Mukmin. Hak dan kewajiban mereka sama dengan kaum Mukmin. Siapa saja yang tetap dalam kenasranian atau keyahudiannya, maka sesungguhnya dia tidak akan diganggu. Di antara pesan yang disampaikan Rasul kepada Mu’adz ketika mengutusnya ke Yaman adalah, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari kalangan Ahli Kitab. Jadikanlah seruan pertama yang akan engkau sampaikan kepada mereka adalah menyembah Allah SWT. Jika mereka telah mengenal Allah SWT, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan mereka zakat yang diambil dari orang yang kaya dan diserahkan kepada orang-orang fakirnya. Jika mereka menaatinya, maka ambillah dari mereka. Dan jagalah kehormatan harta mereka. Takutlah pada doa orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya antara mereka dan Allah tidak ada penghalang”.

Kadang-kadang beliau saw mengirim petugas khusus untuk urusan harta. Setiap tahun beliau mengutus Abdullah bin Rawahah ke Yahudi Khaibar untuk menghitung hasil pertanian mereka. Mereka pernah mengadu kepada Rasul saw gara-gara Ibnu Rawahah begitu teliti dalam melakukan perhitungan, lalu berencana untuk menyuap Ibnu Rawahah. Kemudian mereka mengumpulkan sejumlah perhiasan yang digunakan istri-istri mereka seraya berkata, “Ini dipersembahkan untuk anda dan ringankanlah beban kami serta longgarkanlah dalam pembagian”. Abdullah berkata, “Hai orang-orang Yahudi! Sesungguhnya kalian adalah mahluk Allah SWT yang paling aku benci. Perhiasan-perhiasan yang kalian sodorkan kepadaku agar aku membuat keringanan kepada kalian sama sekali tidak membebaniku. Adapun risywah yang kalian ajukan kepadaku sesungguhnya itu adalah haram dan kami tidak akan memakannya!”. Mereka menanggapi, “Ya, dengan begitulah langit dan bumi tegak”.

Beliau saw selalu mengungkap keadaan para wali dan amil serta mendengarkan informasi tentang mereka. Beliau telah memberhentikan al-’Alla’ bin al-Hadhrami, amil beliau di Bahrain, karena utusan ‘Abdul Qais mengadukannya kepada beliau. Beliau saw senantiasa mengontrol para amil dan mengevaluasi pendapatan serta pengeluaran mereka. Beliau mengangkat seseorang untuk tugas penarikan zakat. Ketika kembali, petugas tersebut menghitung bawaannya dan berkata, “Ini bagian anda dan yang ini dihadiahkan untukku”. Nabi saw menanggapi, “Tidak patut seseorang yang kami pekerjakan pada suatu pekerjaan dengan sesuatu yang Allah kuasakan kepada kami, lalu dia berkata, ‘Ini bagian anda dan yang ini dihadiahkan untukku.’ Kenapa dia tidak diam saja di rumah bapak dan ibunya, lalu menunggu, apakah akan datang hadiah kepadanya atau tidak?!” Beliau melanjutkan, “Siapa saja yang kami tugasi untuk suatu pekerjaan dan kami telah memberikan upah kepadanya, maka apa yang dia ambil selain upah itu adalah ghulul”.

Penduduk Yaman pernah mengadu tentang Mu’adz yang suka memanjangkan shalat (ketika jadi imam), lalu beliau menegurnya dan bersabda, “Siapa saja yang memimpin manusia dalam shalat, maka ringankanlah!”. Beliau saw telah mengangkat para Qadhi yang bertugas menetapkan keputusan hukum di tengah-tengah masyarakat. Beliau mengangkat ‘Ali bin Abi Thalib sebagai Qadhi di Yaman, ‘Abdullah bin Naufal menjadi Qadhi di Madinah dan menugaskan Mu’adz bin Jabal serta Abu Musa al-Asy’ariy sebagai Qadhi di Yaman. Beliau bertanya kepada keduanya, “Dengan apa kalian berdua akan menetapkan hukum?” Keduanya menjawab, “Jika kami tidak menemukan hukum dalam al-Kitab dan as-Sunah, kami akan mengqiyaskan satu perkara dengan perkara lainnya. Mana yang lebih dekat pada kebenaran, itulah yang akan kami gunakan”. Nabi saw lalu membenarkan keduanya. Ini menunjukkan bahwa beliau memilih para Qadhi dan menetapkan tata cara bagi mereka dalam memutuskan suatu perkara. Beliau tidak cukup dengan mengangkat para Qadhi melainkan menetapkan juga mahkamah mazhalim.

Beliau saw mengatur langsung kemaslahatan masyarakat dan mengangkat para petugas pencatat untuk mengelola kemaslahatankemaslahatan tersebut. Mereka itu menempati posisi setingkat kepala biro. Ali bin Abi Thalib adalah penulis perjanjian bila ada perjanjian dan penulis perjanjian perdamaian bila ada perjanjian damai. Mu’aiqib bin Abi Fatimah adalah petugas pembubuh stempel beliau serta pencatat ghanimah. Hudzaifah bin al-Yaman bertugas mencatat hasil pertanian Hijaz. Zubair bin ‘Awwam bertugas mencatat harta zakat. Mughirah bin Syu’bah mencatat berbagai hutang dan muamalah. Syurahbil bin Hasanah bertugas membuat berbagai naskah perjanjian yang ditujukan kepada para raja. Beliau mengangkat seorang pencatat atau kepala untuk setiap urusan kemaslahatan yang ada, walau sebanyak apapun jumlahnya.

Beliau saw banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya. Beliau selalu bermusyawarah dengan para pemikir dan berpandangan luas, orang-orang yang berakal serta memiliki keutamaan, memiliki kekuatan dan keimanan serta yang telah teruji dalam penyebarluasan dakwah Islam. Mereka adalah 7 orang dari kaum Anshar dan 7 lagi dari Muhajirin. Diantaranya adalah Hamzah, Abu Bakar, Ja’far, ‘Umar, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Sulaiman, ‘Ammar, Hudzaifah, Abu Dzar, Miqdad dan Bilal. Beliau juga kadang-kadang bermusyawarah dengan selain mereka, hanya saja merekalah yang lebih banyak dijadikan tempat mencari pendapat. Mereka itu berkedudukan sebagai sebuah majelis tempat melakukan aktivitas syuro.

Beliau saw telah menetapkan beberapa pungutan atas kaum Muslim dan selain mereka. Juga pungutan atas tanah, buah-buahan dan ternak. Pungutan tersebut antara lain berupa zakat, ‘usyur, fai-iy, kharaj, dan jizyah. Sedangkan harta anfal dan ghanimah dimasukkan ke Baitul Mal. Beliau mendistribusikan zakat kepada delapan golongan yang disebutkan dalam al-Quran dan tidak diberikan kepada selain golongan tersebut, serta tidak digunakan untuk mengatur urusan negara. Beliau membiayai pemenuhan kebutuhan masyarakat dari fai-iy, kharaj, jizyah dan ghanimah. Itu semua sangat memadai untuk mengatur pengelolaan negara serta penyiapan pasukan militer. Negara tidak pernah merasa memerlukan tambahan harta selain itu.

1_153644789250e76bccDemikianlah Rasul saw telah menegakkan sendiri struktur Daulah Islam dan telah menyempurnakannya semasa hidupnya. Negara memiliki kepala negara, para mu’awwin, para wali, para qadhi, militer, kepala biro, dan majlis tempat beliau melakukan syuro. Struktur ini, baik bentuk maupun wewenangnya, merupakan thariqah yang wajib diikuti dan secara globalnya ditetapkan berdasarkan dalil mutawatir. Beliau saw menjalankan fungsi-fungsi kepala negara sejak tiba di Madinah hingga beliau saw wafat. Abu Bakar dan ‘Umar adalah dua orang mu’awwin beliau. Para sahabat telah sepakat, setelah beliau saw wafat, untuk mengangkat seorang kepala negara yang akan menjadi Khalifah bagi Rasul saw dalam aspek kepemimpinan negara saja, bukan aspek risalah maupun nubuwah. Karena hal tersebut telah ditutup oleh beliau saw. Demikianlah, Rasul saw telah membangun struktur negara secara sempurna selama hidupnya dan meninggalkan bentuk pemerintahan serta struktur negara yang keduanya dapat diketahui serta nampak jelas sekali.

Sumber:

Taqiyuddin An-Nabhani, ad-Daulah al-Islamiyyah, cet. 7, Dar al-Ummah – Beirut 2002

Sirah Ibnu Hisyam

Iklan

Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik Islam Ideologis. Politik adalah aktivitasnya, dan Islam adalah ideologinya. Didirikan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada 14 Maret 1953 M. Nama lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim bin Mushthafa bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Nasab beliau bernisbat kepada kabilah Bani Nabhan, salah satu kabilah Arab Baduwi di Palestina yang mendiami kampung Ijzim, distrik Shafad, termasuk wilayah kota Hayfa di Utara Palestina.

Al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berasal dari keluarga dengan gudang ilmu dan keagamaan yang terkenal dengan kewaraan dan ketakwaannya. Ayah beliau adalah Syaikh Ibrahim, seorang syaikh yang faqih dan bekerja sebagai guru ilmu-ilmu syariah di kementerian Pendidikan Palestina. Ibunda beliau juga memiliki pengetahuan yang luas tentang masalah-masalah syariah yang diperoleh dari ayahandanya, yaitu Syaikh Yusuf an Nabhani.

Syaikh Yusuf al-Nabhani adalah ulama yang sangat alim, cerdas, wara’, pemberi hujjah, takwa, dan ahli ibadah. Ia selalu menyenandungkan cinta dan pujian untuk Rasulullah Saw dalam bentuk tulisan, kutipan,riwayat, karangan, dan kumpulan syair. Nama lengkapnya adalah Nasiruddin Yusuf bin Isma`il al-Nabhani, keturunan Bani Nabhan, salah satu suku Arab Badui yang tinggal di Desa Ijzim, sebuah desa di bagian utara Palestina, daerah hukum kota Haifa yang termasuk wilayah Akka, Beirut.
Syaikh Yusuf al-Nabhani mereguk samudra ilmu dan imam-imam ternama di Al-Azhar. Di antaranya adalah:

1.Syaikh Yusuf al-Barqawi al-Hanbali, syaikh pilihan dari mazhab Hanbali
2. Syaikh Abdul Qadir al-Rafi’i al-Hanafi al Tharabulusi, syaikh pilihan dari masyarakat Syawam
3. Syaikh Abdurrahman al-Syarbini al-Syafi`i
4. Syaikh Syamsuddin al-Ambabi al-Syafi’i, satu-satunya syaikh pada masanya yang mendapat julukan Hujjatul Ilmi dan guru besar Universitas Al-Azhar pada masa itu. Dan gurunya ini, Yusuf al-Nabhani belajar Syarah Kitab al-Ghayah wa al-Tagrib fi Fighi al-Syafi`iyyah karya Ibnu Qasim dan Al-Khathib al-Syarbini, dan kitab-kitab lainnya dalam waktu 2 tahun.
5. Syaikh Abdul Hadi Naja al-Ibyari (wafat tahun 1305 H.)
6. Syaikh Hasan al-’Adwi al-Maliki (wafat tahun 1298 H.)
7. Syaikh Ahmad al-Ajhuri al-Dharir al-Syafi`i (wafat tahun 1293 H.)
8. Syaikh Ibrahim al-Zuru al-Khalili al-Syafi’i (wafat tahun 1287 H.)
9. Syaikh al-Mu’ammar Sayyid Muhammad Damanhuri al-Syafi`i (wafat tahun 1286 H.)
10. Syaikh Ibrahim al-Saga al-Syafi’i (wafat tahun 1298 H) Darinya, Yusuf al-Nabhani mempelajari kitab Syarah al-Tahrir dan Manhaj karya Syaikh Zakaria al-Anshari al-Syafi`i, berikut catatan pinggir kedua kitab tersebut, selama tiga tahun, hingga Al-Nabhani dianugerahi ijazah sebagai pertanda atas kapasitas dan posisi keilmuannya.

Karya-karya Yusuf al-Nabhani ada sekitar 75 kitab, antara lain :
1. Hadi al-Murid ila Thuruq Al-Asanid
2. JÃmi` Karamaat al-Awliya`
3. Khulasat al-Kalaam fi Tarjih Din Al-Islam
4. Syawahid al-Haqq fi Al-Istighatsah bi Sayyid al-Khalq
5. Hujjat-Allahi ala al-Alamin
6. Jawahir al-bihar
7. Sa’adat al-Darayn fi Shalati ‘Ala Sayyid Al-Kaunain
8. Afdhalu Ash-Shalawat ‘Ala Sayyid As-Sadat
9. Ahsan al-Wasāil fī Nazmi Asmāi al-Nabiyyi al-Kāmil
Anak laki-laki dari puteri Yusuf an-Nabhani, yakni Taqiyuddin An-Nabhani, dikirim oleh Yusuf An-Nabhani kepada para kolega dan gurunya di al-Azhar Kairo untuk belajar di sana. Kelak kemudian hari, cucu Yusuf An-Nabhani ini menjadi pendiri gerakan Islam terkenal di Dunia Islam, yaitu Hizbut Tahrir yang berdiri tahun 1953.

Awal Masuk Ke Indonesia
Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik trans-nasional (lintas negara). Oleh karenanya hizbut tahrir bergerak dan beraktivitas di lebih dari 40 negara di 5 benua. Pergerakan hizbut tahrir bergerak dan menyebar ke seluruh dunia adalah saat kepimpinan amir hizb yang kedua yakni Al-’Alim al-Kabîr Syaikh Abdul Qadim bin Yusuf bin Abdul Qadim bin Yunus bin Ibrahim.

Al-’Alim al-Kabîr Syaikh Abdul Qadim Zallum berjumpa dengan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullâh pada tahun 1952. Lalu Syaikh Zallum pergi ke al-Quds untuk bergabung dengan Syaikh Taqiyuddin dan melakukan kajian serta berdiskusi seputar masalah partai (Hizb). Beliau telah bergabung dengan Hizbut Tahrir sejak awal mula aktivitas Hizb. Beliau menjadi anggota qiyâdah Hizb sejak tahun 1956 M.

Ketika Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullâh wafat pada saat fajar hari Ahad bertepatan dengan tanggal 11 Desember 1977 M, tampuk kepemimpinan berada pada tangan Al-’Alim al-Kabîr Syaikh Abdul Qadim Zallum. Beliau mengemban amanah ini dan menjalankannya dari satu dataran tinggi ke dataran tinggi yang lain. Beliau lantang berdakwah. Medan dakwah pun semakin meluas hingga mencapai kaum Muslim di Asia Tengah dan Asia Tenggara. Bahkan gaung dakwah bergema di Eropa dan benua lainnya, termasuk ke wilayah negara Indonesia. Masuknya Hizbut Tahrir ke Indonesia adalah saat K.H Abdullah bin Nuh atau yang lebih dikenal dengan panggilan ‘Mamak’ mengajak Syaikh Abdurrahman al Baghdadiy ke Indonesia.

K.H Abdullah bin Nuh ‘Mamak’ adalah seorang ulama, tokoh pendidikan, sastrawan dan pejuang. Pria shalih yang lahir di Kampung Meron Kaum, Kota Cianjur Jawa Barat pada tanggal 6 Juni 1905 ini, melalui tabanni pendapat Imam Al-Ghazali, sangat gigih menyerukan agar masyarakat berpegang teguh pada ajaran atau syariah Islam.

Ketika beliau sedang berkunjung ke Australia dan bertemu dengan seorang ulama aktivis Hizbut Tahrir—yang sedang menyampaikan ceramah tentang kewajiban persatuan umat dan kewajiban menegakkan Khilafah guna melawan hegemoni penjajahan dunia—Mamak cukup tertarik dan memberikan perhatian.

Beliaulah ulama yang pertama mendukung perkembangan dakwah Hizbut Tahrir di Indonesia. Peran KH Abdullah bin Nuh terhadap Hizbut Tahrir sebatas memberikan dukungan. Sekalipun demikian, apa yang dilakukan beliau cukup besar pengaruhnya terhadap perkembangan dakwah Hizbut Tahrir di Indonesia, karena sekitar tahun 1980-an dakwah Hizbut Tahrir di Indonesia belum dikenal masyarakat dan baru dimulai.

Adapun keterlibatan anak-anak beliau pada aktifitas dakwah Hizbut Tahrir tidak nampak, kecuali pada anak yang keenam Raden Haji Toto Mustafa saat kuliah di Yordania. Akan tetapi ketika kembali ke Indonesia tidak aktif lagi di Hizbut Tahrir. Justru dari keluarga kakak Abdullah bin Nuh, yaitu Raden Haji Qosim bin Nuh, banyak sekali cucu-cucunya yang aktif dakwah di Hizbut Tahrir. Bahkan diantara mereka ada yang menjadi pimpinan daerah dan pengurus HTI di daerah. Antara lain: Eri Muhammad Ridwan bin Nasikin Qosnuh bin Qosim bin Nuh sebagai Humas HTI Cianjur; Ummu Hana (menantunya) sebagai ketua DPD II Muslimah HTI wilayah Cianjur; Raden Deni bin Nasikin Qosnuh bin Qosim bin Nuh sebagai ketua DPD II HTI wilayah Sukabumi; Dan Raden Muhammad Musa Nasikin Qosnuh bin Qosim bin Nuh sebagai ketua DPD II HTI wilayah Cianjur .

Saya jadi teringat cerita salah seorang syabab HTI yang berkunjung ke salah seorang ‘ulama. dimana ‘ulama tersebut mengopinikan negatif tentang Hizbut Tahrir. syabab tersebut berkunjung dengan maksud silaturrahim dan ingin klarifikasi. sang ‘ulama tersebut tetap bercerita tentang hizbut tahrir yang negatif. syabab kemudian melihat foto K.H Abdullah bin Nuh di salah satu pojok dinding rumah tersebut. syabab tersebut berkata, “ya Kyai, tahukah kyai siapa yang kali pertama membawa Hizbut Tahrir ke Indonesia?”
sang Kyai bertanya, “siapa?”
syabab tersbut menjawab, “itu beliau yang fotonya ada di dinding rumah Kyai”
sang kyai kaget dan spontan berkata “lha.. kalau begitu hizbut tahrir itu bagus dong”
jawab syabab kemudian “ya bagus Kyai” sembari tersenyum.

Memang satu di antara tokoh yang terlupakan oleh catatan sejarah adalah KH Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar asal Cianjur. Dalam makalahnya yang berjudul “Mengenal Perjuangan KH Abdullah bin Nuh”, Drs Reiza D Dienaputra M Hum, mengungkapkan, nama Abdullah bin Nuh seakan tenggelam oleh nama-nama besar, seperti Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, KH Achmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, KH Zaenal Mustafa (Singaparna), Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Tuanku Imam Bonjol, dan Buya Hamka.

Beberapa waktu yang lalu juga tim Lajnah Khusus Ulama HTI Balikpapan bersama anggota LKU HTI Gus Juned Ath-Thayyibi berkunjung ke Ponpes Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Balikpapan Kaltim dan diterima langsung oleh Pimpinan Pondok yaitu Prof. DR. KH. Achmad Syarwani Zuhri Al- Banjari yang beliau sekaligus juga adalah Ketua Umum MUI Kota Balikpapan. Saat itu Gus Juned juga menyampaikan yang membawa HT pertama kali ke Indonesia adalah Mamak Abdullah bin Nuh Ponpes AlGhazali Bogor, ternyata KH Syarwani juga mengenal beliau dengan baik dan sempat bertemu dengan Mamak di Makkah.

Pemikiran-pemikiran HT yang diperkenalkan Al-Baghdadi, rupanya mampu menarik perhatian aktivis masjid kampus ini. Mulailah dibuat halaqah – halaqah kecil untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan HT. Buku-buku HT, seperti Syaksiyah Islamiyah, Fikrul Islam, Nizhamul Islam pun dikaji serius. Melalui Jaringan Lembaga Dakwah Kampus inilah, ajaran HTI menyebar ke kampus-kampus diluar bogor seperti Upad, IKIP Malang, Unair, Unhas dan akhirnya menyebar keseluruh Indonesia. Bahkan DR. Adian Husaini dalam artikel tentang biografi nya menuliskan bahwa beliau mengkaji berbagai pemikiran Islam kepada Ustad Abdurrahman al-Baghdadi yang sangat ’alim dalam ilmu keagamaan.

Menurut Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ustadz Ismail Yusanto bahwa dakwah model Hizbut Tahrir memang lambat di awal. Untuk menjadikan matang, satu halaqah yang biasanya diikuti oleh kurang lebih 5 orang, misalnya, diperlukan waktu bertahun-tahun. Mengapa waktu yang diperlukan begitu panjang? Karena kitab atau buku pembinaan yang harus dikaji cukup banyak. Belum lagi metode pangkajian kitab yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab, yang harus dibaca paragraf demi paragraf, kemudian dijelaskan isi dan pengertiannya oleh musyrif (pembina halaqah), yang membuat halaqah memang tidak mungkin diselenggarakan secara kilat. Belum lagi waktu untuk menjawab tuntas pertanyaan-pertanyaan dari para peserta halaqah. Ditambah dengan nasyrah-nasyrah (selebaran) yang merupakan materi lepas, tetapi dianggap penting untuk disampaikan kepada para peserta, membuat materi dalam halaqah menjadi semakin banyak. Walhasil, waktu yang diperlukan juga menjadi semakin panjang sehingga pertumbuhan jumlah kader yang dihasilkan juga menjadi sangat lambat. Percaya atau tidak, 10 tahun pertama dakwah HT di Indonesia hanya dihasilkan 17 orang kader. Itu artinya, satu tahun dihasilkan 1,7 kader. Ini tentu jumlah yang amat sangat sedikit, dan merupakan pencapaian dakwah yang amat lambat.

Namun, seiring dengan waktu, perkembangan dakwah makin lama makin cepat karena efek duplikasi. Jika 10 tahun pertama hanya dihasilkan 17 orang, 10 tahun kedua—jika perkembangannya linier—mestinya hanya menghasilkan 34 orang, tetapi ternyata tidak seperti itu. Perkembangan dakwah HTI tumbuh secara eksponensial. Dakwah yang semula hanya berkutat di satu atau beberapa kota dengan hasil belasan kader, pada 10 tahun kedua ternyata sudah berkembang di seluruh Indonesia. Sekarang, di pertengahan 10 tahun ketiga, dakwah HTI sudah tersebar di 33 propinsi, di lebih 300 kota dan kabupaten. Bahkan sebagiannya telah merambah jauh hingga ke pelosok. Wallahu a’lam. [Adi Victoria]

http://adivictoria.wordpress.com

FP Amir HT seluruh dunia

Untuk lebih mengenal Amir Hizbut Tahrir  al maktab  i’lami al markazi li Hizb at Tahrir (Kantor I’lami Pusat Hizbut Tahrir) meluncurkan  fatebook dan twitter resmi amir  Hizbut Tahrir al ‘Alim ‘Atha bin Kholil Abu Al Rasytah diluncurkan.  Melalui  akun  https://www.facebook.com/Ata.abualrashtah?ref=hl  dan  https://twitter.com/ataabualrashtah  kaum muslimin bisa mengenal lebih dekat lagi sosok pemimpin Hizbut  Tahrir yang ketiga ini, terutama karya-karyanya baik berupa buku, booklet, artikel soal jawab analisis politik, pemikiran atau fiqhiyah .

twiiter amir HT seluruh dunia

Facebook dan twitter merupakan satu-satu akun resmi disamping  situs resmi http://hizb-uttahrir.info/arabic/index.php/htameer  yang sudah mendapat respon positif dari kaum muslimin.

Ketua Diwan Mazhalim Hizbut Tahrir mengumumkan pemilihan  Alim al-Ushûl (Ahli Ushul Fikih) ‘Atha Abu ar-Rasytah-Abu Yasin sebagai amir Hizbut Tahrir Pada tanggal 11 Shafar 1424 H atau 13 April 2003 M,   . Beliau adalah seorang yang sangat diharapkan dapat membawa Hizbut Tahrir untuk meraih pertolongan Allah Swt. Hal itu karena beliau memiliki perhatian yang luar biasa terhadap dakwah. Beliau juga melakukan manajemen baik atas aktivitas dakwah dan pemanfaatan potensi para syabab dengan seoptimal mungkin.

Riwayat Hidup

Beliau adalah ‘Atha bin Khalil bin Ahmad bin Abdul Qadir al-Khathib Abu ar-Rasytah. Menurut informasi yang paling kuat, beliau dilahirkan pada tahun 1362 H atau 1943 M. Beliau berasal dari keluarga dengan tingkat keberagamaan seperti masyarakat umum. Beliau dilahirkan di kampung kecil Ra’na, termasuk wilayah Provinsi al-Khalil di negeri Palestina.Ketika masih kecil, beliau menyaksikan dan merasakan bencana atas Palestina dan pencaplokan Yahudi atas Palestina pada tahun 1948 M, dengan dukungan Inggris dan pengkhinatan para penguasa Arab. Kemudian beliau dan keluarganya berpindah ke kamp para pengungsi di dekat al-Khalil.

Beliau menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kamp pengungsian. Lalu beliau menyelesaikan pendidikan SMU dan memperoleh ijazah Tsanawiyah al-Ula (menurut jenjang di Yordania) dari Madrasah al-Husain bin Ali ats-Tsanawiyah di al-Khalil pada tahun 1959 M. Kemudian beliau memperoleh ijazah ats-Tsanawiyah al-Amah (menurut panduan sistem pendidikan Mesir) pada tahun 1960 di Madrasah al-Ibrahimiyah di al-Quds asy-Syarif.

Setelah itu, beliau bergabung dengan Universitas Kairo Fakultas Teknik pada tahun pelajaran 1960-1961 M. Beliau memperoleh ijazah insinyur dalam bidang teknik sipil dari Universitas Kairo pada tahun 1966 M.Setelah lulus dari Kairo, beliau bekerja sebagai insinyur di beberapa negara Arab. Beliau memiliki karya dalam bidang teknik sipil, yaitu Al-Wasîth fî Hisâb al-Kamiyât wa Murâqabah al-Mabânî wa ath-Thuruq (Metode Penghitungan Kuantitatif dan Monitoring Bangunan dan Jalan).

Beliau bergabung ke dalam Hizbut Tahrir semasa pendidikan menengah sekitar pertengahan tahun lima puluhan. Dalam perjuangan di jalan Allah, beliau pernah dipenjara beberapa kali di penjara-penjara para penguasa zalim. Beliau terus menjadi pengemban dakwah dalam barisan Hizbut Tahrir dalam seluruh tingkatan organisasi dan administrasi: sebagai dâris, anggota, musyrif, nâqib mahaliyah, anggota wilâyah, mu’tamad, juru bicara resmi, dan anggota maktab al-amir.Sejak 11 Shafar 1424 H atau 13 April 2003 M, atas izin Allah, beliau terpilih untuk memikul tampuk kepemimpinan Hizbut Tahrir. Beliau senantiasa memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan kepadanya untuk mengemban amanah besar tersebut.

Karya-karyanya

Beberapa karyanya dalam bidang keislaman adalah sebagai berikut:

1. Tafsir surah al-Baqarah dengan judul, At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr: Sûrah al-Baqarah (Pokok-Pokok Tafsir Praktis–Surat al-Baqarah.

2. Kajian beliau dalam bidang Ushul Fikih, yaitu Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl (Cara Mudah untuk Menguasai Ushul Fikih).

3. Sejumlah boklet:

a. Al-Azmât al-Iqtishâdiyah: Wâqi‘uhâ wa Mu‘âlajâtuhâ min Wijhah Nazhari al-Islâm (Krisis Ekonomi: Realita dan Solusinya Menurut Pandangan Islam).

b. Al-Ghazwah ash-Shalîbiyah al-Jadîdah fî al-Jazîrah wa al-Khalîj (Perang Salib Baru di Jazirah Arab dan Teluk).

c. Siyâsah at-Tashnî’ wa Binâ’ ad-Dawlah Shinâ’iyan (Politik Industrialisasi dan Pembangunan Negara Industri).

Hizbut Tahrir pada masanya hingga sekarang telah mengeluarkan sejumlah buku, antara lain:

  1. Min Muqâwimât an-Nafsiyah al-Islâmiyah (Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah).
  2. Qadhâyâ Siyâsiyah Bilâd al-Muslimîn al-Muhtallah (Masalah-Masalah Politik–Negeri-Negeri Kaum Muslim yang Terjajah).
  3. Revisi dan perluasan atas buku Mafâhîm Siyâsiyah li Hizb at-Tahrîr (Konsepsi-Konsepsi Politik Hizbut Tahrir).
  4. Ajhizah ad-Dawlah al-Khilâfah fî al-Hukm wa al-Idârah (Struktur Negara Khilafah–Pemerintahan dan Administrasi
  5. Revisi dan penyempurnaan atas Masyrû’ ad-Dustûr Dawlah al-Khilâfah (Rancangan Konstitusi Daulah al-Khilafah); dikeluarkan pada tahun 2006.

Beliau senantiasa memohon kepada Allah Swt. pertolongan dan bantuan untuk melaksanakan amanah dakwah menurut arahan yang dicintai oleh-Nya dan Rasul-Nya saw. Beliau juga senantiasa memohon kepada Allah Swt. agar membukakan melalui kedua tangannya jalan berdirinya Daulah Khilafah Rasyidah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Memenuhi Doa.

Di antara aktivitas brilian dan sangat menarik perhatian pada masanya adalah, bahwa Hizb pada tanggal 28 Rajab 1426 H atau 2 September 2005 M menyampaikan seruan kepada kaum Muslim berkaitan dengan aktivitas untuk mengingatkan bencana besar berupa hancurnya Khilafah 84 tahun sebelum seruan tersebut dikumandangkan. Hizbut Tahrir telah mengumandangkan seruan itu kepada kaum Muslim setelah shalat Jumat pada hari itu dimulai dari Indonesia dengan berbagai kotanya di sebelah timur hingga Maroko di tepian lautan Atlantik di sebelah barat. Seruan itu telah memberikan pengaruh yang sangat baik. Demikian pula sejumlah aktivitas Hizb dalam menggemakan seruan kebenaran di berbagai konferensi, di berbagai medan aktivitasnya dan berbagai forum yang diselenggarakannya.

Dalam tiga tahun masa kepemimpinannya, Hizb sekarang telah dipenuhi dengan kebaikan. Kami memohon kepada Allah Swt. agar semakin memperluas dan menambah kebaikan itu, sebagaimana berita gembira pertolongan dan kemenangan telah mulai bergema atas seizin Allah Swt. kepada Hizb bersama amir Hizb saat ini. Hal itu semakin membentangkan harapan akan terealisasinya masa ini sebagai masa terealisasinya pertolongan dan kemenangan atas izin Allah Swt.

Di antara hal yang tampak menonjol dalam diri amir Hizb sekarang adalah kewaraannya dan kuatnya beliau berpegang pada syariah; juga keteguhan dan keilmuannya. Beliau telah mengambil manfaat besar dari berbagai posisi penanggung jawab berbeda yang pernah beliau emban dalam menejemen aktivitas Hizb, khususnya posisi sebagai juru bicara resmi, muktamad, dan anggota maktab amir terdahulu. Hal itu menjadikannya dapat memimpin Hizb. Beliau betul-betul mengetahui tugas, monitoring dan aktivitas yang dituntut setiap posisi penanggung jawab. Oleh karena itu, para syabab Hizb seakan dapat melihat amir mereka ada bersama mereka, memimpin mereka hingga dalam masalah rinci. Hal ini menjadikannya dapat memanfaatkan kemampuan para syabab dengan pemanfaatan paling optimal.

Demikianlah, dari Masjid al-Aqsha yang diberkahi, telah diumumkan bertolaknya aktivitas Hizbut Tahrir pada awal tahun 50-an abad yang lalu. Hizbut Tahrir telah menggariskan target utama, yakni mendirikan Khilafah Rasyidah. Al-’Alim al-‘’Allâmah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhanirahimahullâh terus memegang tampuk kepemimpinan Hizb hingga ketika beliau wafat setelah sekitar 25 tahun kepemimpinan beliau atas Hizb.

Setelah itu al-’Alim al-Kabîr Syaikh Abdul Qadim Zallum memegang kepemimpinan Hizb sejak tahun 1977 M. Aktivitas Hizb pada masanya menjadi besar karena bertambah banyaknya jumlah anggota Hizb. Tangan Hizb juga meluas mencapai banyak negara di dunia. Hizb berhasil mengorganisasi dan menghimpun ribuan syabab Muslim. Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullâh wafat dalam usia lebih dari 80 tahun setelah beliau memegang tampuk kepemimpinan Hizb sekitar 25 tahun.

Setelah beliau, sejak tahun 2003 M kepemimpinan Hizb dipegang oleh salah seorang ulama Hizb yang paling menonjol, seorang ahli ushul fikih, yaitu ‘Atha Abu ar-Rasytah, untuk membawa Hizb bertolak dengan kuat, beraktivitas untuk memetik buah dari tanaman yang telah ditanam, dipelihara dan dibesarkan pada masa dua orang syaikh sebelumnya. Alangkah baiknya apa yang ditambahkan beliau terhadap tanaman yang telah tumbuh dengan baik setelah kepemimpinan dua orang syaikh rahima-humâllâh.

Ungkapan paling indah yang bisa dikatakan tentang kepemimpinan ketiga amir Hizb adalah ungkapan yang sangat baik yang diungkapan oleh salah seorang syabab Hizb: Mereka adalah tiga orang amir. Di tangan mereka Allah Swt. telah dan akan menyempurnakan tiga perkara: tiga orang amir yang menyempurnakan tiga periode: Pertama, Periode pendirian dan pembentukan kelompok politik. Kedua, Periode aktivasi dan pengumuman. Dan ketiga, periode meraih kemenangan dan dengan izin Allah Swt. pertolongan dan kemenangan akan terealisasi. (FW)

[http://hizbut-tahrir.or.id]

 

Lihat juga:

http://arabic.hizbuttahrir.org/

http://www.hizb-ut-tahrir.org/

http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php

http://hizbut-tahrir.or.id/

 

 

Biografi Singkat Pendiri Hizbut Tahrir

Pengantar Redaksi:

Sebelum membicarakan sejarah hidup beliau, perlu dipahami bahwa tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengagungkan atau mengkultuskan beliau, karena tidak ada seorang pun yang boleh diagungkan dan dikultuskan; juga tidak didasari fanatisme kelompok (‘ashabiyyah), karena fanatisme kelompok jelas telah diharamkan Allah Swt.

Tulisan mengenai biografi beliau ini juga bukan untuk menumbuhkan sikap bahwa semua yang berasal dari beliau adalah pasti benar, karena beliau adalah manusia biasa, bisa benar dan bisa salah; bukan nabi/rasul yang ma‘shûm.

Namun demikian, bukanlah sikap bijaksana jika hanya karena ketidaksukaan sebagian kalangan terhadap Hizbut Tahrir (HT) atau sosok An-Nabhani sebagai pendirinya, mendorong orang untuk bersikap apriori, bahkan buruk sangka, dan serta-merta menolak setiap pemikiran yang digagas oleh beliau. Dalam hal ini, akan lebih bijaksana jika kita mengingat kembali pesan Ali bin Abi Thalib kw. yaitu:

[ لاَ تَعْرِفْ الْحَقَّ بِالرِّجَالِ، أَعْرِفْ الْحَقَّ تَعْرِفُ اَهْلَهُ ]

Janganlah  engkau menilai kebenaran itu dari orangnya, tetapi kenalilah kebenaran itu, maka engkau akan mengenal orang yang mengembannya.

Karena itu, semua pemikiran dan hukum yang digali Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, sebagaimana yang digali para ulama lain, harus tetap didudukkan sebagai pemikiran dan hukum yang mesti kita kembalikan pada dalil-dalil syariat.

Dalam kerangka berpikir semacam itulah, tulisan mengenai biografi singkat beliau dipaparkan berikut ini.

Meski membidani lahirnya Hizbut Tahrir (HT) sebagai sebuah partai politik internasional yang telah eksis di berbagai belahan dunia, tulisan yang membahas Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani—seorang ulama, qadhi, pemikir, dan politikus ulung—sangat sedikit kita jumpai. Bukan hanya Syaikh An-Nabhani, bahkan tulisan mengenai tokoh-tokoh HT yang lain juga jarang diungkap. Mengapa? Karena para penguasa Arab khususnya dan negeri-negeri Muslim umumnya menganggap HT sebagai gerakan paling berbahaya bagi kelangsungan kekuasaan mereka. Oleh karena itu, dengan kekuatan dan melalui tangan para anteknya, para penguasa itu berusaha mengucilkan mereka; baik secara langsung maupun melalui ‘boikot’ media. Lebih dari sekadar mengucilkan, para penguasa itu bahkan menangkapi  para pendiri dan tokoh HT, berusaha menghentikan kegiatan HT, melarang aktivitas para syabâb (aktivis)-nya, dan menghapus jejaknya. HT mereka anggap jauh lebih berbahaya daripada Partai Komunis.  Ungkapan Taufiq Abdul Hadi (mantan Ketua Kabinet Yordania tahun 1953-an) menggambarkan hal itu. Ia pernah berujar:

Sesungguhnya (bagi penguasa), HT jauh lebih berbahaya daripada Partai Komunis. Segenap kekuatan dikerahkan untuk menghambat aktivitas dan pertumbuhannya. Hingga tatkala Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani wafat tahun 1977, seluruh media di negeri Arab dan Islam dilarang memuat barang secuil pun kalimat belasungkawa.

Saya ingat, waktu itu saya bersama Harian Ad-Dustûr dengan pemimpin redaksinya saat itu, sahabat saya Ustadz Mahmud asy-Syarif. Kami berupaya menyebarkan berita mengenai wafatnya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani meskipun hanya beberapa baris berita di pojok salah satu halaman. Semua larangan itu bermuara bukan hanya karena HT menyerukan Islam, tetapi karena HT khas dalam empat hal: (1) HT menyerukan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam; (2) HT mengadopsi pemahaman-pemahaman Islam yang dijelaskan dalam banyak kitabnya seperti Nizhâm al-Islâm, Nizhâm al-Iqtishâdi fî al-Islâm, Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, dll; tidak menyerahkannya pada ijtihad masing-masing anggotanya dan ulama; (3) HT concern mewujudkan kesadaran politik atas dasar Islam; (4) Dalam aktivitasnya, HT bersandar pada bentuk organisasi kepartaian (at-takattul al-hizbi), bukan pada kelompok sosial (at-takattul al-jamâ‘i).[1]

Kelahiran dan Pertumbuhan Syaikh An-Nabhani

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dilahirkan di Ijzim, masuk wilayah Haifa.  Nama lengkap beliau adalah Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Ayah beliau adalah seorang pengajar ilmu-ilmu syariat di Kementerian Pendidikan Palestina.  Pendidikan awal beliau diterima dari ayah beliau.  Di bawah bimbingan sang ayah, beliau sudah hapal al-Quran seluruhnya sebelum usia 13 tahun. Beliau juga mendapat pengajaran fikih dan bahasa Arab. Beliau menamatkan Sekolah Dasar di kampungnya. Ibunda beliau juga menguasai beberapa cabang ilmu syariat yang diperoleh dari kakek beliau, Syaikh Yusuf an-Nabhani.[2]

Beliau juga dibimbing dan diasuh oleh kakek beliau ini, Syaikh Yusuf bin Ismail bin Yusuf bin Ismail bin Hasan bin Muhammad Nashiruddin an-Nabhani; seorang qadhi, penyair, sastrawan, dan ulama besar.  Sekembali dari menuntut ilmu di al-Azhar, Syaikh Yusuf kembali ke kota asal dan memberikan pengajaran agama di Aka. Beliau lalu menjabat qadhi di Qushbah Jenin, masuk wilayah Nablus. Beliau lalu pindah ke Konstantinopel dan kemudian diangkat menjabat qadhi di Sinjiq, masuk wilayah Mosul. Selanjutnya beliau menjabat Kepala Mahkamah al-Jaza di Ladziqiyah, kemudian di al-Quds. Selanjutnya, beliau menjabat Ketua Mahkamah al-Huquq di Beirut.[3]

Beliau termasuk pelaku sejarah masa akhir Khilafah Utsmaniyah. Beliau berpendapat bahwa Khalifah Utsmaniyah merupakan penjaga agama dan akidah, simbol kesatuan kaum Muslim, dan  mempertahankan institusi umat.  Beliau berseberangan dengan Muhammad Abduh dalam metode tafsir; Abduh menyerukan perlunya penakwilan nash dan agar tafsir merujuk pada tuntutan kondisi. Beliau juga berseberangan dengan Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan murid-muridnya, yang menyerukan reformasi.  Menurut beliau, tuntutan reformasi itu meniru Protestan. Dalam Islam tidak ada reformasi agama (seperti dalam pemahaman Protestan) itu.  Beliau juga menentang gerakan misionaris dan sekolah-sekolah misionaris yang mulai tersebar pada masa beliau.[4]

Karena itu, di samping seorang ulama yang faqih, Syaikh Yusuf an-Nabhani juga seorang politikus yang selalu memperhatikan dan mengurus urusan umat.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani banyak diasuh dan dibimbing oleh sang kakek ini. Beliau banyak menimba ilmu syariat dari sang kakek. Beliau banyak belajar dan memahami masalah-masalah politik yang penting dari sang kakek, yang mengalami langsung dan memiliki hubungan erat dengan penguasa Utsmaniyah. Beliau juga sering mengikuti ceramah dan diskusi yang dibawakan oleh sang kakek.[5]

Walhasil, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani tumbuh dan berkembang dalam suasana keagamaan yang kental.  Beliau juga sejak usia sangat dini telah bergelut dengan masalah-masalah politik. Semua itu memiliki pengarus besar dalam membentuk kepribadian beliau.

Melihat bakat kemampuan yang sangat besar dalam diri Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, sang kakek meyakinkan sang ayah agar mengirim Taqiyuddin remaja ke Al-Azhar untuk melanjutkan studi dalam ilmu-ilmu syariat.

Pendidikan Beliau

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menamatkan pendidikan dasar di sekolah dasar negeri di Ijzim. Beliau kemudian melanjutkan ke sekolah menengah di Akka.  Lalu beliau melanjutkan studi di Tsanawiyah Syariah di Haifa. Sebelum menyelesaikannya,  beliau pindah ke Kairo; melanjutkan studi di Tsanawiyah al-Azhar (setingkat SMU) pada tahun 1928. Pada tahun yang sama beliau meraih ijazah dengan predikat sangat memuaskan. Kemudian beliau melanjutkan studi di Kulliyah Dar al-Ulum yang merupakan cabang al-Azhar dan secara bersamaan beliau juga belajar di Universitas al-Azhar.

Dengan sistem al-Azhar waktu itu, mahasiswa dapat memilih beberapa syaikh al-Azhar dan menghadiri halaqah-halaqah mereka mengenai bahasa Arab, fikih, ushul fikih, tafsir. hadis, tauhid, dan ilmu-ilmu syariat lainnya. Saat itu Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani memilih dan mengikuti halaqah para syaikh al-Azhar seperti yang dianjurkan sang kakek, Syaikh Yusuf an-Nabhani; di antaranya mengikuti halaqah Syaikh al-Hidhir (al-Akhdar) Husain.

Pada tahun 1932 beliau lulus dari Kulliyah Dar al-‘Ulum dan juga menamatkan studi di al-Azhar as-Syarif.[6]

Selama studi di dua Universitas ini beliau tampak menonjol dan istimewa dalam kecerdasan dan kesungguhan.  Beliau dikenal oleh teman sesama mahasiwa dan para pengajarnya sebagai sosok yang memiliki kedalaman pemikiran, pendapat yang kuat, serta kekuatan argumentasi dalam setiap diskusi dan forum pemikiran; juga memiliki keistimewaan dalam ketekunan, kesungguhan, dan besarnya perhatian untuk memanfaatkan waktu guna menimba ilmu dan belajar.[7]

Ijazah yang beliau raih di antaranya adalah: Ijazah Tsanawiyah al-Azhariyah; Ijazah al-Ghuraba’ dari al-Azhar; Diploma Bahasa dan Sastra Arab dari Dar al-‘Ulum; Ijazah dalam Peradilan dari Ma‘had al-‘Ali li al-Qadha’ (Sekolah Tinggi Peradilan), salah satu cabang al-Azhar. Pada tahun 1932 beliau meraih Syahâdah al-‘Âlamiyyah (Ijazah Internasional) Syariah dari Universitas al-Azhar as-Syarif dengan predikat excellent.[8]

Aktivitas-aktivitas Syaikh An-Nabhani

Setelah menyelesaikan studi di Dar al-‘Ulum dan al-Azhar, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani kembali ke Palestina dan mulai mengajar di Sekolah Tsanawiyah Negeri (setingkat SMU) dan di sekolah-sekolah Islam di Haifa. Aktivitas mengajar ini beliau lakoni dari tahun 1932-1938.  Pada tahun 1938 beliau beralih profesi dengan berkarya di lapangan Peradilan.  Hal itu karena beliau memandang bahwa pendidikan dan semua aktivitas yang terkait dengan kurikulum telah banyak dipengaruhi Barat sehingga telah banyak menyimpang. Sebaliknya, bidang peradilan relatif lebih terjaga.  Karenanya, beliau mengajukan permohonan untuk bekerja di Mahkamah Syariah.

Banyak sejawat beliau semasa di al-Azhar yang bekerja di Peradilan. Dengan bantuan mereka, pada tahun 1938 beliau mulai menjabat Sekretaris Mahkamah di Bissan, lalu pindah ke Taberriya.  Sesuai dengan pendidikannya, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengajukan permohonan untuk menjadi qadhi. Majelis al-Islami al-A’la lalu menyetujuinya dan memindahkan beliau ke Mahkamah Syariah di Haifa untuk menjabat Kepala Sekretaris (Bâsy Kâtib).

Pada tahun 1940, beliau diangkat sebagai asisten (musyâwir) qadhi sampai tahun 1945. Pada tahun ini beliau diangkat sebagai qadhi di Ramalah sampai tahun 1948. Pada tahun ini pula beliau terpaksa eksodus ke Syria akibat Palestina jatuh ke tangan Yahudi.

Tidak lama, pada tahun ini pula, sejawat beliau, Ustadz Anwar al-Khatib, mengirim surat meminta beliau agar kembali ke Palestina untuk menjabat qadhi di al-Quds (Yerusalem).  Dengan demikian, sejak tahun 1948 ini Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjabat qadhi di Mahkamah Syariah di al-Quds (Yerusalem).

Selanjutnya, oleh Kepala Mahkamah Syariah dan Kepala Mahkamah Isti’naf saat itu, Syaikh Abd al-Hamid as-Sa’ih, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani diangkat sebagai anggota Mahkamah Isti’naf.  Beliau terus menduduki jabatan ini sampai mengundurkan diri tahun 1950 (1951).[9]

Pada tahun 1951 beliau pindah ke Amman dan mengajar di Fakultas Ilmu-ilmu Islam (Al-Kulliyah al-‘Ilmiyyah al-Islâmiyyah) sampai tahun 1953.  Beliau mengajar mata ajaran Tsaqâfah al-Islâmiyyah sesuai dengan izin Dekan waktu itu, Ustadz Basyir Shiba’. Buku beliau, As-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah cetakan tahun 1952, menjadi buku ajar.[10]

Aktivitas Politik Syaikh An-Nabhani

Sejak usia dini Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani telah bergelut dengan masalah-masalah politik ketika dibimbing oleh sang kakek. Begitu pula ketika beliau kuliah di Dar al-‘Ulum dan al-Azhar, Teman-teman beliau semasa kuliah menceritakan aktivitas beliau yang tanpa lelah dalam diskusi politik dan keilmuan.  Mereka juga sangat menghargai konstribusi beliau dalam sejumlah diskusi politik. Di dalamnya beliau senantiasa mengkritisi kemunduran umat serta mendorong aktivitas politik dan intelektual untuk membangkitkan umat dan mewujudkan kembali Daulah Islam.  Beliau juga menggunakan kesempatan itu untuk mendorong dan mendesak para ulama al-Azhar dan lembaganya memainkan peran aktif dalam membangkitkan umat.[11]

Setelah kembali dari studi di al-Azhar, beliau sangat memperhatikan upaya pembaratan umat Islam yang dilakukan oleh para penjajah semisal Inggris dan Prancis.  Beliau juga banyak menjalin kontak dan diskusi dengan para ulama tokoh pergerakan dan tokoh masyarakat seputar upaya membangkitkan kembali umat Islam.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pernah beberapa saat menghabiskan waktu bersama Mujahid masyhur Syaikh Izzuddin al-Qasam. Beliau membantu merancang rencana untuk sebuah pergolakan revolusioner menentang Inggris dan Yahudi.[12]

Jatuhnya Palestina ke tangan Yahudi tahun 1948 memberikan keyakinan kepada beliau, bahwa hanya aktivitas yang terorganisasi dan memiliki akar pemikiran Islam yang kuat sajalah yang akan dapat mengembalikan kekuatan dan keagungan umat Islam.

Karena itu, beliau mulai melakukan persiapan yang sesuai untuk struktur partai, rujukan pemikiran dan sebagainya; setidaknya sejak 1949 ketika beliau masih menjabat Qadhi di al-Quds.  Pada tahun 1950 beliau merilis buku beliau yang pertama, yaitu Inqâdz Filisthin (Membebaskan Palestina). Beliau menunjukkan akar yang sangat dalam, bahwa Islam telah hadir di Palestina sejak abad VII, dan  bahwa sebab utama kemunduran yang mendera Arab adalah karena umat ini telah menarik diri dan menyerahkan diri pada kekuasaan penjajah; dan ini adalah fakta.

Pada tahun 1950, beliau hendak menghadiri KTT Kebudayaan Liga Arab di Alexandria, Mesir, namun beliau dilarang pergi. Padahal, Menteri Pendidikan dan Qadhi Qudhat (Hakim Agung) waktu itu, yaitu Syaikh Muhammad al-Amin as-Sanqaythi, telah menyetujuinya untuk menghadiri KTT.[13]

Akhirnya, beliau mengirimkan surat yang sangat panjang kepada para peserta KTT dan kemudian dikenal sebagai Risâlah al-‘Arab.  Beliau menekankan bahwa misi yang benar dan hakiki dari Arab adalah Islam; hanya di atas asas Islam sajalah pemikiran dan kebangkitan kembali politik umat Islam akan bisa dicapai.

Tidak ada respon sama sekali dari para anggota KTT. Hal itu lebih menguatkan keyakinan beliau sebelumnya, bahwa pendirian partai politik menjadi perkara yang sangat urgen dan mendasar.

Karena itu, pada akhir 1952 dan awal 1953, seluruh persiapan diwujudkan dalam tataran praktis, lalu Hizbut Tahrir (HT) didirikan di al-Quds.[14]

UU Kepartaian Utsmani yang saat itu masih diterapkan di Palestina menyatakan, bahwa cukup dengan telah disampaikannya permintaan pendirian partai ke lembaga tertentu, dan cukup  dengan publikasi bahwa permintaan itu telah diterima dan publikasi pendirian partai, maka itu sudah dinilai sebagai lisensi resmi bagi partai dan izin bagi partai untuk melaksanakan aktivitasnya. Saat itu belum ditetapkan aturan kepartaian yang baru.[15]

Karena itu, HT mengirimkan permohonan pendirian partai ke Departemen Dalam Negeri Yordania dan mempublikasikan pendirian Hizbut Tahrir di Harian Ash-Sharih edisi 14 Maret 1953, dengan susunan pengurus: Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sebagai ketua Partai; Dawud Hamdan, wakil ketua merangkap sekretaris; Ghanim Abduh, bendahara; Munir Syaqir, anggota; dan Dr. ‘Adil an-Nablusi, anggota.[16]

Surat balasan dari Departemen Dalam Negeri Yordania adalah sebagai berikut:[17]

No.: ND/70/52/916

Tanggal: 14 Maret 1953

Kepada Yth.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dan Seluruh Pendiri Hizbut Tahrir

Saya telah meneliti berita yang dilansir Surat Kabar Ash-Sharîh nomor hari ini dengan judul, “Hay’at at-Tahrir, Tasjîl al-Hizb Rasmiyan fî al-Quds.”

Saya berharap dapat memberi pengertian kepada Anda, bahwa apa yang dirilis mengenai pendirian partai secara resmi di al-Quds  tidak bisa dibenarkan, dan bahwa sampainya apa yang Anda sekalian terima dari kepala kantor saya secara resmi diterimanya permintaan Anda sekalian, dalam pandangan Undang-undang Dasar, tidak dinilai sebagai izin bagi Anda sekalian.  Hal itu karena  izin pendirian partai dan pengakuan terhadapnya bergantung pada kepentingan negara seperti yang telah saya tunjukkan kepada Anda sekalian dalam beberapa tulisan yang dikirimkan kepada Anda sekalian mengenai tidak adanya persetujuan atas pendirian partai.

Wakil Departemen Dalam Negeri

Ali Hasanah

Atas dasar ini, pemerintah Yordania mengeluarkan larangan berdirinya HT dan menyatakan aktivitasnya sebagai ilegal.  Namun, HT mengabaikan hal itu dan terus beraktivitas hingga sekarang.[18]

Pada tahun 1953, pada masa kabinet Tawfiq ‘Abdul Hadi (alm.), Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bersama Ustadz Dawud Hamdan ditangkap di al-Quds; sementara Munir Syaqir dan Ghanim ‘Abduh ditangkap di Amman; lalu beberapa hari berikutnya, Dr. Abd al-‘Aziz al-Khiyath juga ditangkap;  semuanya dijebloskan ke penjara.

Pada waktu itu HT berhasil meyakinkan sejumlah wakil rakyat dan pejabat kabinet di Amman. Akhirnya, sekelompok wakil rakyat, pengacara, pebisnis, dan sejumlah orang yang memiliki kedudukan mengirimkan petisi yang menuntut lembaga berwenang agar membebaskan Syaikh Taqiyuddin dan kolega beliau. Petisi ditandatangani sebanyak 37 orang.[19]

Dr. Abd al-‘Aziz al-Khiyath bertutur:

 

Tiga hari setelah saya masuk penjara, di kantor kepala penjara, seorang yang sangat baik, H. Salim, terjadi diskusi antara kami dan utusan ketua Kabinet, Muhammad ‘Ali Badir, Rasyid al-Khiyath, dan seorang wakil rakyat Rasyad Thawqan. Diskusi membahas dakwah Islamiyah dan aktivitas Hizbut Tahrir, bahwa dalam aktivitas Hizbut Tahrir tidak ada yang menyalahi perundang-undangan; tidak ada seruan revolusi ataupun huru-hara; juga tidak ada seruan pada kekerasan. Kami tidak lain menyerukan pemikiran kami dengan metode yang damai dan hal itu dijamin UUD.  Mereka sepaham dengan kami.  Hari berikutnya, kami dibebaskan.[20]

Glubb Pasya, seorang pejabat Inggris yang kala itu menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yordania, yang ironisnya disebut Arab Legion of British Army (Legion Arab Tentara Inggris)—dialah yang secara real berkuasa di Yordania—mendesak pemerintahan boneka di Yordan untuk menggunakan semua alat yang diperlukan untuk ‘mencekik’ HT dan aktivitasnya.  Tahun 1954 dikeluarkan Qânûn al-Wa’zhu wa al-Irsyâd. Isinya, seseorang tidak boleh menyampaikan ceramah, khutbah, atau pengajaran di masjid kecuali mendapat lisensi resmi dari Qadhi Qudhat.  Atas dasar UU ini, sejumlah tokoh HT ditangkap dan dijebloskan ke penjara.[21]

Pada November 1953, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berpindah ke Damaskus dan menyebarkan dakwah di sana. Namun, satu saat intelijen Syiria membawa beliau ke perbatasan Syria-Lebanon. Atas bantuan Mufti Lebanon, Syaikh Hasan al-‘Alaya, akhirnya beliau diizinkan masuk ke Lebanon yang sebelumnya tidak boleh.

Beliau lalu menyebarkan pemikiran beliau di Lebanon dengan leluasa sampai tahun 1958, yaitu ketika pemerintah Lebanon mulai mempersempit kehidupan beliau karena merasakan bahaya dari pemikiran yang beliau emban. Akhirnya, beliau berpindah dari Beirut ke Tharablus dan terpaksa mengubah penampilan agar leluasa menjalankan kepemimpinan HT.[22]

Selama itu beliau terus memegang Qiyadah (Kepemimpinan) HT.  Beliau juga terus memantau berita baik dari koran, berbagai media, radio, dan sebagainya; kemudian menulis analisis politik dan disebarkan atas nama HT.

Beliau wafat pada 1 Muharam 1398 H atau 11 Desember 1977 M.  Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Syuhada’ al-Auza’i, Beirut.[23]

Peninggalan Beliau

Peninggalan beliau adalah sesuatu yang sangat bernilai. Beliau telah meninggalkan sebuah partai (Hizbut Tahrir) yang solid dengan seluruh pemikiran yang diembannya. Beliaulah yang menulis hampir seluruh pemikiran dan pemahaman HT.

Namun, beliau juga melibatkan komponen HT dalam menulis kitab-kitab beliau.  Beliau menulis rancangan buku dan garis-garis besarnya, kemudian beliau mempercayakan kepada salah seorang intelektual HT yang menonjol di sekeliling beliau untuk menulis lengkapnya hingga mewujud dalam bentuk pemikiran yang mengkristal (jernih dan kokoh), baru kemudian dicetak.[24]

Beliau sering menyodorkan buku-buku beliau kepada para intelektual dan ulama HT sekaligus mendiskusikannya sebelum memutuskan akhirnya. Dengan begitu, pemikiran yang keluar merupakan pemikiran yang jelas, gamblang, dan sahih; dengan argumentasi yang kuat dan disertai keyakinan atas setiap hurufnya.[25]

Karya-karya beliau istimewa karena bersifat menyeluruh dan mencakup berbagai bidang yang luas dan solusi atas problematika manusia. Karya-karya politis beliau juga istimewa karena didsarkan pada kesadaran, kedalaman, kejelasan, dan kesatuan sistematika sehingga mampu mendeskripsikan Islam sebagai ‘ideologi’ yang sempurna dan menyeluruh yang digali dari dalil-dalil syariat—al-Quran, as-Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Hal ini bisa dikatakan sebagai hasil pertama dari usaha yang sungguh-sungguh dari seorang pemikir Muslim pada zaman ini.[26]

Kehidupan politik beliau termasuk yang paling menonjol pada era ini dan mungkin sampai ke depan nanti.  Beliau memiliki kemampuan yang tinggi dalam melakukan analisis politik, sebagaimana tampak dalam berbagai selebaran politik HT.  Beliau memiliki keluasan telaah atas berbagai peristiwa politik; memiliki kedalaman pemahaman dan kesadaran yang sempurna atas masalah-masalah dan ide-ide politik. Siapa yang mendalami berbagai selebaran dan buku politik HT, garis-garis besar politik yang beliau susun untuk membina para syabâb (aktivis) HT secara politik, akan dapat mengerti bahwa beliau memiliki kemampuan politik yang luar biasa.  Beliau benar-benar merupakan salah seorang pemikir sekaligus politikus ulung abad ke-20.[27]

Semoga kita dapat melestarikan peninggalan beliau yang sangat bernilai itu. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk melanjutkan dan tetap istiqamah memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyah—yang menerapkan syariat Islam sekaligus mendakwahkan Islam ke seluruh dunia—yang menjadi dambaan beliau dan kita semua.  Wallâh Muwaffiq ilâ Aqwâm ath-Tharîq. [Yahya A].

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []


[1] Dikutip oleh Dr. Abd al-‘Azîz al-Khiyâth, dalam Muqadimah buku Hizb at-Tahrîr al-Islâmiy, ‘Aradh Târikhiy wa Dirâsah ‘Âmah, hal 7-8, ‘Awniy Judû’ al-‘Abîdiy, Dar al-Liwa’ li as-Shahafah wa an-Nasyr. 1993

[2] Hizb ut-Tahrir’s Media Office, The Founder of Hizb at-Tahrîr ut-Tahrir, Hizb-ut Tahrir.org; Ihsan Samarah, Mafhûm al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyyah fî al-Fikr al-Mu’ashir, hal. 140

[3] Yusuf al-‘Awdat, Min A’lam al-Fikr wa al-Adab fî Filisthin, hal. 619-620; az-Zarkali, al’A’lam, jilid xix, hal. 289-290, cet. II.

[4] ‘Awniy Judû’ al-‘Abîdiy, Hizb at-Tahrîr al-Islâmiy, ‘Aradh Târikhiy wa Dirâsah ‘Âmah, hal. 43-44, Dar al-Liwa’ li as-Shahafah wa an-Nasyr. 1993

[5] Ihsan Samarah, op. cit., hal. 141; Abd al-Halim Ramhi, al-A’lam al-Islâmiy, hal. 120, Desertasi Doktoral Universitas Islam Pakistan. 1986

[6] Ihsan Samarah, ibid, hal. 142; al-Kaylâni, al-harakât al-Islâmiyyah fî al-Urdun, hal. 110

[7] Ihsan Samarah, ibid, hal. 141-142.  Hasil wawancara dengan Syaikh Shubhi al-Mu’aqqat dan Syaikh al-Ustadz  Abd al-Hamid as-Sa’ih.

[8] As-Sayid Ziyâd Salamâh, Munâqasyât ‘Ilmiyyah Hawla Târîkh Hizb at-Tahrir, komentar (ta’li’) buku Hizb at-Tahrîr al-Islâmiy, ‘Aradh Târikhiy wa Dirâsah ‘Âmah, hal 126-127, ‘Awniy Judû’ al-‘Abîdiy, Dar al-Liwa’ li as-Shahafah wa an-Nasyr. 1993

[9] Lihat, The Founder of Hizb ut-Tahrir, Hizb at-Tahrir’s Media Office, Hizb-ut Tahrir.org; Ihsan Samarah, op. cit., hal. 142-144; al-Mawshû’ah al-Filisthiniyyah, juz I, hal. 564.  Sayid  Ziyâd Salamah memberikan rangkaian yang agak berbeda : “ Saya menemukan urutan yang lain di al-Mawshû’ah al-Filisthiniyyah, yang mendorongku untuk mendalaminya dari arsip Mahkamah-Mahkamah Syariah di Palestina, maka saya menemukan : Setelah Syaikh an-Nabhani kembali dari al-Azhar tahun 1932, beliau mengajar di sekolah-sekolah di Haifa (salah satu murid beliau aalah Ustadz Ihsan ‘Abbas), selanjutnya beliau mengajar di Madrasah al-Khalil Tsanawiyah (setingkat SMU) sampai 1932.  Kemudian beliau menjabat Sekretaris Mahkamah di Bissan, lalu pindah ke Taberiya.  Tahun 1940-1942 beliau menjabat Sekretaris di Mahkamah Syariah di Yafa.  Lalu pindah ke Haifa dan menjabat Kepala Sekretaris Mahkamah Syariah di Haifa sampai 28-4-’45.  Kemudian antara 29-11-’45 sampai 20-12-’45 beliau menjabat Musyâwir di Mahkamah al-Quds.  Kemudian pindah menjabat Qadhi di Mahkamah al-Khalil as-Syar’iyah sampai 1-2-’47.  Kemudian beliau menjabat Qadhi al-Quds.  Dan pada akhir 1948 beliau berkarya di Mahkamah Isti’naf dimana beliau menjadi Penilik terhadap Mahkamah-mahkamah yang ada dan kemudian menjadi angota Mahkamah Isti’naf sampai kuartal I tahun 1950. (Ziyad Salamah, Munâqasyât ‘Ilmiyyah Hawla Târîkh Hizb at-Tahrir, komentar (ta’li’) buku Hizb at-Tahrîr al-Islâmiy, ‘Aradh Târikhiy wa Dirâsah ‘Âmah, hal 127-128, ‘Awniy Judû’ al-‘Abîdiy, Dar al-Liwa’ li as-Shahafah wa an-Nasyr. 1993

[10] Dr. ‘Abd al-‘Aziz al-Khiyath, Muqadimah, dan Ziyad Salamah, ibid, dalam ‘Awniy al-Judû’ al-‘Abidiy, op. cit.

[11] The Founder of Hizb ut-Tahrir, Hizb at-Tahrir’s Media Office, Hizb-ut Tahrir.org; Ihsan Samarah, hasil wawancara langsung dengan sahabat Syaikh Taqiy yaitu Ustadz Jâd ar-Rab Ramadhan, salah seorang tokoh di Kulliyah as-Syarî’ah wa al-Qanûn tahun 1973 di Kaero, Mesir.

[12] The Founder of Hizb ut-Tahrir, Hizb at-Tahrir’s Media Office, Hizb-ut Tahrir.org

[13] Ziyad Salamah, op. cit., dalam ‘Awniy Judû’ al-‘Abidi, op. cit. hal. 129.

[14] Hizb at-Tahrir’s Media Office, The Founder of Hizb ut-Tahrir, Hizb at-Tahrîr-ut-Tahrir.org

[15] Dr. Abd al-‘Aziz al-Khiyath, op. cit.

[16] Ihsan Samarah, op. cit., hal. 146, mengutip dari harian ash-Sharîh tanggal 14 Maret 1953 “Hai’at at-Tahrir, Tasjîl al-Hizb Rasmiyan fî al-Quds

[17] Ihsan Samarah, ibid, hal. 146-147

[18] Hizb at-Tahrir’s Media Office, The Founder of Hizb ut-Tahrir, Hizb-ut-Tahrir.org

[19] Ziyad Salamah, op. cit. hal. 126.

[20] Dr. Abd al-‘Aziz al-Khiyath, op. cit, hal. 22

[21] Ibid, hal. 22-25; Hizb at-Tahrir’s Media Office, The Founder of Hizb ut-Tahrir

[22] ‘Awniy Judû’ al-‘Abidi, op. cit., hal. 111-112

[23] Mengenai tanggal wafat beliau terdapat tiga catatan, Harian ad-Dustûr Yordania menyebutkan, wafat beliau pada 19 Muharam 1398 H atau 29 Desember 1977.  Sedangkan ‘Awniy Judû‘ al-‘Abîdî, op. cit., hal. 113, menyebutkan beliau wafat pada 25 Rajab 1398 H atau 20 Juni 1977.  Yang meyakinkan (pasti) adalah sesuai penjelasan Hizb at-Tahrîr dan salah seorang dari orang dekat beliau bahwa beliau wafat pada 1 Muharam 1398 H atau 11 Desember 1977 M.

[24] ‘Awniy Judû’ al-‘Abidi, op. cit., hal. 99, hasil wawancara dengan Ust. Ghanim ‘Abduh pada 25 Juli 1990.

[25] Abdullah Muhammad Mahmud, Arba’ Mulâhazhât ‘alâ Ta’qibât ‘alâ Kitâb Hizb at-Tahrîr li Sayid  ‘Awniy Judû’, dalam ‘Awniy Judû’ al-‘Abidi, op. cit., hal. 148.

[26] Ihsan Samarah, op. cit., hal. 150, mengutip dari Dr. Fahmi Jad’an, Nazhariyah at-Turâts, hal. 83-88.

[27] Ihsan Samarah, ibid, hal. 148-149.

Pengantar

Allah SWT berfirman:

Di antara orang-orang yang beriman terdapat orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur; di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka tidak sedikitpun mengubah (janjinya) (QS al-Ahzab [33]: 23).

Ayat ini biasa dibacakan untuk memberikan penghargaan kepada para pejuang yang gugur di jalan Allah. Anas bin Malik berkata, “Ayat ini turun berkaitan dengan gugurnya Anas bin Nadhr pada Perang Uhud dan orang-rang yang seperti dia.”

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: