Latest Entries »

ust-Rokhmat-S-labib

 

Yang membuat orang kafir menguasai kaum Muslimin, menurut Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rokhmat S Labib bukan karena umat Islam golput.

“Tetapi sistem demokrasi yang diterapkan di negeri ini yang memberikan kesempatan kepada orang kafir berkuasa. Inilah yang ditentang Hizbut Tahrir,” tegasnya pada mediaumat.com (6/4) di Jakarta.

Selain itu, jelas Rokhmat, Hizbut Tahrir tidak hanya menjelaskan hukum mengangkat seorang pemimpin tapi juga menegaskan untuk meninggalkan demokrasi, sebab demokrasi memberikan kesempatan orang kafir berkuasa. View full article »

2012_0

Siapa pun pasti mengakui bahwa Indonesia sudah ‘jungkir-balik’ menerapkan demokrasi dengan beragam tipe, seperti: (1) demokrasi parlementer (1945-1959); (2) demokrasi terpimpin (1959-1965); (3) demokrasi pancasila (1965-1998); dan (4) demokrasi liberal masa reformasi (1998-sekarang). Sampai-sampai SBY menerima penghargaan The Democracy Award dari International Association of Political Consultants (IAPC) atas ‘jasanya’ menerapkan demokrasi. Artinya Indonesia sudah lama sekali belajar demokrasi, laksana seorang mahasiswa abadi yang menempuh pendidikan begitu lama sekali. View full article »

TOLAK SJSN, BPJS, JKN

 

Lagi pemerintah tak henti-hentinya membuat kebijakan yang akan membuat rakyat semakin sengsara. Melalui SJSN / BPJS /JKN pemerintah akan memaksa rakyat hingga tak terlewatkan seorang pun untuk di palak. Karena bagi yang tidak mau ikut program ini maka akan disediakan sanksi yang menyusahkan.

Kampanye pemerintah tentang hal ini begitu manis, padahal kenyataannya sangat pahit . Kajian kritis berikut akan menunjukan betapa bahayanya UU SJSN dan UU BPJS tersebut. Lebih jauh dari itu ternyata pihak kafir asing siap mengambil keuntungan yang sangat besar di balik kepedihan seluruh rakyat Indonesia akibat diterapkannya UU ini. Tidak heran mereka sangat getol mendikte pemerintah Indonesia untuk segera menerapkannya, bahkan mereka telah dan siap mengucurkan dananya yang sangat besar. Ini menjadi bukti bahwa mereka punya kepentingan yang disembunyikan.

Oleh karena itu WAJIB bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menolaknya.

Penjelasan lengkap bisa disimak dari file-file berikut. Penjelasan utama ada di file “kritik SJSN BPJS DAN PP TERBARU + Booklet Tolak SJSN. Silahkan untuk mendownloadnya:

KRITIK SJSN BPJS DAN PP TERBARU

Booklet Tolak SJSN

Draft Peraturan SJSN

PERPRES-12-2013

pp 101 2012(1)

Hukum Merayakan Tahun Baru

Tanya: Ustadz, bolehkah seorang muslim ikut hukum merayakan tahun baru?

Tahun Baru HaramJawab : Perayaan tahun baru Masehi (new year’s day, al ihtifal bi ra`si as sanah) bukan hari raya umat Islam, melainkan hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nashrani. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582.  Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; http://www.history.com)

Bentuk perayaannya di Barat bermacam-macam, baik berupa ibadah seperti layanan ibadah di gereja (church servives), maupun aktivitas non-ibadah, seperti parade/karnaval, menikmati berbagai hiburan (entertaintment), berolahraga seperti hockey es dan American football (rugby), menikmati makanan tradisional, berkumpul dengan keluarga (family time), dan lain-lain. (www.en.wikipedia.org).

Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi. Dalil keharamannya ada 2 (dua); Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).

Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah : 104). Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

Ayat-ayat yang semakna ini banyak, antara lain QS Al Baqarah : 120, QS Al Baqarah : 145; QS Ali ‘Imran : 156, QS Al Hasyr : 19; QS Al Jatsiyah : 18-19; dll (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Wa`il Zhawahiri Salamah, At Tasyabbuh Qawa’iduhu wa Dhawabituhu, hlm. 4-7; Mazhahir At Tasyabbuh bil Kuffar fi Al ‘Ashr Al Hadits, hlm. 28-34).

Dalil umum lainnya sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad, 5/20; Abu Dawud no 403). Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 10/271).

Hadits tersebut telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka (fi khasha`ishihim), seperti aqidah dan ibadah mereka, hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dll. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 22-23).

Selain dalil umum, terdapat dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir.  Dari Anas RA, dia berkata,”Rasulullah SAW datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah SAW bertanya,’Apakah dua hari ini?’ Mereka menjawab,’Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa Jahiliyyah.’ Rasulullah SAW bersabda,’Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud, no 1134). Hadits ini dengan jelas telah melarang kaum muslimin untuk merayakan hari raya kaum kafir. (Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 173).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, haram hukumnya seorang muslim merayakan tahun baru, misalnya dengan meniup terompet, menyalakan kembang api, menunggu detik-detik pergantian tahun, memberi ucapan selamat tahun baru, makan-makan, dan sebagainya. Semuanya haram karena termasuk menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar) yang telah diharamkan Islam. Wallahu a’lam. [] M Shiddiq Al Jawi

[http://hizbut-tahrir.or.id/2013/12/28/hukum-merayakan-tahun-baru/]

JICMI-2013-9

Lebih dari dua ribu intelektual dari berbagai negara di dunia menghadiri Konferensi Peradaban Islam yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Jakarta selama dua hari.

“Beberapa ilmuwan internasional yang hadir dalam acara ini adalah dari Aljazair, Malaysia, Libanon, Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Australia, selain dari Indonesia sendiri,” kata juru bicara HTI, Ismail Yusanto di Jakarta, Ahad (15/12).

JICMI-2013-10Dia mengatakan dalam konferensi bernama ‘Jakarta International Conference of Muslim Intellectuals’ tersebut panitia telah menerima 140 makalah ilmiah yang dikelompokkan dalam tujuh topik utama. Topik tersebut adalah perubahan politik global dan dampaknya pada negeri Muslim, tantangan tata kelola pemerintahan, tantangan ekonomi, kesehatan dan ketahanan pangan, manajemen energi dan sumber daya alam, perempuan dan keluarga, serta pendidikan dan iptek.

Konferensi tersebut mengangkat tema ‘The end of capitalism and the prospect of Islamic civilization under Khilafah’ atau ‘Akhir kapitalisme dan masa depan peradaban Islam di bahwa naungan Khilafah”. “Pada diskusi hari pertama, kita sepakat bahwa persoalan pada semua bidang tersebut bukan soal teknis semata, tapi terkait satu sama lain dan berakar pada pemisahan agama dari kehidupan sosial, politik dan ekonomi,” kata Ismail.

Menurut dia, para intelektual meyakini bahwa Islam dengan perangkat hukumnya yang dinamakan syariat, merupakan solusi terbaik bagi persoalan-persoalan tersebut. “Dengan demikian harus ada integrasi penerapan syariat Islam dalam sistem Khilafah Islam,” kata Ismail.

JICMI-2013-19Dia menegaskan Khilafah berikut syariat Islam adalah gagasan ilmiah dan rasional, bukan emosional dan bersifat historis semata seperti yang dianggap oleh sebagian masyarakat selama ini. “Selama ini syariah dan Khilafah tidak pernah digali dan dikaji secara ilmiah, termasuk di Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar. Sistem Islam selalu diidentikkan dengan studi Timur Tengah, padahal tidak ada keterkaitan antara ke dua hal ini,” ujar Ismail.

Dia menambahkan konferensi ini mengelaborasi lebih lanjut persoalan dunia, terutama yang terjadi di negeri-negeri Muslim dengan memformulasikan solusi yang berasal dari pemikiran Islam sebagai sistem kehidupan yang global. Beberapa kegiatan lanjutan dari konferensi ini antara lain penerbitan kompilasi jurnal digital dan buku, serta road show ke perguruan-perguruan tinggi. [http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/15/mxuaq9-dua-ribu-intelektual-dunia-hadiri-konferensi-islam-di-jakarta]

Materi Presentasi Keynote Speech JICMI 2013 Hari ke -1

Hari pertama konferensi dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Desember 2013 di Wisma Makara Universitas Indonesia, Depok. Jumlah peserta kurang lebih 200 intelektual (Professor, Doktor, dan Master)

Berikut ini materi presentasi keynote speech dan closing statement JICMI 2013 pada hari pertama:

  1. Islamic Contribution Within the World Civilization: Past, Present and Future (Usman Bakhash)
  2. Peran dan Tanggung Jawab Intelektual Muslim dalam Membangun Peradaban Islam (Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar)

Jangan lupa font yang terdapat dalam rar di ekstrak dan di instal kepada PC/Laptop anda.

Materi Pembicara JICMI 2013 hari ke-2

Hari kedua dilaksanakan pada hari Ahad, 15 Desember 2013 di Convention Hall SMESCO, Jl. Gatot Subroto Kav. 94 Jakarta Selatan. Jumlah peserta kurang lebih 2000 intelektual (Professor, Doktor, Mahasiswa Pasca Doktoral-Master, Magister, Peneliti, Cendekiawan)

Berikut ini materi pembicara JICMI 2013 hari ke-2:

Sesi I

  1. The Collapse of Global Capitalism: What can we learn from the Global Financial Crisis (Dr. Jamal D. Harwood) [http://www.youtube.com/watch?v=PR5h_UGogHQ]
  2. Global Political Change and The Inevitable Caliphate (Osman Bakhach) [http://www.youtube.com/watch?v=p9DcsgvDodg]

Sesi II

  1. Khilafah Sebagai Model Acuan Bagi Peradaban Islam (Dr. Rahmat Kurnia) [http://www.youtube.com/watch?v=9C0-t8pWHJc]
  2. Metode Penegakan Khilafah (Dwi Condro Triono Ph.D) [http://www.youtube.com/watch?v=YHiQi1gBSgs]

JICMI-2013-2

JICMI-2013-35

http://hizbut-tahrir.or.id/2013/12/17/materi-presentasi-keynote-speech-jicmi-2013-hari-ke-1/

http://hizbut-tahrir.or.id/2013/12/16/materi-pembicara-jakarta-international-conference-of-intellectuals-jicmi-2013-hari-ke-2/

http://hizbut-tahrir.or.id/2013/12/17/foto-jakarta-international-conference-of-muslim-intellectuals-jicmi-2013-hari-ke-2/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 12.673 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: