Category: Analisis Pemikiran


Tanggal 9 Juli 2014 akan diselenggarakan Pemilu Presiden (Pilpres) untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung oleh rakyat. Pilpres berbeda dengan Pemilu Legislatif (Pileg) yang diselenggarakan untuk memilih para wakil rakyat. Dalam Pilpres berlangsung pemilihan kepala kekuasaan eksekutif. Hal itu mencerminkan pengelolaan rakyat atas kekuasaan mereka.

cover_129_ok - copyHukum mengangkat penguasa itu berkaitan dengan dua perkara: (1) perkara yang berkaitan dengan karakter dan sosok penguasa; (2) perkara yang berkaitan dengan sistem/aturan yang akan diterapkan penguasa. Baca lebih lanjut

2012_0

Siapa pun pasti mengakui bahwa Indonesia sudah ‘jungkir-balik’ menerapkan demokrasi dengan beragam tipe, seperti: (1) demokrasi parlementer (1945-1959); (2) demokrasi terpimpin (1959-1965); (3) demokrasi pancasila (1965-1998); dan (4) demokrasi liberal masa reformasi (1998-sekarang). Sampai-sampai SBY menerima penghargaan The Democracy Award dari International Association of Political Consultants (IAPC) atas ‘jasanya’ menerapkan demokrasi. Artinya Indonesia sudah lama sekali belajar demokrasi, laksana seorang mahasiswa abadi yang menempuh pendidikan begitu lama sekali. Baca lebih lanjut

Oleh: KH. M. Shiddiq al-Jawi, M.Si

Istilah Pluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) hal sekaligus, Pertama, deskripsi realitas bahwa di sana ada keanekaragaman agama. Kedua, perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi realitas keanekaragaman agama yang ada.

pluralisme tololHal itu misalnya dapat ditelaah dalam penjelasan Josh McDowell mengenai definisi pluralisme. Menurut McDowell, ada dua macam pluralisme; Pertama, pluralisme tradisional (Social Pluralism) yang kini disebut “negative tolerance”. Pluralisme ini didefinisikan sebagai “respecting others beliefs and practices without sharing them” (menghormati keimanan dan praktik ibadah pihak lain tanpa ikut serta [sharing] bersama mereka). Kedua, pluralisme baru (Religious Pluralism) disebut dengan “positive tolerance” yang menyatakan bahwa “every single individual’s beliefs, values, lifestyle, and truth claims are equal” (setiap keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran dari setiap individu, adalah sama (equal) (http://www.ananswer.org/mac/answeringpluralism.html, diakses 11/06/05). Baca lebih lanjut

Soal:

Ada riwayat tentang tenggat waktu tiga hari sebagai batas pengangkatan Khalifah. Lalu ada instruksi dari Khalifah Umar bin al-Khaththab untuk membunuh Ahlu asy-Syura yang tidak sepakat dengan Khalifah terpilih dalam tenggat tersebut. Bukankah riwayat tersebut lemah? Mengapa riwayat tersebut masih dijadikan hujjah dalam menentukan tenggat waktu?

Jawab:

Masalah ini sebelumnya telah diajukan kepada Amir Hizb melalui akun Facebook beliau dan telah mendapatkan jawaban sebagaimana mestinya. Namun, jawaban tersebut ternyata, sebagaimana ungkapan al-Qur’an, “lâ yusminu wa lâ yughnî min jû’” (tidak membuat gemuk dan kenyang) sang penanya. Penanya dan kawan-kawannya justru menyerang ulama, ahli ushul, fikih dan syaikh yang dikenal wara’ itu dengan kata-kata yang tidak pantas.

Karena itu, saya sendiri sebenarnya tidak tertarik untuk mengulas pertanyaan dan jawaban yang diberikan kepada penanya. Ini karena mereka sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Mereka juga tidak ingin mendengarkan, apalagi mencari kebenaran; kemudian setelah itu mereka bertobat kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar, dengan berjuang untuk menegakkan syariah dan Khilafah. Mereka malah mencari-cari alasan untuk tidak berjuang dengan berbagai dalih.

Namun, karena masalah ini mereka sebarkan di media sosial dengan tujuan untuk menciptakan keraguan (tasykîk) di dalam diri pejuang yang siang-malam berjuang untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan umatnya, serta menarik dukungan umat yang semakin hari kian meningkat, maka jawaban ini menjadi penting. Sekali lagi, penting untuk barisan pejuang dan umat yang tengah berjuang, agar tidak ada lagi keraguan sedikitpun di dalam hati mereka.

Karena itu, pertanyaan yang diajukan penanya di atas sesungguhnya menjelaskan tiga fakta. Pertama: boleh jadi memang penanya tidak tahu adanya riwayat-riwayat lain yang terkait. Kedua: boleh jadi sudah tahu, tetapi sengaja mencari dalih, agar bisa digunakan untuk menjustifikasi tindakannya meninggalkan kewajiban untuk menegakkan Khilafah. Ketiga: boleh jadi kedua-duanya sekaligus. Namun, karena kesombongannya, maka itu membuat dia buta terhadap kebenaran yang ada para orang lain.

Dalam riwayat ath-Thabari, di dalam sanad-nya  memang terdapat seorang perawi bernama Abû Mikhnaf, yang disebut-sebut “laysa tsiqah” (bukan orang terpercaya). Penanya mengklaim, bahwa para perawi di dalam riwayat tersebut adalah “majhûl” (tidak dikenal). Dia juga menyatakan, para perawi lain dalam riwayat tersebut juga meriwayatkan riwayat ini dengan redaksi al-‘an’anah.1

Jika benar, penanya tersebut memang berilmu, niscaya dia tidak akan menelaah masalah ini dari satu riwayat saja.  Sebab, masalah “tenggat tiga hari dan instruksi Umar untuk membunuh orang yang menyalahinya” bukan rahasia lagi. Peristiwa  ini berlangsung di hadapan para sahabat; mereka ketahui dan mereka dengar. Selain itu, terdapat banyak riwayat, bukan hanya satu atau dua riwayat. Karena itu, kedudukannya sebagai Ijmak Sahabat jelas tidak bisa lagi diperselisihkan.

Mengenai tuduhan bahwa “sebagian perawinya majhûl”, harus didudukkan. Jika mereka majhûl (tidak dikenal) oleh si penanya, maka status ke-majhûl-an perawi tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk melemahkannya. Sebab, ketidaktahuan penanya, boleh jadi karena dia tidak pernah membaca biografi perawi yang dia tuduh majhûl itu. Jika ke-majhûl-an perawi tersebut dinyatakan oleh sebagian ulama, tidak serta-merta riwayat perawi tersebut langsung ditolak.

Demikian juga dengan redaksi al-‘an’anah dalam riwayat ath-Thabari yang digunakan untuk menolak riwayat tersebut. Penolakan ini juga menunjukkan kebodohan penanya. Sebab, tidak selamanya hadis mu’an’an itu lemah. Syaratnya, riwayat mu’an’an ini tidak termasuk mudallas, dan ada kemungkinan para perawi yang disebutkan dalam rangkaian ‘an’anah tersebut bertemu satu sama lain. Jika dua syarat ini terpenuhi, status riwayat ‘an’anah tersebut dihukumi muttashil (bersambung). Ini adalah pendapat jumhur.2 Karena itu, baik dalam kitab Shahîh al-Bukhârî maupun Shahîh Muslim banyak terhadap hadis seperti ini, namun statusnya tetap sahih.

Mengenai komentarnya terhadap riwayat ath-Thabari, penanya hanya melihat Abû Mikhnaf. Perawi lain yang meriwayatkan bersama Abû Mikhnaf, yaitu Syahr bin Hausyab, sengaja dia abaikan. Padahal keduanya sama-sama meriwayatkan riwayat tersebut. Ath-Thabari mengatakan:

Telah menceritakan kepadaku ‘Umar bin Syabah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad dari Waki’, dari al-A’masy, dari Ibrahim dan Muhammad bin ‘Abdullah al-Anshari, dari Ibn Abi ‘Arubah, dari Qatadah dari Syahr bin Hawsyab dan Abû Mikhnaf, dari Yusuf bin Yazid dari ‘Abbas bin Sahlin dan Mubarak bin Fadhalah, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar dan Yunus bin Abi Ishaq, dari Amru bin Maymun al-Awdi, bahwa Umar bin al-Khaththab ketika ditikam…. maka ia berkata… Selesai.

Jadi, Qatadah jelas meriwayatkan dari Abû Mikhnaf dan Syahr bin Hawsyab. Keduanya meriwayatkan dari Yusuf bin Yazid. Namun, si penanya hanya menyebut Abû Mikhnaf, dengan meninggalkan Syahr bin Hawsyab. Padahal Syahr bin Hawsyab telah dinilai tsiqah oleh jamaah. Al-‘Ajali (w. 261 H), dalam kitabnya, Ats-Tsiqât,  mengatakan, “Syahr bin Hawsyab: Syâmiy [berasal dari Syam], seorang tabi’un, tsiqah [terpercaya].”

Al-Haytsami (w. 807 H), dalam bukunya, Majma’ az-Zawâid wa Manba’ al-Fawâid, mengomentari lebih dari satu tempat tentang Syahr bin Hawsyab, “Syahr bin Hawsyab, dia telah dinilai tsiqah [terpercaya]”; “Syahr bin Hawsyab telah diperselisihkan, tetapi dia telah dinilai tsiqah oleh Ahmad, Ibn Ma’in, Abu Zar’ah dan Ya’qub bin Syaibah”;  “Syahr bin Hawsyab dan pandangan tentangnya ada beberapa pendapat, dan dia telah dinilai tsiqah oleh bukan hanya satu orang”; “Syahr bin Hawsyab, tentangnya ada pandangan, tetapi ia telah dinilai tsiqah oleh jamaah”.

Ibn Syahin (w. 385 H) dalam bukunya, Târîkh Asmâ’ ats-Tsiqât berkata, “Yahya berkata, Syahr bin Hawsyab tsabata [telah ditetapkan riwayatnya] dan dalam riwayat lain tentangnya dinyatakan, ia [Syahr bin Hawsyab] berasal dari Syam, tinggal di Bashrah dan termasuk al-Asy’ariyîn… dia tsiqah [terpercaya].”

Nah, ini tentang riwayat ath-Thabari. Selain mengkritik riwayat ath-Thabari, penanya juga menyebutkan riwayat lain, yang dinukil oleh Ibn Saad dalam kitabnya, Ath-Thabaqât al-Kubrâ, yang lagi-lagi dia katakan, bahwa di dalam sanadnya ada seorang perawi bernama Simâk bin Harb, yang dia sebut “shudûq wa qad taghayyara” (orang yang jujur dan telah berubah).

Mengenai Simâk bin Harb,  al-Bazzâr memberikan komentar, “Kâna rajul[an] masyhûr[an] la a’lamu ahad[an] yatrukuhu  (Dia adalah orang terkenal yang tidak ada satu orang pun yang saya tahu meninggalkannya).”3

Ibn ‘Adi juga memberikan komentar, “Li Simâk hadîts[un] katsîr[un] mustaqîm[un] in syâ’a-Llâh. Wahuwa min kibâri tâbi’î ahl al-Kûfah wa ahâdîtsuhu hassân, wa huwa shaddûq lâ ba’sa bihi”  (Simâk mempunyai banyak hadis yang insya Allah lurus. Dia termasuk tabi’in senior penduduk Kufah. Hadis-hadisnya hasan. Dia juga orang yang jujur dan tidak ada masalah dengannya).”4

Abû Hâtim dan Imam Ahmad juga mengatakan, “Shadûq tsiqqat.” (Jujur dan terpercaya).5

Memang, al-Bazzâr juga berkomentar, “Wa kâna qad taghayyara qabla mautihi.” (Dia telah berubah sebelum meninggal).6 Karena itu, sebagian ulama, seperti Ibn Hibbân, menyebutnya, “Yukhthi’ katsîr[an] (Banyak kesalahannya).” Adapun ats-Tsaurî menyatakan, hadisnya lemah. Adapun orang-orang yang mendengarkan riwayat dari dia sebelum akhir hayatnya, seperti Syu’bah dan Sufyân, dikomentari oleh Ibn Hajar, bahwa hadis mereka dari Simâk adalah sahih dan lurus.7

Dengan demikian, Simâk jelas bukanlah orang yang berstatus majhûl. Tentang kredibilitasnya, memang ada perselisihan di kalangan ulama. Ini pun bisa dipilah menjadi dua periode. Pertama: periode awal. Dalam hal ini tidak ada perselisihan, bahwa Simâk adalah seorang perawi yang jujur dan terpercaya. Karena itu, hadisnya pun bisa diterima. Kedua: periode akhir hayatnya. Di sinilah sebenarnya masalah itu terjadi. Namun, tidak berarti, karena periode kedua ini, maka seluruh riwayat Simâk menjadi tidak boleh diterima.

Dalam kitab ats-Tsiqât, Ibn Hibbân (w. 354 H) menjelaskan tentang Simâk bin Harb: Hamad bin Salamah berkata, “Aku mendengar Simâk bin Harb mengatakan, ‘Saya berjumpa dengan 80 sahabat Nabi saw.’  Dia meninggal pada akhir pemerintahan Hisyâm bin Abd al-Mâlik ketika Yusuf bin ‘Umar diangkat menjadi wali di Irak. Dia adalah Simâk bin Harb bin Aws bin Khâlid bin Nizâr bin Mu’âwiyah bin Amir bin Dzahlin.”

Demikian juga dalam buku Târikh Asmâ’ ats-Tsiqât, Ibn Syahin menyatakan: Simâk bin Harb adalah orang yang tsiqah (terpercaya). Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad al-Baghawi, yang berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muamil dari Hamad bin Salamah dari Simâk bin Harb, yang berkata, ‘Aku telah berjumpa dengan 80 sahabat Nabi saw.’”

Ini menunjukkan bahwa Simâk telah bertemu dengan 80 sahabat Nabi saw. Ini adalah jumlah yang tidak ada masalah baginya, jika dia tidak berjumpa dengan ‘Umar.  Ini karena dia bertemu dengan sahabat yang menukil dari ‘Umar. Tidak disebutkannya seorang sahabat, misalnya, tentu tidak akan mempengaruhi kesahihan sanad-nya karena semua sahabat adalah adil.

Meski begitu, ternyata Ibn Saad dalam masalah ini tidak hanya menyebutkan satu riwayat, tetapi juga menukil riwayat-riwayat lain di luar jalur Simâk bin Harb. Ibn Saad berkata, “Telah memberitahukan kepada kami Muawiyah bin Amru al-Azadi, al-Hasan bin Musa al-Asyyab dan Ahmad bin Abdullah bin Yunus. Mereka berkata: telah memberitahu kami Zuhair bin Mu’awiyah Abu Khaytsamah; telah memberitahu kami Abu Ishaq dari Amru bin Maymun, ia berkata: Aku menyaksikan Umar ketika ditikam…”

Perhatikan sanad dalam riwayat tersebut. Jelas ini bukan satu orang dari satu orang, tetapi tiga orang dari satu orang. Amru bin Maymun al-Azdi telah masuk Islam pada zaman Nabi saw, berhaji sebanyak seratus kali, dan ada yang mengatakan tujuh puluh kali. Dia juga membayar zakat kepada Nabi saw.,  seperti dinyatakan di Asad al-Ghâbah.  Karena itu, dia menyaksikan ‘Umar ra. pada hari ketika beliau ditikam.

Jelas, Ibn Saad tidak hanya mempunyai satu riwayat, tetapi lebih dari satu riwayat.  Namun tampaknya, penanya lebih tertarik pada syubhat, yang dia temukan pada satu riwayat saja. Ini membuktikan, bahwa dia sebenarnya tidak sungguh-sungguh mencari kebenaran. Ia justru berusaha untuk membingungkan para pengikut dan pejuang kebenaran.

Tampaknya kesombongan intelekualnya telah membuat dirinya buta. Namun, justru itu hanya membuktikan kelemahan akalnya, seperti ungkapan Sayyidina ‘Ali:

إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ دَلِيْلٌ عَلَى ضَعْفِ عَقْلِهِ

Kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri membuktikan bahwa akalnya lemah.

WalLahu a’lam.[KH. Hafidz Abdurrahman]

Catatan kaki:

1         Lihat, Abû Ja’far Muhammad bin Jarîr ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, Dâr al-Fikr, Beirut, t.t., V/223.

2         Lihat, Dr. Muhammad ‘Ajâj al-Khathîb, Ushûl al-Hadîts: Ulûmuhu wa Mushthalahuhu, Dar al-Fikr, Beirut, 1989, hlm. 356.

3         Lihat, Ibn Hajar al-Asqalâni, Tahdzîb at- Tahdzîb, Dâr al-Fikr, Beirut, t.t., IV/205.

4         Lihat, Ibid.

5         Lihat, Ibid, IV/204.

6         Lihat, Ibid, IV/205.

7         Lihat, Ibid, IV/205.

Oleh: Dr. H.M.  Rahmat Kurnia, M.Si

Islam: Fikrah dan Thariqah

20130602_094118Allah Swt. memerintahkan kepada kaum Muslim untuk terikat dengan apapun yang berasal dari-Nya yang diturunkan melalui Sayyid al-Mursalîn Rasulullah Muhammad saw.   Hal ini jelas sekali dalam banyak firman-Nya, antara lain:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang Rasul berikan kepadamu, terimalah. Apa yang ia larang  atasmu, tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (QS al-Hasyr [59]: 7).

Siapapun yang melakukan penelaahan terhadap hukum-hukum yang terdapat di dalam Islam akan menemukan ada dua jenis hukum/ajaran.  Pertama: akidah dan hukum syariah yang terkait dengan penyelesaian persoalan yang ada dalam kehidupan.  Akidah dan berbagai hukum/ajaran seperti itu dikenal dengan istilah fikrah. Fikrah lebih merupakan konsepsi.  Misal: keimanan pada al-Quran dan as-Sunnah serta kemampuan Islam dalam menyelesaikan persoalan, keimanan bahwa Allah itu Mahaadil dan menurunkan hukum-hukum Islam yang adil, dsb. Begitu juga hukum tentang shalat, shaum, haji, kewajiban memberi makan fakir miskin, dsb; semua itu termasuk ke dalam fikrah.

Kedua: hukum/ajaran yang merupakan metode pelaksanaan dari fikrah tadi. Inilah yang dikenal dengan tharîqah. Misal: dalam Islam ada hukum terkait orang murtad.  Orang yang keluar dari Islam (murtad) diberi peringatan, diberi kesempatan oleh negara selama tiga hari untuk bertobat. Jika tidak bertobat dalam waktu tersebut maka pengadilan harus menjatuhkan hukuman mati (HR al-Bukhari). Tobat orang murtad yang diterima hanya jika murtadnya itu tidak berulang-ulang, yakni tidak keluar-masuk Islam (Abdurrahman al-Malaki, Nizhâm al-’Uqûbât, hlm. 83-86).  Hukum tersebut merupakan hukum untuk menjaga keimanan pada diri kaum Muslim hingga tetap dalam keislamannya.  Karena hukum syariah tersebut merupakan metode pelaksanaan hukum ’kewajiban beriman’ maka dikategorikan sebagai thariqah.  Contoh lain: Islam mewajibkan memberi makan fakir miskin.  Bagaimana metode supaya fakir miskin tersebut benar-benar terjamin makannya?  Al-Quran dan as-Sunnah menetapkan adanya hukum nafkah antar ahli waris, hukum zakat yang salah satu penerimanya adalah fakir miskin, hukum pemberian negara (i’thâ’ ad-dawlah) kepada mereka, dan hukum wajibnya negara menjamin kebutuhan pokok warganya.  Hukum yang merupakan metode pelaksanaan terlaksananya kewajiban memberi makan fakir miskin tersebut merupakan tharîqah.

Berdasarkan gambaran sekilas di atas, fikrah dan tharîqah sama-sama hukum Islam.  Fikrah dan tharîqah harus dijalankan. Hukum/ajaran Islam baik yang terkategori fikrah maupun tharîqah ini membentuk mabda’ (ideologi) Islam.  Memisahkan keduanya berarti melaksanakan sebagian hukum syariah dan meninggalkan sebagian hukum syariah lainnya.  Tentu ini diharamkan.

Berdasarkan hal ini, Islam yang wajib ditegakkan adalah Islam mabda’i (ideologis), dalam arti fikrah dan tharîqah-nya harus berasal dari syariah.

 

Fikrah, Tharîqah dan Partai

Saat ini Islam tidak diterapkan secara kâffah. Kaum Muslim dikuasai oleh ideologi Kapitalisme baik dalam bidang sosial, ekonomi, budaya maupun politik.  Dalam situasi dan kondisi seperti ini, Islam memerintahkan umatnya untuk melakukan dakwah bagi perubahan dari sistem kufur menjadi sistem Islam.  Untuk itu, diperlukan fikrah dan tharîqah yang jelas terkait dakwah sekaligus diperlukan adanya kelompok/gerakan/partai yang jelas, yang berpegang pada fikrah dan tharîqah tersebut.  Ada beberapa alasan, antara lain: Pertama, berdasarkan realitas.  Sebelum dan ketika membangun apapun, setiap orang atau kelompok perlu mengetahui apa yang akan dibangun (fikrah) dan bagaimana metode yang harus ditempuh untuk mewujudkannya (tharîqah).  Lalu siapa yang akan memperjuangkan fikrah tersebut melalui tharîqah tadi.  Sebagai contoh sederhana, ketika akan membangun rumah perlu ditetapkan dulu rumah apa yang akan dibangun, permanen atau semi permanen, berapa tingkat, kamarnya berapa buah, ada garasi ataukah tidak, dll. Lalu dibuatlah sketsa tentang rumah yang akan dibuat itu. Inilah ’fikrah’ rumah ini.  Lalu bagaimana metode yang akan ditempuh sehingga rumah itu benar-benar akan terbentuk sesuai yang dibayangkan. Berikutnya, siapa arsiteknya, developernya, buruhnya, dll.  Tanpa rencana rumah apa yang akan dibuat, yang penting dibangun, maka hasilnya tidak karuan.

Kalau untuk membangun rumah saja seperti ini, maka membangun sebuah masyarakat Islam tentu memerlukan: (1) fikrah tentang masyarakat Islam dan negara yang akan diwujudkan secara jelas; (2) tharîqah untuk mewujudkannya; (3) kelompok/gerakan/partai yang memahami fikrah dan tharîqah tersebut yang terus secara konsisten memperjuangkannya.  Tanpa itu semua, perubahan hanyalah sekadar berubah dengan cek kosong. Muaranya, perubahan mungkin terjadi, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kedua, secara syar’i.  Allah Swt. telah memerintahkan kaum Muslim masuk Islam secara kâffah (QS al-Baqarah [32]: 208) untuk melanjutkan kehidupan Islam hingga menjadi umat terbaik (QS Ali Imran [3]: 110). Rasulullah saw. pun terus berjuang demi Islam.  Dalam rangka mengimplementasikan hal tersebut, Beliau mencontohkan metode yang ditempuhnya; mulai dari pembinaan para Sahabat, membentuk jamaah, melakukan interaksi dengan umat (tafâ’ul ma’a al-ummah) dengan menyerang ide/hukum/kebiasaan yang bertentangan dengan Islam serta membongkar rencana jahat kaum kafir Quraisy.  Semua itu, Beliau lakukan tanpa kekerasan sekalipun siksaan menimpa Beliau dan para Sahabatnya.  Beliau menyodorkan dirinya kepada para pemimpin kabilah untuk menawarkan Islam, lalu memintanya memberikan dukungan kekuatan demi kemenangan Islam (thalab an-nushrah) hingga Allah Swt. memberinya kemenangan dengan berdirinya pemerintahan/negara di Madinah.

Jalan ini diperintahkan oleh Allah Swt. untuk diikuti (QS Yusuf [12]: 108; QS al-An’am [6]: 153). Bahkan Allah Swt memerintahkan agar ada kelompok/partai yang melakukan dakwah seperti itu:

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan  kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104). 

Berdasarkan hal tersebut, dengan mencontoh sirah Nabi saw., terang bahwa untuk mewujudkan Islam diperlukan kejelasan fikrah tentang masyarakat/negara yang akan dibangun.  Selain itu, pencapaian masyarakat/negara seperti itu ditempuh dengan metode (tharîqah):

  1. Adanya partai atau jamaah yang mengemban Islam sebagai mabda’ (ideologi) untuk menerapkan hukum Islam (baik fikrah maupun tharîqah-nya).
  2. Melakukan pembinaan intensif dan pembentukan opini umum (ra’y[un] ’âm) yang didasarkan pada kesadaran umum (wa’y[un] ’âm).
  3. Melakukan pencarian pertolongan (thalab an-nushrah) dan kekuatan dari putra-putri umat Islam.  Semua itu untuk menghilang-kan hambatan fisik.  Lalu terjadilah penyerahan kekuasaan dari umat (istilâm al-hukm) kepada seseorang yang dibaiat sebagai khalifah.
  4. Memproklamirkan Kekhilafahan Islam.

Perjuangan menegakkan Islam secara kâffah dalam Khilafah merupakan pekerjaan besar. Bukan hanya kesungguhan dan semangat yang diperlukan, melainkan juga pemahaman yang jernih tanpa keremang-remangan tentang fikrah yang hendak diwujudkan dan tharîqah yang harus ditempuh.  Siapapun di antara komponen umat Islam yang memiliki kejernihan tersebut harus mengambil tanggung jawab untuk memimpin umat Islam untuk bersama-sama berjuang. Jika selama ini yang lantang menyuarakan penerapan syariah Islam dan Khilafah adalah Hizbut Tahrir, maka tidak salah jika Hizb memikul tanggung jawab di pundaknya untuk terjun langsung di tengah umat memimpin perjuangan.

 

Bahaya Ideologis dan Kelas

Kemenangan tercapai jika Islam unggul di atas ideologi yang ada di dunia: Sosialisme/Komunisme dan Kapitalisme.  Untuk mencapai kemenangan ini, mabda’ (ideologi) Islam mutlak tertanam dalam jiwa umat.  Hukum/ajaran Islam baik menyangkut konsepsi pemecahan terhadap berbagai masalah masyarakat (fikrah) maupun metode pelaksanaannya (tharîqah) harus terus didakwahkan.  Ideologi Islam harus ditanamkan.  Pada saat umat memiliki opini umum yang didasarkan kesadaran umum atas ideologi Islam maka umat akan berjuang bersama serta mengharuskan dirinya untuk dipimpin oleh partai/jamaah (hizb) yang secara sungguh-sungguh memperjuangkan syariah dan menyatukan umat dalam Khilafah.  Kepemimpinannya dilandasi oleh ideologi.

Namun, jika umat belum terpahamkan tentang fikrah Islam yang sedang diperjuangkan melalui tharîqah-nya, maka bahaya ideologis (khathr mabda’i) akan datang.  Boleh jadi sebagian umat menerima kepemimpinan Hizb, namun bukan atas dasar ideologi melainkan atas dasar yang lain seperti kemampuannya mengorganisasi acara, kecakapannya mendatangkan massa besar, kesungguhannya dalam merencanakan dan menjalankan kegiatan bersama, dll. Akibatnya, tidak menutup kemungkinan, sekalipun tidak setuju dengan fikrah yang diperjuangkan Hizb, tetapi umat ’rela dipimpin’.  Dalam kondisi demikian, ikatan kepemimpinan bukanlah mabda’ (ideologi), melainkan kepentingan.

Jangan heran jika dalam situasi demikian akan muncul tuntutan kepentingan sesaat kepada Hizb.  Kalau tuntutannya sesuai dengan fikrah dan tharîqah yang ditempuh tampaknya tidak akan menjadi problem.  Namun, akan lain jika tuntutannya misalnya: (1) tuntutan untuk bersikap kompromi terhadap sistem dan penguasa sekular; (2) tuntutan segera berkuasa dengan menjatuhkan penguasa dengan tetap mempertahankan sistem sekular; (3) bertindak anarkis agar suatu tuntutan dikabulkan oleh penguasa; (4) fokus pada merebut kekuasaan dengan mengabaikan penanaman mabda’ dalam diri umat; (5) bergabung dengan sistem kufur yang ada; dll.

Tentu, pilihannya amat berat.  Jika memilih tuntutan tersebut maka Hizb harus mengorbankan fikrah dan tharîqah yang diembannya dalam perjuangan.  Sebaliknya, jika tidak memenuhi tuntutannya boleh jadi akan ada tudingan-tudingan miring terhadap Hizb.  Pilihannya hanya satu: berpeganglah pada mabda’ karena perjuangan ini memang demi tegaknya mabda’ Islam dan ruh Hizb adalah mabda Islam itu sendiri.  Lihatlah, bagaimana sikap tegas Nabi saw. mempertahankan mabda’ saat ditawari harta, tahta dan wanita oleh Quraisy; begitu juga sikap tegas beliau berpegang pada mabda’ Islam dalam Perjanjian Hudaibiyah.  “Aku ini Rasulullah, tidak akan menyalahi perintah-Nya,” kata Beliau saat itu.  Sikap negatif umat hanyalah sesaat, akan berubah dengan makin pahamnya mereka terhadap fikrah dan tharîqah yang ditempuh.

Untuk menghindari terjadinya hal ini perlu ditempuh beberapa hal, di antaranya: (1) berpegang teguh pada hukum Islam secara total, baik fikrah maupun tharîqah-nya; (2) bersungguh-sungguh membina umat dengan mabda’ Islam serta melakukan pergolakan terhadap pemikiran kufur, membongkar rencana jahat asing; (3) menjaga kejernihan pemikiran dan pemahaman Hizb; (4) terus berjuang berada di tengah-tengah umat dengan hidup bersama mereka, berkomunikasi, beraktivitas bersama, dll.

[http://hizbut-tahrir.or.id]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 13.271 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: